Seperti itulah pesan yang Chilla kirimkan di room chat Chasinzo. Lelaki itu tampak offline dan centang satu. Chilla bangga memiliki suami seperti Chasinzo. Dia sangat bekerja keras, dan bertanggung jawab
Memikirkan itu membuat seulas senyum Chilla mengembang dengan indahnya.
Dia beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengganti pakaian. Saat Chilla membuka lemari pakaian, atensinya terfokus pada satu pakaian dress selutut dengan warna merah muda yang tampak sangat manis. Chilla menyunggingkan senyumnya, ya dia akan memakai pakaian itu.
Selesai mengganti pakaiannya, dia duduk di kursi depan meja rias, dia memoleskan sedikit bedak padat di wajah cantiknya, lalu lip tint merah muda cantik sedikit di bibirnya. Tidak lupa, Chilla menyisir rambutnya agar tampak lebih rapi, sebentar ada yang kurang, Chilla memakaikan jepit cantik bermotif bunga berwarna senada dengan dress yang dia pakai.
"Yeay, sudah!!" pekik Chilla senang. Dia akan memakai tas selempang bermotif beruang kecil berwarna putih. Sungguh demi apapun Chilla tampak seperti anak kecil, sangat tidak terlihat jika Chilla adalah calon ibu.
"Nyonya mau kemana?" tanya salah satu pekerja rumah tangga Chilla saat mendapati Chilla keluar dari kamar dengan keadaan yang sudah siap.
"Mau beli martabak doang, Bi."
"Di antar pak supir kan, Nyonya?"
Chilla mengangguk. "Iya, di antar pak supir."
"Baiklah, hati-hati ya, Nyonya!"
"d**a bibi!" Chilla melambaikan satu tangannya ke arah pembantu rumah tangganya. Sang bibi jelas membalas lambaian tangan dari sang majikan. Kepalanya menggeleng heran.
"Nyonya cantik banget, mana masih keliatan fresh dan segar banget! Kaya anak kecil, uy!" pukaunya jujur.
"Pak, Pak Lukman. Halooo?" panggil Chilla celingukan.
"Ay ay, captain!" sahut Pak Lukman yang ternyata sedang meminum kopi di teras dapur.
"Pak tolong anterin saya ke orang jualan martabak, ya?" pinta Chilla saat melihat Pak Lukman yang sudah mendatanginya.
"Martabak? Untuk apa Nyonya?"
"Untuk di bakar, ya untuk di makan atuh Pak, gimana si?" kelakar Chilla
"Ehm, maksud saya tumben beli martabak?"
"Nggak tau nih, Pak. Lagi pengen banget martabak."
Kedua netra Pak Lukman tampak berbinar, "Nyonya ngidam?" tebaknya spontan.
"Chilla nggak tau ini ngidam atau nggak, pokoknya Chilla pengen makan martabak sekarang juga. Ayo pak!" ajak Chilla tidak sabaran.
* * * *
"Cantik banget!"
"Iya, liat dah!"
"Iya cok, manis banget lagi!"
"Parah sih! Sekolah mana itu?"
"Nggak tau, kira-kira anak sekolah an mana ya?"
"Weh gebet cepet!!"
"Tapi kayaknya dia anak orang kaya dah!"
"Ah insecure dah gue."
"Trobos aja elah! Loss!"
"Iya tau, lo mah cemen amat."
"Abis ini gue duluan yang mau minta nomor hp dia!"
"Enak aja, gue!"
"Gue aja deh!"
"Nggak! Gue aja."
"Dari pada kalian berisik rebutan siapa yang duluan, mending gue aja. Ingat, si cantik milik si tangguh dan pemberani kan gue ketuanya disini."
"Ah cakep banget, ya."
"Kayak anak kecil, lucu imut gitu."
"Sedelapan."
"Kok sedelapan?"
"Soalnya kalau setuju belum tentu satu tujuan, asek asek jos!"
Tongkrongan mendadak ramai semenjak Chilla keluar dari mobil Pajero sport Xpander berwarna coklat tua. Chilla keluar tentu di kawal oleh Pak Lukman yang bertugas sebagai supir.
"Eh tapi itu ada bapak-bapak, siapanya ya kira-kira?"
"Wah! Mungkin itu bapaknya."
"Positif thinking banget, ya."
"Memang lo mikir apa?"
"Om om simpenan, mungkin?"
