Kai hampir pulang ketika namanya dipanggil.
Dia sudah duduk terlalu lama di ruang tunggu, memperhatikan orang lain masuk dan keluar dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang membawa kabar baik. Ada yang menangis bahkan sebelum melihat orang yang hendak ditemui. Kai sendiri tidak tahu wajah seperti apa yang harus dia bawa setelah empat tahun tidak datang.
"Silakan."
Dia berdiri dengan kaki yang terasa berat.
Ayahnya terlihat lebih tua. Rambut di dekat pelipis sudah banyak berubah warna, dan tubuh yang dulu selalu tampak besar di balik jas kini seperti menyusut dalam pakaian sederhana.
"Kai."
Kai menarik kursi tanpa segera menjawab.
Mereka saling memandang cukup lama. Semua kalimat yang disiapkan sepanjang perjalanan mendadak hilang. Dia pernah membayangkan akan marah, menuntut ayahnya kembali, atau mengatakan betapa hancurnya hidup yang ditinggalkan.
Namun, pertanyaan pertama yang keluar justru sangat pendek.
"Ayah benar melakukannya?"
Wajah ayahnya berubah.
Kai meletakkan beberapa lembar salinan dokumen yang sudah dipelajarinya bersama orang yang dahulu mendampingi perkara tersebut. Ada bagian yang tetap sulit dipahami, tetapi ada bukti yang tidak lagi bisa dia singkirkan hanya karena tidak menyukai nama petugas yang menanganinya.
"Aku ingin dengar dari Ayah."
Laki-laki di depannya menunduk. Jari-jarinya saling bertaut di atas meja.
"Ayah menyuruh seseorang menakutinya."
"Kemudian orang itu meninggal."
"Iya."
"Ayah tahu caranya akan pakai kekerasan?"
Keheningan itu menjadi jawaban sebelum kata-katanya muncul.
"Iya."
Kai memejamkan mata. Selama bertahun-tahun dia memegang satu cerita yang membuat seluruh kebenciannya memiliki arah. Ada seorang polisi yang datang, mengambil ayahnya, lalu rumah mereka hancur. Cerita itu terasa lebih mudah daripada menerima bahwa orang yang dia tunggu pulang juga telah merusak hidup keluarga lain.
"Kenapa tidak pernah bilang?"
"Ayah malu. Ayah pikir pengacara bisa menjelaskan ketika kau sudah lebih tenang."
"Empat tahun."
Ayahnya tidak membantah.
Kai menekan telapak tangan ke pahanya. Dia tidak ingin memukul meja. Tidak ada gunanya membuat dirinya dikeluarkan sebelum pertanyaan lain sempat disampaikan.
"Mama meninggal. Aku sendirian. Dan aku terus berpikir semua ini kesalahan orang yang menangkap Ayah."
"Ayah tahu kabarnya. Ayah menulis surat."
"Aku tidak membukanya."
Laki-laki itu mengangguk pelan. "Ayah tidak bisa memaksamu."
Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengar percakapan pengunjung lain di sekitar. Kai menatap wajah yang dulu selalu membuatnya merasa terlindungi. Sekarang dia melihat seseorang yang jauh lebih lemah, dan kenyataan itu tidak langsung membuatnya lebih mudah memaafkan.
"Virgo juga melakukan hal buruk," kata Kai.
Ayahnya mengangkat pandangan.
"Aku dengar."
"Tapi itu tidak membuat Ayah tidak bersalah."
"Tidak."
Kai mengembuskan napas. Dia membenci betapa terlambatnya kalimat tersebut datang. Namun, setidaknya hari itu tidak ada lagi orang yang mencoba menyembunyikan kesalahan di belakang kesalahan orang lain.
Ketika waktu kunjungan hampir selesai, ayahnya bertanya apakah dia akan datang lagi.
"Aku belum tahu."
"Baik."
"Aku tidak mau dijanjikan sesuatu yang tidak bisa Ayah lakukan."
"Ayah mengerti."
Kai berdiri. Dia tidak memeluk ayahnya, tetapi tidak juga berjalan pergi sebelum mendengar ucapan terakhir.
"Maaf karena membuatmu menanggung sesuatu yang tidak seharusnya menjadi bebanmu."
Kai mengangguk sekali, lalu keluar.
Ratni menunggu di halaman dengan dua botol air. Dia menyerahkan satu tanpa bertanya macam-macam. Kai duduk di bangku, membuka tutupnya, kemudian meneguk terlalu cepat sampai sedikit terbatuk.
