Lian sedang menghitung ubin ketika Bian sampai di rumah sakit. Anak itu duduk di kursi panjang dengan kedua kaki menggantung. Ada kotak makan di sebelahnya, masih tertutup meskipun hari sudah hampir sore.
"Ayah!"
Bian berhenti sejenak. Biasanya dia selalu menyiapkan alasan kenapa tidak bisa tinggal lama. Hari itu alasan-alasan tersebut terasa sangat memalukan bahkan sebelum sempat diucapkan.
"Lian sudah makan?"
"Belum. Nunggu Paman."
"Pamanmu sedang kerja?"
Lian mengangguk. Dia menunjuk pintu yang baru saja dilewati seorang petugas, kemudian kembali memperhatikan Bian.
"Ayah mau pergi lagi?"
Bian duduk di sebelahnya. Kursi itu terasa dingin menembus celana.
"Belum. Sekarang ayah di sini."
Lian tidak langsung tersenyum. Dia seperti sedang mencari arti lain di balik kalimat tersebut. Bian akhirnya membuka kotak makan dan menemukan nasi, telur, serta sayuran yang sudah tidak hangat.
"Kita makan dulu."
"Ayah belum makan juga?"
"Belum."
"Lian bisa bagi."
Bian menunduk pada sendok kecil di dalam kotak. Anak yang selama ini dia hindari selalu menawarkan sebagian dari sedikit hal yang dimilikinya. Makanan, perhatian, bahkan ucapan selamat tidur yang lebih sering dia putus sebelum selesai.
Dia mengambil kursi lain, menghadapkan tubuh kepada Lian.
"Yang ini untukmu. Ayah beli makan sendiri nanti."
"Jangan pergi jauh."
"Tidak."
Bian menunggu sampai Lian menghabiskan beberapa suap. Setelah itu dia membantu menutup kotak dan membersihkan remah di pakaian anak tersebut. Gerakannya canggung, tetapi Lian tidak mengeluh.
Di dalam kamar, ibu Lian masih terbaring seperti terakhir kali mereka berkunjung bersama Belva. Wajahnya lebih kurus dari yang Bian ingat sebelum sakit. Rambutnya dirapikan ke belakang, memperlihatkan bekas luka yang selalu membuat Bian cepat memalingkan muka.
Hari itu dia tidak memalingkan muka.
Lian naik ke kursi di sisi tempat tidur dan mulai bercerita tentang tangan Belva.
"Kak Belva sekarang pakai penyangga. Jadi Lian pegang tangannya yang sebelah saja."
Bian duduk di sisi lain. Dia memperhatikan jari-jari perempuan di hadapannya, lalu meletakkan tangannya sendiri di atas selimut, tidak langsung menyentuh.
Dia pernah mencintai perempuan itu dengan cara yang sangat berantakan. Lebih banyak menuntut daripada menemani, lebih cepat marah daripada mendengarkan. Ketika kehamilan datang, dia menganggapnya jebakan. Ketika Lian lahir, dia melihat anak itu sebagai bukti bahwa hidupnya sudah tidak bisa bergerak sesuka hati.
Semua kemarahan yang seharusnya dia tujukan kepada keputusan sendiri malah jatuh kepada seorang anak.
"Kenapa Ayah diam?" tanya Lian.
"Lagi dengarkan kamu."
"Lian biasanya cerita sendiri."
Kalimat itu disampaikan tanpa tuduhan. Justru karena itulah Bian tidak tahu harus meletakkan wajahnya di mana.
Paman Lian masuk beberapa waktu kemudian. Laki-laki itu tampak lelah, tetapi pandangannya segera waspada ketika melihat Bian masih duduk di sana.
"Ada perlu apa?"
"Menemui Lian. Dan bicara denganmu."
Lian melihat mereka bergantian. Pamannya mengusap rambut anak itu, lalu mengajak Bian keluar setelah memastikan ada yang menemani di dalam.
Mereka berdiri di ujung koridor. Dari jendela, halaman rumah sakit terlihat penuh kendaraan.
"Aku sedang menyerahkan keterangan tentang pekerjaanku," ujar Bian.
"Yang selama ini kau sebut urusan malam?"
Bian mengangguk.
"Kemungkinan aku akan ditahan."
Paman Lian menatapnya lama. Tidak ada keterkejutan yang besar, hanya kelelahan yang semakin terlihat.
"Dan sekarang kau ingat punya anak?"
Bian menerima kalimat itu tanpa membalas.
"Aku tidak datang untuk meminta kau membersihkan masalahku."
"Bagus. Karena aku tidak bisa."
