Virgo mengenali langkah Belva sebelum benar-benar melihat wajahnya.
Dia kemudian menyadari bahwa ingatan itu tidak sepenuhnya tepat. Gadis yang dulu sering berlari kecil mengejar langkahnya kini berjalan tenang di belakang petugas. Tidak terburu-buru, tidak menunduk untuk mencari tanda apakah seseorang sedang marah.
Belva berhenti di depan kursi yang ditunjukkan.
"Halo, Kak."
Virgo mengangguk. "Duduklah."
Belva duduk setelah meletakkan tas pada tempat yang diperbolehkan. Dia sudah menyiapkan diri untuk pertemuan ini bersama pendampingnya, termasuk kemungkinan bahwa dia ingin berhenti lebih cepat. Mengetahui dirinya boleh pergi membuat langkah masuk terasa jauh lebih ringan.
Virgo tampak lebih tua. Ada garis di sudut mata yang dulu tidak terlalu terlihat, dan rambutnya dipotong sederhana. Namun, cara duduknya masih tegak. Kebiasaan itu rupanya tidak ikut hilang bersama seragam.
"Kau sehat?" tanyanya.
"Sehat. Kulitku masih mudah merah."
Virgo hampir menjawab sesuatu tentang memakai pakaian panjang, tetapi berhenti. Belva melihatnya dan tersenyum tipis.
"Aku sudah tahu cara mengurusnya."
"Iya."
Untuk beberapa saat mereka tidak berbicara. Belva memperhatikan ruangan, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan. Tangan kanannya sudah lama sembuh, hanya sesekali dia masih mengingat sakit ketika melihat foto lama.
Virgo mengikuti arah pandangan tersebut tanpa bertanya.
"Aku sekarang bekerja menerjemahkan buku," ujar Belva.
"Aku mendengar dari Bian."
"Ada buku anak yang baru selesai. Lian bilang aku membantu bukunya bicara."
Kali ini Virgo tersenyum sungguhan.
"Anak itu selalu punya jawaban."
"Dia sudah besar. Hampir setinggi aku."
Virgo mengangguk. Waktu telah berjalan di luar tempat tersebut dengan cara yang tidak bisa dia hentikan. Bian sudah menyelesaikan hukumannya. Lian tumbuh. Belva menyelesaikan pendidikan dan memilih pekerjaan. Rumah yang dulu selalu ditinggalkannya untuk bekerja tidak lagi menjadi pusat dari kehidupan siapa pun.
Belva menceritakan keadaan Bian secukupnya. Tentang lantai rumah yang sekarang dipel sendiri, pekerjaan di bengkel, dan bagaimana Lian tidak lagi harus menebak apakah ayahnya akan datang sesuai janji.
"Ibunya Lian juga ada kemarin," tambahnya.
Virgo mendengarkan tanpa menyela.
"Aku senang mereka mendapat hari-hari yang lebih baik," katanya.
"Tidak semuanya mudah."
"Aku tahu."
Belva mengangguk. Dia tidak datang untuk menyajikan kabar bahagia agar Virgo merasa semua akibat perbuatannya telah lewat. Dia hanya ingin berbicara dari tempat yang lebih tenang dalam hidupnya.
"Kenapa ingin datang sekarang?" tanya Virgo akhirnya.
Belva memandangi tangannya sendiri. Pertanyaan itu sudah dipikirkan sejak lama, tetapi menjawab langsung tetap membutuhkan keberanian.
"Karena dulu aku pergi dengan banyak ketakutan. Sekarang aku ingin tahu apakah aku bisa melihat kakak tanpa kembali menjadi anak yang menunggu dimarahin."
Virgo menunduk.
"Dan bagaimana?"
"Aku masih tegang. Tapi aku tahu aku bisa pulang setelah ini."
"Iya. Kau bisa."
Belva menarik napas perlahan. Pernyataan itu seharusnya tidak perlu diberikan oleh siapa pun. Namun, mendengarnya dari orang yang dahulu menahan pintu tetap memiliki arti yang berbeda.
