08 APRIL 2023
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Seminggu sebelum pernikahan, hidupku berjalan seperti mesin yang sudah diatur oleh panitia yang jauh lebih kompeten dari pemilik hidupnya—dan panitia itu, tentu saja, dipimpin oleh kekuatan alam yang sama yang mengatur pernikahan Ratih: Pak Willy.
Ia menawarkan diri lagi—secara resmi, dengan surat pengajuan yang diketik rapi, yang diserahkan kepada Bunda dan ibu Javar dengan kopian tembusan kepadaku dan Javar—untuk menjadi koordinator logistik. Dan dua keluarga itu menerimanya dengan suara bulat, karena semua orang yang pernah menyaksikannya bekerja tahu bahwa menolak Pak Willy mengurus logistik adalah seperti menolak ditawari payung di tengah hujan.
Pernikahan kami akan berlangsung sederhana—sesederhana yang bisa dipertahankan oleh dua keluarga yang masing-masing punya pendapat. Di pendopo yang sama dengan pernikahan Ratih ("tempatnya sudah terbukti, sudah teruji, sudah ada kenangannya," kata Ratih, yang memutuskan itu sebelum kami memutuskan apa-apa), dengan daftar tamu yang disusun dengan kriteria warisan dari pernikahannya: "Hanya orang-orang yang tahu nama panggilan masa kecil kalian, atau yang pernah menjadi bagian dari cerita kalian."
Dan daftar itu—daftar itu adalah bab tersendiri dalam hidupku. Di dalamnya ada pemilik warung soto, yang namanya kutulis dengan tangan yang gemetar sedikit, dengan keterangan yang sama seperti keterangan pemilik warung bakso di pernikahan Ratih: "Meja keluarga. Tidak bisa ditawar." Ada anak-anak pos pertama, yang akan datang dengan bus yayasan, dengan Sari yang sudah mengangkat dirinya sendiri menjadi "koordinator lapangan tamu cilik". Ada pemilik warung bakso, yang membalas undangannya dengan pesan berantai tiga halaman tentang betapa warungnya "resmi menjadi warung paling beruntung se-kota, dua pelanggan setianya menikah dalam dua tahun berturut-turut". Ada ibu-ibu keuangan dengan Tim Persiapan mereka yang kali ini bekerja dengan pengalaman penuh. Ada Dita, Rio, Rian, dan relawan-relawan dari dua kota. Dan ada satu baris yang membuatku berhenti lama saat menulisnya: "Pemilik kedai es krim dekat kampus"—yang namanya bahkan tidak kami ketahui, yang sudah digantikan anaknya, tapi yang toko kecilnya adalah saksi dua mahasiswa miskin yang dulu, dan dua orang yang kembali delapan tahun kemudian.
Kantorku memberikan perpisahannya sendiri di hari kerja terakhirku sebelum pernikahan—perpisahan yang mereka sembunyikan dengan kemampuan akting yang tidak pernah membaik. Aku dipanggil ke ruang meeting besar untuk "review mendadak", dan di sana seluruh tim kreatif berdiri dengan spanduk, dengan mug-mug karikatur di tangan masing-masing (mereka mencetaknya untuk semua orang, ternyata—satu mug untuk setiap anggota tim, dengan wajah mereka masing-masing), dan dengan satu pidato yang dibacakan bergantian oleh tiga orang karena yang pertama tidak sanggup menyelesaikannya tanpa menangis. Mbak Inggrid menyerahkan kado resmi perusahaan: cuti dua minggu penuh yang "tidak bisa dikembalikan, tidak bisa ditukar, dan tidak boleh diisi dengan memeriksa email—ada orang yang ditugaskan melaporkanmu kalau kau membuka email, dan orang itu adalah aku". Dan di akhir, Pak Willy maju dengan bingkai terakhirnya—kali ini berisi foto tim dari acara penandatanganan kemitraan di pos pertama, dengan tulisan tangannya di bawahnya: "Meja ini mengirimmu ke meja yang lain. Jaga dia seperti kau menjaga kami."
