Belva berhenti di depan pintu kamarnya.
Alarm kecil di sisi pintu masih menyala. Dia menekan angka yang sama seperti sebelum pergi, lalu mendengar bunyi pendek yang selama ini tidak pernah terasa istimewa. Pintu terbuka setelah gagangnya diturunkan.
Tidak ada yang berubah.
Boneka besar masih berada dekat jendela. Buku yang dulu dibacanya setengah jalan masih terbuka di atas meja, kini diberi pembatas agar halamannya tidak terus terlipat. Foto kedua orangtuanya berdiri di tempat yang sama, menghadap tempat tidur.
Belva meletakkan tas di lantai.
"Ma," panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Kepulangannya tidak mengembalikan suara langkah ibunya atau suara ayahnya yang menyuruh turun makan. Selama perjalanan dari bandara, Belva sempat lupa bahwa bagian paling penting dari rumah ini memang sudah tidak ada.
Dia duduk di tepi tempat tidur dan mulai menangis.
Kepala pelayan berdiri di ambang pintu, menunggu. Ketika Belva mengulurkan tangan, barulah perempuan itu mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Aku pulang," kata Belva di antara isaknya. "Tapi mereka tetap tidak ada."
Perempuan itu mengangguk. Dia tidak mengatakan bahwa orangtua Belva pasti tidak ingin melihatnya menangis. Hari itu, gadis tersebut boleh merindukan mereka sebanyak yang dibutuhkan.
Di lantai bawah, urusan rumah masih berjalan. Orang yang mendampingi dokumen keluarga berbicara dengan staf, memastikan Belva tidak perlu menghadapi Dima seorang diri. Ada beberapa pembatasan sementara terhadap penggunaan aset yang masih diperselisihkan, dan semua pihak diminta menyimpan dokumen asli yang mungkin diperlukan.
Belva tidak mengikuti pembicaraan tersebut dari awal. Dia perlu mandi, makan, dan duduk di kamarnya tanpa terus menunggu pintu dibuka orang lain.
Ketika akhirnya turun menjelang sore, Tia sedang berada di ruang keluarga. Putrinya yang masih kecil bermain dengan balok warna-warni di atas karpet. Gadis kecil itu menoleh kepada Belva, lalu kembali sibuk menumpuk balok.
Tia berdiri.
"Kamu sudah makan?"
Belva mengangguk. Dia belum siap melakukan percakapan seperti tidak ada apa-apa.
"Om Dima tidak di sini," lanjut Tia.
"Aku tahu."
Tia memandang penyangga tangannya. "Katanya kamu jatuh."
"Yang bilang siapa?"
Tia tidak menjawab.
Belva duduk di kursi yang berjarak. Kepala pelayan tetap berada di pintu, sehingga dia merasa cukup aman untuk mendengarkan.
"Aku mau bilang sesuatu," ujar Tia.
Belva menunggu.
"Awalnya aku percaya kamu memang akan sekolah ke luar negeri. Setelah itu banyak hal yang tidak cocok. Tidak ada alamat yang bisa dikirim paket, tidak ada foto sekolah, tidak pernah ada panggilan darimu."
"Kenapa Tante tidak tanya?"
"Aku tanya. Lalu aku memilih percaya jawaban yang membuatku tidak perlu ribut."
Belva menatap wajahnya. Tia tidak terlihat seperti orang yang baru selesai berbelanja hari itu. Tidak ada tas baru di kursi, tidak ada senyum puas ketika menunjukkan barang yang baru dibeli.
"Aku ikut menikmati uang yang tidak kutanyakan asalnya," katanya lagi. "Aku tidak akan bilang tidak tahu apa-apa."
Putrinya mendekat membawa satu balok. Tia menerima, kemudian membantu menaruhnya di atas susunan lain. Gerakan sederhana itu membuatnya berhenti beberapa detik sebelum melanjutkan.
"Ada salinan pesan dan dokumen yang kusimpan. Aku sudah menyerahkannya kepada orang yang menangani urusan keluargamu."
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena terlambat sadar. Itu bukan alasan yang bagus, tapi itu jawaban yang benar."
Belva melihat sepupunya duduk lagi di karpet. Anak itu tidak tahu kenapa orang-orang dewasa berbicara begitu pelan. Dia hanya kesal karena menara baloknya terus jatuh.
