'Ya sudah lah, yang penting aku sekarang izin dari pada nggak,' ujar Chilla kembali di dalam hati.
"Bu, sudah sampai di toko kue," ucap Pak Lukman mengagetkan Chilla, Chilla terkejut bukan karena suara Pak Lukman yang tinggi, melainkan karena awalnya dia tengah merenung.
"Ah, iya Pak. Maaf saya tadi lagi mikir, hehehe," cengir Chilla
Pak Lukman memaklumi hal itu, maklum bumil iyakan saja dari pada nanti marah. "Mari, Bu."
Chilla keluar dari mobilnya, dirinya akan membeli banyak kue untuk mantan murid-murid kesayangannya nanti. Senyum lebar mengembang, dirinya tidak sabar rasanya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Chilla keluar dari toko kue, perempuan itu sudah selesai membeli banyak kue hari ini. "Ayo, Pak," ajak Chilla, Pak Lukman sedang ngopi dan makan gorengan di pedagang pinggir jalan. Bapak sopir itu langsung bangun, dan membayar pada penjual gorengan tersebut.
Mereka masuk kedalam mobil, dan berjalan ke arah sekolahan. Tempat pendidikan seperti yang Chilla cita-citakan sewaktu masih kecil. Chilla tersenyum membayangkan betapa bahagianya dia dapat mendapatkan suami seperti Chasinzo Zelano. Kekasihnya sewaktu mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Sewaktu mereka menjalani hubungan, Chasinzo selalu memperlakukan Chilla dengan sangat amat hati-hati, sangat lembut, bahkan seolah-olah jika Chilla terjatuh akan pecah, Chasinzo tidak pernah meninggikan suaranya di hadapan Chilla, menjaganya dan menyentuhnya saat sudah dalam ikatan pernikahan yang suci.
Chasinzo dan Chilla sewaktu menjalani hubungan pacaran membahas tentang kedepannya, menata rencana, bahkan nama anak, desain interior rumah, dan apa saja yang akan ada di dalam rumah itu, pekerjaan Chasinzo, kewajiban Chilla pun sudah pernah dibahas. Chasinzo dan Chilla sudah mengucap janji suci saat acara pernikahan untuk tetap satu, tidak akan mengkhianati kepercayaan, dan perasaan satu sama lain, membangun rumah tangga dengan segenap cinta dan rasa kasih sayang.
* * * *
Chilla tersenyum hangat kala menyambut anak-anak didiknya, ada setitik rasa sedih didalam hatinya karena meninggalkan anak-anak didiknya di sekolah ini. Namun apa boleh buat sang suami tidak mengizinkannya untuk bekerja lagi, jadi mau tidak mau dirinya harus mengikuti perintah sang suami.
"Halo Ibu! Sudah lama sekali loh Ibu tidak kemari, kami merindukan Ibu," sahut anak murid perempuan yang menyambut Chilla dengan perasaan senang. Chilla tersenyum, dirinya mengusap rambut panjang anak itu.
"Halo juga, Ibu juga kangen loh sama kalian. Oh iya, ini Ibu bawakan kue untuk kalian makan bersama. Kalian duluan, ya? Ibu mau ke kantor dulu," ujar Chilla merasa bahagia.
"Siap, Ibu!" Dengan serentak, anak didik Chilla mengangguk setuju.
Chilla berjalan dengan perlahan ke arah ruang kantor sekolah, dulu ini adalah tempat yang selalu Chilla kunjungi, dan menunggu jam masuk, dan mengajar.
"Halo, permisi semua," sapa Chilla sesaat memasuki ruangan kantor full air conditioner, atau yang bisa di sebut dengan Ac. Pendingin ruangan sekolahan.
"H- Loh Chilla? Lama banget nggak ketemu!" ucap perempuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman seprofesi dengan Chilla.
"Halo, Bu! Iya nih, udah lama banget nggak ketemu, hehe." Chilla terkekeh lembut.
"Kandungannya gimana? Sehat? Ngisi berapa?" bisik ibu guru itu mengelus perut Chilla yang lumayan terasa keras.
"Sehat, Ibu. Masih belum tahu, mungkin satu," balas Chilla
"Oh iya, yang lainnya masih ngajar berarti, ya?" tanya Chilla menengok kanan dan ke arah kiri, di sana tidak ada seorang guru pun kecuali yang ada di sebelahnya.
