"Sadarlah, Chasinzo. Aku, maunya kamu, mengapa susah sekali menuruti perkataanku?" seloroh wanita itu sesaat panggilan tersambung.
Chasinzo hanya dapat menghela nafasnya berat. "Sudahlah, nanti kita bahas lagi saya sedang sibuk."
Tut.
Sambungan telepon berakhir sepihak, wanita itu menginjak lantai kesal dengan bibir yang cemberut. "Aish!! Kapan aku bisa menaklukkan hati lelaki itu? Mengapa sulit sekali?!" decaknya kesal.
Namun sepersekian detik, senyum wanita itu mengembang sempurna. Tidak apa-apa, tidak masalah yang penting dirinya hari ini dapat membeli tas, ponsel, pakaian bermerek terkenal keluaran terbaru.
"Yes! Bisa shopping lagi deh gue, hahah," soraknya dalam hati, jari jemarinya bergerak mengetikan sebuah pesan untuk sang sahabat agar ikut dengannya hari ini.
Namun, pesan itu masih belum terbalaskan, wanita itu lebih milih meneleponnya. Biarkan, salah siapa tidak kunjung membaca pesannya?
"Halo! Ada apa? Ganggu aja lo, ya!" Wanita itu menjauhkan ponselnya dari telinga, benar-benar sialan orang ini! Bisa budek telinganya kalau seperti ini terus!
"Heh kalo ngomong jangan kenceng-kenceng bisa kagak?! Selow dikit napa, elah!" decaknya sebal
"Terserah lo! Ada apa? Sibuk nih gue!"
"Sok sibuk!" cibir wanita itu pada sahabatnya.
"Sudahlah, apa yang ingin kau katakan? Cepat katakan!"
"Okay, ayo kita shopping aku akan mentraktir mu sepuasnya."
"Siap meluncur!"
"Mbak, dimana keberadaan suami saya, ya?" tanya Chilla pada resepsionis kantor milik suaminya.
Petugas resepsionis menunduk memberi hormat, lalu disertai senyum manis. "Selamat siang, Bu. Maaf, Bapak Chasinzo sedang keluar karena meeting bersama klien di restoran," balas petugas tersebut menjelaskan dimana keberadaan bos mereka.
Chilla mengangguk kan kepalanya. "Begitu ya? Baiklah, kapan meeting selesai perkiraan?"
"Saya hubungi sekretaris Bapak dulu, ya, Bu," izinnya. Chilla menggeleng kan kepalanya.
"Tidak, tidak perlu, terimakasih. Saya titip ini saja, saya pamit ya sampai jumpa." Chilla memilih agar, petugas resepsionis tidak perlu melakukan apapun.
"Baiklah, mari saya antar Bu."
'Meeting penting rupanya.' batin Chilla berusaha berpikir positif. Ia ingin memakan makanan yang terdapat lontongnya, contohnya lontong sayur, lontong pecal, dan lainnya dan ia ingin Chasinzo yang membelikan.
"Kuat-kuat ya, Nak? Nggak apa-apa ya kita beli sendiri, ayah kamu sibuk kerja buat beliin kamu semua yang kamu inginkan, okayyy?" gumam Chilla menyemangati serta berharap anak dalam kandungannya mengerti.
Lukman dengan sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya. "Pak jangan pulang dulu, ya," pesan Chilla sebelum memasuki mobil. Lukman yang hanya sebagai supir pribadi majikannya hanya dapat mengangguk dan mengikuti segala perintah yang diberikan.
"Baik, Bu."
_____
"Sayang?"
"Chilla sayang? Kamu dimana?"
"Aku sudah pulang."
Chasinzo melepas dasi, dan meletakkan tasnya dengan perasaan bingung. Dikana istri tercintanya? Mengapa malam-malam tidak ada? Dimana dia? Sedang bersama siapa dia? Akankah aman dia di luar sana?
Jika di tanya: "Apakah dia mencintai Chilla?"
Maka, Chasinzo akan menjawabnya dengan sangat amat lantang. Yaitu: "Ya, aku sangat amat mencintai perempuan itu, perempuan itu adalah cinta keduanya setelah sang ibu. Tempatnya pulang, tempatnya bermanja, dan ibu dari anak-anakku. Tentu aku mencintainya."
Oleh sebab itu, kini dia tengah di landa rasa khawatir dan takut seperti akan terjadi apa-apa.
