13 MARET 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Seminggu pertama hidup dalam dua kota ternyata adalah seminggu belajar hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Aku belajar bahwa jam sepuluh malam adalah jam resmi kami—jam ketika rapatnya selesai dan pekerjaanku selesai, dan kami duduk masing-masing di kamar kami dengan video call yang kadang bagus dan kadang patah-patah seperti berita dari medan perang. Aku belajar bahwa sinyal di pos-pos belajar adalah barang mewah: Javar mengirimiku foto dirinya berdiri di atas bukit dengan satu tangan memegang ponsel tinggi-tinggi, dengan keterangan, "Titik sinyal resmi yayasan. Kami menyebutnya Menara Eiffel." Aku belajar bahwa kerinduan itu punya bentuk yang aneh-aneh: ia bisa berbentuk mangkuk soto yang kupesan sendirian di meja pojok (pemilik warung menolak melayaniku di meja lain: "Meja pojok tetap meja kalian. Kau cuma sedang menjaganya."), bisa berbentuk kursi penumpang mobil yang kosong, bisa berbentuk lagu yang tiba-tiba muncul di radio kantin.
Tapi aku juga belajar hal-hal yang baik—hal-hal yang tidak kusangka. Aku belajar bahwa rindu yang dikelola itu ternyata tidak membakar, ia menghangatkan. Setiap malam jam sepuluh kami bertukar hari seperti bertukar oleh-oleh: ia bercerita tentang rapat pertamanya yang berjalan empat jam karena semua relawan ingin bicara (dan ia mendengarkan semuanya, karena itu Javar), tentang anak-anak pos belajar yang menanyakan "Kakak cantik yang kemarin" (anak berpita merah, tentu saja, yang sekarang menagih janjiku untuk sering-sering ke sana), tentang kamar kosnya yang sudah mulai terasa seperti kamar—buku-buku sudah berdiri di rak, foto satu meja sudah menghadap tempat tidur.
Dan aku bercerita tentang kantorku: tentang timku yang mulai menjalankan konsep promosi baru tanpa perlu dipegang tangannya, tentang Pak Willy yang sekarang justru menjadi penjaga konsep-konsep baruku dari serangan orang lain ("lucu sekali, dia yang dulu menentang, sekarang yang membela mati-matian"), tentang Ratih dan Pak Bos yang makan siang di kantin karyawan seperti orang biasa—perkembangan yang menurut analisis resmi pantry adalah "tahap paling berani dari sebuah hubungan kantor: tampil biasa di tempat biasa".
Minggu itu juga membawa kabar baik dari ruang meeting: konsep promosi digital yang kami kerjakan saat krisis vendor dulu ternyata menaikkan angka penjualan produk baru itu tujuh belas persen di atas target, dan dalam rapat evaluasi, direktur kami menyebutnya "kecelakaan paling menguntungkan tahun ini". Timku merayakannya dengan pizza di ruang meeting kecil—tradisi yang ternyata sudah mereka ciptakan sendiri tanpa kusuruh—dan aku berdiri di tengah mereka dengan sepotong pizza dan satu pikiran yang hangat: tim ini sudah berjalan sendiri. Ia tidak lagi membutuhkan pembuktian dariku, dan aku tidak lagi membutuhkan pembuktian dari siapa-siapa.
Ratih, tentu saja, menjadi penjaga resmi kewarasanku. Ia muncul di rumah kontrakanku tiga kali seminggu dengan makanan dan dengan larangan: "Dilarang menonton film itu lagi. Dua puluh kali sudah cukup untuk dua kehidupan. Filmnya sudah minta pensiun." Ia menyeretku ke kelas memasak hari Rabu—"supaya tanganmu sibuk dan kepalamu tidak ke mana-mana"—dan di kelas itu aku menemukan, dengan heran, bahwa memasak itu memang bekerja: ada sesuatu yang menenangkan dari memotong, menumis, mencicipi, gagal, mengulang. Hasil masakanku masih di bawah standar kemanusiaan, tapi Ratih menilai dengan jujur dan kejam, dan itu justru membantu.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya suatu malam, sambil menilai tumisanku dengan ekspresi hakim yang tidak dibayar untuk berbasa-basi. "Seminggu tanpa dia. Jujur."