Malam-malam terakhir sebelum hari itu berjalan dengan ritme yang aneh—sibuk di luar, tenang di dalam. Fitting gaun terakhir (gaun yang sederhana, yang membuatku merasa dihormati, seperti kata ibu Ratih dulu—pelajaran yang kuwarisi dari pernikahan sahabatku). Gladi bersih yang dijalankan Pak Willy dengan presisi latihan perang. Dan di antara semuanya, satu malam yang tenang di rumah Bunda, ketika ia masuk ke kamarku dengan dua cangkir teh dan duduk di tepi tempat tidur seperti dulu, seperti ketika aku masih SMA dan dunia masih jauh lebih sederhana.
"Ayahmu akan duduk di kursi depan besok," ucapnya pelan. "Bukan secara harfiah. Tapi kau tahu maksud Bunda. Dia akan ada di sana, di kursi yang akan kusiapkan dengan foto dan bunga—bukan untuk membuat sedih, tapi supaya dia tidak ketinggalan. Anaknya menikah, Nak. Ayahnya tidak boleh ketinggalan, dalam bentuk apa pun yang bisa kita siapkan."
Aku menggenggam tangannya—tangan yang sudah bekerja untukku sejak sebelum aku bisa berjalan—dan tidak mengatakan apa-apa, karena ada malam-malam ketika kata-kata memang harus mundur dan membiarkan genggaman yang bicara.
"Dan satu lagi," lanjut Bunda, mengeluarkan sesuatu dari saku kebayanya: sebuah notebook kecil, sampulnya sudah lusuh di pinggir-pinggirnya. "Ini diary Bunda dari zaman muda. Tidak semuanya—halaman-halaman tentang ayahmu disobek Bunda simpan, itu milik Bunda sampai mati. Tapi halaman-halaman tentang membangun rumah tangga, tentang tahun-tahun pertama, tentang cara bertahan di hari-hari yang sulit—itu untukmu. Bukan untuk ditiru. Untuk dibaca kalau kau butuh. Rumah tangga itu tidak ada sekolahnya, Nak. Tapi ada catatan-catatan dari orang-orang yang pernah menjalaninya, dan catatan itu menolong lebih dari yang kau kira."
Aku memeluknya malam itu di kamar masa kecilku, dengan dua cangkir teh yang mendingin, dengan gaun yang tergantung di lemari menunggu harinya, dengan notebook lusuh yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti cincin yang berpindah di pernikahan lain—dan aku berpikir bahwa inilah cara keluarga bekerja: tidak dengan wejangan besar, tapi dengan benda-benda kecil yang diserahkan di malam-malam yang tenang, dengan dua cangkir teh, dengan kata-kata yang pelan.
Dan malam sebelum hari besarnya, Javar dan aku melakukan pertukaran notebook terakhir sebagai dua orang yang belum menikah—duduk di beranda rumah kontrakanku, membaca halaman-halaman terakhir dari dua tahun yang panjang, dan menutupnya bersama-sama dengan satu kesepakatan terakhir yang kutulis di halaman penutup. Javar membaca halaman penutupnya dengan pelan, dua kali, dan kemudian menutup notebook itu dan memegangnya di pangkuannya seperti orang memegang sesuatu yang baru saja selesai dibangun—dan ia berkata, dengan suara yang hanya ada di beranda-beranda malam: "Tiga notebook, dua kota, satu jawaban. Besok aku akan berdiri di depan semua orang dan mengucapkan janjiku keras-keras. Tapi malam ini, di beranda ini, aku sudah mengucapkannya duluan—kepada halaman-halaman ini, supaya mereka menjadi saksi pertamanya, seperti mereka selalu menjadi saksi pertama untuk semua hal penting dalam hidup kita."
"Notebook ketiga selesai malam ini. Besok, bab baru dimulai—dengan notebook keempat yang akan dibuka di rumah yang sama, oleh dua orang yang sudah resmi menjadi satu tim untuk selamanya. Dan untuk pembaca halaman ini di masa depan (kalau-kalau anak-anak kami suatu hari menemukannya): ini bukti bahwa ayah dan ibumu pernah dua kota, pernah delapan tahun, pernah hampir tidak pernah—dan tetap sampai ke malam ini, ke beranda ini, ke halaman ini. Tali itu tidak pernah putus. Tidak akan pernah."
Sampai jumpa besok.