15 JANUARI 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Semuanya dimulai dari permintaan yang sederhana, disampaikan oleh Sari dengan cara Sari yang tidak sederhana: "Kak Lovia, kalau datang lagi, jangan cuma bawa buku. Bawa cerita. Buku banyak, tapi cerita dari mulut Kak Lovia cuma satu."
Aku menolaknya pada awalnya—tentu saja. Aku orang kantoran. Aku menulis proposal, laporan, dan notebook yang tidak akan kubacakan kepada siapa pun. Bercerita kepada dua puluh anak yang matanya menuntut itu pekerjaan orang lain—pekerjaan Javar, yang bisa membuat huruf-huruf hidup dan berkelana. Tapi Sari menatapku dengan tatapan jaksa ciliknya dan berkata, "Kak Javar cerita tentang huruf. Kak Lovia harus cerita tentang yang lain. Kalau sama saja, namanya bukan dua orang."
Dan permintaan itu tidak bisa kutolak dengan logika apa pun yang kumiliki.
Maka kunjungan berikutnya, dengan tangan yang berkeringat dan sebuah cerita yang kutulis dan kubuang dan kutulis lagi tujuh kali di notebook-ku, aku duduk di lantai pos belajar pertama di depan dua puluh anak—dan menceritakan cerita pertama yang pernah kutulis untuk orang lain.
Judulnya "Layang-Layang yang Tidak Mau Putus". Tentang sebuah layang-layang kecil yang terbang tinggi sekali sampai pemiliknya tidak terlihat lagi dari atas, dan yang setiap malam takut bahwa talinya sudah putus dan ia akan hilang—tapi setiap pagi ia merasakan tarikan kecil dari bawah, tarikan yang mengatakan "aku masih di sini, terbanglah lebih tinggi". Dan di akhir cerita, layang-layang itu mengerti bahwa talinya bukan rantai yang menahannya turun—talinyalah yang membuatnya bisa naik, karena layang-layang tanpa tali bukanlah layang-layang yang bebas, melainkan kertas yang hilang.
Aku menceritakannya dengan suara yang awalnya ragu dan akhirnya mengalir, dan dua puluh anak itu duduk tidak bergerak—keheningan yang sama yang dulu kulihat saat Javar bercerita, keheningan yang kupikir hanya dimiliki orang-orang berbakat—dan ketika ceritanya selesai, ada jeda satu detik yang terasa seperti satu tahun sebelum seorang anak laki-laki di barisan tengah mengangkat tangannya dan bertanya, dengan serius yang hanya dimiliki anak-anak: "Kak, yang memegang talinya itu siapa? Ibunya?"
Dan aku menjawab, tanpa menyiapkan jawabannya, dengan jawaban yang datang dari tempat yang lebih dalam dari persiapan mana pun: "Siapa pun yang menyayangimu dan tidak pernah melepasmu walaupun kamu terbang jauh. Bisa ibumu. Bisa ayahmu. Bisa kakakmu. Bisa temanmu yang jauh. Yang penting bukan siapa—yang penting talinya dipegang, dan kamu tahu dipegang."
Lalu tangan-tangan lain terangkat satu per satu, dan pertanyaan-pertanyaan itu datang seperti hujan yang baik: "Kalau talinya kendor, layang-layangnya jatuh tidak, Kak?" (Tidak, karena yang memegang akan menariknya pelan-pelan sampai kencang lagi.) "Kalau anginnya terlalu keras?" (Justru saat angin keras itulah tali paling penting.) Dan yang paling membuatku harus menelan sesuatu di tenggorokan, dari seorang anak perempuan kecil di pojok, dengan suara yang hampir tidak terdengar: "Kalau yang pegang talinya sudah pergi ke surga, talinya masih ada tidak, Kak?" Dan aku menjawabnya dengan jujur, karena anak-anak tidak boleh dibohongi dengan jawaban yang manis: "Masih. Tali itu pindah ke dalam sini"—aku mengetuk dadaku—"dan tidak pernah putus, walaupun yang memegangnya sudah tidak terlihat. Itu tali yang paling kuat dari semua tali."