"Aneh," jawabku jujur. "Aku kira akan terasa seperti dulu—seperti delapan tahun itu. Tapi ternyata tidak sama sekali. Dulu itu seperti kehilangan. Sekarang seperti... menabung. Setiap hari kutabung cerita untuk kubacakan bersama-sama nanti. Aku malah jadi lebih rajin memperhatikan hari-hariku, karena aku harus punya bahan cerita yang bagus jam sepuluh malam. Hidupku jadi lebih kerasa, Rat, justru karena ada yang menunggu laporannya."
Ratih menatapku dengan garpu berhenti di udara. "Itu," katanya akhirnya, "adalah kalimat paling dewasa yang pernah keluar dari mulutmu, dan aku akan mencatat tanggalnya. Tiga belas Maret. Lovia berbicara seperti orang yang sudah selesai dengan hantunya."
Bunda juga menelepon minggu itu, dan seperti biasa ia langsung ke inti tanpa salam pembuka yang berarti. "Sudah seminggu anak itu pergi. Bagaimana kau?"
"Baik, Bun. Kami telepon setiap malam."
"Bukan itu yang Bunda tanya. Bunda tanya bagaimana kau."
Aku memikirkan jawabannya sungguh-sungguh, karena Bunda tidak menerima jawaban yang tidak dipikirkan. "Aku... utuh, Bun. Aku kira aku akan berlubang lagi seperti dulu. Tapi ternyata tidak. Dulu dia pergi dan membawa sesuatu dari diriku. Sekarang dia pergi dan meninggalkan sesuatu—jadwal, aturan, janji yang tertulis di dinding kamarnya. Bedanya di situ. Orang tidak bisa merampas apa yang memang ditinggalkan untukmu."
Hening sebentar di seberang sana—hening Bunda yang berarti ia sedang tersenyum. "Bagus. Bunda cuma mau memastikan satu hal: kali ini kalau dia pulang dua minggu sekali, jangan kauhabiskan dua hari itu dengan canggung. Orang LDR itu sering begitu—kangen setengah mati, ketemu malah canggung seperti tamu. Itu penyakit. Obatnya: perlakukan dia seperti dia tidak pernah pergi. Langsung ajak ke warung. Langsung suruh cuci piring. Jangan dikasih karpet merah. Karpet merah itu untuk tamu, dan dia bukan tamu."
Aku tertawa, tapi ia benar—dan aku tahu ia benar, karena malam itu, jam sepuluh, saat video call kami tersambung dan wajah Javar muncul di layar dengan latar dinding kos dan kebun pisang yang gelap di jendelanya, hal pertama yang ia katakan adalah: "Kau terlihat berbeda. Lebih tenang."
"Aku memang lebih tenang," jawabku. "Kemarin aku takut jarak ini akan mengembalikan aku yang dulu. Ternyata aku yang dulu sudah tidak tinggal di sini. Kamarnya sudah kusewakan ke orang yang baru."
Dan kami mengobrol sampai jam sebelas lebih—melewati jam resmi, pelanggaran pertama terhadap aturan kami sendiri, yang kami sepakati bersama untuk tidak dipermasalahkan—dan sebelum menutup telepon ia membacakan untukku halaman pertamanya: tentang hari pertamanya memimpin rapat yayasan, tentang namanya yang ditulis anak-anak di papan tulis dengan ejaan yang salah ("KAK JAFAR"), tentang rindu yang ia tulis tanpa pernah menulis kata "rindu".
Malam itu di notebook-ku kutulis: "Seminggu dua kota, dan talinya masih kencang. Besok mulai minggu kedua. Dua minggu itu ternyata bukan waktu menunggu—itu waktu mengisi. Dan aku sudah punya banyak bahan untuk halaman-halamanku, termasuk satu fakta penting: ternyata aku bisa. Kami bisa. Delapan tahun yang lalu jarak menghancurkan kami karena kami membiarkannya diam. Kali ini jaraknya kami ajak bicara setiap malam jam sepuluh, dan jarak itu, seperti semua hal yang diajak bicara dengan benar, mengecil dengan sendirinya."