Bian buru-buru merapatkan bibirnya. Lian sudah menoleh ke arah pintu, membuatnya pura-pura sibuk menepuk debu yang tidak ada di celananya.
"Ayah bilang apa?"
"Ngatek. Masuklah yang benar. Sepatumu dilepas."
"Ayah juga belum melepas sepatu."
Virgo mendengus. Dalam keadaan lain dia pasti sudah meledek temannya itu. Sekarang matanya hanya mengikuti Belva yang kesulitan menarik kursi dengan tangan kiri. Gadis itu bahkan masih sempat membantu Lian merapikan letak sandalnya.
Virgo mengambil kursi tersebut, menggesernya tanpa bicara. Belva mendongak takut-takut.
"Aku tidak mau dimarahin lagi."
"Aku belum bicara."
"Tapi wajah kakak sudah."
Bian hampir tertawa. Dia membatalkannya saat Virgo menoleh. Sambil menggaruk pelipis, dia mengajak Lian mengambil air minum. Kali ini dia sendiri yang mengangkat teko, tidak menyuruh anak kecil itu melakukannya.
Virgo duduk di seberang Belva. Di bawah cahaya lampu, bengkak pada tangan gadis itu terlihat semakin jelas. Belva menyembunyikannya di bawah meja, seakan dengan begitu pembicaraan mereka juga bisa dihentikan.
"Tunjukkan."
"Kakak tadi bilang sudah."
Virgo mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya.
"Aku keliru. Seharusnya aku tidak memijat tanganmu sembarangan. Kita periksa ke tempat yang benar."
Belva memperhatikan wajahnya. Biasanya laki-laki itu selalu tahu apa yang harus dilakukan. Mendengar dia mengakui kesalahan terasa aneh, sampai Belva lupa untuk terus merengut.
"Apa harus disuntik?"
"Belum tahu."
"Aku tidak mau."
"Kita tanya dulu. Kau boleh tanya sebanyak yang kau mau."
Bian kembali membawa empat gelas. Lian berjalan di belakangnya dengan sebungkus biskuit yang ditemukan di dalam tas. Dia meletakkannya dekat tangan Belva yang tidak terluka.
"Untuk kakak. Bukanya pakai tangan ini saja."
Belva tersenyum kecil. "Makasih, Lian."
Virgo menunggu sampai Bian mengajak Lian duduk di depan televisi. Suara kartun mulai terdengar, cukup keras untuk mengisi ruang yang sejak tadi terasa sesak.
"Ceritakan bagian yang sanggup kau ceritakan dulu," kata Virgo.
Belva memandangi biskuitnya. Dia belum membukanya.
"Kalau mereka dapat masalah lagi, nanti aku disalahkan lagi."
"Siapa yang bilang?"
"Banyak orang."
Virgo menahan pertanyaan berikutnya. Bian benar. Kalau dia terus berbicara seperti sedang memeriksa orang yang baru ditangkap, Belva hanya akan semakin takut. Dia menggeser gelas air mendekati gadis itu.
Belva meneguknya sedikit. Setelah itu dia mulai bercerita dengan kalimat yang terputus-putus. Tentang kamar mandi yang tidak bisa dibuka. Tentang menunggu sampai udara di dalam terasa sangat panas. Tentang Kai yang menendang pintu, lalu anak-anak yang berkelahi beberapa hari sesudahnya.
Virgo tidak menyela. Hanya rahangnya yang semakin mengetat.
"Aku sudah minta maaf," lanjut Belva. "Tapi mereka masih narik aku ke atas. Aku kira kalau sudah minta maaf, semuanya selesai."
"Untuk apa kau meminta maaf?"
Belva tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu sederhana, tetapi dia sudah terlalu sering menjawabnya dengan alasan yang sama. Karena mereka diskors. Karena mereka marah. Karena dia anak baru.
"Aku bikin semuanya ribut."
"Kau dikunci orang. Itu bukan salahmu."
"Tapi Kai menghajar mereka."
"Itu keputusan Kai. Bukan keputusanmu."
Belva menggigit bagian dalam bibirnya. Dia mencoba mengikuti penjelasan itu, tetapi suara anak-anak di sekolah masih terasa lebih keras di kepalanya.
"Lalu yang di atap?"
"Mereka yang memilih menarik dan menyakitimu."
Virgo melihat mata Belva kembali basah. Dia menggeser kotak tisu, membiarkan gadis itu mengambilnya sendiri.