"Aku belum bisa bilang tidak apa-apa," kata Belva.
"Tidak perlu."
"Tante sama adik mau tinggal di mana?"
"Untuk sementara di tempat keluarga saya. Kami akan membereskan barang dengan pendampingan. Kamu tidak harus memutuskan semuanya hari ini."
Belva merasa lega mendengar itu. Dia tidak ingin menghukum seorang anak kecil karena kesalahan orangtuanya, tetapi dia juga belum sanggup tinggal satu rumah dengan orang-orang yang pernah membuatnya merasa tidak punya rumah.
Sepupunya mendadak menyodorkan balok kuning.
"Kak."
Belva mengambilnya dengan tangan kiri, lalu memasangkannya pada menara yang belum selesai. Anak itu bertepuk tangan, sama sekali tidak tahu betapa sulitnya hari tersebut bagi orang di sekelilingnya.
Menjelang malam, Tia membawa putrinya pergi setelah urusan yang perlu dicatat selesai. Belva menyaksikan dari tangga, tidak melambaikan tangan terlalu lama.
Kepala pelayan menghampiri.
"Malam ini ingin makan apa?"
Belva memikirkan meja panjang yang biasanya penuh hidangan. Dia sempat ingin menyebut spaghetti, tetapi sesuatu yang lain justru muncul di kepalanya.
"Mie ayam boleh?"
Perempuan itu tampak terkejut, kemudian tersenyum.
"Boleh. Mau dipesankan?"
"Kalau bisa, kita makan di meja dapur saja."
Di meja dapur, Belva tidak merasa terlalu kecil seperti saat duduk sendirian di ruang makan utama. Dia bisa mendengar suara air, peralatan yang dirapikan, dan orang-orang yang sedang bekerja. Dia meminta kepala pelayan duduk menemaninya.
Mie ayamnya berbeda dari yang dibeli dekat rumah Virgo. Kuahnya lebih ringan, pangsitnya juga tidak sama. Belva sempat merindukan warung kecil itu, lalu merasa bersalah.
"Apa aneh kalau aku kangen makanan di sana?"
"Tidak."
"Padahal aku ingin pulang."
"Rindu pada satu hal tidak berarti Nona salah memilih pulang."
Belva mengaduk mie perlahan. Banyak jawaban yang belakangan terdengar sederhana, padahal dulu dia menganggapnya mustahil benar secara bersamaan.
Sesudah makan, dia membawa mangkuknya ke dekat wastafel. Kepala pelayan langsung hendak mengambil, tetapi Belva menggeleng.
"Aku mau coba. Tangan satunya saja dulu."
Dia tidak mencuci sampai selesai karena masih kesulitan. Namun, dia bisa membuang sisa makanan dan membilas sendok dengan hati-hati. Sabunnya tidak dituang sebanyak saat pertama kali dia melakukannya bersama Bian.
Ponselnya berbunyi. Ada pesan dari Aldo berupa foto tas kecil yang tadi dititipkan melalui pendamping sebelum keberangkatan. Di bawahnya ada tulisan yang membuat Belva tertawa.
"Sudah cek? Jangan sampai kamus gue ikut pindah ke Jakarta."
Belva membuka tas. Benar saja, sebuah kamus tipis terselip di antara buku-bukunya.
Dia memotret sampulnya dan mengirim balasan.
"Sudah telanjur jadi warga Jakarta."
Balasan Aldo datang cepat. "Kasih makan yang benar. Dia mahal."
Belva tertawa lebih keras. Kepala pelayan menoleh dari wastafel, kemudian melanjutkan pekerjaannya sambil tersenyum kecil.
Malam itu, sebelum tidur, Belva menulis pada halaman kosong di buku catatan. Bukan daftar orang yang harus dia maafkan, juga bukan rencana besar untuk mengambil alih perusahaan.
Dia hanya menulis tiga hal yang perlu dilakukan besok: memeriksa jadwal kontrol tangan, berbicara dengan sekolah lamanya, dan mengembalikan kamus Aldo.
Daftarnya pendek. Untuk pertama kalinya, itu terasa cukup.
Belva meletakkan buku di samping foto orangtuanya. Dia mematikan lampu utama, menyisakan lampu meja, lalu tidur dengan pintu kamar sedikit terbuka sesuai keinginannya sendiri.