Chasinzo mengangguk kan kepalanya, dengan hembusan napas lega. "Iya sayang, tidak apa-apa. Lain kali jangan diulangi, ya?"
Chilla mengangguk dengan antusias, air matanya yang tadi sempat menetes kemudian dia hapus.
"Iya, Chilla janji Mas nggak akan buat Mas khawatir lagi," ucapnya dengan satu kedua jari membentuk seperti huruf 'V'
Chasinzo mengangguk kembali, lalu mengusap puncak kepala sang istri hingga rambut-rambut Chilla sedikit berantakan. Chilla mengerucutkan bibirnya, dengan menatap sang suami dengan tatapan horor.
"Rambut aku berantakan, Mas," tegur Chilla dengan nada merajuk.
Chasinzo tidak dapat menyembunyikan rasa gemasnya pada sang istri, lantas ia pun memeluk tubuh Chilla dengan erat. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Chilla, sontak saja hembusan napas Chasinzo berhembus dan membuat bulu kuduk Chilla meremang.
"Biarkan seperti ini, wangi kamu selalu menjadi candu," ujar Chasinzo dengan suara seraknya. Untuk beberapa waktu kedepan, sepasang suami istri ini berpelukan dengan erat seolah tidak akan melepaskan dan tiada hari lagi untuk mereka berpelukan, sejujurnya Chasinzo menyesal.
Ya, Chasinzo menyesal telah menyelingkuhi Chilla yang sebaik ini. Tetapi, kadang rasa menyesal itu seolah sirna dan tidak tersisa sama sekali.
Berpelukan hingga keduanya terjatuh berbarengan ke atas kasur, Chasinzo dan Chilla tidur dengan posisi saling berpelukan satu sama lain.
Suami istri itu tampak seperti pasangan yang baru saja menikah.
Drrrrt drrrrt drrrt
Getaran ponsel menginterupsi keduanya, getaran itu berasal dari ponsel Chasinzo yang berada di meja, yang letaknya di sebelah ranjang tempat mereka tidur.
Chasinzo cepat melepaskan pelukannya pada sang istri, Chilla menatap kecewa ke arah sang suami.
"Dari siapa, Mas?" tanya Chilla penasaran.
"Oh ini, notifnya dari kantor," balas Chasinzo sedikit gugup.
"Ada masalah, ya?"
"Sedikit."
"Kamu kalau ada masalah, jangan sungkan-sungkan untuk cerita sama aku, ya? Aku bakal dengerin semua keluh kesah kamu, kok," ujar Chilla dengan tulus.
Chasinzo tersenyum lalu mengangguk, dia mematikan ponselnya lalu di letak kan pada saku celana pendek yang dia pakai. "Iya sayang, makasih udah perhatian. Aku ke kantor dulu ya?" pamit nya.
Terdapat tatapan kecewa yang memancar di kedua mata Chilla. "Harus malam ini banget, ya?"
"Iya."
"Padahal tadi kamu udah ke kantor loh, masa mau balik lagi? Wajib banget ya kamu yang ngatasin? Sekertaris kamu nggak bisa meredakan masalah ini dulu gitu? Seenggaknya sampai besok pagi," cecar Chilla, dia seperti ini bukan tanpa alasan. Dia berbicara seperti itu karena dia tidak terima sang suami lagi dan lagi harus ke kantor padahal baru beberapa menit mereka sampai di rumah dan berkumpul.
"Sayang, jangan seperti itu," tegur Chasinzo dengan rahang mengetat. Marah. Chilla dapat melihat guratan marah, dan tidak suka dari mimik wajah sang suami. Itu semua terlihat sangat amat jelas di penglihatannya.
"Maaf," gumam Chilla dengan menunduk kan kepalanya. Takut.
Perlahan, wajah Chasinzo melembut dia mengangguk. "Iya, ya udah aku berangkat ya. Kamu mau dibawain apa?"
Martabak. Satu kata yang baru saja terlintas secara tiba-tiba di kepala Chilla.
"Emm mau martabak, deh."
Sontak Chasinzo terkekeh geli. "Malam-malam begini memang ada yang jual martabak?"
"Nggak tau, tapi ini yang minta bukan aku."
Dahi Chasinzo mengernyit, "Lalu?"
Pandangan Chilla terjatuh pada perutnya yang masih rata, Chasinzo mengikuti arah pandangan sang istri. Seolah tau, Chasinzo tersenyum. "Oh, permintaan anaknya Papa, ya?" tanya Chasinzo dengan menempelkan wajahnya di perut sang istri, dia menciumnya berkali-kali.
