Bian merobek kertas pertama.
Pada kertas itu dia menulis bahwa semuanya baik-baik saja. Kalimat tersebut terlihat rapi, tetapi tidak benar. Dia sedang menunggu proses perkara, tidak bisa pulang, dan masih harus menghadapi banyak pertanyaan tentang uang yang selama ini dicatatnya dengan begitu teliti.
Lian tidak memerlukan kebohongan yang dibungkus dengan tulisan bagus.
Dia mengambil kertas baru.
"Lian, hari ini ayah makan sayur."
Bian berhenti, kemudian mendengus sendiri. Permulaan surat itu terasa bodoh. Namun, dia teringat betapa sering Lian menolak sayur sambil mengatakan ayahnya juga tidak makan.
Dia melanjutkan.
"Ayah ingat kamu selalu menyisihkan wortel. Rupanya kita sama-sama harus belajar menghabiskan yang ada di piring."
Setelah itu kalimat berikutnya menjadi lebih mudah. Dia menceritakan kegiatan yang boleh diceritakan, buku yang baru dibacanya, dan bagaimana dia selalu mengingat gambar rumah dengan jalan panjang buatan Lian.
Dia tidak menulis bahwa akan pulang besok. Dia menulis kapan surat berikutnya akan dikirim, sebatas yang bisa diusahakannya.
Surat itu sampai ke tangan Lian melalui pamannya. Anak kecil tersebut memintanya dibacakan dua kali. Pada pembacaan ketiga, pamannya mulai menunjuk kata-kata pendek agar Lian bisa mengenalinya sendiri.
"Ini apa?"
"Ayah."
"Yang ini?"
"Ma... kan."
Lian tersenyum lebar setelah berhasil. Dia segera mengambil buku gambar dan membuat sebuah piring dengan wortel yang ukurannya hampir sebesar rumah.
Di bawahnya, dengan bantuan pamannya, dia menulis bahwa ayah harus menghabiskan sayur sebelum pulang.
Ketika Bian menerima balasan, dia tertawa sampai orang di dekatnya menoleh. Sesudah tertawa, matanya justru terasa panas.
Selama ini dia mengira menjadi ayah selalu berarti menanggung sesuatu yang mengambil hidupnya. Sekarang dia baru mengerti berapa banyak bagian hidup Lian yang justru telah dia lewatkan karena terus menghitung kerugiannya sendiri.
Dia meminta kabar ibu Lian pada bagian terpisah untuk pamannya. Jawabannya tetap sama selama beberapa minggu. Ada pemeriksaan, perubahan kecil yang perlu diamati, dan hari-hari ketika kondisi perempuan itu belum banyak berbeda.
Tidak ada pemulihan ajaib hanya karena Bian akhirnya menyesal.
Belva menerima kabar penahanan Bian ketika sedang bersiap kembali masuk sekolah di Jakarta. Dia membaca pesan tersebut beberapa kali, kemudian duduk di lantai dekat tempat tidur.
Kepala pelayan menemukannya masih memegang ponsel.
"Lian bagaimana?"
"Sudah ada pamannya."
"Tapi dia pasti sedih."
"Mungkin. Nona bisa menanyakan kabarnya jika ingin."
Belva menelepon pada waktu yang disepakati. Lian langsung menunjukkan buku gambarnya ke kamera, terlalu dekat sampai yang terlihat hanya warna biru.
"Jauhkan sedikit," kata Belva sambil tertawa.
"Ini jalan Ayah. Sekarang ditambah lampu."
"Kenapa?"
"Biar kalau malam tidak kesasar."
Belva terdiam sesaat, lalu memuji gambar tersebut dengan sungguh-sungguh. Dia tidak mengatakan bahwa ayah Lian akan segera pulang. Dia juga tidak menjanjikan bisa menggantikan semua hal yang hilang.
Mereka berbicara tentang sekolah, makanan, dan seekor kucing yang mulai sering datang ke halaman rumah pamannya. Lian mengeluh bahwa kucing itu hanya mau mendekat kalau dibawakan sesuatu.
"Sama kayak kakak kalau ada mie ayam," ledeknya.
Belva ternganga. "Siapa yang ngajarin?"
"Ayah."
Belva menutup wajah dengan satu tangan. Rupanya Bian masih sempat mewariskan kebiasaan meledek bahkan melalui surat.
Sesudah panggilan selesai, Belva menuliskan namanya pada sampul buku sekolah yang baru. Tangan kanannya sudah jauh membaik, tetapi dia masih berhati-hati ketika menekan pena. Dia punya jadwal belajar, waktu pendampingan, dan cukup banyak materi yang tertinggal.
