Belva mengenakan kemeja lengan panjang yang dibelinya sendiri.
Kainnya ringan dan tidak membuat lehernya gatal. Ketika memilih di toko, dia sempat menanyakan pendapat kepala pelayan, tetapi keputusan akhirnya tetap dia ambil. Hal-hal seperti itu sudah mulai terasa biasa sekarang.
Pagi tersebut dia harus mendengar kabar yang lebih besar daripada urusan pakaian.
Proses pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan. Belva sudah memberikan keterangan dengan pendampingan, memperbaiki bagian yang kurang jelas, dan mengatakan ketika dia tidak sanggup melanjutkan pada hari yang sama. Ada dokumen yang diperiksa, rekening yang ditelusuri, serta orang lain yang memberikan kesaksian tentang markas.
Cerita Belva tidak berdiri sendirian.
Orang-orang yang membawanya dari Jakarta juga ditelusuri melalui keterangan dan catatan perjalanan. Rangkaian penculikan, pemindahan, serta kekerasan yang terjadi tidak lagi berhenti sebagai cerita di antara orang markas. Keterlibatan masing-masing diperiksa tersendiri, termasuk peristiwa kematian laki-laki yang mula-mula menarik Belva ke rumahnya.
Pembukuan Bian, percakapan yang tersimpan, dan keterangan korban lain menguatkan banyak bagian yang dulu hanya dianggap sebagai urusan tersembunyi orang-orang berkuasa. Pernyataan Virgo sendiri juga tidak menghapus kebutuhan untuk memeriksa semuanya.
Belva tidak menghadiri setiap persidangan. Dia sudah kembali sekolah, dan kadang tugas matematikanya terasa sama menakutkan dengan dokumen-dokumen yang dikirim kepada pendamping. Kepala pelayan tidak menertawakannya ketika dia mengeluh tentang keduanya pada malam yang sama.
"Takut soal sekolah berarti hidup Nona mulai punya urusan lain lagi."
Belva memikirkan kalimat tersebut lama.
Hari pengumuman hasil akhir perkara yang berkaitan dengan Virgo, dia memilih mendengar penjelasan dari orang yang mendampinginya. Ada catatan di atas meja dan segelas teh yang sudah mulai dingin.
Virgo dijatuhi hukuman penjara dua belas tahun untuk perkara-perkara yang telah dibuktikan terhadapnya. Proses di institusinya juga mengakhiri kedudukannya sebagai polisi. Bian menerima hukuman lima tahun atas keterlibatan yang terbukti. Kerja samanya membantu penyidikan dipertimbangkan, tetapi tidak mengubahnya menjadi orang yang bebas dari tanggung jawab.
Belva mendengarkan tanpa memotong.
"Jadi sudah selesai?"
"Bagian putusan mereka sudah jelas. Ada urusan korban dan pihak lain yang masih perlu diteruskan."
"Markasnya?"
"Sudah tidak berjalan seperti dulu. Tempat-tempat yang digunakan telah ditangani. Sebagian barang dan uang juga masuk proses penyelesaian sesuai putusan."
Belva memandangi teh di depannya. Dia tidak merasa ingin bersorak. Rasa lega ada, tetapi bercampur dengan kesedihan yang tidak mudah dijelaskan.
Dia teringat Bian yang membelikan mie ayam dengan berutang. Dia juga teringat tangan perempuan yang pernah mencoba menutupi tubuhnya sendiri di ruangan penuh orang asing.
Kedua ingatan itu tetap ada. Salah satunya tidak menghapus yang lain.
"Ada kabar dari perempuan yang waktu itu membantu aku?"
Pendamping membuka map lain. Identitas orang tersebut sudah berhasil dicocokkan melalui keterangan yang diberikan Belva. Tidak semua kabarnya boleh disampaikan, tetapi perempuan itu menyetujui satu pesan singkat untuk diteruskan.
Dia berada di tempat yang aman dan sedang memulai kembali kehidupannya dengan bantuan yang tersedia. Dia juga mengingat gadis berseragam yang dahulu berdiri ketakutan di dekat pintu.
Pesannya tidak meminta Belva melakukan apa-apa. Hanya menyatakan bahwa dia senang mendengar gadis itu sudah pulang.
Belva membaca kalimat tersebut, lalu menutup mata.
"Aku juga senang dia sudah keluar."
Dia meminta balasan itu diteruskan jika perempuan tersebut bersedia menerima. Tidak ada nomor pribadi yang dibagikan tanpa izin. Belva tidak memerlukan pertemuan untuk membuktikan bahwa cerita mereka pernah bersinggungan.
