22 MEI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Perubahan besar dalam hidupku kali ini datang dalam bentuk yang paling tidak romantis: sebuah SK. Surat keputusan, diketik rapi, bertandatangan basah, dibacakan di rapat divisi—"Mulai bulan ini, Lovia ditunjuk sebagai penghubung resmi perusahaan untuk kemitraan CSR dengan Yayasan Titik Terang, dengan tugas mengoordinasikan program, pelaporan, dan kunjungan berkala."
Timku bertepuk tangan. Ratih bersiul. Dan aku duduk di kursiku dengan senyum yang harus kujaga supaya tidak melebar melewati batas kewajaran profesional, karena di balik kalimat resmi itu ada arti yang tidak tertulis di SK mana pun: perjalananku ke kota kedua itu, mulai sekarang, adalah tugas kantor. Resmi. Dengan anggaran perjalanan dinas. Dua duniaku tidak lagi bertemu diam-diam di akhir pekan—mereka bertemu di jadwal kerja, dengan notulen.
Ratih, tentu saja, tidak bisa menahan diri. Saat rapat bubar ia menyusulku di lorong dengan wajah yang dibuat serius dan berkata, "Selamat atas penunjukannya, Ibu Lovia. Perusahaan ini akhirnya mengakui apa yang sudah lama diketahui semua orang: kau memang selalu pulang-pergi ke sana. Sekarang minimal bensinnya dibayarin. Itu namanya efisiensi anggaran cinta." Aku mengejarnya sampai lift dengan map kerja, dan dua direktur yang kebetulan lewat menatap kami berdua berlarian di lorong seperti anak SMP, dan aku tidak menyesal sedikit pun.
Mbak Inggrid yang mengusulkannya, dan ia menjelaskannya kepadaku sesudah rapat dengan alasan yang masuk akal dari semua sisi: "Kemitraan ini butuh orang yang menguasai dua bahasa sekaligus—bahasa perusahaan dan bahasa lapangan. Kau bicara spreadsheet dan kau juga sudah pernah duduk di lantai gubuk. Itu kombinasi langka. Dan—" ia memberiku tatapan yang tahu segalanya, "—kalau ada yang berbisik bahwa ini karena hubungan pribadimu, jawabannya sudah kutulis di memo usulannya: kaulah yang menyusun proposal yang lolos empat berbanding satu itu. Tidak ada orang lain di gedung ini yang lebih berhak menjalankannya daripada orang yang membangunnya."
Kunjungan resmi pertama sebagai penghubung jatuh akhir pekan itu juga—peresmian pos belajar kesepuluh, pos pertama yang dibangun sepenuhnya dengan dana kemitraan. Dan untuk pertama kalinya, aku menempuh perjalanan empat jam itu bukan dengan kereta ekonomi dan tas ransel, melainkan dengan mobil dinas dan map kerja—perubahan yang membuat Javar menyambutku di stasiun (ia tetap menjemput di stasiun, karena "mobil dinas tidak mengubah tradisi") dengan komentar resmi: "Selamat datang, Ibu Penghubung. Demi hubungan baik antar lembaga, apakah saya boleh menawarkan soto?"
"Soto dapat diterima, Bapak Direktur Program. Dengan catatan: meja pojok, pesanan yang sama."
"Noted. Akan saya masukkan ke notulen."
Pos kesepuluh itu bukan gubuk. Itu yang membuat dadaku sesak saat melihatnya dari kejauhan: sebuah ruangan semipermanen dengan atap seng yang baru, dinding papan yang dicat putih, jendela yang bisa dibuka-tutup, rak buku sungguhan, dan—di atas pintunya—papan nama yang ditulis tangan oleh anak-anak dengan huruf yang masih bergoyang: "POS BELAJAR SINAR PAGI". Di dalamnya ada dua puluh lima anak baru dari tiga dusun yang selama ini terlalu jauh dari pos mana pun, dan mereka duduk di bangku-bangku kayu baru dengan mata yang tidak percaya bahwa ruangan ini milik mereka.
