14 JANUARI 2023
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Kantor kedua Titik Terang berdiri di sebuah rumah tua di pinggir kota kami—rumah berhalaman luas dengan pohon mangga di depannya, yang disewa yayasan dengan harga yang menurut Wisnu "masih bisa lebih murah, tapi aku sudah tua dan lelah menawar, jadi kuterima saja". Dan pada sebuah Sabtu pagi di bulan Januari, rumah itu resmi dibuka—dengan papan nama yang sama dicat tangan, dengan dua belas anak dari pos pertama yang datang dengan bus sebagai "delegasi resmi", dan dengan satu orang yang turun dari mobil penuh koper untuk terakhir kalinya: Javar, yang hari itu resmi pindah kembali ke kota ini.
Bukan meninggalkan kota keduanya—kota itu tetap rumah yayasan, tetap ada dua belas pos di petanya, tetap akan ia kunjungi dua minggu setiap bulan seperti jadwal yang sudah menjadi tulang punggung hidupnya. Tapi kursi kerjanya sekarang ada di sini. Di kota ini. Di kota yang sama denganku.
Sehari sebelum peresmian, aku membantunya menata ruangan kerjanya di rumah tua itu—dan menatanya seperti menonton seseorang menata kembali dua tahun hidupnya. Rak buku kecil yang dulu kami pasang berdua di kamar kosnya dibawanya utuh. Foto satu meja dari malam delapan kursi itu dipasangnya menghadap meja kerja, di posisi yang sama seperti dulu menghadap tempat tidurnya. Dan di dinding sebelah mejanya, ia menempelkan—dengan hati-hati, dengan dua tangan—selembar kertas yang sudah mulai menguning di pinggirnya: peraturan pertandingan kami, salinan tulisan tangan dari bukit layang-layang, yang selama dua tahun menjadi hal pertama yang ia lihat setiap bangun tidur di kamar kos dengan kebun pisang.
"Kertasnya sudah tua," ucapku, menyentuh pinggirnya yang menguning.
"Kertasnya sudah lulus ujian," jawabnya. "Dua tahun, dua kota, dua ratus enam puluh satu anak, dua notebook penuh, satu pertunangan. Kertas ini menyaksikan semuanya dari dinding. Ia tidak boleh diganti sampai ia jatuh sendiri—dan bahkan kalau jatuh, ia akan dibingkai, bukan dibuang." Ia menempelkan paku terakhirnya dan mundur selangkah, memandangi dinding itu. "Di kamar kos dulu, aku menempelkan ini supaya ingat bahwa aku tidak sendirian. Di sini, aku menempelkannya untuk alasan yang berbeda: supaya ingat bahwa aku sudah tidak sendirian. Kertas yang sama, tugas yang berbeda. Itu namanya promosi."
Peresmiannya dihadiri semua orang—Bunda, yang datang dengan termos dan memeriksa dapur kantor baru itu seperti inspektur ("dapur kantor yang baik menentukan kualitas relawannya, itu ilmu lama"); Pak Bos dan Ratih dengan Nadia yang tidur sepanjang acara di gendongan ayahnya; Mbak Inggrid dengan ucapan resmi perusahaan; dan Wisnu yang berpidato dengan pengeras suaranya meskipun halaman itu hanya berisi lima puluh orang.
"Tahun lalu saya berdiri di kaki gunung membuka pos kedua belas," katanya. "Hari ini saya berdiri di sini membuka kantor kedua. Orang-orang bertanya apa bedanya. Bedanya satu: pos kedua belas adalah perluasan peta. Kantor kedua ini adalah pernyataan bahwa peta itu sekarang punya dua jantung. Dan jantung yang kedua ini—" ia menepuk bahu Javar, "—adalah orang yang dua tahun lalu datang ke kantor kami dengan satu koper dan satu map, dan sekarang datang dengan dua kota yang berdiri di punggungnya."
