Kantin menjadi membludak pada jam istirahat pertama. Wajah-wajah semringah memenuhi lokasi di belakang sekolah itu. Bahkan meja-meja yang tersedia bagi pelanggan hampir dipenuhi oleh siswa SMA Garuda.
Di sebuah meja di pojok belakang kanan, tampak tiga orang gadis yang sedang melahap makanan mereka.
Caca, Hasna, dan Nari sudah sangat akrab. Bahkan hampir setiap hari mereka bertiga selalu berjalan bersama di sekolah. Tempat duduk yang berdekatan adalah awal mula dari keakraban mereka.
"Anjir! Rafa kalau marah serem amat ya?" kata Hasna setelah meneguk es teh manisnya yang tinggal setengah di atas meja.
Nari yang baru saja ingin memasukkan bakso terakhirnya ke dalam mulut, terpaksa berhenti. Ia menurunkan kembali sendoknya ke dalam mangkuk. "Gue tadi gak terlalu lihat mereka berdua. Emang apa sih masalahnya?"
Memang saat perkelahian antara Rafa dan Jeka tadi pagi, semua siswa 11 IPA 2 mengerumuni kedua cowok. Alhasil, Nari yang duduk di belakang tidak bisa melihat kedua temannya yang sedang baku hantam.
"Gak tau juga" jawab Hasna.
"Ah... Kenyang banget gue" celetuk Caca setelah menghabiskan dua mangkok mie ayam.
"Oh iya, Na, besok gue ganti deh duit lo" Nari memang tidak pernah membawa uang jajan ke sekolah. Ia selalu menabungnya. Tapi, tadi Hasna mengajak Nari ke kantin karena cewek itu terlihat pucat sejak pagi tadi. Nari yang tidak suka di kasihani, menolak tawaran Hasna. Namun cewek bertubuh besar itu memaksanya bahkan tidak segan-segan meminta bantuan ke Caca untuk menyeret Nari ke kantin. Nari yang sudah terlanjur dibawa, hanya bisa pasrah saja. Meski sudah mengatakan tidak membawa uang dan tidak ingin menghutang dengan siapapun, Hasna tetap saja memesankan cewek itu makanan.
"Kayak sama siapa aja lo, Nar. Gak usah di balikin deh, ikhlas gue" tolak Hasna sambil mengibaskan tangan kanannya.
"Enggak ah, gue gak enak. Masak udah hutang gak di balikin"
Hasna menatap Nari malas, "Kan udah gue bilang, kalau gue ikhlas Nar. Tujuh turunan malah"
Nari menggeleng, "Gue bakal tetap ganti"
"Serah lo deh" Hasna tidak mau berdebat lebih jauh lagi dengan Nari. Sekarang Hasna tahu, Nari adalah orang yang cukup keras kepala.
Caca yang dari tadi melihat perdebatan kecil kedua temannya, memutar malas bola matanya.
"Lo berdua diem dulu. Gue lagi pengen ngomong serius"
Nari dan Hasna langsung menatap serius ke arah Caca. Cewek berambut pendek itu mencondongkan badannya ke depan, "Gue tadi ngelihat kakaknya Rafa di depan ruang BK!"
"Terus?" Hasna masih bingung dengan maksud ucapan Caca yang begitu menggebu-gebu.
"Ya... Lo tahu sendiri, kakaknya Rafa kayak gimana. Pasti dia punya tujuan nguping di sana"
"Tujuan..." Hasna bergumam sambil berpikir sejenak, "GUE TAU!" Hasna yang berteriak tiba-tiba membuat Nari dan Caca terkejut, bahkan sebagian siswa yang berada di kantin juga menatap ke arah meja mereka.
"Diem gak?!" Caca melotot ke arah Hasna.
Hasna hanya merespos dengan menyengir lebar. Ia tidak sadar sudah berteriak sekencang tadi, dan membuat beberapa pasang mata melirik sinis ke arah meja mereka.
