Bian mengenali nama keluarga itu sebelum Kai menyebutkannya. Dia pernah melihat berkasnya di meja Virgo beberapa tahun lalu. Waktu itu mereka belum mengurus markas sebesar sekarang, dan Virgo masih sering pulang membawa tumpukan pekerjaan dari kantor.
"Syailendra?" tanya Bian.
Kai memandangnya tajam. "Jadi kalian masih ingat."
Belva berdiri beberapa langkah dari mereka. Dia ingin memahami apa yang sedang dibicarakan, tetapi rasanya semua orang memiliki potongan cerita yang tidak pernah diberikan kepadanya.
Virgo menunjuk bangku di bawah pohon dekat pos penjagaan sekolah.
"Kita bisa duduk di sana."
"Aku tidak butuh keramahanmu."
"Kalau begitu berdiri juga boleh. Tapi turunkan suaramu. Anak-anak masih belajar."
Kai melirik bangunan sekolah. Dia terlihat ingin membalas, tetapi akhirnya berjalan ke arah bangku tersebut. Bian mendampingi Belva, memastikan gadis itu masih ingin berada di sana.
"Aku mau dengar," kata Belva.
Virgo tidak menyuruhnya pergi.
"Ayahku dipenjara karena kau," ucap Kai.
"Ayahmu ditangkap dalam perkara pembunuhan. Aku yang memimpin penangkapannya."
"Mamaku meninggal sesudah itu."
Virgo terdiam sesaat. "Aku tahu."
"Kau tidak tahu apa-apa."
Belva melihat tangan Kai gemetar pada pegangan helm. Sikap angkuhnya masih ada, tetapi kini ada bagian lain yang tidak berhasil disembunyikannya. Matanya terlihat lelah, seperti orang yang tidak pernah benar-benar tidur.
"Pengacara ayahmu bisa meminta salinan berkas yang boleh diakses keluarga," kata Virgo. "Kalau kau ingin tahu perkara itu, bacalah. Jangan hanya mendengar penjelasanku."
Kai menertawakannya lagi.
"Kau pikir beberapa lembar kertas bisa mengembalikan mamaku?"
"Tidak."
Jawaban singkat itu membuat Kai berhenti bicara.
Belva menatap keduanya bergantian. Dia baru memahami kenapa Kai selalu berubah saat nama Virgo disebut. Namun, pemahaman itu tidak membuatnya merasa lebih aman.
"Jadi kau tahu aku tinggal sama dia sejak awal?" tanyanya.
Kai memalingkan wajah.
"Jawab aku."
Virgo bergerak hendak berbicara, tetapi Belva menggeleng. Kali ini pertanyaannya bukan untuk Virgo.
"Iya," jawab Kai.
"Itu alasan kau mendekat?"
Kai mengusap tengkuknya. Dia bisa saja berbohong. Belva begitu mudah percaya, dan selama ini dia sudah memanfaatkan sifat tersebut lebih dari sekali.
"Awalnya aku ingin membuatnya kehilangan sesuatu."
Belva memandang dirinya sendiri, kemudian menatap Kai lagi.
"Aku bukan barangnya."
Kata-kata itu keluar begitu saja. Setelah mengatakannya, Belva justru menyadari bahwa dia perlu mendengarnya sendiri.
Kai tidak membantah.
"Dan aku tidak melakukan apa-apa pada keluargamu."
"Aku tahu."
"Seharusnya kau tahu dari awal."
Belva mundur selangkah. Dadanya mulai terasa sesak, tetapi kali ini dia tidak ingin meminta maaf. Dia tidak mau lagi menjadi orang yang menanggung kemarahan seseorang hanya karena kebetulan berada di dekat orang lain.
"Aku berterima kasih karena kau membuka pintu waktu itu. Tapi jangan pakai aku untuk menyakiti orang."
Kai menunduk. Ketika Belva berjalan menuju mobil bersama Bian, dia tidak menahannya.
Virgo masih berada di dekat bangku.
"Jika kau ingin menemui ayahmu, lakukan karena kau ingin mendengar darinya," katanya. "Bukan untuk membuktikan bahwa aku selalu benar atau selalu salah."
"Kau memang selalu merasa benar."
Virgo melihat punggung Belva yang semakin jauh.
"Tidak. Ada banyak hal yang harus kujelaskan juga."
