31 DESEMBER 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Tahun baru kali ini, tradisi bakso di rumah Bunda naik kelas: mejanya tidak lagi untuk tiga orang, melainkan untuk sembilan—karena Bunda mengundang orang tua Javar, dan ibu Javar datang dengan dua panci tambahan ("supaya baksonya tidak kesepian"), dan Ratih datang dengan suaminya yang membawa kue seperti diperintahkan tradisi, dan ayah Javar datang dengan koran yang dilipat rapi tapi—seperti malam satu meja dulu—ditinggalkan di mobil.
"Rumahmu akan penuh," protesku kepada Bunda seminggu sebelumnya.
"Rumah memang dibuat untuk penuh," jawabnya. "Rumah yang sepi itu bukan rumah, itu gudang. Tahun lalu kita bertiga di teras. Tahun ini kita bersembilan. Tahun depan, kalau semesta mengizinkan, lebih banyak lagi. Itu arah yang benar dari sebuah rumah: selalu bertambah, tidak pernah berkurang."
Maka malam itu dapur Bunda menjadi dapur paling sibuk di kota—dua panci bakso berdampingan, dua ibu-ibu berkolaborasi seperti dua koki yang sudah bekerja sama dua puluh tahun (padahal baru kenal satu tahun), dan aku yang berlari-lari kecil di antara mereka mengambil mangkuk dan sendok dan ditunjuk-tunjuk oleh dua orang yang tiba-tiba punya satu bahasa yang sama: bahasa dapur.
Di teras yang sama dengan tahun lalu—teras tempat aku dulu makan bakso sendirian dengan film yang sama dua puluh kali, teras tempat setahun lalu tangan Javar menggenggam tanganku di bawah kembang api tetangga—malam itu sembilan orang duduk berdesakan dengan mangkuk masing-masing, dan tidak ada satu pun yang keberatan dengan desakannya.
Jam sebelas, video call dari Wisnu menerobos masuk dengan suara yang sudah bisa kami tebak sebelum layarnya terbuka: "TAHUN BARU DARI TITIK TERANG!" Di belakangnya, di halaman kantor yayasan, puluhan relawan berkumpul dengan terompet kertas dan obor kecil, dan di barisan depan—diangkat tinggi-tinggi oleh pamannya—Sari melambaikan tangan sekuat tenaga dan berteriak, "KAK LOVIA! TAHUN DEPAN AKU SUDAH KELAS EMPAT!" Teras kami membalas teriakan itu dengan teriakan yang tidak kalah ributnya sampai ayah Javar menutup satu telinganya, dan Bunda mengangkat mangkuk baksonya ke arah layar seperti bersulang, dan untuk beberapa menit dua teras di dua kota itu menjadi satu ruangan yang besar, disambungkan oleh layar kecil dan persahabatan yang besar.
Sebelum tengah malam, Bunda mengangkat cangkir tehnya—kebiasaan yang sekarang sudah resmi menjadi ritual—dan ruangan itu hening menunggu. Dan Bunda, dengan matanya yang menyapu satu per satu wajah di teras itu, berkata pelan:
"Dua tahun lalu, di teras ini, cuma ada saya dan anak saya. Saya waktu itu berdoa dalam hati, doa yang tidak saya ucapkan keras-keras karena takut tidak terkabul: semoga tahun depan teras ini tidak sepi. Tahun lalu doa itu terkabul separuh—ada satu orang tambahan yang duduk di sini." Ia menatap Javar dengan senyum yang membuat Javar menunduk. "Tahun ini, teras ini penuh sampai ke ujung-ujungnya. Saya tidak tahu bagaimana semesta menghitung rezeki, tapi kalau rumah yang penuh adalah salah satu bentuknya, malam ini saya orang yang paling beruntung di kota ini."
Dan ibu Javar, yang duduk di sebelahnya, menambahkan dengan suara yang pelan dan bergetar: "Saya juga pernah berdoa yang tidak diucapkan keras-keras. Selama delapan tahun. Setiap malam tahun baru, saya berdoa semoga anak saya berhenti merasa bersalah dan mulai lagi hidupnya. Malam ini saya melihatnya duduk di sini dengan mangkuk bakso dan senyum yang tidak dipaksakan, dan saya tahu doa itu sudah terjawab—bukan separuh, tapi penuh."
