20 MARET 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Dua minggu itu akhirnya habis, dan Jumat malam Javar pulang—mobilnya berhenti di depan rumah kontrakanku jam delapan malam, dengan debu perjalanan empat jam, dengan mata yang lelah dan senyum yang tidak lelah sama sekali.
Dan aku menjalankan nasihat Bunda dengan disiplin militer: tidak ada karpet merah. Tidak ada meja yang ditata khusus. Tidak ada lilin. Ia masuk, dan aku langsung menyodorkan celemek ke dadanya.
"Cuci piring dulu. Aku masak, kau cuci. Itu pembagian kerja malam ini, tidak bisa ditawar."
Javar berdiri di ambang pintu dengan celemek bermotif bunga di tangannya, dengan koper yang belum diturunkan dari bahunya, dan tertawa—tawa yang penuh, tawa yang dari dada, tawa orang yang baru saja mendapatkan konfirmasi bahwa ia benar-benar sudah sampai di rumah. "Aku menempuh empat jam dan disambut dengan celemek."
"Kau mau disambut dengan pidato?"
"Tidak. Celemek ini sempurna. Ini sambutan paling jujur yang pernah ada."
Maka malam pertama kami setelah dua minggu berjalan persis seperti malam-malam biasa—memasak bersama di dapur kecil (tumisanku sudah naik kelas, berkat kelas memasak Ratih dan penilaiannya yang kejam), makan di meja kecil dengan kaki yang bersentuhan di bawahnya, dan bercerita tanpa henti sampai makanannya dingin dan dipanaskan dua kali. Tidak ada kecanggungan. Tidak ada perasaan menjadi tamu. Bunda benar: obatnya adalah memperlakukan orang itu seperti ia tidak pernah pergi, dan ternyata itu mudah, karena memang rasanya ia tidak pernah pergi—hanya berpindah koordinat.
Dan kemudian, setelah piring-piring selesai dan meja dibersihkan, tibalah saatnya: pertukaran notebook pertama.
Kami duduk berhadapan di lantai dengan dua notebook kulit yang identik, dan menukarnya seperti dua negara bertukar duta besar. Tidak ada aturan membaca di tempat—itu kesepakatan lisan yang muncul begitu saja saat kami berhadapan: "Baca sekarang. Aku mau melihat wajahmu saat membacanya."
Maka aku membuka notebook-nya, dan halaman-halaman itu terisi penuh—tulisan tangannya yang rapi, kadang dicoret-coret di pinggirnya dengan gambar-gambar kecil (layang-layang, mangkuk soto, ponsel yang diangkat tinggi-tinggi dengan keterangan "Menara Eiffel"). Ada cerita tentang rapat empat jam. Ada cerita tentang anak berpita merah yang sekarang duduk paling depan setiap ada kegiatan dan menagih janji "Kakak Lovia" setiap minggu. Ada cerita tentang malam pertamanya di kamar kos, ketika ia menulis: "Jam sebelas malam, kebun pisang di luar gelap sekali, dan untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa berani itu bukan tidak takut—berani itu takut tapi tetap menyalakan lampu dan mulai membongkar koper."
Dan di halaman terakhir, dengan tanggal kemarin, ia menulis: "Besok aku pulang. Aku sudah menghitung jamnya sejak tiga hari yang lalu, dan aku tidak malu mengakui itu, karena tidak ada aturan yang melarang menghitung jam pulang. Empat jam perjalanan, dua minggu menabung cerita, dan satu orang yang menyambut dengan celemek (aku sudah tahu—Bunda pasti menasihatinya, aku mengenal taktiknya). Kalau ada yang bertanya bagaimana rasanya pulang, jawabannya: seperti ini. Seperti menulis halaman ini sambil tersenyum sendirian di kamar yang akhirnya terasa seperti kamar—karena kamarnya sudah tahu bahwa ia bukan tujuan akhir, hanya stasiun. Rumahnya empat jam dari sini, dan besok aku ke sana."
Aku membaca halaman itu dengan mata yang panas, dan ketika aku menoleh, Javar sedang membaca notebook-ku dengan ekspresi yang berubah-ubah seperti langit mendung-cerah—tertawa di satu halaman (aku tahu persis halaman mana: cerita Pak Willy dan pizza), diam lama di halaman lain (halaman tentang mangkuk soto sendirian di meja pojok), dan menutupnya di halaman terakhir dengan menarik napas panjang.