Dan acara puncaknya adalah pengumuman yang sudah ditunggu-tunggu: pos ketiga belas—pos pertama dari ekspansi timur—akan dibangun di sebuah desa dua jam dari kota ini, dengan survei yang sudah selesai dan warga yang sudah bermusyawarah menyetujuinya. Kotak Baca akan berkeliling ke timur juga. Perpustakaan Cerita akan ada di sana sejak hari pertama. Dan buklet-buklet itu—buklet dengan layang-layang di sampulnya—akan ikut menyeberang ke desa-desa baru.
Sari, yang berdiri di sampingku sepanjang acara dengan sikap resmi delegasi, menarik ujung bajuku saat pidato selesai dan berkata dengan suara bisiknya yang terdengar tiga dusun: "Kak, berarti sekarang Kak Javar tidak perlu naik kereta lagi?"
"Masih perlu, kadang-kadang. Tapi tidak setiap dua minggu."
"Bagus," katanya, mengangguk seperti orang yang menyetujui anggaran. "Kereta itu capek. Aku pernah naik sekali, dan aku tidak suka menunggu. Orang yang saling sayang tidak boleh dibuat menunggu. Itu boros waktu."
Dan malam itu—malam pertama Javar kembali menetap di kota yang sama—kami makan di warung soto kami, di meja pojok kami, dengan taburan bawang goreng yang dobel tanpa kami minta (pemiliknya sudah menetapkan itu sebagai standar permanen sejak pertunangan: "yang bertunangan dan yang menikah, taburannya dobel selamanya, itu aturan warung, tidak berubah").
Pemiliknya duduk sebentar di ujung meja kami—sesuatu yang jarang ia lakukan—dan berkata sambil memandangi kami berdua dengan matanya yang empat puluh tahun membaca pasangan: "Dua tahun lalu, anak ini pamit dari meja ini mau merantau. Aku bilang dia akan kembali. Sekarang dia kembali beneran—bukan dua minggu sekali, tapi menetap. Dan warung ini menang lagi." Ia berdiri, menepuk meja dua kali. "Aku sudah memutuskan: meja pojok ini, kalau aku pensiun nanti, akan kuberi plakat kecil. 'Meja yang tidak pernah salah.' Kalian berdua buktinya. Kalau ada yang protes plakatnya, suruh bicara sama aku."
Dan di perjalanan pulang—perjalanan yang pendek, perjalanan dalam kota yang sama, perjalanan yang tidak memerlukan kereta atau empat jam atau menara sinyal—Javar menyetir dengan satu tangan dan menggenggam tanganku dengan tangan yang lain, dan berkata pelan:
"Malam ini pertama kalinya dalam dua tahun aku tidak menyetir ke stasiun atau ke kamar kos dengan kebun pisang. Malam ini aku menyetir pulang. Ke kota yang ada kamunya. Dan aku tidak tahu kata untuk rasanya—"
"Ineffable," jawabku.
Ia tertawa—tawa yang lepas, tawa yang pulang. "Ineffable," ulangnya. "Kata itu sekarang resmi menjadi kata rumah tangga. Aku mengusulkan dicatat di peraturan pertandingan kita, pasal tambahan: setiap kali ada yang merasakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan, cukup bilang 'ineffable', dan yang satunya wajib mengerti tanpa bertanya."
"Disahkan," jawabku. "Tanpa notulen. Tapi dengan soto."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini dua kota kami resmi menjadi satu kota dengan satu kantor tambahan di peta yang lain. Kereta empat jam itu tidak pensiun—ia hanya turun pangkat, dari tulang punggung menjadi jalan kenangan. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku menulis halaman ini tanpa tanggal perjalanan berikutnya di kepala. Tidak ada kereta yang harus dikejar besok. Tidak ada peron yang menunggu. Yang ada cuma kota ini, warung itu, meja pojok itu, dan satu orang yang menyetir pulang ke rumah yang sama. Setelah delapan tahun berpisah dan dua tahun merantai, akhirnya kami berdua tinggal di halaman yang sama—bukan halaman notebook. Halaman kota. Halaman rumah."