Aldo mengangkat papan kecil dengan tulisan yang membuat Belva ingin berpura-pura tidak mengenalnya.
"Penumpang pembawa kamus curian."
Belva berhenti di depan pintu kedatangan bandara, memandang papan itu, lalu memandang laki-laki berambut keriting yang sedang tertawa sendiri di belakangnya.
"Sudah enam tahun masih juga dibahas."
"Utang sejarah tidak boleh dilupakan."
"Itu sudah kukembalikan."
"Tapi pernah dibawa kabur."
Belva memukul pelan papan tersebut dengan ujung map. Aldo buru-buru menurunkannya sebelum orang-orang di sekeliling benar-benar mengira mereka sedang bertengkar.
Belva kini berusia dua puluh dua tahun. Wajahnya masih mudah dikenali, tetapi dia membawa kopernya dengan cara yang jauh lebih tenang daripada gadis berseragam yang dahulu tidak tahu bagaimana harus naik motor. Pendidikan yang dipilihnya sudah selesai. Dia mulai menerima pekerjaan penerjemahan, termasuk buku anak yang membawanya ke Palembang minggu itu.
Aldo, yang seusia dengannya, baru saja mendapat jadwal tetap melatih olahraga di sebuah sekolah. Dia tetap berbicara terlalu cepat ketika bersemangat, tetapi sekarang lebih pandai memperhatikan apakah orang di depannya sudah selesai berbicara.
"Mobilnya di mana?" tanya Belva.
"Parkiran."
"Kirain kau bawa motor."
"Ada koper segede ini. Kau pikir mau kita taruh di kepala?"
Belva melirik papan yang masih dipegangnya. "Papan itu saja kau sanggup bawa."
Aldo mengambil koper setelah bertanya lebih dulu. Belva menyerahkannya, lalu berjalan di sampingnya menuju tempat parkir.
Kedatangannya kali ini sudah direncanakan beberapa minggu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, kunjungan kepada orang-orang yang ingin ditemui, serta satu pertemuan yang sudah dia pikirkan cukup lama.
Namun, tujuan pertamanya tetap rumah Bian.
Rumah panggung itu tidak lagi tampak seperti akan menyerah setiap kali angin bertiup. Beberapa papan telah diganti, tangganya diperbaiki, dan ada pagar sederhana di sisi yang dulu terbuka. Perabotannya belum banyak, tetapi tidak ada lagi kesan bahwa setiap benda sedang menunggu dijual.
Bian muncul dari pintu dengan lap di bahu.
"Wah, tamu jauh. Lepas sepatu. Lantainya baru dipel."
Belva berhenti, lalu menoleh kepada Aldo.
"Kau dengar? Kak Bian sekarang marah soal lantai."
"Bukan marah. Aku capek ngepel."
"Kalimatnya sudah mirip seseorang."
Bian terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis. "Masuklah. Ada yang dari tadi nunggu."
Lian keluar hampir berlari, lalu mengerem langkahnya sebelum menabrak kursi. Usianya sudah sebelas tahun. Tingginya membuat Belva harus mengangkat wajah sedikit lebih tinggi daripada yang dia perkirakan.
"Kak Belva!"
"Astaga, kau tambah tinggi."
"Lian memang makan sayur."
Bian mendengus dari belakang.
"Ayah yang masak. Pujian jangan salah alamat."
Lian mengabaikannya, sibuk memperlihatkan buku yang ingin ditandatangani Belva. Namanya tercetak kecil sebagai penerjemah, bukan penulis cerita. Belva menjelaskan perbedaannya, dan Lian mendengarkan dengan serius.
"Jadi kakak membantu buku ini ngomong bahasa Indonesia?"
"Kurang lebih begitu."
"Wah. Berarti bukunya dulu juga anak baru."
Belva tertawa, kemudian berhenti karena kalimat itu terasa lebih tepat daripada yang disadari Lian.
Dia menuliskan pesan pendek di halaman depan, menyertakan nama Lian. Sesudahnya anak itu membawa buku ke ibunya, yang duduk dekat jendela dengan bantal menyangga punggung.
Perempuan itu sudah banyak berubah sejak Belva pertama kali melihatnya terbaring tanpa tanggapan. Pemulihannya tetap menyisakan keterbatasan. Berjalan jauh masih memerlukan bantuan, bicara kadang membuatnya cepat lelah, dan kontrol kesehatannya tidak boleh diabaikan. Namun, dia bisa menyatakan apa yang diinginkan dan tidak diinginkan.
Perawatan penyakit lamanya tetap dipantau. Keluarga mengatur kunjungan dan waktu istirahat berdasarkan keadaan hari itu, bukan memaksanya mengikuti semua acara. Ketika dia berkata lelah, Lian sudah terbiasa mengecilkan suara televisi dan memberi ruang tanpa menganggap ibunya sedang menolak ditemani.
"Belva," sapanya perlahan.
Belva mendekat. "Apa kabar?"
"Baik hari ini."
Belva menyukai jawaban itu. Tidak memaksa semua hari terasa sama baiknya.
Mereka duduk berbicara tentang perjalanan dan buku Lian. Bian datang membawa air, kemudian bertanya apakah posisi kursi perempuan itu perlu diubah. Dia menunggu jawaban sebelum menyentuh sandarannya.
Mereka tidak kembali menjadi pasangan.
Hal itu sudah dibicarakan setelah ibu Lian cukup pulih untuk membuat keputusan sendiri. Ada terlalu banyak luka, dan perempuan itu tidak ingin hubungan lama menjadi syarat agar Bian menjalankan tanggung jawab sebagai ayah. Mereka memilih mengurus Lian dengan pembagian yang jelas, dibantu paman yang selama bertahun-tahun telah menjaga keduanya.