"Kenapa tidak meneleponku?" pertanyaannya keluar lebih pelan kali ini.
Belva mengangkat wajah. Ada kebingungan yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang membuat Virgo tidak nyaman.
"Kakak tidak mengizinkan aku punya ponsel."
Virgo terdiam.
"Aldo juga bilang aku harus telepon dia. Tapi aku tidak tahu harus pakai apa."
Di depan televisi, Bian menurunkan gelasnya. Rupanya dia masih bisa mendengar mereka. Dia tidak berkomentar, tetapi tatapannya cukup membuat Virgo menyadari betapa bodohnya pertanyaan tadi.
Virgo mengambil ponsel dari saku, membuka kuncinya, lalu menaruhnya di atas meja.
"Untuk sekarang pakai ini kalau perlu."
"Kalau kakak kerja?"
"Kita beli ponsel untukmu."
Belva belum menyentuhnya. "Beneran?"
"Iya. Dan kau boleh menyimpan nomor orang yang kau percaya."
"Termasuk Aldo?"
Virgo menarik napas panjang. "Termasuk dia."
Belva mengusap pipinya. Kabar itu seharusnya membuatnya senang, tetapi dadanya justru terasa penuh. Ternyata untuk bisa meminta pertolongan pun selama ini dia harus menunggu seseorang membolehkannya.
Bian berdiri setelah melihat Virgo mengambil kunci mobil.
"Aku ikut. Lian, habiskan minummu."
"Aku boleh bawa biskuit untuk kakak?"
"Boleh. Jangan ditumpahkan di mobil."
"Kalau ayah yang menumpahkan?"
"Mulutmu itu sudah pintar nian."
Lian terkikik. Belva ikut tersenyum, meskipun masih meringis ketika berusaha mengenakan sandalnya. Bian berjongkok membantu menggeser tali sandal tersebut. Kali ini tidak ada ledekan tentang gadis manja.
Di tempat pemeriksaan, Belva duduk dengan Lian di sebelahnya. Anak itu terus menjaga bungkus biskuit seakan sedang membawa barang yang sangat penting. Virgo menunggu giliran sambil membaca formulir. Pada bagian hubungan dengan pasien, tangannya berhenti.
Dia bukan keluarga Belva. Dia bahkan belum pernah bertanya siapa orang yang ingin dihubungi gadis itu.
Bian memperhatikan jeda tersebut, tetapi memilih membawa Lian ke kursi lain ketika Belva dipanggil.
Pemeriksaan berlangsung lebih lama daripada yang Belva harapkan. Ada bagian tangan yang harus difoto, ada pertanyaan tentang bagaimana dia jatuh, dan ada penyangga yang kemudian dipasangkan. Petugas menjelaskan bahwa tidak tampak patah tulang pada pemeriksaan itu, tetapi tangannya tetap perlu diistirahatkan dan diperiksa lagi bila keluhannya memburuk.
Belva mengangguk serius. Dia bertanya tentang mandi, menulis, dan apakah masih boleh memegang sendok.
Virgo mendengarkan semuanya. Kali ini dia tidak menjawab lebih dulu.
Saat keluar, Belva menunjukkan penyangga itu kepada Lian. Anak kecil tersebut membulatkan mata, lalu mengangkat tangannya sendiri.
"Lian tidak akan pegang yang ini lagi."
"Pegang yang sebelahnya saja."
Lian menurut. Mereka berjalan perlahan menuju mobil.
Di belakang keduanya, Bian menyenggol lengan Virgo.
"Jangan selesaikan sekolahnya pakai anak buahmu."
Virgo menoleh tajam.
"Belum juga gue ngomong."
"Wajah Lo sudah," balas Bian, meniru Belva.
Virgo memandang gadis yang sedang berusaha membuka biskuit dengan satu tangan. Beberapa jam lalu dia masih ingin menghukum Belva karena pergi bersama Kai. Sekarang dia baru tahu berapa banyak hal yang tidak pernah sampai kepadanya.
Besok dia harus datang ke sekolah. Tetapi untuk pertama kalinya, dia merasa perlu bertanya sebelum memutuskan.
"Belva."
Gadis itu menoleh.
"Besok kita bicara dengan pihak sekolah. Kau mau Bian ikut menemanimu?"
Belva berpikir sebentar, kemudian mengangguk.
"Dan Aldo boleh ada di situ?"
"Boleh."
Belva mengembuskan napas yang sejak tadi terasa tertahan. Untuk malam itu, jawaban tersebut sudah cukup.