18 JANUARI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Hari itu menjadi hari bersejarah di kantor kami—bukan karena ada produk yang diluncurkan, bukan karena ada target yang pecah, tapi karena Pak Bos melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah perusahaan: ia mengirimkan email kepada seluruh karyawan tentang kehidupan pribadinya.
Email itu pendek, formal, dan ditulis dengan gaya yang persis seperti gaya memorandum anggaran:
"Kepada seluruh jajaran. Dengan ini saya sampaikan bahwa saya menjalin hubungan pribadi dengan Ibu Ratih Ningrum dari Divisi Promosi. Hubungan ini telah dilaporkan kepada Bagian SDM sesuai peraturan perusahaan. Ibu Ratih tidak berada di bawah supervisi langsung saya, dan seluruh proses penilaian kinerjanya tetap dijalankan oleh atasan masing-masing tanpa intervensi dari saya. Demikian, untuk menjadi maklum. Hormat saya."
Pantry kantor meledak seperti malam tahun baru.
Reaksinya bermacam-macam dan semuanya layak dicatat. Anak-anak muda timku bertepuk tangan ketika Ratih lewat, sampai ia mengancam akan memotong jatah cuti mereka dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan senyum. Ibu-ibu bagian keuangan langsung membentuk panitia tidak resmi yang diberi nama "Tim Persiapan", padahal belum ada yang menikah, belum ada yang melamar, belum ada tanggal apa-apa—tapi di kantor kami, harapan tidak pernah menunggu undangan.
Dan Pak Willy—Pak Willy yang kolot, yang menentang konsep kekinian, yang menurutku akan menggeleng-geleng—ternyata menjadi orang yang reaksinya paling mengharukan. Ia berdiri di pantry, membaca email itu di layar ponselnya dengan kacamata yang diturunkan ke ujung hidung, lalu berkata kepada siapa saja yang mau mendengar: "Bagus. Bos yang berani mengumumkan itu bos yang tidak akan menyuruh karyawannya menyembunyikan apa-apa. Dulu zaman saya, orang pacaran di kantor seperti gerakan bawah tanah. Sembunyi di tangga darurat. Menyebalkan." Ia melipat ponselnya. "Zaman sekarang lebih baik dalam beberapa hal. Jangan bilang siapa-siapa saya bilang begitu."
"Sudah kurekam, Pak," jawab salah satu anak timku, dan Pak Willy menggerutu sesuatu tentang "generasi tidak tahu sopan santun" sambil berjalan pergi—dengan langkah yang, sumpah, lebih ringan dari biasanya.
Aku membaca email itu tiga kali dengan senyum yang tidak bisa dihapus dari wajahku. Bukan karena isinya—isinya sudah kuduga—tapi karena caranya. Pak Bos, orang yang paling menjaga privasinya di seluruh gedung, memilih jalan yang paling jujur: diumumkan, dilaporkan, dilindungi aturan. Tidak ada gosip yang bisa tumbuh di atas tanah yang sudah dibajak habis oleh kejujuran. Itu langkah orang yang pernah kehilangan dan tidak mau kehilangan lagi dengan cara yang bodoh.
Ratih muncul di mejaku dengan wajah yang memerah—Ratih, yang tidak pernah memerah seumur hidupnya. "Dia mengirim email ke seluruh kantor, Lovi. SELURUH KANTOR. Aku bilang tidak usah, diam saja dulu, dan dia bilang—" ia meniru suara berat Pak Bos dengan buruk sekali, "—'hal yang disembunyikan itu beban, dan saya sudah terlalu tua untuk mengangkat beban yang tidak perlu.' Lalu dia menekan tombol kirim di depanku. Di depanku! Tanpa ragu! Aku butuh tiga minggu untuk berani memesan kopi di depannya, dan dia mengumumkan kami ke satu gedung dalam tiga menit!"
"Kau marah?"
"Marah?" Ratih menjatuhkan dirinya di kursi sebelahku. "Aku jatuh cinta lagi untuk yang kesepuluh kalinya. Dengan orang yang sama. Dalam satu bulan. Ini tidak efisien secara perasaan, Lovi. Hatiku lembur tanpa dibayar."
