Dima datang dengan senyum yang terlalu lebar.
Pertemuan itu sudah dijadwalkan melalui pihak yang mendampingi keluarga. Dima hanya menerima alamat kantor dan waktu kedatangan, sementara tempat Belva menginap tetap tidak diberitahukan kepadanya. Sebelum pamannya datang, Belva juga sudah memastikan bahwa dia boleh menghentikan pembicaraan jika mulai merasa tidak aman.
Belva mengenali senyum itu sejak kecil. Biasanya muncul ketika pamannya baru membelikan hadiah setelah membuat ayahnya kesal. Sekarang senyum yang sama dibawa ke ruang pertemuan tempat Belva menunggu bersama pendamping dan orang yang menangani dokumen keluarga.
"Belva! Om cari ke mana-mana."
Belva tidak berdiri.
Kepala pelayan duduk di sebelahnya, baru tiba dari Jakarta pagi tadi. Perempuan itu membawa satu tas pakaian, beberapa dokumen lama, serta boneka kecil yang memang diminta Belva lewat telepon. Semuanya membuat ruangan asing tersebut terasa sedikit lebih mudah dihadapi.
Dima menghentikan langkah ketika melihat Belva tidak menyambutnya.
"Kamu marah karena Om telat datang?"
"Aku tidak pergi ke Singapura."
Senyum Dima menipis. "Om tahu sekarang. Makanya Om ke sini."
"Tapi Om bilang ke semua orang aku sekolah di sana."
Dima melirik orang-orang yang berada di ruangan. Dia menarik kursi, duduk, lalu meletakkan map di atas meja.
"Kita bisa bicara berdua dulu. Ini urusan keluarga."
Belva menggeleng.
"Aku mau mereka tetap di sini."
"Belva, jangan membesar-besarkan."
"Aku diculik."
Ucapan itu keluar lebih keras daripada yang dia rencanakan. Tangan kirinya langsung meremas kain rok, tetapi kali ini dia tidak menarik kembali perkataannya.
Kepala pelayan menyentuh sandaran kursinya, tidak memaksa Belva tenang.
Dima mengembuskan napas.
"Justru itu. Kamu kabur, semua jadi kacau. Om sudah menyiapkan sekolah bagus. Kalau kamu menurut waktu itu, hal seperti ini tidak terjadi."
Belva melihat bibir pamannya bergerak. Untuk sesaat dia hampir mempercayainya. Mungkin memang karena dia berbelok ke jalan yang salah. Mungkin karena dia tidak mau dikirim pergi. Pikiran itu begitu akrab sampai terasa seperti kebenaran.
Kemudian dia teringat bangku di ruang kepala sekolah. Terhadap orang yang memilih menyakitinya, dia tidak harus mengambil tanggung jawab mereka.
"Aku pergi karena takut sama Om," katanya. "Tapi yang menculikku tetap orang yang menculik. Bukan aku."
Orang yang mendampingi urusan keluarga meminta Dima menunjukkan dokumen tentang keberangkatan Belva. Tidak ada tiket yang pernah digunakan, tidak ada sekolah di Singapura yang bisa mengonfirmasi kehadirannya, dan tidak ada alamat tempat tinggal yang pernah diberikan kepada staf rumah.
Dima mulai menggeser pembicaraan.
"Hal-hal administratif bisa dibereskan. Yang penting anaknya sudah ketemu."
"Memang itu yang paling penting," jawab kepala pelayan. "Karena itu kami ingin tahu mengapa laporan kehilangan dilarang."
"Kamu jangan ikut campur."
Belva langsung menoleh pada pamannya.
"Jangan bentak dia."
Dima menatap Belva seolah baru pertama kali melihatnya. Gadis yang dulu selalu menunduk ketika dimarahi sekarang duduk dengan penyangga tangan dan wajah pucat, tetapi tidak lagi segera menangis untuk meminta maaf.
Map di meja dibuka. Dima mengeluarkan beberapa lembar kertas.
"Om tidak mau berdebat. Kita pulang dulu. Ini tanda penerimaan, supaya jelas kamu sudah kembali dalam pengawasan keluarga."
Belva membaca bagian atas kertas. Ada kalimat-kalimat panjang yang tidak seluruhnya dia pahami, tetapi dia melihat namanya dan ruang tanda tangan.
Dia menyerahkan kertas tersebut kepada orang di sebelahnya.
"Aku ingin ini dibaca dulu."
"Belva, cuma formalitas."
"Kalau cuma formalitas, harusnya tidak masalah diperiksa."
Kepala pelayan menunduk untuk menyembunyikan sesuatu yang hampir menjadi senyum. Dima melihatnya dan semakin kesal.