Hari itu mereka berkumpul karena Lian ingin makan bersama menyambut Belva. Besok ibunya akan kembali ke rumah saudaranya, tempat yang sudah disesuaikan dengan kebutuhannya.
Belva melihat bagaimana Bian menerima pengaturan tersebut tanpa menjadikannya bahan sindiran.
Hukuman yang dijalaninya telah selesai beberapa waktu lalu. Keluar dari penjara tidak langsung memberinya pekerjaan bagus atau kepercayaan dari semua orang. Dia memulai dengan membantu pencatatan di bengkel milik Kai, dengan pembagian kerja dan pemeriksaan yang jelas.
Bian sempat mengeluh karena setiap pengeluaran harus ada buktinya.
Kai hanya menjawab bahwa justru itu alasan dia dipekerjakan.
Belva tertawa ketika mendengar ceritanya.
"Bagaimana rasanya disuruh orang yang lebih muda?"
"Buruk sekali. Apalagi anak itu mukanya selalu macam kurang tidur."
"Padahal yang tidur pas jam makan siang Bian," sahut suara dari pintu.
Kai datang bersama Ratni, membawa beberapa bungkus makanan. Pada usia dua puluh empat tahun, rambutnya sudah tidak lagi dicat pirang. Dia tetap tidak banyak tersenyum, tetapi matanya tidak memiliki ketegangan yang dulu selalu membuat Belva ingin menunduk.
Mereka sudah beberapa kali bertemu singkat setelah jarak yang diminta Belva mulai berubah dengan sendirinya. Tidak ada yang memaksa. Kai juga tidak lagi menjadikan setiap percakapan sebagai kesempatan membuktikan bahwa dirinya sudah berubah.
"Perjalanannya lancar?" tanyanya.
"Lancar."
Kai mengangguk, lalu membantu Aldo memindahkan makanan. Ratni langsung duduk dekat ibu Lian dan memulai percakapan tentang tanaman di jendela.
Bengkel Kai tumbuh perlahan. Dia masih menjaga jadwal pendampingan yang diperlukan dan memilih balapan di tempat yang memiliki aturan jelas. Hubungannya dengan ayahnya tidak mendadak hangat, tetapi kunjungan sudah tidak selalu berakhir dengan kemarahan. Dia bisa mengatakan tidak ketika belum sanggup bertemu.
Di meja makan, Lian sibuk menghitung kursi.
"Paman Virgo tidak ikut?"
Suasana berhenti sebentar.
Bian meletakkan piring dengan hati-hati. "Belum bisa."
"Lian tahu. Cuma tadi lihat kursinya lebih."
Belva memandang kursi tambahan di dekat dinding. Kursi itu memang tidak memiliki siapa-siapa, dan untuk sekali ini mereka tidak perlu berpura-pura semua orang bisa hadir hanya karena hari sedang menyenangkan.
"Aku akan menemuinya besok," kata Belva.
Aldo menoleh, tetapi tidak bertanya di depan semua orang. Bian hanya mengangguk, memastikan bahwa rencana tersebut memang sudah dipikirkan dan diatur.
Makan siang kembali ramai setelah Lian mengeluh karena Bian mengambil bagian ayam yang dia incar. Ratni menukar potongannya, Kai menyuruh mereka berhenti ribut, dan Aldo justru memperparah keadaan dengan mengatakan bahwa tamu seharusnya mendapat dua bagian.
Belva tertawa sampai harus meletakkan sendok.
Sore harinya, ketika tamu lain mulai pulang, Aldo mengantarnya ke penginapan. Mereka berhenti sebentar di tempat penjual soto yang pernah didatangi saat sekolah.
Warungnya sudah berubah, tetapi aroma kuahnya masih dikenali Belva.
"Kau mau makan lagi?" tanya Aldo.
"Sedikit."
Aldo memesan dua porsi kecil. Mereka duduk menghadap jalan, membicarakan pekerjaan dan jadwal Belva yang akan membuatnya bepergian beberapa kali dalam setahun.
Sesudah mangkuk hampir kosong, Aldo meletakkan sendok.
"Aku ingin ajak kau makan lagi setelah urusanmu besok selesai."
Belva menoleh. "Sekarang juga makan."
"Yang itu kencan."
Aldo tidak menertawakan kalimatnya sendiri. Belva menatap wajahnya, lalu menyadari bahwa kali ini dia sedang ditanya sebagai perempuan dewasa yang bisa memilih jawabannya.
Tidak ada rasa harus membalas jasa. Tidak ada utang karena pernah dijaga saat sekolah. Mereka sudah menjalani hidup masing-masing cukup lama untuk tahu bahwa undangan makan tidak berarti menyerahkan semuanya kepada orang lain.
"Boleh," jawab Belva.
Aldo tersenyum lebar, lalu buru-buru menyembunyikannya dengan minum.
"Tapi pilih tempat yang tidak banyak asap rokok," tambah Belva.
"Siap."
"Dan aku mungkin masih capek setelah pertemuan besok."
"Kalau capek, kita ganti hari."
Belva mengangguk. Jawaban itu membuatnya lebih senang daripada janji apa pun.
Di luar warung, kendaraan terus berlalu. Kali ini tidak ada yang datang menarik tangannya pergi. Belva menghabiskan sisa kuahnya perlahan, sementara Aldo menunggu tanpa melihat jam.