03 APRIL 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Akhir pekan itu giliranku yang naik kereta—giliran pertama, setelah dua kali Javar yang pulang, karena kami sepakat perjalanan ini harus seimbang: tali yang ditarik dari satu ujung saja lama-lama akan lepas dari ujung yang lain.
Empat jam di kereta ternyata memberiku banyak waktu untuk memperhatikan sesuatu yang tidak pernah kuperhatikan: betapa banyak orang di gerbong itu yang sedang menempuh jarak untuk seseorang. Ada bapak-bapak dengan kardus berisi oleh-oleh yang dijaganya seperti dokumen negara. Ada dua mahasiswa yang tertidur dengan ponsel masih menampilkan percakapan yang tidak selesai. Ada seorang ibu dengan anak kecil yang menempelkan stiker di jendela sambil berkata, "Nanti kita sampai rumah Ayah." Kereta itu ternyata penuh dengan tali-tali yang direntangkan, dan aku salah satunya, dengan notebook di tas dan bahan cerita dua minggu di kepala.
Javar menjemputku di stasiun dengan wajah yang—kuperhatikan dengan teliti, sesuai tugas resmi sebagai pasangan jarak jauh—lebih cokelat, lebih kurus sedikit (Bunda akan memvonisnya lagi), dan lebih bercahaya dari sebelumnya. Ada sesuatu pada orang yang sedang menjalankan panggilannya yang tidak bisa dipalsukan: semacam gravitasi ke dalam dirinya sendiri.
Akhir pekan itu sudah dijadwalkan padat olehnya—"bukan jadwal pacaran, jadwal kerja, kau yang mau jadi bagian dari peta ini, jadi ini petanya"—dan Sabtu pagi kami sudah di jalan menuju pos belajar terjauh, yang baru dibuka bulan lalu: dua jam perjalanan, satu jam terakhir dengan jalan yang membuatku mempertanyakan keputusan hidupku dan keputusan konstruksi negeri ini.
Pos belajar itu berdiri di ujung desa—satu ruangan kayu, satu papan tulis, dua puluh anak, dan satu relawan muda bernama Dita, mahasiswa tingkat akhir dari kota yang mengabdi dua hari seminggu. Dan di sinilah, di sela-sela menonton Javar mengajar anak-anak itu bermain kata, aku mendengar kabar yang membuatku berhenti tersenyum.
Dita yang menyampaikannya, saat kami duduk di beranda pos waktu anak-anak istirahat—dengan nada orang yang menyampaikan cuaca buruk: "Dana kuartal ini seret, Kak. Donatur besar yang biasanya nutup operasional pos-pos pinggiran mundur—perusahaannya kena imbas. Kak Wisnu sama Kak Javar lagi muter otak. Tiga pos di ujung-ujung kayak gini yang paling kena. Kalau Juni belum ada pengganti, opsinya... yah, Kakak tahulah."
Aku menatap ke dalam ruangan itu—dua puluh anak yang sedang makan siang dari dapur umum, papan tulis dengan huruf-huruf yang kemarin baru mereka kenal, Javar yang berjongkok memperbaiki pensil yang patah seperti memperbaiki sesuatu yang jauh lebih penting—dan sesuatu di dadaku mengeras menjadi tekad yang belum berbentuk.
"Berapa yang dibutuhkan untuk satu pos setahun?" tanyaku kepada Dita.
"Kok Kakak nanya gitu?" Dita menatapku curiga dan berharap dalam waktu yang sama. "Untuk pos kayak gini? Tidak besar, sebenarnya. Yang besar itu kalau sembilan pos sekaligus. Tapi ya tetap saja, kami bukan perusahaan, Kak. Kami mengandalkan orang-orang baik, dan orang baik itu kadang sedang tidak punya uang."
Di perjalanan pulang, di mobil yang berguncang di jalan rusak itu, aku tidak diam—karena aturannya adalah keluar lewat mulut. "Aku dengar dari Dita. Tentang dananya."
Javar menghela napas panjang—napas yang memberitahuku bahwa ia memang berniat menceritakannya malam ini, dan sekarang kedahuluan. "Aku tidak mau membebanimu dengan itu di akhir pekanmu di sini."