"Aku tahu. Aku datang supaya kau tidak mendengarnya dari orang lain. Dan supaya kebutuhan Lian tidak kembali menjadi sesuatu yang kalian tebak sendiri."
Dia mengeluarkan catatan pengeluaran, rekening, serta kontak pendamping yang sedang membantunya menata dokumen. Tidak semua uang yang pernah dia pegang bisa begitu saja disebut miliknya. Ada yang perlu diperiksa asalnya. Bian tidak ingin menjanjikan biaya dari uang yang sewaktu-waktu harus dikembalikan atau disita.
Paman Lian membaca catatan tersebut dengan dahi berkerut.
"Ini seharusnya kau lakukan sejak lama."
"Iya."
"Adikku sakit bukan karena satu orang saja. Tetapi kau tidak bisa pura-pura tidak pernah meninggalkannya ketika dia perlu bantuan."
"Aku tidak sedang mencari alasan."
Bian mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya dia menyebutkan hal-hal yang dulu selalu dipendam sebagai rahasia paling buruk. Perkataan kejam sebelum perpisahan, pesan yang tidak dijawab, dan betapa mudahnya dia menganggap kesulitan perempuan itu sekadar upaya menarik perhatiannya.
Dia tidak bisa menyederhanakan penyakit dan keputusan perempuan itu menjadi akibat tunggal dari dirinya. Namun, dia juga tidak boleh menggunakan kerumitan tersebut untuk bersembunyi dari perbuatannya sendiri.
"Aku ingin minta maaf. Kalau suatu hari dia bisa mendengar dan mengerti, aku akan mengatakannya langsung. Kalau dia tidak mau melihatku, aku harus menerima."
Paman Lian melipat catatan tersebut.
"Mulai dari anakmu. Dia sudah bisa mendengar sekarang."
Bian memandang pintu kamar. Di baliknya, Lian sedang menggambar dengan seorang petugas yang duduk sebentar menemani. Bian melihat krayon biru bergerak cepat di atas kertas.
Dia masuk kembali dan berjongkok di sisi kursi anak itu.
"Ini gambar apa?"
"Rumah."
"Yang mana kamu?"
Lian menunjuk orang kecil di dekat pintu.
"Kalau ayah?"
Jari Lian bergerak ke orang yang berdiri jauh, hampir di ujung kertas.
"Ayah lagi kerja."
Bian menarik napas panjang.
Dia tidak merobek gambar itu untuk menyuruh Lian membuat keluarga yang terlihat lebih bahagia. Dia hanya mengangguk, menerima tempat yang selama ini memang dia pilih sendiri.
"Ayah sering membuat kamu menunggu."
Lian mengangkat wajah.
"Dan kadang ayah bicara tidak baik. Itu bukan karena kamu anak yang salah."
Anak itu terdiam. Tangannya masih menggenggam krayon.
"Lian nakal?"
"Tidak."
"Terus kenapa Ayah suka marah?"
Bian harus menunduk sebentar sebelum bisa menjawab.
"Karena ayah tidak mengurus masalah ayah dengan benar. Bukan karena kamu tidak cukup baik."
Lian memandangi wajahnya dengan serius. Penjelasan itu mungkin belum sepenuhnya bisa dipahami, tetapi Bian tidak ingin menggantinya dengan janji bahwa semuanya akan langsung berubah mudah.
Dia menjelaskan bahwa akan ada waktu ketika dia tidak bisa pulang karena harus mempertanggungjawabkan pekerjaan yang salah. Dia menyebut siapa yang akan menemani Lian, kapan mereka bisa berbicara, dan bahwa anak itu boleh tetap marah atau sedih.
"Ayah pergi jauh?"
"Untuk sementara mungkin tidak bisa datang sesering yang seharusnya."
"Tapi kalau Lian telepon?"
"Kalau ayah diizinkan menerima, ayah akan bicara. Kalau tidak, ayah akan menulis."
Lian menunduk pada gambarnya. Sesudah cukup lama, dia mengambil krayon lain dan menambahkan sebuah garis dari orang di ujung kertas menuju rumah.
"Itu jalan," katanya. "Biar Ayah tahu balek."
Bian menutup matanya sebentar.
Ketika Lian meminta dipeluk, kali ini dia tidak menyuruh anak itu berhenti manja. Dia merapatkan kursi dan membiarkan kepala kecil tersebut bersandar di dadanya selama yang dibutuhkan.
Ponselnya bergetar. Ada pesan dari Virgo tentang pemeriksaan yang dijadwalkan.
Bian membalas singkat bahwa dia akan datang. Setelah itu ponselnya dimasukkan kembali ke saku.
Untuk sekali ini, Lian tidak harus bersaing dengan layar yang terus menyala.