Nari menghela napas tenang setelah kondisi menjadi normal lagi. Tidak ada tatapan dari para siswa di kantin itu. Sejujurnya, Nari cukup risih jika menjadi pusat perhatian, meski untuk kasus ini bukan dia pemeran utamanya tapi tetap saja ia juga di tatap karena semeja dengan Hasna.
"Emang lo tau apa Has?" tanya Nari kemudian.
Hasna melirik kanan dan kiri seolah memastikan tidak ada yang menguping. Kemudian cewek itu menatap serius ke arah Nari, "Rafa bakal kena pukul lagi!"
"Sotoy lo!" Caca menolak pendapat Hasna. Bagaimana mungkin cewek itu tahu jika Rafa akan terkena bogeman kakaknya. Memangnya apa hubungannya dengan perkelahian Rafa?
Hasna mendelik tidak suka ke arah Caca "Ini kan menurut gue. Terserah gue dong!"
"Bukannya gitu Has, kalau ada yang denger terus salah paham gimana?"
Nari yang mencium akan ada bau-bau keributan langsung berdiri, "Ayo balik!"
Nari, Hasna, dan Caca akhirnya keluar dari kantin. Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor menuju lantai dua tempat kelas mereka berada.
Saat mereka bertiga sudah sampai di kelas 10 IPS 2, Hasna justru berhenti tiba-tiba. Tatapan matanya tertuju keluar gerbang sekolah. "Nar, Ca, keluar dulu yuk" pinta Hasna.
"Ngapain Has?"
Hasna tersenyum lebar, "Beli cemilan di toko sana Nar" Hasna menunjuk sebuah toko bercat merah yang berada di seberang jalan"
"Astaga! Lo belum kenyang?!" Caca menatap tidak percaya temannya itu.
"Ayo,ayo, ayo!" Hasna merangkul lengan Nari dan Caca tiba-tiba, kemudian memaksa kedua temannya itu keluar dari area sekolah.
*
"Baik, anak-anak tugas yang saya titip kemarin sudah saya periksa. Tapi saya lupa bawa ke sini" Bu Arin yang mengisi jam terakhir langsung mengedarkan pandangannya, mencari seorang siswa "Raya tolong ambilkan buku teman-teman kamu di meja saya"
Raya yang sedang mengutek kukunya secara diam-diam, langsung berhenti. Ia mengangkat kepalanya dengan wajah memelas "Bu, yang lain aja ya. Perut saya sakit"
"Bohong, Bu" Dino yang memang memperhatikan aktivitas Raya dari tadi langsung menyudutkan cewek itu.
Raya menatap sinis ke arah Dino yang tengah tersenyum puas, "Enggak, Bu" sanggah Raya.
"Sudah-sudah, kalau gitu biar Dino aja yang ambil bukunya" ucap Bu Arin akhirnya.
"Kok malah saya Bu? Kan Raya yang disuruh duluan" tolak Dino mentah-mentah. Niatnya tadi ingin mengejek Raya tapi kenapa sekarang justru dia yang kena getahnya?
"Cepat sana!" Bu Arin tidak mempedulikan wajah Dino yang sudah sangat kesal. Dia kemudian melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda karena ulah Raya dan Dino.
Dengan malas, Dino berdiri dari bangkunya dan keluar dari kelas. Namun sebelum benar-benar keluar,cowok itu sempat menarik paksa ketua kelasnya, "Saya sama Ram ya, Bu"
"Terserah kamu saja"
Ram yang sedang fokus-fokusnya melihat rangkaian rumus di buku paketnya, hanya bisa pasrah ditarik anggota kelasnya itu.
Mau ditolak? Tidak bisa.
Pasti Dino akan membawa nama jabatannya yang mana sangat benar.
Ketua kelas bertanggung jawab atas urusan kelas.
*
Mia membandingkan buku matematikanya dengan Karin–teman sebangkunya. Keningnya berkerut tajam dan matanya menyipit fokus ke setiap angka yang tertera di sana.
