05 JUNI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Mbak Inggrid sudah memperingatkannya: bisikan itu pasti datang. Dan seperti semua ramalan yang diucapkan oleh orang berpengalaman, bisikan itu datang—tepat waktu, melalui jalur yang sudah diduga, dengan bumbu yang sudah diduga.
Versi yang sampai ke telingaku, lewat Ratih yang mendengarnya dari pantry divisi lain, kurang lebih berbunyi: "Wajar saja proposal CSR-nya lolos. Yang menilai kan satu kantor. Yang dinilai kan pacarnya. Enak sekali jadi Lovia, mau nyalurkan dana ke mana tinggal kirim CV pacar."
Aku membaca pesan Ratih itu dua kali, di mejaku, di tengah hari Selasa yang sibuk, dan hal pertama yang kurasakan bukan marah—melainkan lega yang aneh. Karena bisikan itu berarti satu hal: aku masih diperhatikan. Orang tidak berbisik tentang orang yang tidak berarti. Dan bagian kedua dari ramalan Mbak Inggrid adalah: bisikan itu hanya bisa hidup di tempat gelap. Bawalah ke tempat terang, dan ia mati dengan sendirinya.
Aku tidak menunggu dibela. Rabu pagi, aku mengirimkan email kepada Mbak Inggrid dan komite CSR—bukan email marah, email permintaan: aku meminta sesi transparansi terbuka. Seluruh dokumen kemitraan—proposal dua puluh tiga halaman, notulen evaluasi, hasil voting empat berbanding satu, laporan keuangan yayasan, rencana pelaporan berkala—dibuka untuk dibaca siapa pun di perusahaan yang ingin membacanya. Dan aku menawarkan diri menjawab pertanyaan apa pun, dari siapa pun, di forum terbuka.
"Kau yakin?" tanya Mbak Inggrid, di ruangannya, dengan alis yang terangkat. "Forum terbuka itu tidak bisa dikendalikan. Orang bisa bertanya apa saja. Termasuk pertanyaan yang menyakitkan."
"Justru itu, Mbak. Kalau aku memilih-milih pertanyaan, bisikannya akan bilang aku takut. Satu-satunya cara membunuh bisikan adalah membuka semua pintu sekaligus dan mempersilakan angin masuk. Angin tidak bisa berbisik di ruangan yang terbuka."
Forum itu terjadi Jumat siang, di aula kantor, dan yang datang lebih banyak dari perkiraanku—ternyata orang-orang memang penasaran, dan kebanyakan dari mereka penasaran dengan niat yang baik. Pertanyaan-pertanyaannya beragam: berapa besar dananya? (Kujawab dengan angka persis, dan kujelaskan bagaimana angka itu ditetapkan oleh komite, bukan olehku.) Bagaimana yayasannya dipilih? (Kubacakan proses evaluasinya, tahap demi tahap, termasuk bagian yang paling penting: bahwa proposal itu dipresentasikan oleh Mbak Inggrid, dinilai komite lima orang, dan Pak Bos abstain tercatat.) Apa untungnya untuk perusahaan? (Kutunjukkan laporan dampaknya: citra perusahaan, keikutsertaan karyawan sebagai relawan, dan satu slide tentang dua puluh anak yang berjalan dua jam untuk belajar membaca—slide yang membuat ruangan itu hening dengan cara yang baik.)
Dan kemudian datang pertanyaan itu—dari seorang senior divisi lain yang mengangkat tangannya dengan sopan dan bertanya dengan langsung, dan aku berterima kasih kepadanya selamanya karena bertanya keras-keras alih-alih berbisik: "Tidak ada maksud menyerang. Tapi semua orang tahu direktur program yayasan itu pacarmu. Bagaimana kau menjawab tuduhan konflik kepentingan?"