"Kau menulis tentang mangkuk soto itu," ucapnya pelan.
"Kau menulis tentang menghitung jam pulang."
Kami saling menatap, dua orang dengan notebook masing-masing di tangan yang salah, dan di situlah aku mengerti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh video call mana pun: bahwa membaca tulisan tangan seseorang tentang hari-harinya adalah bentuk keintiman yang berbeda—lebih lambat, lebih dalam, lebih jujur, karena tulisan tangan tidak bisa di-edit sebelum dikirim, tidak bisa dihapus setelah terlanjur. Di notebook itu ada jiwanya yang utuh, dengan coretan-coretannya, dengan gambar-gambar jeleknya, dengan kalimat-kalimat yang tidak akan pernah ia ucapkan keras-keras.
"Kesepakatan baru," kata Javar. "Setiap tukar notebook, kita baca di tempat. Selamanya. Aku tidak sanggup menunggu."
"Disahkan," jawabku. "Tanpa notulen."
Malam itu kami tidur larut—terlalu larut untuk orang yang besok harus bangun pagi—karena dua minggu itu ternyata menyimpan terlalu banyak cerita untuk satu malam, dan notebook-notebook itu hanya membuka pintunya. Sisanya diceritakan dengan suara, dengan tawa, dengan tangan yang saling menunjuk ke halaman-halaman tertentu: "Yang ini, ceritakan yang ini, versi lengkapnya."
Dan keesokan harinya, Sabtu pagi, kami melakukan hal yang paling tidak romantis dan paling kami: ke pasar. Belanja sayur, menawar ikan, sarapan bubur di kaki lima. Karena dua hari bersama itu tidak boleh dihabiskan untuk hal-hal istimewa—dua hari itu harus dihabiskan untuk kehidupan, karena kehidupan itulah yang sedang kami bangun, dan kehidupan tidak terjadi di restoran mahal. Kehidupan terjadi di pasar, di dapur, di meja pojok warung soto (kami mampir, tentu saja—pemiliknya melihat kami berdua dan berkata "nah, lengkap lagi" sebelum kami memesan apa-apa), dan di atas lantai ruang tamu dengan dua notebook yang menunggu untuk ditukar lagi dua minggu berikutnya.
Minggu siangnya kami makan di rumah Bunda, dan Bunda menjalankan inspeksi dua-mingguannya: menatap Javar dari atas ke bawah, mencubit pipinya seperti mencubit anak SD, lalu menyatakan vonisnya. "Kurus. Dua minggu kurus. Yayasan itu memberimu makan atau hanya memberimu mimpi?" Dan sebelum Javar sempat membela diri, meja itu sudah dipenuhi lauk yang cukup untuk lima orang, dengan instruksi resmi: habis, tidak boleh bersisa, dan setiap dua minggu ke sini dulu sebelum ke mana-mana, itu aturan rumah, yang melanggar tidak akan diakui. Javar makan dua porsi penuh di bawah pengawasan Bunda yang puas, dan aku menontonnya dari seberang meja dengan hati yang menghangat di tempat-tempat yang bahkan tidak kuketahui bisa hangat.
Di halaman pertama notebook baruku—notebook yang tadinya miliknya—kutulis malam itu, sebelum tidur: "Pertukaran pertama selesai. Tidak ada yang hilang dalam pengiriman. Dua minggu berikutnya dimulai besok, dan aku sudah punya bahan untuk halaman pertamanya: hari ini kami ke pasar, dan ia menawar ikan dengan keterampilan yang buruk, dan aku jatuh cinta lagi di depan pedagang ikan. Tugas menabung cerita itu, ternyata, adalah pekerjaan paling menyenangkan di dunia."
Dan di bawahnya kutambahkan satu baris kecil lagi, untuk ia baca dua minggu dari sekarang: "P.S. Bunda bilang kau kurus. Minggu depan dia menambah porsinya lagi. Bersiaplah. Tidak ada yang bisa menolak, aku sudah mencoba selama dua puluh tujuh tahun."