Dia melihat wajah Virgo lagi.
"Aku tidak datang untuk bilang semua yang dulu terjadi tidak apa-apa."
"Aku tidak mengharapkan itu."
"Bagian yang baik masih kuingat. Makanan, sekolah, waktu aku sakit. Bagian yang buruk juga tidak hilang."
Virgo mengangguk.
"Aku berhenti mencoba memaksa diriku memilih salah satunya," lanjut Belva. "Aku bisa ingat semuanya dan tetap menjalani hidup."
Kalimat tersebut membuat Virgo diam cukup lama. Ketika akhirnya berbicara, suaranya lebih rendah daripada sebelumnya.
"Aku pernah merasa kalau aku memberimu sesuatu, aku boleh menentukan semuanya sesudah itu."
Belva mendengarkan.
"Itu salah. Kau sudah mengatakan waktu itu bahwa kau bukan barangku. Seharusnya aku mengerti tanpa harus mendengarnya dari anak enam belas tahun."
Belva merapatkan bibir. Tidak ada permintaan maaf yang bisa mengubah usia dan ketakutannya pada saat itu. Namun, pengakuan yang tidak disertai alasan terasa berbeda dari pembelaan yang dulu selalu dia terima.
"Terima kasih sudah tidak mengirim orang mencariku setelah aku pergi," katanya.
Virgo menggeleng pelan.
"Itu memang bukan hakku lagi. Sebenarnya tidak pernah menjadi hakku."
Belva mengangguk. Dia menyukai bahwa laki-laki tersebut memperbaiki kalimatnya sendiri.
Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal yang lebih kecil. Tentang kopi yang sekarang tidak bisa dipilih sesuka hati. Tentang buku yang dipinjam Virgo dan kebiasaannya meluruskan sudut halaman sebelum mengembalikan. Belva sempat tertawa ketika dia mengeluh ada orang yang menjadikan sampul buku sebagai alas gelas.
"Masih sama soal barang kotor."
"Ada yang sulit berubah."
"Yang itu boleh dipertahankan. Asal jangan bentak semua orang."
Virgo mendengus. Belva tidak terkejut oleh suaranya. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan cerita.
Dia menyebut Aldo ketika membicarakan makan siang kemarin. Virgo mengangkat pandangan sebentar, lalu menunggu sampai Belva selesai.
"Laki-laki berambut keriting itu?"
"Iya. Sekarang mengajar olahraga."
"Masih suka bicara banyak?"
"Lebih parah kalau sedang menjelaskan peraturan permainan."
Belva tertawa kecil. Pada wajahnya ada kehangatan yang tidak pernah diberikan sebagai jawaban atas sebuah perintah.
Virgo melihatnya, lalu tersenyum tipis.
"Bagus kalau kau punya orang yang membuatmu nyaman."
"Aku sedang mengenalnya dengan cara yang berbeda sekarang," kata Belva. "Pelan-pelan."
"Jalani saja sesuai keinginanmu."
Tidak ada nada kesal. Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang lebih mampu menjaga. Belva merasakan bahunya turun sedikit, melepaskan ketegangan yang bahkan belum dia sadari masih disimpan.
Ketika waktu kunjungan hampir selesai, dia berdiri lebih dulu.
"Aku tidak tahu kapan akan datang lagi."
"Tidak apa-apa."
"Tapi kabar seperlunya boleh dikirim lewat jalur yang sudah disepakati."
Virgo mengangguk. "Baik."
Belva tidak menjanjikan akan menunggu sampai dia bebas. Virgo tidak memintanya. Hidup di luar sana bukan ruang tunggu yang harus dikosongkan sampai seseorang selesai menjalani hukuman.
Sebelum pergi, Belva menatapnya sekali lagi.
"Jaga kesehatan."
"Kau juga."
Dia mengikuti petugas keluar. Sesudah melewati pintu terakhir, udara di halaman terasa panas. Belva segera memakai pelindung kepalanya, lalu berhenti di tempat teduh untuk minum.
