14 FEBRUARI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Aku tidak pernah merayakan hari kasih sayang. Bagiku tanggal empat belas Februari selalu menjadi tanggal di mana restoran-restoran menaikkan harga, bunga-bunga kehabisan stok, dan orang-orang berlomba membuktikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun.
Tapi Februari kali ini berbeda, karena Februari kali ini adalah Februari terakhir sebelum Javar berangkat—dan Javar, yang tahu persis pendirianku tentang tanggal ini, datang menjemputku dengan senyum orang yang menyimpan rencana.
"Sebelum kau mulai ceramah tentang komersialisasi cinta," katanya, membukakan pintu mobil, "ini bukan perayaan empat belas Februari. Ini kebetulan. Tanggalnya saja yang sama. Kita merayakan hari Minggu. Kebetulan hari Minggunya jatuh tanggal empat belas."
"Itu pembelaan terburuk yang pernah kudengar."
"Aku menyiapkannya sepanjang jalan."
Tujuannya ternyata bukan restoran mahal dengan menu set yang dipatok dua kali lipat—melainkan bukit kecil di pinggir kota, tempat orang-orang menerbangkan layang-layang di sore hari, dengan rumput yang luas dan langit yang tidak terhalang gedung. Di bagasi mobil ada tikar, ada termos, ada dua kotak makan yang ia buat sendiri pagi-pagi—"ibu yang mengajariku lewat video call, jadi kalau rasanya aneh, salahkan teknologi"—dan ada satu lagi benda di sana yang ia keluarkan terakhir, dengan dua tangan, seperti orang mengeluarkan sesuatu yang mudah pecah.
Sebuah notebook. Sampul kulit yang sama dengan yang dulu ia berikan, tapi kali ini dua—dua notebook yang identik, diikat dengan satu tali.
"Satu untukku, satu untukmu," katanya, melepaskan talinya dan menyerahkan satu kepadaku. "Mulai Maret, kita akan jauh. Telepon bisa, video call bisa, tapi ada hal-hal yang terlalu panjang untuk telepon dan terlalu dalam untuk video call. Jadi—" ia mengetuk sampul notebook-nya, "—kita menulis. Apa saja. Hari-hari kita, hal-hal bodoh yang kita lihat, hal-hal yang tidak sempat diceritakan, hal-hal yang lebih mudah ditulis daripada diucapkan. Dan setiap dua minggu, saat aku pulang atau kau yang datang, kita tukar. Kau baca punyaku, aku baca punyamu. Tidak ada halaman yang boleh disobek. Tidak ada cerita yang boleh disensor. Itu aturannya."
Aku memegang notebook itu di sore Februari yang anginnya berbau rumput, dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama. Orang lain memberi bunga di tanggal empat belas Februari—bunga yang layu dalam seminggu. Orang ini memberiku halaman-halaman kosong yang akan diisi oleh dua kota, dua minggu sekali, dengan tulisan tangan yang tidak bisa dihapus, tidak bisa hilang sinyal, tidak bisa mati baterai.
"Javar Adiwangsa," kataku akhirnya, "kau tahu bahwa ini secara resmi mengalahkan semua bunga di dunia?"
"Aku mengandalkan itu. Aku tidak bisa bersaing dengan bunga. Bunganya terlalu banyak, dompetku terlalu sedikit. Jadi aku pindah cabang olahraga."
Kami makan di atas tikar itu saat matahari mulai turun—masakannya ternyata tidak aneh, hanya terlalu asin, dan kami sepakat menyalahkan teknologi—dan di antara suara layang-layang anak-anak yang berdecit di langit, kami membicarakan hal-hal yang tidak pernah kami bicarakan sebelumnya: bagaimana nanti kalau salah satu dari kami kesepian di tengah malam? (Telepon, jam berapa pun, tidak ada yang boleh marah dibangunkan.) Bagaimana kalau ada yang cemburu? (Katakan langsung, jangan disimpan sampai jadi bisul.) Bagaimana kalau jarak ini ternyata lebih berat dari yang kita kira? (Dibicarakan di meja, tidak diputuskan di malam yang sepi.)
