Suara di seberang sempat menghilang. Belva sampai menjauhkan ponsel dari telinga, memastikan panggilannya belum terputus.
"Nona Belva?"
"Iya. Jangan kasih teleponnya ke Om Dima."
Kalimat itu membuat orang di seberang segera merendahkan suara. Terdengar langkah kaki, pintu dibuka, lalu suasana menjadi lebih sepi.
"Saya di ruang belakang sekarang. Nona di mana?"
"Palembang."
"Sendirian?"
Belva melihat Bian dan Virgo di dekat pagar. Dia masih belum tahu jawaban seperti apa yang bisa menjelaskan keadaan tersebut.
"Ada orang yang menemani. Tapi aku mau pulang."
Kepala pelayan mengembuskan napas yang terdengar berat. Dia sudah bekerja di rumah itu sejak Belva masih harus digendong untuk menaiki tangga. Namun, beberapa minggu terakhir dia bahkan tidak berhasil memastikan di negara mana anak majikannya berada.
"Tuan Dima mengatakan Nona sudah berangkat ke Singapura. Kami dilarang mengganggu karena Nona sedang menyesuaikan diri."
"Aku tidak pernah sampai di bandara."
Belva menceritakan sebagian kejadian. Tidak semuanya. Untuk saat ini, mengatakan bahwa dia diculik sudah cukup membuat suaranya kembali pecah.
Kepala pelayan tidak memintanya cepat-cepat menyelesaikan cerita. Dia hanya mengingatkan Belva untuk menarik napas dan duduk jika masih berdiri.
"Kamarku bagaimana?" tanya Belva tiba-tiba.
"Masih sama."
"Foto Mama?"
"Tetap di meja."
"Boneka yang dekat jendela?"
"Sudah saya tutup kain supaya tidak berdebu."
Belva menutup mulut dengan tangan kirinya. Hal-hal kecil itu membuat kepulangannya terasa mungkin. Rumahnya belum berubah menjadi tempat yang sama sekali asing.
"Nona perlu didampingi untuk kembali. Saya akan menghubungi orang yang dulu mengurus dokumen keluarga. Nomornya masih ada dalam arsip."
"Om Dima tahu orang itu?"
"Tahu. Tetapi pekerjaannya untuk keluarga Alkase, bukan untuk memenuhi semua keinginan beliau."
Belva mengangguk meskipun tidak terlihat.
Mereka sepakat berbicara lagi melalui nomor pendamping yang akan diberikan. Belva tidak diminta mengirim uang atau menandatangani apa pun. Dia juga meminta agar kabar keberadaannya tidak langsung diberitahukan kepada Dima.
Sesudah telepon ditutup, dia duduk lama sambil menatap layar.
Bian menghampiri lebih dulu.
"Sudah bicara?"
"Kamarku masih ada."
Bian awalnya tidak mengerti. Setelah melihat wajah Belva, dia memilih mengangguk.
"Bagus."
"Aku mau pulang ke sana."
Virgo berdiri di belakang Bian. Tidak ada yang menjawab dengan kata tidak, tetapi Belva sudah terlalu sering menunggu izin untuk merasa tenang.
"Kakak tidak boleh bilang tidak."
Virgo memandangnya. "Aku tidak akan menahanmu."
"Kenapa baru sekarang?"
Bian mundur sedikit. Kali ini dia tidak bisa membantu temannya menjawab.
Virgo mengambil tempat di bangku yang berjarak dari Belva. Suara anak-anak yang pulang mulai ramai di gerbang. Beberapa orang mengenalinya, tetapi tidak ada yang mendekat setelah melihat wajahnya.
"Aku tahu siapa kau tidak lama setelah kau dibawa ke rumah," katanya.
Belva mengangguk pelan. Bagian itu sudah dia duga.
"Aku juga mengetahui bahwa pamanmu sedang mengambil alih urusan keluargamu."
"Terus kenapa aku tidak dikembalikan?"
Virgo menggosok telapak tangannya. Seumur hidup, dia belum pernah merasa sesulit ini menyebutkan sebuah rencana yang dulu terlihat begitu masuk akal baginya.
"Karena aku melihat kesempatan."
Belva memandangnya tanpa berkedip.