Perkara Dima berjalan melalui jalur yang berbeda. Pemeriksaan menemukan pemalsuan dokumen dan penggunaan aset keluarga yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tia memberikan keterangan serta salinan pesan yang disimpannya, sementara staf rumah dan pihak perusahaan melengkapi bagian lain.
Tidak ditemukan dasar untuk mengatakan bahwa Dima mengatur penculikan Belva. Penculikan itu memang berawal dari pertemuan yang tidak disengaja. Namun, kebohongan Dima mengenai keberangkatan ke Singapura telah membantu membuat hilangnya Belva tidak segera ditangani sebagaimana mestinya.
Belva mengingat betapa lamanya dia merasa tak seorang pun mencari.
Kenyataan tersebut tidak menjadi lebih ringan hanya karena pamannya bukan orang yang menariknya ke rumah asing.
Dima kehilangan kewenangan mengurus aset yang diperselisihkan. Dia juga menerima hukuman atas perbuatan yang terbukti dalam perkaranya. Pengembalian harta tidak terjadi sekaligus. Ada transaksi yang harus dibatalkan, ada uang yang ditelusuri, dan ada kewajiban perusahaan yang tetap perlu dibayar.
Belva belum diminta menjadi pengusaha dalam semalam.
Pengelolaan dilakukan dengan pengawasan yang ditetapkan, sementara dia belajar membaca laporan sedikit demi sedikit. Pada pertemuan pertama, dia bertanya mengapa satu kolom memakai tanda kurung padahal angkanya tidak sedang diberi catatan.
Penjelasannya membuat kepala Belva agak pening.
"Aku pikir kalau punya banyak uang tinggal disimpan saja."
Orang yang menjelaskan tersenyum. "Justru karena banyak urusan, pencatatannya harus jelas."
Belva menulis pertanyaan itu di buku. Dia tidak lagi malu mengatakan tidak tahu. Dima pernah menggunakan ketidaktahuannya sebagai alasan untuk mengambil keputusan tanpa menjelaskan. Sekarang dia ingin menjadikan pertanyaan sebagai sesuatu yang membantunya memahami.
Beberapa minggu sesudahnya, surat dari Dima datang melalui pihak yang diperbolehkan mengurus komunikasi.
Belva menyimpannya satu hari sebelum membaca.
Pamannya meminta maaf, tetapi ada kalimat tentang tekanan hidup, kebutuhan keluarga, dan bagaimana dia merasa selalu berada di bawah bayang-bayang kakaknya. Belva membaca sampai selesai. Dia bisa memahami bahwa pamannya memiliki keluhan, tetapi keluhan itu tidak membuat apa yang dilakukan terhadapnya menjadi wajar.
Dia tidak membalas hari itu.
Tia telah pindah bersama putrinya dan menjalani urusan keluarganya sendiri. Sesekali dia mengirim kabar tentang sepupu Belva melalui kepala pelayan. Belva memilih tetap menerima kabar anak itu, dengan batas yang tidak mengharuskannya kembali dekat dengan semua orang dewasa di sekelilingnya.
Sore harinya, Belva mendapat foto dari Lian. Anak itu berdiri dengan seragam sekolah dasar yang masih terlihat kebesaran. Di sampingnya, ibunya duduk dengan bantuan, menatap kamera dengan ekspresi lelah tetapi sadar.
Belva tersenyum.
Dia mengirim pesan suara, memuji sepatu baru Lian dan mengingatkan supaya tidak lupa sarapan. Sesudah itu dia kembali membuka buku pelajarannya.
Di halaman depan, dia menulis namanya lengkap.
Belva Afsheen Alkase.
Untuk waktu yang lama, nama keluarganya terasa seperti sesuatu yang mengundang masalah. Ada orang yang menginginkan uangnya, ada yang ingin memakainya sebagai jalan masuk, dan ada yang menganggap dia hanya perlu menurut.
Sekarang nama tersebut kembali menjadi bagian dari dirinya. Bukan kewajiban untuk selalu kuat, juga bukan alasan untuk selalu dicurigai.
Belva menutup buku laporan aset, lalu membuka buku bahasa.
Besok ada presentasi. Untuk urusan yang satu itu, dia tahu dirinya cukup pandai.
Dia mengambil pena, mengikat rambut, dan mulai bekerja sampai kepala pelayan mengetuk pintu untuk mengingatkan waktu makan.
Kali ini, ketika dipanggil pulang ke meja makan, Belva tidak sedang menunggu seseorang mengizinkannya memiliki hidup sendiri.