06 MARET 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Hari keberangkatan itu dimulai jam lima pagi, dengan koper-koper yang sudah dikemas dan dibongkar dan dikemas lagi tiga kali dalam seminggu terakhir, dengan mobil yang dipenuhi kotak-kotak buku dan peralatan, dan dengan aku yang duduk di kursi penumpang—karena kami sudah memutuskan: aku ikut mengantar, menetapkan hatinya di kota baru itu selama satu akhir pekan, lalu pulang dengan kereta hari Minggu. Kepergian yang diantar. Bukan kepergian yang ditemukan dari kursi yang kosong.
Sehari sebelumnya adalah hari terakhirnya di perusahaan ayahnya, dan perpisahan di sana ternyata lebih berat dari yang ia kira. Delapan tahun—nyaris sepertiga hidupnya—dihabiskan di gedung itu: mengenal setiap sopir truk dengan namanya, menghafal rute-rute pengiriman sampai ke desa-desa yang tidak ada di peta digital, merawat klien-klien lama seperti merawat tanaman. Karyawan-karyawan gudang membuatkan pesta kecil di kantin, dengan tumpeng sederhana dan doa yang panjang, dan kepala gudang—pria besar yang sudah bekerja di sana sejak Javar masih SMA—memeluknya sambil berkata keras-keras supaya tidak terdengar menangis, "Jangan lupa, kalau di sana ada yang kurang, telepon. Gudang ini masih gudangmu."
Ayahnya mengantarnya sampai ke pintu keluar—sampai ke pintu keluar, sesuatu yang tidak pernah dilakukan ayahnya untuk siapa pun—dan di sana, di depan papan nama perusahaan yang sudah pudar catnya, ayahnya menepuk pundaknya dua kali dan berkata, "Perusahaan ini kujaga baik-baik sampai kau mau melihatnya lagi. Bukan untuk kauwarisi. Untuk kau banggakan. Sekarang pergi bangun yang punyamu sendiri." Dan Javar bercerita kepadaku malam itu bahwa ia menangis di mobil, di parkiran, selama sepuluh menit, sebelum cukup tenang untuk menyalakan mesin—air mata yang delapan tahun ditahan, keluar di parkiran kantor, di hari terakhirnya bekerja, dengan cara yang paling tidak heroik dan paling manusiawi.
Sebelum berangkat, kami berhenti di satu tempat terakhir. Tentu saja.
Warung soto itu buka jam enam pagi, dan pemiliknya—wanita tua dengan senyum yang tahu segalanya—sudah menyiapkan dua mangkuk di meja pojok sebelum kami memesan, karena Javar sudah meneleponnya semalam. "Katanya mau pamit," ucapnya, meletakkan mangkuk-mangkuk itu. "Orang-orang kalau pamit selalu ke sini dulu. Dulu ada anak muda, pamit mau merantau, sekarang sudah jadi direktur di Jakarta. Ada lagi yang pamit mau nikah, sekarang anaknya tiga. Meja pojok ini meja pamitan. Yang pamit dari sini selalu kembali. Itu sudah terbukti." Ia menatap Javar lama, lalu menambahkan, lebih pelan: "Kau juga. Yang pergi tanpa pamit dulu saja kembali, apalagi yang pamit baik-baik."
Kami makan soto itu pelan-pelan, tidak buru-buru, sementara kota di luar mulai bangun—dan aku memperhatikan Javar menghafal warung itu dengan matanya, sudut demi sudut, seperti orang menyimpan foto ke dalam kepala, dan aku tahu persis apa yang sedang ia lakukan karena aku melakukan hal yang sama.
Perjalanan empat jam itu kami isi dengan apa saja kecuali kesedihan. Kami membuat aturan permainan: yang pertama menyebut kata "kangen" harus traktir makan di rest area. Kami menghitung truk yang menyalip. Kami menyanyikan lagu-lagu lama kampus dengan suara yang seharusnya dilarang oleh undang-undang. Dan di kilometer-kilometer terakhir, saat pegunungan kota tujuannya mulai tampak, Javar berkata tanpa mengalihkan pandangan dari jalan:
"Aku pernah melakukan perjalanan ini sekali. Delapan tahun yang lalu. Arah yang berbeda, tapi rasanya yang ini—pergi meninggalkanmu. Waktu itu sepanjang jalan aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku melakukan hal yang benar, dan semakin aku meyakinkan, semakin aku tahu aku salah. Orang yang benar tidak perlu meyakinkan dirinya sendiri sepanjang empat jam." Ia berhenti sebentar. "Hari ini aku tidak meyakinkan diriku sendiri apa-apa. Kau ada di sebelahku. Itu bedanya. Itu semua bedanya."
