Virgo datang tanpa jam tangan yang biasa melingkar di pergelangannya. Belva tidak tahu kenapa dia memperhatikan hal kecil itu lebih dulu. Mungkin karena selama ini laki-laki tersebut selalu terlihat siap pergi ke suatu tempat, mengejar pekerjaan berikutnya, atau menyuruh orang lain bergerak lebih cepat.
Hari itu dia duduk dan menunggu.
Tempat pertemuan dipilih Belva. Sebuah ruang tamu di kantor pendamping, dengan pintu terbuka dan jendela yang menghadap halaman. Kepala pelayan menunggu tidak jauh, cukup dekat untuk dipanggil kapan saja.
Bian tidak ikut. Dia sedang memberikan keterangan tentang pembukuan markas.
"Tanganmu bagaimana?" tanya Virgo.
"Sudah lebih baik. Masih tidak boleh dipaksa."
Virgo mengangguk. Pandangannya turun ke penyangga, lalu kembali ke wajah Belva.
Gadis itu duduk di seberangnya. Tidak ada meja makan kecil, tidak ada televisi, dan tidak ada aroma ayam goreng yang biasanya membuat percakapan mereka terdengar seperti urusan rumah tangga biasa.
"Aku akan pulang besok."
"Aku tahu."
"Aku mau tetap sekolah."
"Kepala sekolah sudah menyiapkan dokumen yang diperlukan. Mereka juga mencatat peristiwa yang kau alami, supaya kepindahanmu tidak dianggap menghapus masalah itu."
Belva merapikan tali tas di pangkuannya. Dia telah mendengar hal yang sama dari pendamping, tetapi senang mengetahui Virgo tidak datang untuk membujuknya bertahan.
"Perempuan-perempuan itu sudah keluar?" tanyanya.
"Yang berhasil ditemukan sudah berada di tempat perlindungan. Pencarian yang lain masih dilakukan."
"Yang pernah menyuruhku masuk lagi waktu itu?"
Virgo tidak berpura-pura mengetahui orang yang dimaksud.
"Aku belum tahu yang mana. Kau bisa menyampaikan cirinya kepada pendamping jika kau bersedia. Mereka yang akan memastikan, bukan aku."
Belva mengangguk. Dia ingat wajah perempuan tersebut, tetapi ingatan lain di ruangan itu masih membuat perutnya terasa mual. Dia belum ingin menceritakan semuanya hari ini.
Virgo melihat tangannya meremas tali tas.
"Kita tidak perlu membicarakan bagian itu lagi sekarang."
"Aku mau tahu kakak akan apa."
Virgo mengambil selembar kertas dari map. Bukan untuk diberikan sebagai alasan, hanya daftar barang dan informasi yang sudah dia serahkan.
"Senjata, akses ke beberapa tempat, rekening yang perlu diperiksa, dan nama orang yang terlibat. Aku juga memberikan keterangan tentang apa yang kulakukan kepadamu."
Belva menatapnya.
"Yang mana?"
"Semuanya yang kuingat. Menahanmu. Melarangmu menghubungi rumah. Memasang pelacak tanpa memberitahumu. Mengancammu."
Dia berhenti sejenak.
"Dan menyentuhmu ketika kau tidak menginginkannya."
Belva memalingkan wajah ke jendela. Selama ini dia tidak pernah tahu harus menyebut kejadian itu dengan kata apa. Bukan sesuatu yang dia pilih, tetapi orang yang melakukannya terus bersikap seakan hal tersebut hanya sebuah hukuman yang lucu.
"Mereka akan bertanya padaku?"
"Mungkin. Pendampingmu yang akan menjelaskan prosesnya. Kau boleh meminta jeda, dan kau tidak harus menjawab di depanku."
Belva mengangguk lagi.
Virgo menunggu. Dia merasa setiap detik bergerak terlalu pelan, tetapi untuk pertama kalinya dia tidak mencoba mengisi keheningan dengan perintah.
"Aku pernah merasa senang tinggal di rumah kakak," ujar Belva akhirnya.
Virgo mengangkat wajah.
"Kalau ada yang masak, kalau Bian datang, kalau Lian ikut. Aku takut itu bikin aku kelihatan bohong waktu bilang aku juga takut."
"Tidak."
Jawaban itu keluar dengan tegas, tetapi Virgo segera melunakkan suaranya.
"Kau bisa merasa senang pada suatu bagian, dan tetap disakiti pada bagian lain. Aku tidak boleh mengambil yang pertama untuk menyangkal yang kedua."
Belva mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
"Aku tidak tahu kapan bisa tidak marah."
"Kau tidak perlu menentukan sekarang."
