Belva sedang mencari peniti ketika ponselnya berdering untuk ketiga kali.
Dia melihat nama Aldo di layar, lalu mengangkat sambil tetap membongkar laci meja. Kamus tipis yang dulu ikut pindah ke Jakarta sudah dikembalikan sejak lama, tetapi Aldo masih suka menjadikannya alasan untuk menghubungi.
"Kenapa lagi?"
"Lo jadi lulus, kan? Bukan cuma pinjam baju buat foto?"
Belva memutar bola mata.
"Iya, Aldo. Sudah kutunjukkan pengumumannya kemarin."
"Siapa tahu editan."
"Kukirim tagihan sekolah biar kau percaya."
Aldo tertawa di seberang. Dia sendiri sudah menyelesaikan sekolah dan sedang bersiap memasuki pendidikan berikutnya. Suaranya masih sama, sedikit terlalu keras kalau sedang bersemangat.
Belva menemukan peniti di dekat kotak kecil, lalu berhenti bergerak. Kotak itu berisi beberapa barang dari Palembang yang tidak selalu dilihatnya. Sebuah bungkus gantungan kunci dari Lian, catatan tugas lama, dan foto yang dikirim Ratni setelah kegiatan sekolah mereka selesai.
Tidak ada kalung berbentuk kacang di dalamnya.
Benda itu sudah masuk urusan barang bukti dan Belva memilih tidak mengambilnya kembali ketika ditanya. Ada barang yang cukup dibiarkan menjadi bagian dari catatan, tanpa harus dibawa ke setiap rumah yang dia tinggali.
"Belva?"
"Iya. Aku masih dengar."
"Jangan lupa foto. Lian sudah ribut minta lihat."
"Nanti kukirim. Kau kenapa jadi juru bicara semua orang?"
"Karena gue paling sabar."
Belva mendengus. Namun, sebelum panggilan ditutup, dia tersenyum.
Usianya sudah delapan belas tahun. Dua ulang tahun terakhir dirayakan dengan cara yang berbeda dari pesta-pesta masa kecilnya. Tidak selalu besar, tetapi dia tahu siapa yang datang karena benar-benar ingin berada di situ.
Di depan cermin, Belva merapikan pakaian kelulusan dengan bantuan kepala pelayan. Rambutnya ditata sederhana, memperlihatkan wajah yang masih mudah memerah jika terlalu lama berada di bawah matahari.
"Sudah cantik," ujar perempuan itu.
"Aku belum pakai sepatu."
"Nanti tambah cantik kalau sepatunya dipakai."
Belva tertawa. Dia berjongkok mengenakan sepatu sendiri, kemudian memeriksa isi tas. Ponsel, tisu, botol air, dan pelindung kulit yang kini selalu dibawanya tanpa harus diingatkan orang lain.
Perjalanan ke sekolah tidak membuatnya tegang seperti dulu. Kadang ingatan buruk masih muncul ketika melihat pintu kamar mandi terkunci dari luar atau mendengar orang berteriak sangat dekat. Namun, sekarang dia tahu beberapa cara untuk menenangkan diri dan kepada siapa dia bisa meminta bantuan.
Dia tidak lagi menganggap hari yang sulit sebagai bukti bahwa semua kemajuannya hilang.
Di sekolah, teman-teman memanggilnya untuk berfoto. Belva berjalan menghampiri dengan langkah cepat, lalu berhenti ketika melihat kursi-kursi untuk keluarga.
Ada ruang kosong yang selalu dia bawa ke acara seperti itu.
Kepala pelayan berdiri di sampingnya, tidak mencoba menggantikan orangtuanya. Dia hanya merapikan satu bagian pakaian Belva yang terlipat dan mengatakan bahwa foto kedua orangtuanya sudah dimasukkan ke dalam tas kecil jika ingin dibawa.
Belva mengangguk. Matanya panas, tetapi senyumnya tetap ada.
Namanya dipanggil bersama murid lain. Dia berjalan ke depan, menerima tanda kelulusan, lalu mencari wajah yang menunggunya di antara kerumunan.
Tepuk tangan terdengar. Ada teman yang bersiul terlalu keras dan langsung ditegur guru. Belva hampir tertawa saat melihat pelakunya pura-pura melihat ke langit-langit.