Kos barunya adalah kamar sederhana di rumah seorang ibu pemilik warung makan—Wisnu yang mencarikannya, dengan kriteria tunggal: "dekat kantor yayasan, ada dapurnya, ibunya baik dan tidak kepo." Kamarnya kecil, bersih, dengan jendela yang menghadap kebun pisang, dan kami menghabiskan Sabtu itu menatanya bersama—memasang rak buku kecil, menggantung satu-satunya foto yang ia bawa (foto satu meja dari malam itu, delapan orang dalam satu bingkai), dan menempelkan di dinding sebuah kertas yang ia keluarkan dari map dengan hati-hati: peraturan pertandingan kami, yang ditulis di atas tikar di bukit kecil, disalin ulang dengan tulisan tangannya yang rapi.
"Supaya yang pertama kulihat setiap bangun tidur," katanya.
Sabtu malam, Wisnu mengajak kami makan dengan para relawan senior yayasan—dua belas anak muda dengan mata yang menyala dan tenaga yang tidak habis-habis—dan aku memperhatikan Javar di tengah mereka: bukan lagi Javar yang gugup di meja makan Bunda, bukan Javar yang ragu di depan map tipis, tapi Javar yang utuh, yang bertanya satu per satu nama mereka dan mengingatnya semua, yang mendengarkan cerita tiap pos belajar seperti mendengarkan berita dari kampung halamannya sendiri. Di perjalanan pulang ke kosnya malam itu, aku berkata, "Kau sudah pulang. Kau tahu itu? Ke dirimu sendiri. Sisanya tinggal detail."
Dan kemudian hari Minggu datang, seperti hari Minggu selalu datang, tanpa peduli bahwa kami ingin ia datang lebih lambat.
Stasiun kecil itu ramai oleh orang-orang yang pulang dan pergi, dan di peronnya, kami berdiri dengan genggaman tangan yang tidak ada yang mau melepaskan lebih dulu. Tidak ada tangis—kami sudah sepakat, tangis dilarang di peron, tangis boleh di kereta atau di mobil, tapi di peron kami tersenyum, karena perpisahan ini bukan perpisahan, ini hanya sampai jumpa dua minggu.
"Dua minggu," ucapnya. "Buku sudah di tas. Halaman pertamanya jangan kosong terlalu lama."
"Kau juga. Dan telepon malam ini, jam berapa pun kau sampai selesai rapat pertamanya."
"Jam berapa pun," ulangnya. Lalu, saat kereta sudah menderu masuk peron, ia berkata cepat, seperti orang menyelipkan kalimat terakhir sebelum pintu menutup: "Delapan tahun yang lalu aku pergi dan kau tidak tahu. Hari ini aku pergi dan kau mengantarku sampai peron. Kalau ada yang lebih baik dari ini di dunia, aku belum pernah menemukannya."
Kereta itu bergerak pelan, dan aku melihat kota barunya mundur di jendela—kebun pisang, atap-atap kecil, pegunungan yang mengintip—dan baru setelah kereta melaju, sesuai perjanjian, aku menangis sedikit. Bukan tangis sedih. Tangis orang yang akhirnya percaya bahwa pergi dan kembali itu bisa berjalan beriringan, selama ada tali yang dipegang di dua ujung.
Di halaman pertama notebook-ku, di kereta itu, kutulis: "Hari pertama jarak. Aku mengantarnya sampai peron dan pulang dengan kereta, dan tidak ada yang hilang. Dua kota, satu tali, dua notebook. Delapan tahun yang lalu aku belajar kehilangan. Hari ini aku mulai belajar hal yang sebaliknya: merantai."