Pemeriksaan dokumen tidak berlangsung lama. Di antara halaman yang disebut sebagai tanda penerimaan, terdapat pernyataan bahwa Belva menyetujui tindakan pengelolaan aset yang sudah dilakukan atas namanya.
Belva memandang pamannya.
"Aku bahkan tidak tahu tindakan apa."
"Om mengurus semuanya supaya kamu tidak repot."
"Kalau begitu jelaskan."
Dima menutup map dengan gerakan keras.
"Anak seusiamu tidak mengerti usaha."
"Iya. Jadi aku perlu orang yang menjelaskan. Bukan orang yang menyuruh tanda tangan sebelum aku tahu."
Dima berdiri. Kursinya bergeser dan membuat bunyi yang menyebabkan Belva refleks mundur. Pendamping di dekat pintu segera mendekat, sementara kepala pelayan tetap duduk di sisinya.
Pertemuan dihentikan sebelum suara Dima semakin tinggi. Jadwal berikutnya akan diatur melalui pihak yang menangani persoalan tersebut. Belva tidak harus ikut pergi dengannya hari itu.
Sesudah pamannya keluar, barulah Belva menyadari betapa kuat dia mencengkeram ujung rok. Jari-jarinya terasa kaku.
"Aku gemetar," katanya malu.
"Tidak apa-apa," jawab kepala pelayan. "Tadi Nona tetap mengatakan yang perlu dikatakan."
"Aku takut dia marah sama semua orang di rumah."
"Urusan itu sedang ditangani. Nona tidak harus pulang sendirian dan menghadapi beliau di pintu."
Belva mengangguk. Dia mengambil minum, tetapi gelasnya sedikit bergetar. Kepala pelayan memegang alasnya tanpa merebut dari tangannya.
Setelah istirahat, mereka membuka catatan keluarga yang dibawa dari Jakarta. Ada daftar aset, salinan dokumen perusahaan, dan surat-surat peninggalan orangtuanya yang selama ini disimpan rapi.
Belva tidak langsung memahami semuanya. Beberapa istilah harus dijelaskan dua kali. Dia juga terkejut mengetahui bahwa bukan semua harta keluarga bisa dipakai seperti uang di dompet. Ada kewajiban perusahaan, karyawan, dan orang-orang yang hidupnya ikut tergantung pada keputusan yang diambil.
"Mama sama Papa ngurus sebanyak ini?"
Kepala pelayan mengangguk.
"Dan mereka dulu ingin Nona belajar pelan-pelan. Bukan terpaksa mengerti dalam satu sore."
Belva menatap tulisan tangan ayahnya pada sebuah catatan. Hurufnya miring, dengan garis bawah yang terlalu panjang. Dia pernah mengejek tulisan itu seperti cakar ayam.
Sekarang dia menyentuhnya lama.
Tidak ada bukti baru yang mengubah kecelakaan orangtuanya menjadi sesuatu yang lain. Luka kehilangan itu tetap merupakan kenyataan yang tidak bisa dibatalkan dengan menemukan penjahat tambahan. Namun, tindakan Dima sesudahnya bisa diperiksa, dan Belva tidak harus membiarkan kenangan kedua orangtuanya dipakai sebagai alasan untuk membungkamnya.
Menjelang sore, Virgo mengirim pesan melalui pendamping, meminta izin untuk bertemu sebelum Belva pulang ke Jakarta. Tidak ada tuntutan agar dia datang. Waktu dan tempatnya boleh dipilih Belva sendiri.
Gadis itu membaca pesan tersebut dua kali.
"Harus kujawab sekarang?"
"Tidak."
Belva meletakkan ponselnya. Dia sudah punya ponsel sendiri, dibeli dengan bantuan kepala pelayan dari uang yang jelas miliknya. Rasanya masih aneh melihat layar itu dan mengetahui tidak ada yang berhak merebutnya hanya karena dia menghubungi seseorang.
Dia menelepon Aldo lebih dulu.
"Loe akhirnya punya nomor!" seru Aldo sebelum sempat menyapa dengan benar.
Belva tertawa kecil.
"Iya. Simpan ya."
"Sudah. Jangan hilang lagi tanpa bilang."
"Aku akan pulang ke Jakarta."
Di seberang, Aldo terdiam sesaat.
"Oh."
Belva menunggu, takut kalimat berikutnya akan membuatnya merasa bersalah lagi.
Namun, Aldo hanya berdeham.
"Kalau itu yang bikin lo aman, pulanglah. Tas yang satu lagi masih gue simpan. Nanti gue antar."
Belva memejamkan mata.
Ternyata orang bisa merasa sedih karena dia pergi, sambil tetap membiarkannya pulang.