"Iya, Papa," balas Chilla dengan suara persis seperti anak kecil.
"Ya udah, nanti papa cari ya martabaknya? Papa berangkat dulu cari martabak."
"Sayang, aku pergi dulu ya? Kamu jangan kemana-mana, tidur, hati-hati kalau ngapa-ngapain, okay?" pamit Chasinzo mengecup singkat bibir ranum milik sang istri. Chilla mengangguk.
"Iya, hati-hati ya, Mas!"
"Siap nyonya Chasinzo."
"Hah, sialan! Untung saja Chilla tidak sempat melihatnya tadi," cela Chasinzo dalam mobil. Dia sudah berjalan agak jauh dari area perumahan nya.
"Halo."
"Hai sayang, kok nggak angkat telepon ku sih? Aku nungguin loh," sambut seorang wanita dengan suara imutnya. Chasinzo menghela napasnya panjang.
"Maaf ya, sayang. Tadi aku lagi sama Chilla, nggak mungkin juga kan aku mengangkat telepon kamu saat posisi aku lagi sama dia?"
"Hmmm, ya udah deh. Buruan kesini ya?"
"Iya ini lagi di jalan."
"Mau dibawain apa?" sambung Chasinzo.
"Nggak perlu bawa apa-apa, sayang. Aku butuhnya kamu," balas wanita itu mengedipkan sebelah matanya. Ya walaupun apa yang dia lakukan tidak terlihat oleh mata Chasinzo. Chasinzo tersenyum lalu mengangguk.
"Oke sayang, tunggu aku ya! Sebentar lagi aku sudah sampai."
"Siap, Chazin sayang!"
Tut
Panggilan suara terputus, Chasinzo langsung mematikan handsfree yang Chasinzo gunakan untuk menerima panggilan saat mengemudi.
"Maaf, Chilla," gumam Chasinzo pelan.
Beberapa menit setelah melakukan panggilan suara, Chasinzo sudah sampai di tempat apartemen milik wanita itu, segera dia memarkirkan mobilnya di parkiran lalu memasuki area gadung.
Tanpa ba bi bu, Chasinzo memasuki lift lalu menekan tombol lima. Ya, kamar milik wanita itu tepat berada di lantai lima
Ting!
Bunyi lift pertanda sudah sampai berbunyi, secara otomatis pintu lift terbuka. Senyum lebar terlukis di balik masker yang dipakai oleh Chasinzo. Chasinzo memilih cara aman dengan memakai masker agar para rekan kerja, dan orang-orang tidak mengenal sosok dia. Bisa hancur reputasi seorang bos muda yang terkenal sangat mesra pada istrinya saat ketahuan bertemu dengan wanita lain di apartemen ini.
Ting nong ting nong
Chasinzo cepat-cepat menekan bell.
Pintu berbahan mahal terbuka, dan menampak kan sosok wanita bertubuh sintal dengan pakaian yang sangat terbuka dan menerawang menyambut kedatangan Chasinzo.
"Halo sayang," sapa wanita itu dengan wajah menggoda.
* * * *
"Aduh sayang, kamu beneran pengen martabak?" gumam Chilla merasakan tidak enak di bagian perutnya, pikirannya selalu berpusat pada martabak, martabak, dan martabak.
Dalam benak Chilla bertanya-tanya, apakah dia benar-benar merasakan apa yang dinamakan dengan ngidam? Seperti banyak ibu hamil di luaran sana?
Sudah cukup, pertahanan Chilla roboh. Segera dia menggapai ponselnya untuk mengirimkan pesan singkat pada suaminya.
Chilla :
Sayang, aku izin beli martabak nya sendiri nggak apa-apa, ya?
Takutnya kalau aku minta sekarang, malah ganggu kerjaan kamu.
Jadi, nggak apa-apa kan? Aku udah nggak tahan banget. Baby nya pengen cepet makan martabak. Maaf ya aku izin beli sendiri.
Aku juga di antar sopir, hehe^ bye sayang, semangat kerjanya, ya ganteng!
Seperti itulah pesan yang Chilla kirimkan di room chat Chasinzo. Lelaki itu tampak offline dan centang satu. Chilla bangga memiliki suami seperti Chasinzo. Dia sangat bekerja keras, dan bertanggung jawab