Jiya menyelonjorkan kakinya di atas karpet. Melepas penat di ruang tengah rumah utama bersama anak-anak dan adik tercinta memanglah sangat nikmat. Setelah pulang berbelanja tadi ia masih betah tinggal di sini.
Rayyan bermain bersama kakak-kakaknya. Tadi ia dibawa oleh Abizar saat akan shalat Magrib di Mushalla. Abizar sendiri juga ikut membantu mengajar di pondok pesantren. Hanya saja jadwalnya tidak terlalu banyak karena ia seorang pengusaha. Usaha yang dirintis dua tahun yang lalu bersama Jiya, istrinya.
Namun, Jiya tidak terlalu berkecimpung di sana, ia menghabiskan waktunya sebagai ibu rumah tangga dan mengajar pada waktu-waktu tertentu. Dan sesekali saja ia ikut suaminya bertemu rekan bisnis jika memang diperlukan.
"Reny, jangan tarik sembarangan begitu, nanti rusak mainannya!"