"Kurang ajar."
"Nggak mungkin deh, liat aja wajahnya polos banget gitu."
"Nyonya, mau saya suruh mereka diam saja?" tawar Pak Lukman merasa terganggu dengan desas desus sekelompok geng motor yang rupanya tengah memakan martabak juga. Chilla membalikkan tubuhnya, menatap segerombolan geng motor.
Chilla menggeleng. "Biar Chilla aja."
"Pak Lukman tolong pesen martabak rasa durian ya, sama pesenin juga untuk pekerja-pekerja di rumah. Buat bapak juga," sambung Chilla meminta tolong. Pak Lukman mengangguk menuruti perintah sang majikan.
"Baik, Nyonya."
"Uhuk!"
"Demi apa? Woy orangnya kesini!"
"Heh, gue udah ganteng belum sih?"
"Selain ganteng, bos!"
"Kalau tu cewek natap mata gue, bakal jatuh cinta nggak sih?"
"Nggak, dia jatuh cintanya sama gue bos!"
"Mau gue pukul?"
"Hahahahaha."
"Manis banget, uyyy!"
"Refleks jatuh cinta."
"Bidadari malem-malem ngapain keluar sih?"
"Sayang, kan tadi aku udah bilang suruh di rumah aja. Nanti aku pulang."
Dan banyak lagi sautan demi sautan dari segerombolan geng motor anak-anak muda.
"Permisi, boleh aku duduk di sini?" tanya Chilla meminta izin. Dia menunjukkan ke arah kursi yang semula kosong.
"Ah suaranya lembut banget!"
"Boleh dong, Neng! Boleh banget malah. Ayo, ayo duduk-duduk sini, sini."
"Demi apa? Gue sebelahan sama bidadari."
"Alay lo! Minggir biar gue yang duduk di sana!"
"Ya ilah bos, garang amat."
"Neng, tau ngga? Ada yang disko tapi bukan club."
"Apa itu?" tanya Chilla
"Jantung abang neng, nge disko terus gara-gara duduk di sebelah neng cantik!"
"Oh? Berarti aku salah ya? Maaf ya, aku nggak duduk di sebelah kamu lagi deh kalau begitu," balas Chilla hendak berdiri.
"Eh, eh. Kenapa neng?"
"Mampus lo!"
"Hahahah iya neng, mending duduk di sebelah sini."
"Em kan tadi katanya gara-gara aku duduk disini bikin jantung kamu disko, aku nggak mau kamu kena penyakit jantung."
"Eh kayaknya aku harus pulang, bye-bye semua!" pamit Chilla pergi berlalu dari tempatnya semula duduk.
Niatnya mendatangi gerombolan para geng motor itu tadi adalah keinginan dari bayinya. Entah kenapa dirinya ingin mendatangi mereka lalu mendengarkan sahutan-sahutan mereka, setelah itu dirinya bosan lalu pergi dari situ.
Si jabang bayi be like: "Kok aku kena fitnah terus sih, Mami? Aku belum lahir loh padahal." Mungkin itu yang dikatakan oleh bayi Chilla jika dia sudah lahir.
"Bagaimana, Pak? Sudah?"
"Sudah Nyonya, ini saya dapat antrean cepat, sudah di bayarin juga katanya," jawab Pak Lukman cepat.
Dahi Olive mengernyit. "Maksud nya? Siapa memang yang membayarnya?"
"Saya," sahut lelaki dengan pakaian formal tengah menatap penuh kagum ke arah keduanya. Tidak, ralat. Lelaki itu menatap dengan tatapan kagum hanya pada Chilla.
"Pak Dexxa?" tanya Chilla memastikan, jika tidak salah Pak Dexxa adalah rekan kerja sama suami.
Pak Lukman tampak menunduk, tidak dia harus menjaga sang nyonya dari gangguan pria di depannya. "Ayo Nyonya, kita pergi," ajaknya agar ini semua cepat berlalu.
"Tunggu dulu tunggu, mengapa kamu terlalu terburu-buru, Lukman?" tahan Dexxa dengan menyunggingkan senyum nya.
"Maaf pak ini sudah sangat larut malam, Nyonya sudah harus berada di rumah atas perintah dari tuan Chasinzo," papar Pak Lukman dengan tangga nada tegas.
Sedangkan Chilla yang tidak mengetahui apapun hanya diam menyimak.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Chilla dalam benaknya.