"Iya, aku sekarang masih kosong soalnya anak kelas yang jadwalku lagi ikut sosialisasi sekolah lain," jawab teman Chilla menjelaskan.
Chilla mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Ya sudah, aku mau ke kelas anak didikku ya, Bu. Mari," pamit Chilla bersikap sopan.
"Iya, Ibu Chilla. Mari-mari."
* * * *
"Sayang," panggil seorang wanita dengan suara manjanya, satu tangannya tengah bergelayut manja di lengan kekar milik seorang lelaki tampan.
"Hmm?" Suara serak yang terdengar lemas itu, menyahuti panggilan sang wanitanya. Mereka tengah dalam keadaan tidak memakai baju dan hanya ditutupi oleh kain selimut sekarang, posisi mereka tengah ada di apartemen milik sang wanita.
"Terimakasih, aku bangga dapat memilikimu sekarang."
Cup
Lelaki itu tidak merespon ucapan sang wanitanya, dia sibuk menggapai ponselnya untuk melihat pukul berapa sekarang.
Sial, sekarang sudah pukul sembilan pagi. Sebentar lagi, akan ada meeting bersama klien di kantornya. Segera, lelaki itu bangkit dan memungut baju, dan celana yang terlempar secara acak di lantai.
"Kamu mau kemana?" tanya wanita itu penasaran
"Kantor, sebenar lagi akan ada meeting penting di kantorku, Sayang," ucap lelaki itu, apakah kalian tahu lelaki itu siapa? Ya, Chasinzo.
Entah apa, yang telah mereka berdua lakukan di kamar apartemen milik wanita itu, sehingga pakaiannya berserakan seperti ini.
"Penting aku, atau urusan kantormu sih, Mas?" Oh tidak, wanita itu benar-benar marah dan mungkin merasa cemburu.
Chasinzo berbalik, dirinya merengkuh tubuh sang wanitanya dengan mesra. "Kamu memang lebih penting, tetapi ini urusan kantor, Sayang. Nanti, kalau deal kamu juga akan kecipratan senangnya. Kamu mau di transfer berapa bulan ini, hm?" bisik Chasinzo memberi pengertian pada sang wanitanya.
Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk kan kepalanya. "Baiklah, aku mengerti. Aku tidak minta banyak-banyak transferanmu. Aku hanya menunggumu untuk kembali, dan melakukan hal-hal romantis lainnya," bisik Wanita itu mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Kamu sudah mulai nakal, ya!"
"Jadi, kapan kamu mau menceraikan istrimu itu, Mas?" Chasinzo terkejut dan terbatuk-batuk dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah biasa dia dengar dari orang yang berbeda.
"Sayang, kita sudah membahas ini berkali-kali, ya! Aku sedang sibuk sekarang, jadi aku permisi!" pamit Chasinzo membuka pintu dan langsung pergi begitu saja. Wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal, selalu saja.
"Apa sih? Padahal, istrinya nggak terlalu cantik, badan juga bagusan punya saya, bukan punya dia. Dia tepos, rata depan, belakang. Sementara saya? Gede depan, belakang ya!" gumam wanita itu mulai membanding-bandingkan tubuhnya dan tubuh Chilla.
"Ya, walaupun cantikan dia sih, eh tapi kalau pake make up saya juga cantik kok! Nggak kalah cantik dari dia!" Wanita itu terus saja berbicara sendiri, keadaan wanita itu sekarang ialah dengan tubuh polosnya yang hanya ditutupi oleh pakaian dalam.
Memandangi keadaan luar dari jendela Apartemen, hari ini begitu terik walaupun hari masih terpantau pagi setengah siang.
Ting!
"Astaga, suara ini membuatku terkejut bukan main!" dengus wanita itu merasa terkejut dengan bunyi notifikasi dari ponselnya.
Rupanya notifikasi tersebut berasal dari Chasinzo, lelaki itu meminta maaf dan mengirimkan bukti transfer ke dalam ruang chat mereka berdua.
Senyum wanita itu terbit, namun secara tiba-tiba senyumnya surut. Ini bukanlah yang ia mau, yang ia mau adalah hidup bersama dengan Chasinzo.