Peresmiannya sederhana: gunting pita yang pitanya pita sungguhan (Sari yang memegang gunting, dengan konsentrasi yang membuat seluruh hadirin menahan napas), doa dari tokoh desa, dan sambutan singkat. Tapi bagian yang akan kuingat selamanya datang dari ketua dusun setempat—pria tua bertubuh kecil dengan sarung dan suara yang bergetar—yang berdiri dan hanya berkata: "Saya tidak bisa baca. Bapak saya tidak bisa baca. Anak saya tidak bisa baca. Mulai hari ini, cucu saya akan bisa baca. Itu saja. Tidak ada lagi yang perlu saya katakan." Lalu ia duduk, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang sanggup langsung berbicara setelahnya.
Setelah itu, Sari mengambil alih acara tanpa diminta siapa pun. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menyatakan dirinya "pemandu resmi", dan membawa rombongan kami berkeliling ruangan baru itu dengan gaya pemandu museum yang dicuri separuhnya dari televisi: "Di sini rak bukunya. Buku-bukunya dari kota, kata Kak Javar. Di sini papan tulisnya, boleh dicoba, tapi kapurnya jangan dihabiskan. Di sini—" ia berhenti di depan jendela, dengan gerakan dramatis membuka daun jendelanya, "—jendelanya bisa dibuka. Pos yang lama tidak punya jendela. Kalau panas, kami dulu berdoa. Sekarang tidak usah."
Seisi ruangan tertawa, dan ketua dusun itu—pria kecil yang tadi membuat semua orang diam—tertawa paling keras sambil mengusap matanya, dan Sari melanjutkan turnya dengan jam tangan imajiner di pergelangan tangannya karena pemandu museum di televisi selalu melihat jam.
Di sore harinya, setelah rombongan desa pulang, aku dan Javar berdiri di depan rak buku baru itu, menata buku-buku sumbangan berdua—pekerjaan kecil yang tenang di tengah hari yang besar—dan ia berkata tanpa menoleh dari rak: "Kau tahu apa yang aneh dari hari ini? Setahun yang lalu, kalau ada yang bilang kepadaku bahwa aku akan berdiri di pos kesepuluh dengan pacarku yang datang sebagai perwakilan resmi perusahaan mitra, aku akan tertawa. Hidupku yang dulu dan hidupku yang sekarang tidak pernah bisa kubayangkan ada dalam satu kalimat. Dan sekarang mereka tidak cuma dalam satu kalimat—mereka dalam satu rak buku."
"Ini baru pos kesepuluh," jawabku, menyelipkan buku terakhir ke tempatnya. "Di proposal tertulis target dua belas. Aku orang yang sangat patuh pada target."
"Dua belas, kalau begitu." Ia menutup rak itu. "Dan setelah dua belas?"
"Setelah dua belas kita tulis proposal baru. Dengan margin tabel yang lebih baik, kali ini, karena aku tidak mau berdebat soal margin lagi sampai tengah malam."
Dan malam itu, di kamar kos dengan kebun pisang yang mulai tinggi di jendelanya, kami menyusun laporan kunjungan pertama bersama—di satu laptop, bergantian mengetik, dengan perdebatan yang kali ini tentang penggunaan kata "signifikan" yang menurutnya berlebihan dan menurutku tepat—dan untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan dalam hubungan kami: bekerja bersama. Bukan mendukung dari jauh, bukan mendoakan dari kota lain, tapi duduk di meja yang sama, membangun hal yang sama, dengan dua kepala yang berdebat tentang satu kata sifat.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini aku resmi menjadi jembatan—bukan metafora, tapi jabatan, dengan SK dan anggaran perjalanan dinas. Dan jembatan itu sekarang punya sepuluh titik pijakan, dengan dua lagi yang sudah tertulis targetnya. Cucu seorang ketua dusun akan bisa membaca, dan sebagian kecil dari itu ditulis dengan tanganku. Kalau pekerjaan adalah doa yang dijalankan, hari ini doaku berbunyi dua bahasa sekaligus, dan dua-duanya dijawab."