Dia meninggalkan Kai untuk masuk ke ruang kepala sekolah. Laki-laki muda itu memerlukan pendampingan yang tidak bisa diberikan oleh orang yang dibencinya. Virgo menyampaikan kekhawatirannya tanpa menyebut Belva sebagai alasan. Sesudahnya, dia kembali ke mobil.
Belva menunggu dengan wajah menghadap jendela.
"Kakak polisi?"
"Iya."
"Dan preman?"
Virgo menyalakan mesin, lalu mematikannya lagi. Bian yang duduk di belakang tidak mengeluarkan suara.
"Iya."
"Kok bisa dua-duanya?"
Pertanyaan itu tidak terdengar kagum. Virgo merasakan hal tersebut lebih jelas daripada bentakan mana pun.
"Karena aku melakukan sesuatu yang salah."
Belva menoleh. Dia ingat orang yang ditembak, perempuan-perempuan di markas, pintu yang dikunci, dan semua ketakutan yang selama ini berusaha dia dorong jauh-jauh.
"Jadi tempat waktu pertama aku dibawa itu benar-benar punyamu?"
Virgo mengangguk.
Belva menarik napas pendek. Dia merapatkan tubuh ke pintu mobil. Bian melihat gerakan tersebut dan langsung membuka pintu di sisinya.
"Kita tidak harus pergi sekarang," kata Bian. "Kau mau turun dulu?"
Belva mengangguk.
Mereka kembali duduk di tempat terbuka. Virgo mengambil jarak satu kursi. Untuk beberapa saat hanya terdengar suara peluit Pak Amir dari lapangan.
"Perempuan yang waktu itu," ujar Belva pelan. "Mereka di mana?"
Virgo tidak menjawab secepat yang diharapkannya.
"Bukan cuma aku yang ketakutan di sana."
Wajah Virgo menjadi sangat kaku.
Bian menunduk, lalu mengambil ponselnya. Ada beberapa nomor yang dia kenal, tetapi kali ini dia tidak menghubungi orang markas untuk sekadar memindahkan para perempuan itu ke tempat lain. Dia mencari bantuan yang bisa melindungi mereka sekaligus mencatat apa yang terjadi.
"Aku akan memastikan laporan dibuat hari ini," katanya.
Belva melihatnya ragu. "Bukan disembunyikan lagi?"
"Bukan."
Virgo mengeluarkan alamat dan informasi yang dibutuhkan. Tangannya bergerak lambat pada layar. Selama bertahun-tahun, dia selalu tahu cara membuat orang menuruti perintahnya. Sekarang dia harus membiarkan orang dari luar jaringannya memeriksa apa yang selama ini berada dalam kuasanya.
Belva belum bisa mempercayai janji tersebut. Dia memandang Bian sampai laki-laki itu menyebutkan tempat, jumlah orang yang diketahui, dan permintaan agar korban didampingi tanpa harus menunggu persetujuan mereka.
Barulah Belva kembali bernapas lebih teratur.
"Aku mau menelepon rumah," katanya.
Virgo memandangnya. Ini pertanyaan yang sejak lama dia tunda dengan segala alasan.
"Nomornya masih kau ingat?"
Belva mengangguk. "Nomor rumah. Yang biasanya angkat kepala pelayan."
Virgo menyerahkan ponselnya. Kali ini dia tidak berdiri di sebelah Belva untuk mendengarkan.
Bian mengikuti Virgo menjauh. Mereka berhenti dekat pagar, cukup jauh agar suara Belva tidak terdengar jelas.
"Ini akan sampai ke kita," ujar Bian.
"Sudah seharusnya."
"Jangan bilang begitu kalau besok kau berubah pikiran."
Virgo menatap temannya. Tidak ada ancaman dalam mata Bian. Yang ada justru ketakutan yang akhirnya tidak disembunyikan.
Di bangku, Belva menempelkan ponsel pada telinga. Panggilan pertama tidak dijawab. Dia mencoba sekali lagi dengan jari yang sedikit gemetar.
Ketika suara yang dikenalnya akhirnya terdengar, bibir Belva terbuka tanpa segera mengeluarkan kata.
"Halo, kediaman keluarga Alkase."
Belva memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak pergi dari Jakarta, dia mendengar suara rumahnya.
"Ini aku," katanya, lalu mulai menangis. "Ini Belva."