10 APRIL 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Aku sudah pernah presentasi di depan direksi. Aku sudah pernah disemprot Pak Bos di ruang meeting dan berdiri lagi setelahnya. Tapi presentasi hari Kamis itu membuat tanganku berkeringat dengan cara yang tidak pernah kualami sebelumnya—karena kali ini yang kupertaruhkan bukan konsep promosi. Yang kupertaruhkan adalah tiga gubuk belajar di ujung-ujung desa, dua ratus relawan, dan satu orang yang memperbaiki pensil patah seperti memperbaiki dunia.
Proposal itu kusiapkan seminggu penuh. Kerangka dari malam di kamar kos itu kukembangkan menjadi dokumen dua puluh tiga halaman: profil yayasan, data pos belajar, jumlah anak yang terjangkau, laporan keuangan tiga tahun (Wisnu mengirimnya dengan catatan "kami rapi, jangan khawatir, kami cuma tidak punya uang, tapi pembukuannya rapi"), rencana penggunaan dana, indikator keberhasilan, sistem pelaporan. Ratih membantuku memoles desainnya sampai jam kantor berakhir dua malam berturut-turut—tanpa bertanya untuk apa, pada awalnya, dan kemudian dengan mata yang melebar saat tahu untuk apa.
"Ini untuk yayasan Mas Javar," ucapnya, bukan bertanya.
"Ini untuk anak-anak di pos-pos belajar itu. Yang kebetulan dikelola oleh yayasan Mas Javar."
Ratih menatapku lama, lalu mengangguk dengan serius yang tidak biasa. "Bagus. Kau menyebutnya dengan benar. Kalau kau bilang 'untuk Mas Javar', proposal ini akan kulempar ke tong sampah. Dana perusahaan tidak boleh bergerak karena cinta. Tapi karena dua puluh anak yang berjalan dua jam untuk belajar membaca? Itu alasan yang bisa dipertahankan di ruang meeting mana pun."
Mbak Inggrid adalah pintu pertama, dan ia membaca proposal itu selama empat puluh menit tanpa berkomentar—empat puluh menit terpanjang dalam hidup profesionalku—sebelum meletakkannya dan berkata: "Secara substansi, ini proposal CSR terbaik yang pernah masuk ke mejaku. Datanya hidup. Indikatornya terukur. Dan yayasan ini—" ia mengetuk halaman laporan keuangan, "—pengeluaran per anaknya paling efisien yang pernah kulihat. Sekarang bagian yang sulitnya." Ia menatapku lurus. "Hubunganmu dengan direktur program yayasan ini bukan rahasia. Begitu proposal ini disetujui, akan ada yang berbisik. Pertanyaannya bukan apakah mereka akan berbisik—mereka akan. Pertanyaannya: apakah proposal ini sanggup berdiri sendiri di ruang evaluasi, tanpa ada satu pun yang bisa menunjuk celah?"
"Itulah kenapa aku membuatnya dua puluh tiga halaman, Mbak. Setiap halaman menjawab satu bisikan sebelum bisikan itu sempat terjadi."
Mbak Inggrid tersenyum—senyum yang jarang, senyum yang keluar hanya untuk hal-hal yang benar-benar layak. "Kalau begitu kita jalankan dengan cara yang paling bersih: bukan kau yang mempresentasikan ke komite. Kau menyusun, aku yang maju. Evaluasinya oleh komite CSR penuh, bukan oleh satu orang. Dan Pak Bos tidak ikut voting—dia akan abstain, dan itu akan tercatat, supaya tidak ada satu pun yang bisa mengatakan keputusan ini dibuat di meja makan."
Dan Kamis itu, di ruang meeting besar, Mbak Inggrid mempresentasikan proposal itu di depan komite CSR—lima orang, termasuk dua dari divisi lain yang tidak mengenalku dan tidak peduli dengan hidup pribadi siapa pun. Aku duduk di barisan pendukung dengan tangan terlipat terlalu erat, mendengarkan angka-angka yang kukenal sampai ke halamannya dibacakan dengan suara Mbak Inggrid yang tenang, dan menjawab—saat diminta—pertanyaan-pertanyaan teknis dari anggota komite yang paling teliti: bagaimana yayasan melaporkan penggunaan dana? (Per kuartal, dengan bukti dan verifikasi kunjungan.) Bagaimana keberlanjutannya setelah dana habis? (Yayasan membangun kemitraan lokal; dana ini jembatan, bukan tongkat.) Berapa persen dana yang sampai langsung ke kegiatan anak? (Sembilan puluh satu persen—angka yang membuat satu anggota komite menaikkan alis dengan cara yang baik.)