Tangannya tidak gemetar.
Ada rasa sedih, tetapi tidak ada keinginan untuk kembali masuk dan menenangkan seseorang dengan mengorbankan dirinya sendiri. Dia sudah menyampaikan yang ingin disampaikan. Pertemuan tersebut boleh selesai.
Bian menunggunya di mobil karena memang itulah yang diminta Belva. Dia tidak bertanya apa yang dibicarakan.
"Mau langsung ke penginapan?"
"Ke rumahmu sebentar."
"Ada apa?"
"Aku belum lihat robot yang katanya sudah diperbaiki."
Bian tertawa. "Kai yang bikin bagian kakinya. Kalau menunggu aku, mungkin tambah patah."
Di rumah panggung itu, robot kecil milik Virgo berdiri di atas rak yang bersih. Setelah urusan barang-barang rumah selesai ditangani, Bian menyimpannya bersama beberapa benda pribadi lain yang diperbolehkan. Kakinya tidak benar-benar sama seperti dulu, tetapi kini cukup kuat untuk berdiri tanpa disandarkan.
Belva menyentuh rak, memperhatikannya dari dekat.
"Dulu aku takut sekali bilang."
"Sekarang sudah bilang."
"Iya."
Lian datang membawa buku, lalu bertanya apakah Belva akan makan malam bersama mereka lagi. Belva menggeleng sambil tersenyum.
"Aku punya janji dengan Aldo."
Lian langsung menoleh kepada ayahnya. Bian mengangkat kedua bahu dengan wajah terlalu polos.
"Apa? Orang dewasa boleh punya janji makan."
Belva memutar bola mata. Dia akhirnya bisa meledek balik tanpa khawatir seseorang akan tersinggung dan mengambil keputusan untuknya.
Sore itu Aldo menjemput setelah mengirim pesan bahwa dirinya sudah sampai. Dia tetap menunggu di luar sampai Belva turun, tidak membunyikan klakson panjang-panjang.
"Kau masih ingin pergi?" tanyanya.
Belva melihat wajahnya, lalu mengangguk.
"Mau. Tapi yang dekat saja."
"Bisa."
Mereka memilih tempat sederhana dengan halaman terbuka dan kursi di bawah atap. Belva memesan makanan sendiri, kemudian membicarakan jadwalnya kembali ke Jakarta dua hari lagi.
Aldo mendengarkan.
"Kita bisa atur kapan bertemu lagi," katanya. "Tidak harus memutuskan semuanya sekarang."
Belva menyukai kalimat itu. Dia juga menyukai bagaimana Aldo tetap memiliki pekerjaan, teman, dan kehidupan yang tidak meminta dirinya menjadi pusat dari semua hal.
Ketika tangan Aldo terulur di atas meja, gerakannya berhenti sebelum menyentuh. Belva melihatnya, kemudian meletakkan tangannya di sana dengan senyum kecil.
Kali ini dia tahu apa yang dipilihnya.
Sesudah makan, Belva mengirim pesan kepada kepala pelayan bahwa pekerjaannya berjalan baik dan dia akan pulang sesuai jadwal. Dia menyertakan foto buku yang telah ditandatangani untuk Lian.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
"Rumah menunggu. Hati-hati di perjalanan."
Belva memandang tulisan itu lama, lalu memasukkan ponsel ke tas.
Rumahnya ada. Orang-orang yang disayanginya juga ada, di tempat yang berbeda-beda. Dia boleh mendatangi mereka, merindukan mereka, dan pulang lagi tanpa harus menjadi milik siapa pun.
"Ayo?" tanya Aldo.
Belva berdiri, mengambil tasnya sendiri.
"Ayo."
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu yang terbuka. Belva tidak perlu ditarik untuk melangkah. Jalan di depannya mungkin belum sepenuhnya dikenali, tetapi untuk pertama kalinya sejak lama, dia tidak takut menentukan ke mana akan pergi.
TAMAT