21 MEI 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Proposal untuk pos ketiga belas kutulis dengan cara yang berbeda dari proposal pertama—karena kali ini aku tidak menulisnya dengan tangan yang berkeringat. Kali ini aku menulisnya dengan dua belas pos yang sudah berdiri di belakangku, dengan laporan dua kuartal yang bersih sampai ke koma, dan dengan satu bukti yang tidak bisa dibantah oleh komite mana pun: angka-angka yang sudah berubah menjadi anak-anak yang bisa membaca.
Dan ada satu tambahan baru di proposal kali ini, yang membuatnya berbeda dari semua proposal CSR yang pernah kutulis: sebuah bab kecil berjudul "Perpustakaan Cerita". Usulannya sederhana—di setiap pos, satu sudut khusus untuk buku-buku cerita anak, dan satu sesi bercerita rutin setiap minggu. Dan di lampirannya, kusertakan tiga cerita yang sudah kucoba di pos-pos: layang-layang, kereta pembawa surat, dan gubuk yang tidak pernah dikunci. Dengan nama penulisnya tertulis di bawahnya. Dengan namaku.
Mbak Inggrid membacanya dengan alis yang naik perlahan—tanda yang sudah kupelajari artinya: ia sedang menyetujui sesuatu dan tidak mau menunjukkannya terlalu cepat. "Perpustakaan Cerita," ucapnya. "Dan penulisnya kamu."
"Bibitnya, Mbak. Hutannya nanti."
"Bibit yang bagus." Ia menutup proposalnya. "Dan untuk catatan resmi: bab ini yang akan membuat komite menyetujuinya lebih cepat. Angka-angka membuat orang menyetujui. Cerita membuat orang ingin menyetujui. Kau sudah belajar perbedaan itu, dan kau menggunakannya dengan benar."
Dan ramalannya terbukti—komite menyetujui pos ketiga belas dalam satu sesi, dengan suara bulat, tanpa satu pun keberatan yang tercatat (yang bahkan membuat anggota komite yang dulu menolak berkomentar, "kali ini bahkan saya tidak punya bahan untuk berkeberatan, dan itu membuat saya sedikit kehilangan pekerjaan"). Tapi keputusan yang membuatku berdiri diam di ruang meeting itu bukan tentang posnya—melainkan tentang bab kecilnya. Komite tidak hanya menyetujui Perpustakaan Cerita; mereka mengusulkan satu langkah lebih jauh: mencetak tiga cerita di lampiran itu menjadi buklet bergambar, dengan dana kemitraan, untuk dibagikan ke seluruh pos. "Anak-anak di pos-pos itu membaca buku-buku dari jauh," kata ketua komite. "Sudah waktunya mereka membaca cerita yang lahir dari tanah mereka sendiri—tentang gubuk yang mereka kenal, tentang kereta yang lewat di kota mereka, tentang layang-layang seperti yang mereka terbangkan."
Aku keluar dari ruang meeting itu dengan persetujuan resmi dan satu kenyataan yang berdenyut di dadaku: cerita-ceritaku akan dicetak. Dengan gambar. Dengan namaku di sampulnya. Untuk dibaca oleh anak-anak yang namanya belum pernah kudengar, di pos-pos yang belum sempat kukunjungi. Wisnu, ketika kukabari malam itu, berteriak begitu keras sampai Javar mengambil alih teleponnya dan berkata, "Ketua yayasan sedang tidak bisa diajak bicara dengan tertib, dia sedang berlari mengelilingi kantor memberitahu semua orang. Kau baru saja membuatnya kehabisan napas, dan itu pencapaian yang belum pernah dicapai siapa pun."
Tapi Mei itu bukan hanya bulan proposal. Mei itu juga bulan ketika aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang—kalau aku adalah tokoh dalam cerita yang kutulis sendiri—akan kusebut sebagai "babak di mana semua tokoh berperilaku mencurigakan dan tokoh utamanya pura-pura tidak tahu".
Dimulai dari Bunda. Bunda menelepon dan bertanya, dengan nada yang terlalu santai untuk ukuran Bunda, "Kau punya baju yang bagus untuk akhir Juni? Bukan untuk kerja. Untuk acara." Dan ketika kutanya acara apa, ia menjawab, "Acara apa saja. Perempuan harus selalu punya baju bagus. Itu nasihat umum. Tidak ada hubungannya dengan apa-apa." Bunda tidak pernah memberi nasihat umum. Bunda adalah orang yang paling spesifik di dunia.
