Belva berhenti di depan ruang kepala sekolah. Sepatu hitamnya sudah menginjak garis ubin yang berbeda warna, tetapi dia belum berani maju lagi. Dari jendela dia melihat beberapa anak menoleh, kemudian saling menyikut.
"Tolong pintunya jangan ditutup," katanya.
Kepala sekolah yang sedang memegang gagang pintu langsung berhenti. Virgo melihat perubahan kecil pada wajah Belva. Gadis itu masih berdiri dekat Bian, memilih tempat yang memungkinkan dia melihat koridor.
"Bisa dibiarkan terbuka," jawab kepala sekolah.
Barulah Belva masuk.
Pagi itu Virgo mengenakan kemeja biasa. Belva sempat mengira laki-laki tersebut akan datang dengan beberapa preman dari markas. Ternyata hanya Bian yang ikut, setelah mengantarkan Lian kembali kepada paman dari pihak ibunya.
Aldo datang beberapa menit kemudian. Rambut keritingnya terlihat lebih rapi dari biasanya, meskipun satu bagian masih mencuat ke atas. Dia membawa tas Belva yang kemarin tertinggal di kelas.
"Ini. Gue simpan di ruang guru kemarin."
"Makasih."
Aldo melirik penyangga tangan Belva. Senyumnya langsung hilang.
"Tambah bengkak?"
"Sudah diperiksa," jawab Belva. "Sekarang agak mendingan."
Kepala sekolah mempersilakan Aldo duduk. Pak Amir juga berada di ruangan itu, bersama seorang guru yang mulai menyiapkan catatan. Belva menatap buku kosong di atas meja, khawatir setiap perkataannya akan berubah menjadi masalah baru.
Virgo meletakkan kedua tangannya di atas lutut.
"Kami ingin mendengar kejadian lengkapnya. Sesudah itu baru membicarakan tindakan sekolah."
Nada bicaranya tenang, tetapi kepala sekolah terlihat semakin tegak.
Belva mulai menceritakan kejadian di kamar mandi. Dia harus berhenti beberapa kali, terutama saat menjelaskan bagaimana dirinya menunggu sampai hampir tidak sanggup berteriak. Aldo tidak memotong. Dia hanya menambahkan waktu ketika dia mulai mencari, tempat yang didatanginya, dan papan pemberitahuan kamar mandi rusak yang membuatnya tidak masuk ke sana.
"Saya kira memang sedang diperbaiki," kata Aldo.
Pak Amir mengerutkan kening. Dia mengambil kertas dari guru di sebelahnya, kemudian menunjukkan tanggal laporan kerusakan. Pemberitahuan itu ternyata belum dicabut setelah perbaikan selesai.
Hal sekecil itu membuat pencarian mereka melewati satu ruangan yang justru paling perlu diperiksa.
Belva memandangi pintu yang masih terbuka.
"Aku sempat pikir tidak akan ada yang datang."
Ruangan tersebut menjadi sangat hening.
Kepala sekolah tidak lagi berbicara tentang salah paham antarmurid. Dia meminta guru memanggil anak-anak yang terlibat secara bergantian, dengan pendamping masing-masing. Belva tidak diminta duduk berhadapan dengan mereka. Untuk sementara dia boleh menunggu di ruangan sebelah bersama Aldo dan Bian.
Virgo bertahan di tempatnya.
"Anak-anak yang memukul juga harus diperiksa keterlibatannya," katanya. "Tetapi jangan menyatukan semuanya seolah Belva yang memulai."
Pak Amir mengangguk. "Kami juga perlu memperbaiki pengawasan. Ini sudah melewati batas."
Bian mengantar Belva ke ruangan sebelah. Sebelum duduk, gadis itu memastikan tidak ada kunci yang diputar.
"Aku jaga pintunya," kata Aldo.
Belva menggeleng pelan. "Dibiarkan terbuka saja."
Aldo menarik kursi menjauh dari jalan keluar. Dia baru mengerti bahwa ada hal yang tidak sembuh hanya karena teman-temannya sudah berhenti berteriak.
Menjelang siang, Ratni muncul di depan pintu. Kali ini dia tidak bersama rombongan anak kelas dua belas. Wajahnya terlihat agak kesal, tetapi dia juga tampak tidak tahu harus berdiri di mana.
"Gue diminta jelasin yang di atap."
Belva langsung menegakkan punggung.