Hari-harinya tidak hanya berisi kabar dari Palembang.
Ada saat dia lupa memeriksa ponsel sampai malam. Awalnya dia merasa bersalah. Kemudian, perlahan, dia belajar bahwa memikirkan pelajaran sendiri bukan berarti berhenti peduli pada Lian.
Bulan-bulan berikutnya berjalan dengan ukuran yang berbeda bagi setiap orang.
Bagi Bian, waktu ditandai oleh jadwal pemeriksaan dan surat yang datang. Bagi Lian, waktu ditandai oleh kata baru yang berhasil dibacanya. Bagi pamannya, waktu sering habis di antara pekerjaan, rumah sakit, dan memastikan anak kecil itu tidak merasa ditinggalkan di tengah semua kesibukan.
Suatu siang, ketika Lian membacakan kalimat pendek dari surat ayahnya, tangan ibunya bergerak.
Gerakannya kecil. Begitu kecil sampai Lian sempat mengira selimutnya tersangkut.
"Paman."
Pamannya mendekat tanpa segera membuat kesimpulan. Dia memanggil petugas untuk memeriksa, lalu membawa Lian duduk agar tidak terus menarik tangan ibunya.
Pemeriksaan dan pengamatan dilakukan berulang. Dalam hari-hari berikutnya, perempuan itu mulai menunjukkan tanggapan yang lebih jelas pada beberapa suara dan perintah sederhana. Tidak setiap saat. Kadang dia hanya terjaga sebentar, kemudian kembali lelah.
Lian ingin membawa seluruh buku gambarnya sekaligus.
"Satu dulu," kata pamannya. "Mama bisa capek."
"Mama tahu ini Lian?"
"Kita sedang melihat perkembangannya. Kamu boleh memperkenalkan diri lagi."
Lian naik ke kursi. Dia merapikan seragam kecilnya, lalu menunjukkan gambar rumah.
"Ma, ini Lian. Sekarang sudah bisa baca sedikit."
Matanya terus memperhatikan wajah ibunya. Ketika perempuan itu menoleh sangat pelan ke arahnya, Lian menutup mulut dengan kedua tangan.
Dia tidak berteriak. Pamannya sudah mengingatkan agar berbicara pelan.
Tetapi malam itu dia sulit tidur karena terlalu ingin menceritakannya kepada ayah.
Kabar tersebut sampai kepada Bian melalui surat dan penjelasan pamannya. Bian membaca bagian tentang tanggapan ibu Lian berkali-kali. Dia sempat menutup mata, lalu segera bertanya apa yang boleh dilakukan tanpa mengganggu pemulihannya.
Untuk sementara, pamannya menyampaikan bahwa perempuan itu masih perlu banyak istirahat. Riwayat penyakit dan cedera membuat perjalanan pemulihannya panjang. Mereka belum tahu kemampuan apa yang akan kembali, dan tidak ingin menaruh semua harapan pada satu gerakan.
Bian menerima.
Dia menulis surat pendek untuk disimpan sampai perempuan itu bersedia atau cukup kuat mendengarnya. Isinya tidak meminta perempuan itu menunggunya. Dia hanya mengakui apa yang telah dilakukan, menyatakan tanggung jawab kepada Lian, dan membiarkan keputusan tentang hubungan mereka berada di tangan perempuan tersebut.
Sesudah surat selesai, Bian menyandarkan punggung ke dinding.
Di dekat kertas-kertas perkara yang belum selesai, gambar Lian terlipat rapi. Garis jalannya panjang sekali, penuh lampu yang digambar miring.
Bian menyentuh satu lampu dengan ujung jarinya.
Dia tidak tahu seperti apa rumah yang akan menunggunya kelak. Dia hanya tahu bahwa jika suatu hari boleh mengetuk pintunya lagi, dia harus datang sebagai orang yang sanggup bertahan setelah pintu dibuka.
Bukan sekadar mampir sebelum pekerjaan berikutnya.
Pada surat balasan untuk Lian, dia menambahkan satu kalimat.
"Ayah senang mendengar cerita tentang Mama. Tapi kamu tetap boleh main, sekolah, dan tertawa. Menjaga Mama bukan tugas yang harus kamu lakukan sendirian."
Lian meminta pamannya membaca kalimat itu dua kali. Sesudahnya dia mengambil sepatu, karena anak-anak tetangga sudah memanggil dari halaman.
Sebelum keluar, dia mencium punggung tangan ibunya dengan hati-hati.
"Lian main dulu, Ma. Nanti cerita lagi."
Kali ini dia pergi tanpa merasa harus menunggu sesuatu yang buruk terjadi jika dia meninggalkan kursi tersebut sebentar.