Lalu Ratih. Ratih bertanya di tengah makan siang, dengan mata yang tertuju ke mangkuknya dengan konsentrasi yang berlebihan, "Kalau—hipotetis, ya, hipotetis—kau disuruh memilih antara tiga tempat: warung soto, bukit layang-layang, atau aula tua kampus, untuk satu momen penting, kau pilih yang mana?" Dan ketika kujawab, "Untuk apa?", ia menjawab, "Untuk bahan obrolan. Orang hamil itu pikirannya aneh-aneh. Jawab saja." Aku menjawab, "Warung soto, tentu saja. Semua yang penting dimulai di sana." Dan Ratih mengangguk-angguk terlalu cepat dan mengubah topik pembicaraan ke arah yang tidak penting sama sekali.
Dan Javar sendiri—Javar yang paling tidak bisa menyembunyikan apa-apa dariku—mulai melakukan hal-hal kecil yang mencurigakan: menelepon di jam-jam yang tidak biasa dan mengakhirinya dengan buru-buru ("ada rapat", katanya, padahal aku tahu jadwal rapatnya), menanyakan ukuran jariku "untuk proyek cincin kayu di pos kerajinan" (proyek cincin kayu. Aku mengangguk dan membiarkannya, karena keterampilannya berbohong tidak pernah meningkat sejak SMA), dan yang paling jelas: dua minggu sebelum tanggal dua puluh enam Juni, ia mengabari bahwa akhir pekan itu ia yang akan menjemputku, dan bahwa aku "tidak perlu membawa apa-apa, cukup bawa diri dan pakai sepatu yang nyaman".
Kalimat itu—"pakai sepatu yang nyaman"—adalah kalimat yang sama yang ia ucapkan sebelum mengajakku ke kampus lama, ke bukit layang-layang, ke semua tempat yang mengubah sesuatu. Dan aku membaca kalimat itu di layar ponselku dengan jantung yang berdetak dengan ritme yang sudah lama tidak kurasakan, dan aku tidak bertanya apa-apa, karena ada kejutan-kejutan yang tugasnya adalah dibiarkan tetap menjadi kejutan meskipun kau sudah tahu bentuknya—seperti hadiah yang kertasnya tidak kau robek sebelum waktunya, meskipun kau sudah tahu isinya dari bentuk bungkusnya.
Aku memberitahu Ratih kesimpulanku di telepon, dan Ratih—dengan keterampilan berbohong yang jauh lebih baik dari Javar—menjawab, "Bisa jadi. Bisa juga tidak. Aku tidak bisa mengonfirmasi atau menyangkal apa pun karena aku sedang hamil dan pikiranku sedang disewa oleh orang lain." Tapi sebelum menutup telepon ia menambahkan, dengan suara yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya: "Yang jelas, Lovi—apa pun yang terjadi tanggal dua puluh enam itu, kau sudah tahu jawabanmu sejak setahun yang lalu. Jadi apa pun bentuknya, di mana pun tempatnya, dengan sepatu nyaman atau tidak—jalani saja. Kau sudah lama sekali menabung untuk hari itu. Ambil bunganya penuh-penuh."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Semua orang di sekitarku berperilaku seperti aktor yang buruk dalam sandiwara yang bagus, dan aku memutuskan untuk menjadi penonton yang baik: tidak bersorak sebelum waktunya, tidak membuka kertas kado sebelum tanggalnya. Dua puluh enam Juni tinggal lima minggu lagi. Dan kalau tebakanku benar—dan tebakanku jarang meleset akhir-akhir ini—maka aku sedang berdiri di halaman-halaman terakhir dari bab yang panjang, dan bab berikutnya sudah menunggu dengan halaman yang masih kosong dan pena yang sudah tidak macet."
Dan di sudut halaman itu kutambahkan catatan kecil untuk diriku sendiri: "Kalau benar ini babak yang kuduga, bersikaplah seperti tokoh yang baik: jangan membaca halaman terakhir sebelum waktunya. Cerita yang baik dibaca berurutan."