Ratni melihat gerakan tersebut. "Gue sudah bilang lo ditarik duluan."
"Makasih."
"Jangan makasih dulu. Gue juga telat ngomong waktu itu."
Aldo mengangkat kepala. Ratni menatapnya sebentar, kemudian kembali melihat Belva.
"Gue dengar mereka nyalahin lo. Harusnya gue suruh berhenti dari awal."
Belva meremas ujung roknya dengan tangan kiri. Seragam pesanan dari butik belum diambil, sehingga dia masih mengenakan seragam lama dengan jaket di atasnya.
"Kakak marah karena aku datang ke apartemen Kai?"
Ratni tampak terkejut. Pertanyaan itu terlalu langsung untuk dihindari.
"Iya," jawabnya akhirnya. "Tapi itu bukan urusan yang boleh gue lampiaskan ke lo."
Belva tidak tahu harus membalas apa. Dia hanya mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya, seorang kakak kelas tidak memintanya menjelaskan lagi kenapa dia pantas diperlakukan dengan baik.
Ratni pergi setelah dipanggil guru. Aldo menyandarkan punggungnya pada kursi, kemudian mengeluarkan dua bungkus roti dari tas.
"Lo makan belum?"
"Belum."
"Pilih. Cokelat atau keju."
Belva menunjuk keju. Aldo membukakan bungkusnya tanpa membuat tangan Belva terasa seperti tontonan.
"Kemarin gue sudah bilang akan jagain lo," katanya pelan. "Tapi gue juga tidak bisa ada di semua tempat."
Belva menoleh.
"Jadi kalau gue tidak ada, lo tetap harus bisa minta bantuan. Pak Amir bilang ruang guru boleh didatangi kapan saja kalau ada masalah."
"Gue takut dianggap tukang ngadu."
"Kalau orangnya bikin takut, ya bilang saja. Masa harus nunggu luka dulu."
Belva menggigit rotinya kecil-kecil. Kali ini nasihat tersebut terasa berbeda. Aldo tidak sedang memintanya diam supaya keadaan tenang. Dia sedang mengatakan bahwa ketenangan juga harus berlaku untuknya.
Pertemuan selesai setelah beberapa orangtua murid datang. Sekolah mencatat peristiwa perundungan, mengatur pendampingan bagi Belva, serta menjadwalkan pembicaraan terpisah dengan keluarga murid yang terlibat. Pintu menuju atap akan diawasi. Keluhan murid tidak boleh lagi diserahkan kepada senior untuk diselesaikan sendiri.
Tidak semuanya selesai hari itu. Belva tahu beberapa anak masih akan membicarakannya. Namun, sekarang ada orang dewasa yang namanya boleh dia sebut jika membutuhkan bantuan.
Di luar ruangan, Virgo bertanya apakah dia ingin mengikuti sisa pelajaran.
"Besok saja," jawab Belva. "Hari ini capek."
"Baik."
Belva agak heran karena tidak perlu membujuk.
Mereka berjalan menuju halaman. Di dekat gerbang, sebuah motor biru gelap berhenti. Kai melepaskan helmnya, lalu menatap penyangga tangan Belva sebelum berpaling kepada Virgo.
Dia rupanya datang untuk memenuhi panggilan sekolah selama masa skorsnya.
Bian melihat perubahan pada rahang Kai. "Ada apa?"
Kai mengabaikannya. Matanya tertuju pada Virgo.
"Senang sekali datang ke sekolah orang dan mengatur semuanya."
Virgo berhenti berjalan. Belva ikut berhenti, tetapi Bian memberi ruang agar dia tidak berdiri di antara kedua laki-laki itu.
"Kau punya sesuatu untuk dikatakan?" tanya Virgo.
Kai tertawa pendek. Tidak ada kegembiraan dalam suaranya.
"Tentu. Tapi komandan biasanya tidak suka mendengar orang lain."
Belva menoleh cepat kepada Virgo.
Komandan.
Kata itu kembali terdengar. Kali ini tidak mungkin dia menganggapnya sekadar panggilan hormat dari orang yang mengenal laki-laki tersebut.
Virgo melihat wajah Belva, lalu memalingkan pandangannya kepada Kai.
"Kita bicara. Di tempat terbuka. Dan kau tidak perlu melibatkan Belva."
Kai menggenggam helmnya lebih kuat.
"Seperti waktu kau membawa ayahku?"