"Pelan-pelan," tegur Ratni.
Kai mengusap mulutnya. Dia baru menyadari betapa kering tenggorokannya.
"Lo tidak harus cerita sekarang," lanjut Ratni.
"Gue tidak mau pulang ke apartemen dulu."
"Ya sudah. Kita duduk."
Mereka duduk cukup lama. Ratni memperhatikan jalan, membiarkan Kai menentukan sendiri kapan ingin berbicara.
Akhirnya Kai menceritakan sebagian percakapannya. Tidak dengan marah seperti ketika menyebut nama Virgo di kantin. Kali ini suaranya lebih sering terhenti, dan Ratni tidak menertawakannya.
"Gue juga harus berhenti pakai barang itu," ujar Kai sesudahnya.
Ratni menoleh. Dia tahu ada masalah dari kecelakaan malam itu, tetapi Kai selalu menutup pembicaraan setiap kali ditanya.
"Lo mau cari bantuan?"
Kai mengangguk.
"Aku tidak tahu bisa tidur kalau tidak pakai."
"Kalau begitu kita cari orang yang tahu cara membantu. Jangan kau coba sendiri lalu menghilang."
Kai memandang botol air di tangannya. Untuk pertama kalinya, permintaan bantuan tidak terdengar seperti pengakuan bahwa dia kalah dari Virgo. Ini urusan hidupnya sendiri.
Mereka menghubungi layanan yang bisa melakukan pemeriksaan dan pendampingan. Kai tidak diberi janji bahwa beberapa malam saja akan menyelesaikan semuanya. Ada hal yang perlu diperiksa, ada kebiasaan yang harus diubah, dan ada kesedihan yang tidak bisa ditidurkan terus-menerus dengan benda yang disembunyikan di laci.
Ratni menemaninya membuat janji pertama. Sesudah itu dia mengingatkan bahwa Kai tetap harus mengurus sekolah.
"Jangan sampai lo lebih lama tinggal di kelas dua belas daripada kursinya."
Kai mendengus. Suara itu hampir menjadi tawa.
Di sekolah, perubahan tidak berjalan secepat pengumuman kepala sekolah. Beberapa anak masih berbicara seenaknya. Namun, kini Pak Amir dan guru-guru lain lebih sering berada di tempat yang dulu dibiarkan tanpa pengawasan. Murid yang terlibat perundungan menjalani sanksi dan pendampingan bersama keluarganya. Mereka juga diminta memahami dampak perbuatannya melalui proses yang diawasi, bukan memaksa Belva menerima permintaan maaf.
Kai menyerahkan keterangannya mengenai pintu kamar mandi dan perkelahian. Dia tidak menyebut dirinya pahlawan.
Aldo menunggu sesudahnya, berdiri dengan tas di satu bahu.
"Belva sudah aman di rumah," katanya.
"Gue tahu."
"Dia tidak perlu dengar orang ribut lagi karena namanya."
Kai mengangguk. "Gue mau minta maaf. Kalau dia mau baca."
Dia menyerahkan amplop yang belum ditutup. Aldo tidak mengambil sebelum bertanya apakah ada hal yang akan membuat Belva merasa harus menjawab.
"Tidak ada."
Surat itu akhirnya dikirim melalui pendamping setelah Belva menyatakan bersedia menerimanya. Kai menulis bahwa pertolongannya waktu itu tidak memberinya hak mengatur Belva. Dia juga mengakui niat awal mendekat untuk membalas dendam, tanpa menggantinya dengan alasan bahwa semuanya dilakukan karena peduli.
Belva membaca surat itu di meja belajarnya.
Dia tidak langsung menulis balasan. Kertasnya dilipat dan disimpan dalam laci, terpisah dari buku sekolah.
Beberapa hari kemudian, dia hanya mengirim satu pesan.
"Aku sudah membaca. Terima kasih karena mengatakan yang sebenarnya. Aku masih perlu jarak."
Kai membaca pesan tersebut setelah selesai dari pertemuan pendampingannya. Dia mengetik beberapa kalimat, menghapusnya, lalu menyisakan jawaban yang paling sederhana.
"Aku mengerti."
Sesudah menekan kirim, dia tidak mencari alasan untuk menelepon.
Malam itu masih tidak mudah. Tetapi saat kesulitan datang, Kai menghubungi bantuan yang sudah disepakati. Untuk pertama kalinya, dia mencoba melewati malam tanpa menjadikan orang lain sasaran dari sesuatu yang terjadi di dalam kepalanya.