06 MARET 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Tanggal enam Maret datang lagi, dan tahun ini kami menandainya dengan cara yang kami sepakati jauh-jauh hari: aku naik kereta yang sama, di jam yang sama, ke kota yang sama—seperti setahun yang lalu, ketika aku mengantarnya pergi dan pulang dengan mata yang basah di gerbong yang melaju meninggalkan peron.
Tapi kereta kali ini membawa penumpang yang berbeda. Setahun yang lalu penumpang itu menulis di halaman pertama notebook-nya: "Hari pertama jarak." Setahun kemudian penumpang yang sama duduk di gerbong yang sama dengan notebook ketiganya, dengan dua puluh enam perjalanan di belakangnya, dengan kota tujuan yang sudah berubah dari "kota asing" menjadi "kota kedua" menjadi—kalau aku jujur kepada halaman ini—rumah yang lain.
Di gerbong itu aku membuka notebook pertamaku—notebook yang sengaja kubawa untuk ritual ini—dan membaca ulang halaman-halaman awalnya. Halaman tentang video call jam sepuluh yang pertama. Tentang "Menara Eiffel" tempat ia memegang ponsel tinggi-tinggi mencari sinyal. Tentang ketakutan bahwa jarak akan mengembalikan aku yang dulu. Dan tentang kalimat yang kutulis di kereta pulang setahun yang lalu: "Dua kota, satu tali, dua notebook. Delapan tahun yang lalu aku belajar kehilangan. Hari ini aku mulai belajar hal yang sebaliknya: merantai."
Aku membaca kalimat itu di kereta yang sama, satu tahun kemudian, dan menyadari sesuatu yang membuatku tersenyum sendirian di antara penumpang-penumpang lain: kalimat itu bukan harapan. Kalimat itu ramalan. Dan ramalannya terbukti benar, hari demi hari, dua minggu demi dua minggu, sampai ke gerbong ini.
Javar menjemputku di stasiun dengan sesuatu di tangannya: sebuah map tipis, yang langsung kukenali bentuknya karena map seperti itu pernah berdiri di meja warung soto lebih dari setahun yang lalu—map berisi tawaran Wisnu yang mengubah segalanya.
"Setahun yang lalu, di tanggal ini, aku berangkat dengan map seperti ini," katanya, menyerahkannya kepadaku di peron itu juga, karena menurutnya peron adalah tempat yang tepat untuk hal-hal yang dimulai di perjalanan. "Buka. Ini bukan tawaran pekerjaan. Ini laporan pertanggungjawaban."
Di dalamnya ada dokumen setebal dua belas halaman—satu untuk setiap bulan—berjudul "SATU TAHUN DUA KOTA: LAPORAN LENGKAP". Isinya bukan laporan yayasan. Isinya adalah laporan hubungan kami, ditulis dengan format laporan resmi yayasan yang ia tiru habis-habisan: dua puluh enam kunjungan (tiga belas darinya, tiga belas dariku—"keseimbangan tercapai sesuai target"), dua notebook penuh ditukar ("tingkat pengisian halaman: seratus persen, melebihi target"), dua kali pertengkaran ("dua-duanya selesai dalam dua puluh empat jam, sesuai protokol keluar lewat mulut"), satu forum transparansi, dua belas pos belajar, satu promosi, satu pernikahan sahabat, dan—di halaman terakhir—kesimpulan yang ditulis dengan huruf kapital yang rapi:
"KESIMPULAN: PROGRAM BERJALAN LEBIH BAIK DARI RANCANGAN. REKOMENDASI: DILANJUTKAN KE TAHAP BERIKUTNYA. TANGGAL EVALUASI TAHAP BERIKUTNYA: 26 JUNI 2022. DITANDATANGANI OLEH PIHAK YANG BERWENANG."
Aku membaca halaman terakhir itu di peron yang ramai, dengan kereta-kereta yang datang dan pergi di belakangku, dan aku tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan—kombinasi yang seharusnya tidak mungkin secara fisika tapi sudah menjadi keahlian khususku sejak mengenal orang ini.
"Kau membuat laporan tahunan untuk hubungan kita," kataku.