"Maaf, Pak tadi Ibu pergi dari tadi pagi. Izinnya sih ke sekolah tapi sampai sekarang belum datang juga." Pembantu rumah tangga datang tergopoh-gopoh, kedua matanya mengantuk. Kini sudah pukul 21.00 yang artinya pukul sembilan malam.
Chasinzo menoleh, rasa terkejutnya bertambah saat tahu sang istri pergi sudah dari tadi pagi.
Drrrrr drrrrrr
'Sial, mengapa dia menghubungiku di waktu yang salah?' decak Chasinzo dalam benaknya, panggilan masuk begitu saja dari wanita itu tanpa dapat dirinya kendali. Dengan senyum tipis, Chasinzo mengangguk.
"Baiklah, terima kasih Bi. Tidur yang nyenyak, Bi. Saya akan mencari istri saya, selamat malam," pamit Chasinzo terburu-buru.
Sang pembantu rumah tangga hanya dapat menggeleng kan kepalanya heran, seraya tersenyum malu-malu. "Mbok jadi inget masa muda," ujarnya di susul dengan cekikikan.
"Halo, kenapa?" tanya Chasinzo dengan nada tidak enak.
"Iiiih, kok kamu ngomongnya begitu sih, hm? Kamu nggak kangen sama aku? Do not you miss me? Ayolah kemari." Dengan suara mendayu-dayu, wanita di dalam telepon mengajak Chasinzo untuk menemuinya.
Kedua matanya tidak sengaja menangkap keberadaan salah satu pekerja rumah tangganya tengah menyantap mie di depan pagar, dirinya harus pintar untuk meredam suara wanita ini.
"Sayang, bagaimana aku tidak merindukan mu? Aku sangat merindukanmu, kamu dimana?" Chasinzo akan berbicara seolah-olah tengah menelepon Chilla.
"Wah benarkah? Yeay! Aku masih sama, di apartemen. Temui aku segera, aku akan memberikan jamuan spesial untuk mu."
Tut
Chasinzo mematikan teleponnya, dan mengetik.
'Maaf, aku harus mencari keberadaan istriku besok kita akan berjumpa. Selamat tinggal, dan sampai jumpa!' Kira-kira seperti itulah pesan yang di ketik pada Chasinzo untuk wanita itu.
Tanpa menunggu balasan apapun, lelaki itu memilih untuk berjalan dan mengambil motornya, dia akan nekat mencari keberadaan Chilla sampai ketemu dimana pun Chilla berada, akan dirinya datangkan.
"Permisi ya, Mbak." Chasinzo bersikap ramah pada semua orang, inilah yang orang-orang sukai dari sifat lelaki tinggi dan tampan ini.
"Iya, Pak."
"Sayang, dimana dirimu? Aku merindukan mu," gumam Chasinzo di balik helm full facenya. Motor ninjanya bergerak menyusuri dan membelah jalanan yang tampak ramai.
Tinggal di kota besar seperti ini, pagi siang sore malam akan terus ramai seolah tidak ada habisnya orang melintas. Dengan penuh kesabaran Chasinzo terus mencari keberadaan sang istri.
Chasinzo menepikan motornya, dan menelpon Chilla namun nomor perempuan itu tidak aktif, lalu berlanjut menghubungi nomor Pak Lukman sebagai supir pribadi istrinya.
"Halo, Pak?"
Syukurlah! Sambungan itu sudah menyambung, Chasinzo tersenyum sumringah. "Halo, Pak. Bapak sedang dimana, ya? Istri saya belum pulang, ada di bapak, kan?"
"Iya, Pak. Ibu Chilla ada di sini, bapak mau berbicara?"
"Boleh."
"Halo sayang? Kamu dimana? Mengapa belum pulang?" tanya Chasinzo khawatir.
"Eh, Mas? Maaf ya Mas tadi aku pergi nggak bilang-bilang, aku sudah bilang tapi Mas-nya nggak online. Aku juga udah bawain makanan ke kantor tapi lagi ada meeting katanya di luar," jelas Chilla jujur, hati Chasinzi lega mendengar suara sang istri yang sedang baik-baik saja.
"Iya sayang, tidak apa-apa. Ayo pulang, dimana keberadaan mu sekarang? Akan aku jemput."
Setelah menyebutkan tempat dimana Chilla berada, Chasinzo langsung menancap kan gasnya untuk pergi sesuai ke tempat yang di sebutkan istrinya.
______
"Kamu membuatku khawatir, sayang." Keberadaan keduanya tengah berada di dalam kamar, dengan Chilla yang sudah selesai mandi air hangat untuk mengusir rasa gerah.
"Maaf…."