Ia diam sebentar, lalu menambahkan dengan suara yang lebih kecil—suara Ratih yang asli, yang hanya keluar kalau tidak ada penonton: "Tiga tahun dia sendirian, Lovi. Dan sekarang dia berani mengirim email ke satu gedung. Kau tahu apa artinya? Artinya dia sudah memutuskan bahwa aku layak dipertaruhkan di depan semua orang. Aku tidak butuh bunga. Aku tidak butuh cokelat. Aku punya email dengan notulen, dan itu sudah lebih dari cukup."
Siangnya, Mbak Inggrid memanggilku—kali ini dengan senyum yang tidak disembunyikan. "Sudah kubilang kan, jalannya ada kalau niatnya benar," ucapnya. "Dia melapor ke SDM Jumat lalu, sebelum mengirim email. Urutannya benar semua. Aku sudah bekerja dengan orang itu dua belas tahun, dan baru kali ini aku melihatnya bergerak secepat itu untuk sesuatu yang bukan pekerjaan." Ia mengetuk-ngetukkan penanya ke meja, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pelan, "Istrinya dulu akan senang. Aku mengenalnya. Orangnya persis seperti Ratih—berisik, hangat, tidak bisa diam. Tidak mungkin dia mau suaminya duduk sendirian di rumah besar sampai tua."
Sore harinya, aku menceritakan semuanya kepada Javar lewat telepon—email bersejarah itu, Ratih yang memerah, Mbak Inggrid yang tersenyum—dan ia tertawa panjang di ujung sana.
"Kantormu lebih seru dari sinetron," katanya.
"Kantorku adalah sinetron, dengan absensi."
"Lovia," suaranya berubah sedikit, nada yang kukenal sebagai nada orang yang akan mengatakan sesuatu yang sudah dipikirkannya lama. "Kau sadar tidak, orang-orang di sekitar kita semakin berani mengumumkan cintanya? Pak Bos ke seluruh gedung. Ratih memerah di pantry. Dan kita—" ia berhenti sebentar, "—kita bahkan belum pernah mengumumkan apa-apa ke siapa-siapa. Semua tahu, tapi tidak ada yang pernah diberitahu secara resmi. Bukan karena disembunyikan. Cuma karena kita orang yang lebih suka menulis di notebook daripada mengirim email."
Aku tersenyum ke dalam telepon. "Kau mau mengirim email ke seluruh gedung?"
"Tuhan tidak. Aku mau sesuatu yang lebih kita."
"Seperti apa?"
"Seperti makan malam kecil. Sebelum aku berangkat. Orang-orang terdekat saja—Bunda, orang tuaku, Ratih, Wisnu kalau dia bisa datang. Bukan pesta. Cuma satu meja, satu pengumuman, satu doa. Supaya saat aku pergi, semua orang yang kita sayang duduk di meja yang sama dan tahu persis apa yang sedang kita jalani. Tidak ada yang menebak-nebak. Tidak ada yang mendengar dari gosip. Dari mulut kita langsung."
Aku diam sejenak, memikirkan meja itu—Bunda di satu sisi, ibu Javar di sisi lain, Ratih yang pasti menangis duluan sebelum doa dimulai—dan aku merasakan sesuatu yang hangat mengembang di dadaku. "Itu bukan makan malam, Javar. Itu lamaran versi sederhana, dan kau tahu itu."
Jeda di ujung telepon. Kemudian suaranya, pelan, dengan senyum yang bisa kudengar: "Kalau itu lamaran versi sederhana, berarti suatu hari nanti akan ada versi lengkapnya. Tapi itu nanti. Sekarang, satu meja dulu. Setuju?"
"Setuju," jawabku. "Satu meja dulu."
Malam itu di notebook-ku kutulis: "Ada orang yang mengumumkan cintanya ke satu gedung dengan email resmi, dan ada orang yang mengumumkannya dengan satu meja kecil dan satu doa. Keduanya benar. Cinta tidak mengukur dirinya dari ramainya pengumuman, tapi dari dalamnya niat. Dan hari ini, dua orang yang kusayang membuktikan dua-duanya, dengan cara mereka masing-masing, di gedung yang sama, di hari yang sama. Kantorku memang sinetron. Dengan absensi. Dan aku tidak mau pindah channel."