Kembang api tetangga meledak tepat tengah malam—tetangga yang sama, dengan anggaran kembang api yang sama berlebihannya, dengan tradisi yang sama disyukuri semua orang di teras—dan di bawah cahaya yang berganti-ganti itu, aku memandangi sembilan orang itu satu per satu: Bunda dengan tehnya, ayah Javar yang tanpa koran dan ternyata banyak bicara juga kalau topiknya benar, ibu Javar yang matanya tidak pernah benar-benar kering malam itu, Ratih yang bersandar ke bahu suaminya dengan kenyamanan orang yang sudah pulang ke rumah yang benar, Pak Bos yang membiarkan Ratih mencuri bakso dari mangkuknya dengan pura-pura tidak melihat (akting yang sama buruknya dengan akting Bunda tahun lalu), dan Javar di sebelahku, dengan tangan yang menemukan tanganku di bawah meja tanpa perlu mencari.
"Resolusi?" bisiknya, mengulang pertanyaan tahun lalu.
"Tidak ada. Tetap dengan keputusan bersama yang ditulis di atas meja," bisikku balik. "Tapi ada satu tambahan: tahun ini aku tidak menabung apa-apa untuk ditakuti. Tahun ini aku menabung untuk dirayakan. Ada bedanya, dan aku baru bisa merasakan bedanya malam ini."
Dan ayah Javar, dari ujung teras, tiba-tiba berkata dengan suaranya yang jarang—suara orang yang memilih kata seperti memilih langkah di tempat licin: "Saya mau ikut bicara sebelum tahun ini tutup. Saya menghabiskan hidup saya mengurus perusahaan, dan saya mengira itu warisan yang akan saya tinggalkan. Tapi malam ini saya melihat anak saya di sini, di tengah keluarga yang dulu tidak saya kenal, dan saya sadar warisan itu bukan gedung. Warisan itu adalah bagaimana anak kita duduk di meja orang lain—dengan hormat, dengan tawa, dengan tangan yang terbuka. Kalau itu ukurannya, maka saya sudah selesai dengan tugas saya, dan hasilnya melebihi harapan saya." Ia mengangkat gelasnya ke arah Javar dan ke arahku. "Untuk kalian berdua. Dan untuk bulan Juni. Saya tidak diberitahu detailnya, tapi saya tahu membaca kalender anak saya."
Semua orang tertawa, dan Javar hampir tersedak baksonya, dan Bunda mengangkat cangkirnya paling tinggi sambil berkata, "Nah, kalau ayahnya sudah bicara, berarti memang sudah resmi jadi rahasia umum. Dua puluh enam Juni. Teras ini juga menandai."
Malam itu, setelah semua tamu pulang dan Bunda menolak dibantu membereskan ("tahun baru tidak boleh dimulai dengan mencuci piring, itu aturan lama, percaya saja"), aku berdiri sebentar di teras yang sudah sepi dengan sisa cahaya kembang api terakhir, dan memikirkan teras yang sama di tiga tahun yang berbeda: tahun dengan film yang sama dua puluh kali, tahun dengan satu genggaman pertama, dan tahun dengan sembilan mangkuk bakso dan satu tanggal yang ditandai semua orang.
Di notebook-ku kutulis malam itu juga: "Teras ini sudah melihat tiga versi dari diriku. Versi yang sendirian, versi yang mulai berani, dan versi yang dikelilingi. Dan pelajarannya sederhana saja: rumah memang dibuat untuk penuh, seperti kata Bunda—tapi kepenuhan itu tidak pernah datang sekaligus. Ia datang satu orang demi satu orang, satu tahun demi satu tahun, satu keberanian demi satu keberanian. Sampai suatu malam kau berdiri di teras yang sama dan menyadari bahwa doa yang tidak diucapkan keras-keras itu sudah terjawab—penuh, sampai ke ujung-ujungnya."