Anak itu mengangguk pelan-pelan, seperti orang menyimpan sesuatu di saku, dan Sari di barisan depan menyeka matanya dengan gerakan yang ia kira tidak terlihat siapa-siapa, dan di pintu pos itu aku melihat Javar berdiri bersandar ke kusen—aku tidak tahu sudah berapa lama—dengan wajah yang tidak bisa kubaca sampai ia berbicara kemudian, di perjalanan pulang.
"Aku sudah mendengar banyak orang bercerita di pos-pos ini," katanya, menyetir dengan mata yang lebih sering melirikku daripada seharusnya. "Relawan, guru tamu, orang tua murid. Dan aku tahu perbedaan orang yang bercerita untuk menghibur dan orang yang bercerita untuk memberi sesuatu. Kau tahu bedanya? Orang yang menghibur membuat anak-anak tertawa. Orang yang memberi membuat mereka bertanya. Tadi ada anak yang bertanya siapa yang memegang talinya. Itu pertanyaan yang akan ia bawa pulang dan ia pikirkan sebelum tidur. Kau baru saja memberikan sesuatu kepada dua puluh anak yang tidak bisa dikembalikan dan tidak bisa dipinjamkan ke orang lain."
Aku diam di kursi penumpang dengan kalimat itu, dengan jendela yang mengalirkan sawah-sawah hijau, dengan sesuatu yang bergerak di dadaku yang sudah lama tidak bergerak—sesuatu yang terakhir kurasakan saat menulis di notebook di malam-malam panjang, sesuatu yang kupikir hanya untuk disimpan, bukan untuk diberikan.
"Aku menulisnya tujuh kali sebelum berani membacakannya," kataku akhirnya.
"Dan aku menulis pidato pertamaku sebelas kali," jawab Javar. "Wisnu masih menyimpan drafnya yang penuh coretan dan menunjukkannya ke relawan baru setiap ada yang bilang 'aku tidak bisa'. Tidak ada yang bisa pada percobaan pertama. Yang bisa itu orang yang tidak berhenti sampai percobaan ketujuh."
Malam itu, di kamar kosnya yang menghadap kebun pisang, aku menulis cerita kedua—karena ternyata setelah cerita pertama keluar, cerita-cerita berikutnya sudah mengantre di belakangnya seperti penumpang yang sudah lama menunggu pintu dibuka. Tentang kereta yang membawa surat-surat antara dua kota. Tentang gubuk kecil yang pintunya tidak pernah dikunci. Tentang anak berpita merah yang mengumpulkan kata-kata seperti orang lain mengumpulkan perangko.
Dan Javar, yang membaca draf-drafnya di atas meja kecilnya dengan dua cangkir teh di sampingnya, berkata tanpa mengangkat wajah dari kertas: "Ini tidak boleh berhenti di pos-pos. Ini harus jadi buku. Cerita-cerita anak tentang tali dan jembatan dan kota-kota yang tersambung—anak-anak di kota-kota besar juga butuh cerita seperti ini, Lovia. Mereka juga punya tali-tali yang tidak mereka mengerti."
"Buku." Aku menatapnya seperti ia baru saja mengusulkan mendaki gunung tanpa kaki. "Aku menulis tujuh draf untuk satu cerita berdurasi lima menit, dan kau sudah membicarakan buku."
"Aku membicarakan bibit, bukan hutan. Bibitnya dulu. Cerita kedua. Lalu ketiga. Hutannya nanti, kalau bibitnya tidak berhenti disiram." Ia meletakkan drafku dengan hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang hidup. "Delapan tahun aku melihatmu menulis di notebook yang tidak pernah kau perlihatkan kepada siapa pun. Sekarang tulisannya sudah keluar dari notebook dan masuk ke kepala dua puluh anak. Menurutmu itu kebetulan? Tidak ada yang kebetulan. Itu memang arahnya dari awal. Kau cuma baru tiba di jalan yang sejak lama menunggumu."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini aku bercerita kepada dua puluh anak, dan seorang dari mereka bertanya siapa yang memegang talinya. Aku tidak tahu apakah ceritaku bagus. Tapi aku tahu pertanyaan itu akan ia bawa pulang, dan itu lebih dari cukup untuk satu cerita pertama. Mungkin memang begitu cara semua cerita bekerja: bukan untuk dijawab, tapi untuk dibawa pulang—disimpan di saku, dibuka sebelum tidur, dipegang seperti tali."