"Dan aku tidak mau disuruh memaafkan."
"Aku tidak akan meminta."
Virgo meletakkan map kembali ke sisinya. Untuk sesaat dia teringat bagaimana mudahnya Belva tersenyum ketika dibelikan makanan. Dia pernah menganggap senyum itu sebagai tanda bahwa semua yang dilakukannya sudah bisa dilupakan.
Sekarang dia mengerti betapa banyak hal yang hanya sedang berusaha dilewati gadis itu.
Pintu diketuk pelan. Seorang petugas datang untuk memastikan jadwal pemeriksaan Virgo. Laki-laki itu mengangguk, meminta beberapa menit lagi. Tidak ada panggilan bos, tidak ada orang yang menunduk takut di depan tatapannya.
Sesudah petugas pergi, Belva menatap map tersebut.
"Kakak akan masuk penjara?"
"Perbuatanku sedang diproses. Aku harus menjalani apa yang diputuskan nanti."
"Karena aku cerita?"
Virgo langsung menggeleng.
"Karena aku melakukannya."
Belva terdiam.
"Aku tidak mau Lian kehilangan ayahnya."
"Ayah Lian juga membuat keputusan sendiri. Bukan kau yang mengerjakan pekerjaannya."
Gadis itu menarik napas panjang, mencoba menyimpan kalimat tersebut baik-baik. Dia merasa akan membutuhkannya lagi saat rasa bersalah datang pada malam hari.
Virgo berdiri ketika waktu pertemuan hampir selesai, tetapi tidak langsung mendekat.
"Ada barang lain yang masih kau perlukan dari rumah?"
"Kaos yang biru. Yang pertama kakak kasih."
Virgo terlihat agak terkejut.
"Yang itu sudah masuk tas. Bian menemukannya di jemuran."
"Oh."
Belva hampir tersenyum. Benda-benda di rumah tersebut masih memiliki tempat dalam ingatannya, bahkan ketika dia tidak ingin tinggal di sana lagi.
"Robot kakak bagaimana?"
"Masih patah."
"Aku bisa ganti kalau uangku sudah bisa dipakai."
"Tidak perlu membeli yang baru. Kalau nanti bisa diperbaiki, akan kuperbaiki."
Belva mengangguk. Dia tidak menawarkan pelukan. Virgo juga tidak mengulurkan tangan.
"Jaga dirimu," katanya.
"Aku akan berusaha."
Belva keluar lebih dulu. Kepala pelayan langsung berdiri, tetapi menunggu sampai gadis itu sendiri meraih tangannya yang tidak terluka.
Di halaman, Belva berhenti untuk menghirup udara. Ada pedagang minuman di seberang jalan. Ada kendaraan yang lewat terlalu cepat, dan orang yang marah karena klakson dibunyikan panjang-panjang. Dunia masih bergerak seperti biasa, padahal sesuatu yang besar baru saja bergeser dalam hidupnya.
Dari jendela, Virgo melihat Belva berjalan menuju mobil.
Dia tidak mengeluarkan ponsel untuk memeriksa lokasi. Kalung berbentuk kacang sudah diserahkan sebagai bagian dari barang yang perlu diperiksa. Tidak ada lagi titik kecil di layar yang bisa dia lihat untuk meyakinkan diri bahwa gadis tersebut masih dalam jangkauannya.
Petugas memanggilnya lagi.
Virgo mengambil map dan mengikuti tanpa membantah.
Di ruang pemeriksaan, dia diminta menjelaskan alur kegiatan markas. Nama-nama, tempat penyimpanan, transaksi, serta perintah yang pernah diberikannya. Ketika sampai pada bagian yang melibatkan para perempuan dan kekerasan di dalam jaringan itu, dia tidak menggunakan kata melindungi.
Ada banyak hal buruk yang telah dia biarkan berjalan karena menguntungkannya.
Dia memberikan keterangan sampai malam. Bian diperiksa secara terpisah. Pernyataan mereka akan dibandingkan dengan bukti dan keterangan orang lain, bukan diterima begitu saja karena Virgo pernah mengenakan seragam.
Ketika akhirnya dia harus melepaskan barang pribadinya untuk menjalani penahanan, Virgo memandangi saku yang kini kosong.
Rumahnya mungkin masih rapi. Kopi di dalam lemari mungkin belum habis. Tetapi untuk pertama kalinya, semua hal yang biasa memberinya rasa berkuasa tidak bisa ikut masuk.
Dia berjalan ketika diminta.
Di tempat lain, Belva sedang memastikan tiket pulangnya tersimpan dalam tas. Kali ini tujuan perjalanan itu dia ketahui, dan pintu mobil akan dibuka ketika dia ingin turun.