12 FEBRUARI 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Februari kedua kami datang tanpa kami sadari, seperti tahun-tahun selalu datang: tiba-tiba sudah setahun sejak bukit layang-layang itu, sejak dua notebook yang diikat satu tali, sejak peraturan pertandingan yang disusun pasal demi pasal di atas tikar.
Setahun. Dua puluh enam perjalanan kereta. Dua notebook yang sudah hampir penuh dan akan diganti dengan yang baru. Dan satu tradisi yang tidak pernah bolos: setiap tukar notebook, dibaca di tempat.
Kali ini kami merayakannya dengan cara yang sudah menjadi cara kami—bukan dengan restoran, melainkan dengan kembali ke bukit itu, dengan tikar yang sama (yang sudah mulai pudar warnanya dan kami tolak untuk menggantinya, karena "tikarnya bukan tikar, tikarnya arsip"), dengan termos yang sama, dan dengan satu perbedaan kecil: kali ini aku yang membawa bekal, hasil kelas memasak yang sudah naik tiga level menurut penilaian Ratih yang kejam, yang berarti dalam skala manusia normal: layak makan dengan sukacita.
Bekal itu dinilai langsung di lapangan oleh juri yang paling penting, dan hasilnya: Javar makan dua porsi tanpa diminta, lalu berkata dengan mulut masih setengah penuh, "Untuk catatan resmi: bekal tahun ini mengalahkan bekal tahun lalu yang terlalu asin. Teknologi sudah dimaafkan." Aku mencatatnya di udara dengan jari seperti mengetik, dan menyatakan bahwa kutipan itu akan masuk ke halaman notebook berikutnya, dan ia menjawab bahwa ia akan menandatanganinya supaya sah.
Dan saat tiba gilirannya membaca notebook-ku, aku menyaksikan sesuatu yang tidak pernah membosankan: wajahnya berubah-ubah mengikuti halaman-halamanku seperti langit mengikuti angin. Ia tertawa terbahak di halaman tentang mug "RUANGAN INI MILIK MEJA INI" ("Pak Willy pasti pura-pura tidak terharu waktu mug ini dibagikan"). Ia berhenti lama di halaman tentang anak yang bertanya apakah tali masih ada kalau pemegangnya sudah di surga—lama sekali, sampai aku tahu tanpa bertanya bahwa ia sedang memikirkan tahun-tahun merawat ayahnya, tahun-tahun ketika pertanyaan seperti itu pasti pernah lewat di kepalanya sendiri. Dan ia menutup notebook-ku dengan pelan, dengan dua tangan, seperti menutup sesuatu yang bisa pecah, dan berkata: "Kau menulis lebih baik setiap bulannya. Aku tidak mengatakan itu sebagai pacar. Aku mengatakannya sebagai pembaca yang iri."
Di bukit itu, di antara layang-layang anak-anak yang tidak pernah berubah, kami bertukar notebook—dan kali ini ada halaman di notebook Javar yang membuatku membaca berdiri, lalu duduk, lalu membaca ulang. Ia telah menyalin seluruh cerita-ceritaku—"Layang-Layang yang Tidak Mau Putus", kereta pembawa surat, gubuk yang tidak pernah dikunci, anak berpita merah—ke dalam notebook-nya dengan tulisan tangannya, dan di bawah setiap cerita ia menulis catatan kecil tentang apa yang terjadi setelah cerita itu dibacakan di pos-pos: anak yang bertanya tentang tali mulai menulis surat untuk ayahnya yang merantau; anak yang mendengar cerita gubuk mulai datang lebih pagi; dan Sari, tentu saja Sari, yang sekarang menyatakan dirinya "asisten resmi pendongeng" dan menagih cerita baru setiap kunjungan.
"Cerita-ceritamu sudah berjalan lebih jauh dari keretamu," katanya. "Dan mereka berjalan dengan kaki mereka sendiri. Itu tanda cerita yang hidup: ia tidak butuh penulisnya lagi untuk berarti."