"Aku direktur program. Semua yang berjalan setahun harus dievaluasi dan didokumentasikan." Ia mengangkat bahu dengan wajah yang berusaha tetap serius. "Dan kau sendiri yang mengajarkanku: keputusan besar dibuat di atas kertas, dengan dua tangan. Anggap ini pra-baca untuk rapat tanggal dua puluh enam Juni."
Akhir pekan itu kami habiskan dengan cara yang paling kami: mengunjungi dua pos, makan di warung langganan di kota keduanya (yang sotonya masih kalah dari warung kami, dan akan selalu kalah, dan itu sudah menjadi bagian dari tradisi), dan duduk di beranda kamar kosnya malam hari dengan kebun pisang yang sudah tinggi dan dua notebook yang terbuka, membaca keras-keras halaman-halaman lama bergantian—tertawa di halaman-halaman bodoh, diam di halaman-halaman yang berat, dan berhenti lama di satu halaman yang kami baca berdua dalam keheningan: halaman tentang anak kecil yang bertanya apakah tali masih ada kalau pemegangnya sudah di surga.
"Ayahku membaca cerita itu," kata Javar pelan. "Aku membacakannya untuknya lewat telepon, dan ia diam lama sekali, dan kemudian ia berkata: 'Nak, selama sakitku dulu, aku sering takut mati bukan karena takut matinya—tapi takut talinya putus. Sekarang aku tahu talinya tidak putus. Kau yang memegangnya dari ujung yang lain, dan kau memegangnya dengan kuat.' Lalu ia menyuruhku berterima kasih kepadamu. Jadi, terima kasih—resmi, dari ayahku, untuk penulis ceritanya."
Dan Minggu paginya, sebelum keretaku berangkat, Javar mengajakku ke satu tempat lagi—bukit kecil di pinggir kota yang sudah lama tidak kami datangi: "Menara Eiffel". Titik sinyal resmi yayasan, tempat dulu ia berdiri dengan satu tangan memegang ponsel tinggi-tinggi supaya bisa mengabariku. Di sana, di angin pagi yang sama, ia mengeluarkan ponselnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi dengan pose yang sama persis seperti foto setahun yang lalu, dan aku memotretnya sambil tertawa.
"Untuk dokumentasi laporan tahun kedua," katanya, turun dari pose pahlawan sinyalnya. "Perbandingan perkembangan: tahun lalu satu orang mencari sinyal di sini. Tahun ini dua orang berdiri di tempat yang sama, dan tidak ada yang mencari apa-apa, karena semua yang dicari sudah ditemukan." Ia memandang kota kecilnya yang membentang di bawah bukit. "Kau tahu, tempat ini dulu kudatangi setiap malam di minggu-minggu pertama, karena hanya dari sini aku bisa mendengar suaramu tanpa putus. Sekarang aku datang ke sini hanya untuk memandang. Bukan karena sinyalnya tidak penting lagi—tapi karena aku tidak lagi takut kehilangannya."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Setahun yang lalu aku belajar merantai. Setahun kemudian rantainya sudah punya dua belas pos, satu laporan tahunan berformat resmi, satu ayah yang merasa talinya dipegang kuat, dan satu tanggal evaluasi tahap berikutnya yang semakin dekat. Kalau merantai itu adalah keterampilan, maka aku sudah naik tingkat—dari murid yang takut talinya putus, menjadi orang yang tahu persis bahwa tali yang dipegang dua tangan tidak pernah putus. Ia hanya meregang, dan dalam regangannya, ia mengukur seberapa jauh kita berani terbang."
Dan di kereta pulang, aku menyalin satu kalimat dari laporan tahunannya ke halaman belakang notebook-ku, dengan tambahan tanda tangan kecil di bawahnya: "PROGRAM BERJALAN LEBIH BAIK DARI RANCANGAN — disetujui oleh kedua pihak, tanpa satu pun keberatan yang tercatat."
Evaluasi berikutnya: dua puluh enam Juni. Dan kali ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menunggu sebuah tanggal bukan dengan takut—melainkan dengan persiapan yang rapi dan hati yang sudah selesai berbenah.