25 JUNI 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Malam sebelum tanggal dua puluh enam Juni, aku tidak bisa tidur—dan aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa tidur, karena aku sudah tahu jawabanku sejak setahun yang lalu, dan orang yang sudah tahu jawabannya seharusnya bisa tidur dengan tenang. Tapi ternyata mengetahui jawaban dan menunggu pertanyaannya adalah dua hal yang berbeda, dan yang kedua ternyata lebih sulit.
Hari-hari terakhir sebelum tanggal itu berjalan dengan tingkat keanehan yang semakin terukur. Bunda menelepon tiga kali dalam dua hari—rekor baru—dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak tersamar: apakah rambutku sudah kupotong ("bukan untuk apa-apa, hanya bertanya"), apakah kukuku sudah rapi ("Bunda hanya berpikir tentang kesehatan tangan"), dan puncaknya, apakah aku akan pulang ke rumahnya hari Minggu setelahnya, "karena mungkin akan ada yang perlu dirayakan, dan mungkin juga tidak, dan Bunda tidak bisa mengonfirmasi apa pun karena Bunda cuma ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa".
Ratih datang ke rumah kontrakanku Jumat malam dengan alasan "menemani, karena suamiku rapat dan aku bosan"—dengan membawa dua gaun dari lemarinya ("untuk dicoba, kapan-kapan, tidak harus sekarang, tapi mungkin sekarang"), memeriksa isi tasku seperti petugas imigrasi ("notebook sudah? pena yang bagus sudah? tisu? bawa tisu, percaya padaku, bawa tisu yang banyak"), dan menatapku di depan pintu sebelum pulang dengan mata yang sudah basah sebelum ada apa-apa untuk ditangisi.
"Aku tidak tahu apa-apa," katanya, "secara resmi. Tapi secara tidak resmi—kau adalah orang yang paling layak untuk semua hal baik yang akan datang, dan aku sudah memesan peran sebagai orang pertama yang dipanggil setelah Bunda. Itu sudah kutetapkan sejak setahun yang lalu, dan posisinya tidak bisa diganggu gugat."
Dan kantorku—kantorku ternyata juga tidak bersih dari konspirasi itu. Di minggu terakhir Juni, Pak Willy bertanya dengan nada yang dibuat acak, "Ibu ada jadwal luar kota akhir pekan tanggal dua puluh enam?" Dan ketika kujawab belum tahu, ia mengangguk terlalu dalam dan berkata, "Bagus. Maksud saya, bagus kalau ada. Maksud saya, terserah Ibu. Saya cuma mengecek jadwal. Sebagai orang logistik. Kebiasaan lama." Lalu ia berjalan pergi dengan kecepatan yang tidak wajar untuk orang yang mengaku hanya mengecek jadwal. Mbak Inggrid, ketika aku mengajukan cuti hari Senin setelahnya, menyetujuinya dalam waktu empat detik—empat detik, rekor tercepat dalam sejarah persetujuan cuti—dengan satu komentar yang ditulisnya di kolom catatan persetujuan: "Disetujui. Untuk keperluan yang semoga berjalan sesuai rencana semua pihak." Semua pihak. Ia menulis "semua pihak" di dokumen resmi perusahaan. Bahkan timku—timku sendiri—menempelkan sebuah catatan kecil di mug karikaturku Jumat sore, dengan tulisan tangan yang disamarkan: "Bu, apa pun yang terjadi akhir pekan ini, kami sudah menyiapkan pizza untuk perayaan Senin. Anggap saja ini firasat yang berbentuk pizza."
Seluruh kota, tampaknya, sudah membaca naskahnya kecuali aku—dan aku memutuskan, dengan semua sisa kendali diri yang kumiliki, untuk tetap membaca halaman-halamannya berurutan.
Dan Sabtu pagi itu—dua puluh enam Juni, tepat satu tahun sejak bukit layang-layang dan timeline yang ditandatangani dua tangan—aku bangun sebelum alarmku, mandi lebih lama dari biasanya, dan berdiri di depan lemari dengan dua gaun kiriman Ratih yang tergantung seperti dua opsi jawaban dalam ujian yang sudah kuketahui kuncinya.