"Javar. Peta. Ingat? Aku bagian dari peta ini, bukan titik di luar pinggirnya. Kalau ada badai di peta ini, aku berhak tahu." Aku menatapnya lurus. "Dan sekarang dengarkan aku baik-baik, karena aku sudah memikirkannya sepanjang dua jam perjalanan ini. Perusahaanku punya program CSR. Tiap tahun mereka mencari mitra sosial—tahun lalu dananya sebagian besar mengendap karena tidak ada mitra yang lolos evaluasi. Dan aku kebetulan kenal baik dengan orang yang mengevaluasi mitra-mitra itu. Dan dia kebetulan kenal baik dengan bos besar perusahaan. Dan bos besar itu kebetulan—kebetulan sekali—pernah berdiri di meja makan rumah orang tuamu dan mengatakan bahwa keputusanmu membangun sesuatu dari nol adalah keputusan orang yang berani."
Mobil itu melambat. Benar-benar melambat, di tengah jalan rusak itu, dan Javar menatapku seperti orang yang baru melihat layang-layang tersangkut dan baru sadar bahwa ia memegang talinya. "Lovia. Kau sedang mengatakan—"
"Aku sedang mengatakan bahwa minggu depan aku akan menyusun proposal. Bukan proposal cinta—proposal resmi, dengan angka, dengan tabel, dengan evaluasi yang ketat, karena perusahaanku tidak menyalurkan dana dengan hati, mereka menyalurkannya dengan due diligence. Yayasanmu harus lolos dengan nilai, bukan dengan koneksi." Aku tersenyum. "Tapi aku mengenal yayasannya. Aku sudah melihat gubuknya, aku sudah bertemu anak-anaknya, aku sudah melihat direktur programnya memperbaiki pensil patah seperti memperbaiki dunia. Dia akan lolos, Javar. Dengan nilai."
Malam itu, di kamar kosnya dengan kebun pisang yang gelap di jendela, kami tidak menonton film dan tidak bermalas-malasan—kami menyusun kerangka proposal di atas meja kecilnya, sampai lewat tengah malam, dengan dua cangkir teh dan satu perdebatan tentang margin tabel. Dan sebelum tidur, di notebook-nya, ia menulis satu kalimat yang keesokan paginya ia bacakan kepadaku sambil tertawa: "Pacarku datang naik kereta membawa bahan cerita dan pulang membawa rencana menyelamatkan tiga pos belajar. Ada orang yang membawa oleh-oleh. Pacarku membawa solusi. Aku tidak tahu kata yang tepat untuk perasaan ini—besar sekali, tidak muat di halaman."
Minggu paginya, sebelum keretaku berangkat, kami mampir ke pos belajar pertama—pos yang dulu kukunjungi bersamanya—dan sambutannya datang sebelum mobil kami berhenti penuh. Anak berpita merah itu berlari dari pintu gubuk dengan teriakan yang membuat anak-anak lain berhamburan keluar: "KAKAK LOVIA DATANG!"
Ia menubruk lututku dengan pelukan yang tidak proporsional dengan ukuran badannya, dan langsung menagih dengan tatapan jaksa: "Kakak lama sekali. Aku sudah menulis tiga huruf baru, dan tidak ada yang melihat."
"Sekarang ada. Tunjukkan."
Maka sepuluh menit berikutnya aku duduk di lantai gubuk itu—dengan rok yang sudah kurelakan sejak awal—sementara anak berpita merah itu menulis tiga huruf barunya di papan tulis kecil dengan tangan yang gemetar karena bangga, dan dua puluh anak lain mengantre di belakangnya dengan buku masing-masing, karena berita "ada kakak yang mau melihat tulisan" menyebar lebih cepat dari berita apa pun di dunia ini. Dan Javar berdiri di pintu, bersandar ke kusen, tidak ikut campur sama sekali—hanya menonton dengan senyum yang, kalau difoto, tidak akan sanggup dijelaskan oleh keterangan foto mana pun.
Di kereta pulang, aku membuka notebook-ku dan menulis halaman tentang akhir pekan itu—tentang jalan rusak dan dua puluh anak, tentang dana yang seret dan kerangka proposal di atas meja kecil, tentang tiga huruf baru di papan tulis—dan di kalimat terakhir kutulis: "Kota kedua ini sudah bukan kota asing lagi. Ia punya gubuk yang pintunya kukenal, anak-anak yang namanya mulai kuhafal, dan satu kamar kos dengan kebun pisang. Dua kota, katanya. Mulai terasa seperti satu rumah dengan dua pintu."