"Keluargamu punya aset dan hubungan usaha yang bisa menguntungkanku. Aku berniat menggunakan keberadaanmu untuk menekan pamanmu. Aku belum menentukan semua langkahnya, tetapi itulah alasan awal aku menahanmu."
Tidak ada suara keras. Tidak ada benda yang jatuh. Justru ketenangan sesudah pengakuan itu terasa jauh lebih buruk.
"Jadi waktu aku bilang mau kasih uang," ujar Belva, "sebenarnya kakak memang mau sesuatu."
"Iya."
"Kakak bilang tidak tertarik."
"Aku berbohong."
Belva menekan bibirnya rapat-rapat. Dia memikirkan makanan hangat, pakaian bersih, dan semua hal yang membuatnya merasa sedikit lebih aman. Sekarang dia tidak tahu mana yang harus disimpan dalam ingatannya.
"Apakah semuanya bohong?"
"Tidak semuanya."
"Tapi aku tidak tahu bedanya."
Virgo menunduk. Dia tidak punya hak untuk menuntut Belva bisa membedakannya hari itu.
Bian menerima panggilan dari orang yang tadi dihubunginya. Bantuan untuk perempuan-perempuan di jaringan markas sedang berjalan. Ada petugas yang ingin berbicara dengan mereka, dan ada pendamping yang juga bisa membantu Belva mencari tempat aman sementara.
Bian menyerahkan pilihan itu kepada Belva.
"Kau bisa menunggu keluargamu di tempat yang mereka siapkan. Tidak perlu pulang ke rumah Igo kalau belum nyaman."
Belva menatap Virgo. Laki-laki itu tidak menggeleng.
"Aku mau ambil barang dulu," katanya. "Buku sekolah."
"Bisa," jawab Bian.
Sore itu mereka kembali ke rumah dengan seorang pendamping yang sudah lebih dulu berbicara kepada Belva. Virgo menunggu di teras ketika gadis itu mengambil barang. Dia tidak berdiri di pintu kamar atau memeriksa apa yang dimasukkan ke tas.
Belva menemukan seragam baru dari butik di atas tempat tidur. Lengannya panjang, ukurannya sudah disesuaikan. Dia menyentuh kain itu, kemudian melipatnya masuk ke tas.
Pemberian yang berguna tidak harus dibuang hanya karena dia sedang marah. Namun, menerimanya juga tidak berarti dia harus tetap tinggal.
Saat mengambil buku terakhir, matanya jatuh pada robot kecil di meja pajangan.
"Kak Bian."
"Apa?"
"Yang itu pernah aku patahkan kakinya."
Bian mengikuti arah telunjuknya, lalu mengernyit.
"Pantes miring terus."
"Aku takut bilang."
"Biar nanti kuberi tahu."
"Tidak. Aku yang bilang."
Belva keluar membawa tas. Virgo langsung berdiri, tetapi dia berhenti ketika melihat Belva memilih tetap memegang tas tersebut.
"Aku pernah merusak robot kakak. Yang di kamar. Maaf."
Virgo memandang benda yang dimaksud dari celah pintu.
"Kita bisa membicarakannya nanti."
"Aku tidak mau menyembunyikannya lagi."
Laki-laki itu mengangguk. "Terima kasih sudah mengatakan."
Belva menarik kalung berbentuk kacang dari balik kerah. Virgo melihatnya, lalu wajahnya berubah.
"Ada satu hal lagi yang harus kau tahu."
Dia menjelaskan tentang alat pelacak di dalam kalung tersebut. Belva mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka, kemudian melepaskannya perlahan.
"Kakak selalu bisa tahu aku di mana?"
"Selama alatnya bekerja."
"Dan aku bahkan tidak boleh punya telepon."
Virgo tidak menjawab. Belva meletakkan kalung itu di meja teras, jauh dari tasnya.
Ketika mobil pendamping berangkat, dia tidak menoleh ke belakang. Dia duduk sambil memeluk buku-bukunya, membiarkan air mata turun tanpa tergesa menghapusnya.
Di teras rumah yang kembali sepi, Virgo masih berdiri memandangi benda kecil berbentuk kacang.
Bian mengambilnya dengan saputangan dan menyimpannya untuk diserahkan bersama keterangan mereka.
"Bukan cuma kalung itu yang harus kau lepaskan," katanya.
Virgo melihat jalan yang sudah kosong.
"Iya," jawabnya. Kali ini dia benar-benar mengerti.