Sesudah acara, dia mengambil foto kecil orangtuanya dan memegangnya di depan dada untuk satu gambar. Tidak ada pidato. Dia hanya ingin foto itu juga memiliki tempat pada hari yang sudah lama dibayangkannya.
Ponselnya penuh pesan ketika akhirnya dia duduk di tempat teduh.
Lian mengirim rekaman suara yang dimulai dengan teriakan, kemudian diulang setelah ibunya mengingatkan agar lebih pelan. Suara perempuan itu terdengar terbata, tetapi Belva mengenalinya dari beberapa panggilan terakhir.
"Selamat, Kak Belva!"
Di belakang suara Lian, terdengar ucapan selamat yang lebih lirih.
Belva memutar rekaman itu sekali lagi sebelum membalas.
Kai mengirim pesan singkat, menyatakan ikut senang. Hubungan mereka belum kembali menjadi dekat, tetapi jarak yang diminta Belva telah dihormati. Dari Ratni dia tahu Kai masih menjalani pendampingan dan mulai belajar mengurus kegiatan bengkel serta balapan di tempat yang diizinkan.
Tidak setiap hal harus tumbuh menjadi persahabatan yang akrab agar bisa disebut membaik.
Sebuah surat dari Bian juga sudah datang beberapa hari sebelumnya. Dia menulis ledekan tentang Belva yang sekarang mungkin sudah bisa mencuci lebih dari dua piring tanpa menghabiskan sabun.
Belva membalas dengan foto wastafel bersih.
Di bagian lain surat, Bian menceritakan pelatihan yang diikutinya dan bagaimana dia mulai membantu kegiatan pembukuan yang diperbolehkan. Kalimatnya tidak meminta belas kasihan. Dia hanya ingin Belva tahu bahwa kemampuan yang dulu dipakai untuk mencatat uang markas bisa dipelajari kembali untuk pekerjaan yang lebih baik.
Virgo tidak mengirim ucapan secara langsung. Belva masih memilih membatasi kontak. Melalui pendamping, dia sesekali menerima kabar seperlunya, tanpa diminta berkunjung atau membalas.
Keputusan itu tetap dihormati.
Sore hari setelah pulang, Belva meletakkan berkas kelulusannya di meja kerja ayahnya. Ruangan tersebut kini dibuka lebih sering. Dia sudah bisa masuk tanpa selalu berakhir menangis.
Ada map lain menunggu, berisi pilihan pendidikan yang selama ini dipertimbangkan. Beberapa orang mengira dia akan mengambil bidang yang membuatnya segera mengurus perusahaan keluarga. Belva justru memilih bahasa dan sastra, bidang yang sejak lama membuatnya merasa mampu.
"Perusahaan bagaimana?" tanyanya ketika membicarakan pilihan tersebut.
"Pengelolaannya tetap diawasi. Belajar bidang lain tidak berarti meninggalkan tanggung jawab," jelas orang yang mendampinginya.
Belva tetap belajar membaca laporan. Dia juga tetap bertanya tentang keputusan besar yang akan memengaruhi aset keluarganya. Tetapi dia tidak harus menghabiskan hidup hanya untuk membuktikan bahwa pamannya salah menilainya.
Malam itu dia mengisi formulir pendidikan dengan tenang.
Saat sampai pada pertanyaan tentang alasan memilih bidang tersebut, Belva berpikir cukup lama. Dia menyukai bahasa karena sejak kecil bisa bergerak di dalamnya. Namun, beberapa tahun terakhir dia juga belajar bahwa orang sering terluka ketika tidak mampu menjelaskan apa yang dialami, atau ketika tidak ada yang bersedia mendengar.
Dia ingin bekerja dengan kata-kata. Bukan untuk membuat semua orang terdengar sama, melainkan untuk membantu sesuatu disampaikan dengan jelas.
Belva mengetik jawabannya tanpa tergesa.
Sesudah selesai, dia menutup laptop dan turun makan. Di meja dapur ada mie ayam, karena kepala pelayan sudah hafal makanan yang sering dimintanya pada hari penting.
Belva mengambil dua mangkuk.
"Kita makan bareng."
Perempuan itu duduk di hadapannya.
Di luar, langit Jakarta mulai gelap. Belva mengirim foto kelulusannya kepada orang-orang yang dipilihnya, lalu meletakkan ponsel agar bisa menikmati makanan sebelum dingin.
Untuk malam itu, dia tidak sedang menunggu hidup dimulai.
Dia sudah berada di dalamnya.