Dan di akhir halaman itu, ia menulis sesuatu yang membuatku harus berhenti membaca sebentar untuk mengatur napas: "Orang-orang bertanya kepadaku apa yang kulihat padamu sejak dulu, sejak aula kampus, sejak sebelum semuanya. Aku tidak pernah bisa menjawabnya dengan benar. Sekarang aku bisa: aku melihat seseorang yang menyimpan cerita-cerita di notebook karena ia belum tahu bahwa cerita-cerita itu bukan untuk disimpan—melainkan untuk diberikan. Dan aku beruntung menjadi orang yang berdiri di dekatnya saat ia akhirnya mulai membagikannya. Sisanya tinggal waktu, dan waktu, seperti biasa, akan membuktikan bahwa aku benar."
Aku membaca halaman itu di bukit itu dengan angin Februari yang sama seperti tahun lalu, dan aku tidak menangis—aku sudah menjadi orang yang lebih kuat dari yang kukira, atau mungkin aku hanya sudah belajar memilih tempat untuk menangis—tapi aku menutup notebooknya dan memandanginya lama, dan berkata: "Kalau suatu hari aku benar-benar menulis buku itu, halaman pembukanya akan kutulis untukmu."
"Jangan untukku," jawabnya, menggeleng. "Untuk anak-anak yang belum menemukan talinya. Aku sudah menemukan taliku. Tugasmu sekarang menulis untuk yang masih mencari." Ia tersenyum kecil. "Tapi boleh satu baris kecil di halaman belakang. Ukuran hurufnya tidak usah besar-besar."
Sore itu, sebelum pulang, kami melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan di bukit itu: menerbangkan layang-layang kami sendiri. Layang-layang sederhana yang kami beli dari penjual di kaki bukit, dengan tali yang baru, dengan angin yang pas. Dan sementara layang-layang itu naik—tinggi, lebih tinggi, sampai menjadi titik kecil di langit Februari—kami memegang gulungan talinya berdua, dua tangan di satu gulungan, dan tidak ada yang mengatakan apa-apa tentang metafora karena metaforanya sudah terlalu jelas untuk diucapkan, dan ada hal-hal yang kehilangan kekuatannya justru saat dijelaskan.
Di tengah menerbangkannya, anak kecil yang dulu layang-layangnya diperbaiki Javar—yang sekarang sudah lebih besar setahun, yang mengenali kami dari kejauhan dan berlari datang—berdiri di samping kami dan menatap layang-layang kami di langit dengan tatapan ahli, lalu memberikan penilaiannya: "Bagus. Tapi simpulnya masih kalah sama simpul Kak Javar." Dan kami tertawa bertiga di bukit itu, di bawah layang-layang yang menjadi titik kecil, dengan tali yang dipegang dua tangan.
Malam itu di notebook baruku—notebook ketiga, karena yang kedua sudah penuh sampai ke halaman terakhir—kutulis: "Setahun dua kota. Dua puluh enam kereta, dua notebook penuh, dua belas titik terang, dan satu layang-layang yang kami terbangkan berdua dengan dua tangan di satu gulungan tali. Kalau ada yang bertanya apa yang berubah dalam setahun, jawabannya: semuanya, kecuali satu hal—talinya. Talinya tidak pernah berubah. Justru karena talinya tidak pernah berubah, semua yang lain berani berubah."
Dan sebelum aku menutup halaman itu, aku menempelkan di sudutnya secarik kertas kecil yang kurekam diam-diam—foto layang-layang kami di langit, dua titik tangan di satu gulungan tali, diambil oleh anak kecil itu dengan ponsel Javar dengan bangga setinggi langit. Di belakangnya kutulis: "Dokumentasi resmi. Fotografer: ahli simpul berusia sembilan tahun. Subjek: dua orang yang masih belajar terbang."
Dan untuk catatan sejarah: tanggal empat belas Februari kali ini lewat tanpa perayaan apa-apa, karena kami sudah merayakannya dua hari lebih awal di bukit—dan justru karena itu, tahun ini tanggal itu terasa paling dirayakan dari semua tahun yang pernah ada.
Bunga tetap kalah. Notebook tetap menang. Rekor tidak berubah, dan semoga tidak pernah berubah sampai ke halaman-halaman yang paling akhir.