Ruangan itu hening dengan cara yang berbeda. Dan aku berdiri di depannya, di depan semua orang, dan menjawab dengan tenang—karena jawabannya sudah kususun jauh sebelum bisikan itu ada, bersama Mbak Inggrid, di hari-hari ketika kami memutuskan untuk menjalankan semuanya dengan cara yang paling bersih:
"Pertanyaan yang benar, dan saya senang ditanya langsung. Jawabannya tiga. Satu: saya tidak pernah ikut menilai proposal ini—yang menilai komite, dan notulennya terbuka mulai hari ini. Dua: Pak Bos tidak ikut voting—abstain, tercatat, bisa Bapak baca sendiri. Tiga, dan ini yang paling penting: konflik kepentingan itu diukur dari siapa yang diuntungkan. Saya tidak digaji yayasan itu. Pacar saya tidak menerima satu rupiah pun lebih karena kemitraan ini—gajinya ditetapkan yayasan, tidak berubah. Yang menerima dananya adalah dua ratus anak di sepuluh pos belajar, dan setiap rupiahnya dilaporkan per kuartal, dan laporannya mulai hari ini bisa dibaca siapa pun. Kalau setelah membaca semua itu masih ada yang melihat konflik, datang ke meja saya. Saya akan duduk bersama Bapak atau Ibu, dan kita baca dokumennya bersama-sama, halaman demi halaman. Itu janji saya, dan janji saya tidak ada masa berlakunya."
Ruangan itu diam sebentar. Dan kemudian—hal yang tidak kuduga—senior itu mengangguk dan berkata, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya: "Jawaban yang baik. Saya akan membaca dokumennya, dan saya yakin saya tidak akan menemukan apa-apa." Dan forum itu ditutup bukan dengan tepuk tangan yang dramatis—hidup nyata jarang berjalan seperti film—tapi dengan sesuatu yang lebih berharga: lima orang yang datang ke mejaku sesudahnya untuk bertanya bagaimana caranya ikut menjadi relawan.
Pak Bos mengetahuinya, tentu saja. Ia tidak mengatakan apa-apa di depan umum, tapi Senin paginya, di mejaku, ada secarik kertas yang ditaruh di atas keyboard—tulisan tangannya yang kaku, hanya satu kalimat: "Cara kau menjawab di forum itu adalah cara orang menjawab yang sudah tahu sejak awal bahwa dirinya bersih. Teruskan. —PB."
Dan bisikan itu? Bisikan itu mati sebelum akhir bulan, seperti yang diramalkan Mbak Inggrid, karena tidak ada bisikan yang sanggup hidup di ruangan yang semua jendelanya terbuka.
Jam sepuluh malam itu, di video call, Javar mendengarkan seluruh ceritanya dengan wajah yang berubah-ubah—bangga di satu bagian, tidak enak di bagian lain. "Bagian yang membuatku tidak enak," katanya akhirnya, "adalah bagian di mana namaku dipakai untuk menyerangmu. Kau diserang karena berhubungan denganku. Itu biaya yang seharusnya tidak perlu kaubayar."
"Javar. Dengarkan baik-baik. Orang menyerang kita dengan bahan apa pun yang tersedia—kalau bukan namamu, mereka akan memakai rambutku, kotaku, atau cara makanku. Bisikan tidak pernah tentang bahannya, bisikan tentang orang yang suka berbisik." Aku menunjuk ke layar. "Dan kau tahu apa yang kuceritakan kepada mereka semua hari ini? Bahwa aku bangga dengan kemitraan ini, dengan dua puluh tiga halamannya, dengan empat berbanding satunya. Mereka bisa berbisik tentang apa saja, tapi mereka tidak bisa berbisik tentang sepuluh pos belajar. Bangunan tidak bisa dibisikkan."
Ia diam sebentar, lalu tertawa kecil—tawa yang lega. "Kau semakin jago berpidato. Hati-hati, aku bisa tersaingi."
"Kau sudah tersaingi. Aku cuma tidak mengumumkannya, supaya perasaanmu terjaga."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini aku belajar bahwa kejujuran itu bukan sekadar tidak berbohong—kejujuran adalah membuka jendela sebelum orang sempat menduga ada asap. Bisikan tidak perlu dilawan dengan teriakan. Cukup dengan lampu yang dinyalakan semua, dan undangan untuk melihat dari dekat. Dua puluh tiga halaman itu memang kubuat untuk menjawab bisikan sebelum bisikannya ada. Ternyata benar: jawaban terbaik disiapkan jauh sebelum pertanyaannya datang."
Dan sebagai penutup halaman: lima orang mendaftar jadi relawan hari ini. Bisikan itu mati, dan dari abunya tumbuh lima pasang tangan yang baru.