Votingnya empat berbanding satu. Yang satu menolak dengan alasan yang terhormat—ia menginginkan mitra yang lebih dekat dengan kantor pusat—dan mencatatkan keberatannya dengan sopan, dan aku bersyukur untuknya, karena keputusan yang disetujui tanpa satu pun keberatan adalah keputusan yang tidak diuji.
Pak Bos, yang duduk di ujung meja dan abstain sesuai kesepakatan, berbicara terakhir—bukan sebagai pemilik suara, tapi sebagai penutup rapat: "Tercatat bahwa saya tidak ikut memutuskan. Tapi di luar catatan resmi, saya ingin mengatakan satu hal: perusahaan ini menghabiskan bertahun-tahun mencari cara menyalurkan dana sosial tanpa tahu ke mana uangnya pergi. Hari ini kita tahu persis ke mana perginya: ke dua puluh anak di gubuk kayu yang berjalan dua jam untuk belajar membaca. Rapat selesai. Saya bangga dengan meja ini."
Di luar ruang meeting, Ratih menungguku dengan dua kaleng minuman dari vending machine—standar perayaan tertinggi kami berdua sejak zaman gaji pertama—dan menyerahkannya tanpa kata-kata, hanya dengan tos kaleng dan satu kalimat: "Dua puluh tiga halaman, disetujui empat berbanding satu, dan bos besar abstain dengan elegan. Kau baru saja menjalankan operasi paling rapi yang pernah kulihat di gedung ini. Aku bangga menjadi orang yang memoles desainnya." Mbak Inggrid lewat tidak lama kemudian, berhenti sebentar, dan menjabat tanganku—jabat tangan pertama yang pernah ia berikan kepadaku, dan aku tahu persis apa artinya: mulai hari ini aku bukan lagi anak asuhnya. Aku rekannya.
Aku menelepon Javar malam itu juga—bukan jam sepuluh, langsung, aturan dilanggar dengan suara bulat—dan ketika ia mengangkat, aku hanya berkata: "Empat berbanding satu. Tiga pos belajarmu aman sampai tahun depan."
Hening di seberang sana. Lama. Kemudian suaranya, lebih serak dari biasanya: "Dua ratus relawan akan mendengar ini besok pagi. Dan aku akan memberitahu mereka siapa yang menyusun proposalnya."
"Bilang yang benar: yang menyusun proposalnya adalah seorang kepala tim promosi yang datanya bagus. Sisanya cuma kaki yang kebetulan membawanya ke gubuk itu."
"Tidak," jawabnya. "Aku akan memberitahu mereka yang lengkap: bahwa ada orang yang naik kereta empat jam, duduk di lantai gubuk mendengarkan masalah kami, dan pulang membawa solusi sebesar ini. Itu bukan kebetulan, Lovia. Itu cinta yang bekerja dengan spreadsheet."
Satu jam kemudian Wisnu menelepon—langsung, tanpa basa-basi, dengan suara yang bergetar antara tertawa dan menangis: "Empat berbanding satu! Lovia, aku sudah tiga minggu tidak tidur memikirkan tiga pos itu, dan kau menyelesaikannya dengan dua puluh tiga halaman! Mulai hari ini, di yayasan ini, kau bukan lagi 'pacarnya Javar'. Kau mitra resmi. Ada fotomu di dinding kantor mulai besok, dan itu tidak bisa ditawar, aku ketua yayasan, aku punya wewenang menempel foto!"
Aku tertawa sampai sakit perut malam itu—dua telepon, dua kota, dua orang yang sama-sama tidak bisa tidur dengan alasan yang berbeda dari tiga minggu sebelumnya.
Malam itu di notebook-ku kutulis: "Hari ini dua duniaku bertemu di satu ruang meeting dan tidak bertabrakan—justru berjabat tangan. Kantorku dan kotanya, spreadsheet dan gubuk kayu, target penjualan dan anak-anak yang berjalan dua jam untuk belajar membaca. Aku pernah takut dua dunia itu terlalu jauh. Ternyata jaraknya cuma dua puluh tiga halaman."