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak romantis. Tidak ada violanya, tidak ada lilinnya. Tapi aku belajar sesuatu sore itu, di atas tikar dengan nasi yang keasinan: bahwa romantis yang sebenarnya bukan bunga dan lilin. Romantis yang sebenarnya adalah dua orang yang duduk berhadapan dan berani membicarakan hal-hal yang bisa merusak mereka—sebelum hal-hal itu sempat merusak apa-apa. Delapan tahun yang lalu kami tidak pernah punya percakapan seperti ini. Delapan tahun yang lalu kami mengira cinta itu cukup dengan cinta. Sekarang kami tahu cinta juga butuh peraturan pertandingan, dan kami menulisnya sendiri, pasal demi pasal, di atas tikar di bukit kecil, sambil berbagi termos.
Di tengah percakapan itu, seorang anak kecil—laki-laki, mungkin delapan tahun—berlari melewati tikar kami dengan layang-layang yang menyeret di tanah, talinya putus, wajahnya di ambang tangis yang sedang diperjuangkan untuk tidak keluar. Javar bangkit tanpa diminta, menyusul anak itu, dan aku menonton dari tikar sambil tersenyum—karena tentu saja. Tentu saja orang ini tidak bisa melihat layang-layang yang putus tanpa turun tangan.
Lima menit kemudian mereka kembali, tali layang-layang sudah disambung dengan simpul yang rumit, dan Javar mengangkat layang-layang itu tinggi-tinggi sambil berkata, "Sekarang lari ke arah angin, dan lepaskan waktu aku bilang lepas. Satu, dua—lepas!" Layang-layang itu naik, anak itu berteriak gembira, dan untuk beberapa menit bukit kecil itu menjadi saksi seorang direktur program yayasan masa depan berlutut di rumput mengajari anak orang membaca arah angin.
"Layang-layangnya sudah bisa terbang sendiri," kataku saat ia kembali ke tikar, setelah anak itu berlari pulang dengan janji akan menjaga simpulnya.
"Layang-layang tidak pernah terbang sendiri," jawabnya, duduk kembali dengan napas yang sedikit memburu. "Ada talinya. Ada yang memegang ujungnya. Orang di bawah kelihatannya diam saja, tapi dialah yang menjaga layang-layangnya tidak hilang." Ia menoleh kepadaku dengan senyum yang tahu bahwa aku tahu kalimat itu bukan tentang layang-layang. "Itu kita mulai Maret. Kau yang memegang tali. Aku yang terbang jauh. Dan selama talinya tidak putus, jauh itu bukan masalah—itu justru gunanya tali: membuat sesuatu bisa tinggi tanpa harus hilang."
"Filosofi layang-layang," kataku. "Kau menyiapkannya juga sepanjang jalan?"
"Spontan. Aku sedang berbakat hari ini."
Sebelum pulang, saat langit sudah jingga dan layang-layang sudah diturunkan satu per satu, Javar membuka halaman pertama notebook-nya dan menulis sesuatu di sana—dengan serius, dengan teliti, sementara aku menunggu tanpa mengintip karena itu aturannya—dan kemudian menyodorkannya kepadaku.
Halaman pertama itu hanya berisi satu kalimat: "Untuk dibaca saat kau merasa jauh: kau tidak pernah jauh. Kau cuma sedang berada di kota yang berbeda. Itu bedanya."
Dan malam itu, di halaman pertama notebook-ku sendiri, kutulis balasannya—untuk kubacakan kepadanya di telepon, sebelum tidur, karena aku juga bisa bermain di cabang olahraga yang sama: "Untuk dibaca saat kau merasa sendirian di kamar kos barumu: di kota ini ada satu orang yang tidur dengan ponsel di sebelah bantal, volumenya paling keras, tidak pernah mode diam. Itu bukan kebetulan. Itu arsitektur."
Ia tertawa di ujung telepon sampai batuk, dan malam itu—empat belas Februari yang katanya tidak kami rayakan—aku tertidur dengan senyum, dengan notebook baru di meja sebelah tempat tidur, dengan tali tak kasat mata yang mulai direntangkan perlahan-lahan antara dua kota. Tanggalnya memang komersial. Tapi tidak ada yang komersial dari dua notebook dan satu simpul yang tidak akan putus.