Aku memilih yang sederhana. Yang biru. Yang membuatku merasa seperti diriku sendiri—karena satu hal yang sudah kupelajari dari semua momen besar dalam dua tahun terakhir: momen-momen terbesar layak ditemui sebagai diri sendiri, bukan sebagai versi yang berpura-pura.
Javar datang jam delapan pagi tepat—tidak pernah telat satu menit pun untuk hal-hal yang penting, satu dari seribu hal tentangnya yang tidak pernah berubah sejak aula kampus. Ia berdiri di depan pintuku dengan kemeja yang disetrika dengan kerapian yang melampaui kerapian biasanya (dan aku menghitung, dari kerutannya, bahwa kali ini ia menyetrikanya empat kali, bukan tiga), dengan senyum yang ia jaga supaya tetap biasa dan gagal total.
"Pagi," ucapnya.
"Pagi," jawabku. "Kau gugup."
"Aku tidak gugup. Aku hanya—" ia berhenti, menarik napas, dan memutuskan untuk jujur seperti yang selalu menjadi aturan kami, "—iya. Aku gugup. Aku sudah berpidato di depan ribuan mahasiswa tanpa gugup, dan pagi ini tanganku berkeringat sejak bangun tidur. Itu seharusnya memberitahumu sesuatu, tapi kau tidak boleh bertanya apa-apa, karena aku sudah merencanakan hari ini selama setahun dan aku tidak akan membiarkan pertanyaanmu yang selalu tepat sasaran merusak urutan acaranya."
Aku tertawa—dan tawa itu meredakan sesuatu di dadaku yang sejak semalam mengencang. "Baik. Tidak ada pertanyaan. Aku penonton yang baik hari ini. Ke mana kita pergi?"
"Ke satu tempat," jawabnya, membukakan pintu mobil dengan gerakan yang lebih formal dari biasanya, seperti pelayan di restoran yang mahal, dan itu membuat kami berdua tertawa lagi. "Dan sepanjang jalan, kau boleh menebak. Tapi aku tidak akan mengonfirmasi apa pun sampai kita tiba."
Maka kami berkendara keluar kota di pagi dua puluh enam Juni yang cerah—dengan matahari yang naik di jendela sebelahku, dengan radio yang memainkan lagu-lagu lama yang kami kenal separuh-separuh, dengan Javar yang menyetir dengan dua tangan di setir pada posisi jam sepuluh-lewat-sepuluh yang sempurna, yang merupakan tanda pasti bahwa ia sedang menahan sesuatu yang sangat besar.
"Boleh aku menebak sekarang?" tanyaku di kilometer-kilometer awal.
"Boleh. Tapi aku tidak akan menjawab."
"Bukit layang-layang?"
"Tidak ada konfirmasi."
"Kampus lama?"
"Tidak ada konfirmasi." Tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya yang ia gagal sembunyikan, dan aku mencatatnya, dan menyimpannya, dan tidak menekannya lebih jauh—karena penonton yang baik tidak berteriak dari kursinya saat aktornya sedang berjalan menuju titik yang sudah ditandai di lantai panggung.
Dan aku menebak sepanjang jalan—dengan tenang, dengan senyum yang tidak bisa kuhapus, dengan hati yang berdetak mengikuti kilometer-kilometer yang semakin akrab. Karena jalan ini aku kenal. Jalan ini menuju ke arah yang sudah sering kulalui, tapi kali ini bukan ke kota kedua—kali ini berbelok di pertigaan yang berbeda, ke jalan yang lebih kecil, ke arah yang membuat dadaku mulai berdegup dengan kecepatan yang baru.
Dan ketika mobil itu akhirnya melambat dan berhenti, dan aku menatap keluar jendela ke tempat yang berdiri di depan kami, aku mengerti—dalam satu detik penuh yang akan kuingat selamanya—kenapa ia memilih tempat ini, kenapa dari tiga kandidat inilah yang menang, dan kenapa aku akan menangis sebelum ia selesai bertanya.
Tapi itu cerita untuk halaman berikutnya. Dan halaman berikutnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, tidak kutulis sendiri.
Kali ini, ia yang menulisnya.