"Rin, lo nyontek punya siapa?"
"Punya si Kevin" jawab Karin.
"Sama persis loh jawabannya. Gue lihat tugasnya si Rafa" masih dengan posisi melihat ke buku matematikanya.
Karin mengintip sekilas nilai Mia yang di tulis dalam warna merah itu, "Sama aja. Kita dapat 80"
Mia mengangguk menyetujui ucapan Karin. Mia pikir kali ini ia dapat 100 seperti sebelumnya, secara dia menyontek si peringkat satu.
Rian menendang pelan bangku Mia di depannya, "Woi, lo berdua dapat berapa?"
Mia dan Karin berbalik sambil mengangkat buku matematika mereka. "Kalau lo berdua?" tanya Karin setelah menurunkan buku matematiknya lebih dulu.
"Sama" jawab Rian dan Aryo serempak.
Di bangku keempat di sisi kanan tampak seseorang yang terus-terusan mengeluh, "Kok gue dapat 60 sih!" Bondan menatap ngeri buku matematikanya.
"Masa Gara dapet 80, gue enggak" tambah cowok bertubuh gempal itu, setelah melihat nilai Gara–teman sebangkunya.
Mengingat Bondan yang datang pagi-pagi sekali hanya untuk menyalin tugas matematika membuat Gara mati-matian menahan tawanya. Bukannya mendapat nilai bagus, Bondan malah tidak menyampai KKM.
"Kenapa lo? Mau kentut?!" ketus Bondan melihat Gara yang sedang menutup mulutnya sendiri.
Bondan kemudian berbalik,"Eh, Jeka, dapat berapa lo?"
Jeka yang sedang tertidur di atas meja, merasa terganggu saat seseorang menggoyangkan lengannya. "Apaan?" tanya cowok itu, setelah menegakkan kembali punggungnya.
Tanpa banyak bicara, Bondan langsung mengambil buku Jeka yang sempat tertutupi tangan cowok itu, "Pinjam bentar"
"Ternyata karena lo..."
Jeka yang tidak paham dengan ucapan Bondan langsung menarik bukunya dari genggaman Bondan. Wajah Jeka sempat terkejut melihat isi bukunya sendiri, namun tiga detik kemudian ia mengembalikan ekspresinya seperti semula.
"Dino!" panggil Bondan tapi masih dengan posisi berbalik ke belakang.
"Kenapa?" Dino ikut berbalik dan menatap buku Jeka yang terbuka di atas meja.
"Pantas gue dapat 60, padahal gue udah lihat berkali-kali buku Jeka buat mastiin gak ada yang salah" Bondan menghela napas pasrah kemudian menatap Dino, "Ternyata gue salah nyontek!"
Dino yang sudah tidak tahan melihat ekspresi Bondan sontak mengeluarkan tawanya "HAHAHA, BON, BON, KALAU NYONTEK PAKE MIKIR JUGA KALI"
"DINO!"
Dino yang merasa terpanggil langsung menghentikan tawanya. Ia kemudian berbalik lalu melihat semua tatapan tertuju kepadanya. "Eh?" Dino heran bukan main melihat Bu Arin yang sudah siap menelannya bulat-bulat.
"Dino, bisa hormati saya? Tadi saya sedang berbicara dan kamu dengan seenaknya tertawa! Kamu ngejek saya?" Bu Arin tampak marah.
"Gak kok, Bu. Saya gak ngejek, Ibu" bantah Dino tidak setuju karena memang ia tadi menertawai teman sebangkunya.
Bu Arin mengehela napas, berusaha menyabarkan diri. "Yasudah, sekarang kamu duduk dengan rapi, jangan aneh-aneh lagi" suruh Bu Arin kemudian karena tak ingin memperpanjang perdebatan dengan muridnya itu.
"Baik anak-anak seperti yang saya bilang tadi, bagi kalian yang nilai tugasnya di bawah 70 silahkan mengerjakan soal di halaman 11"
"Bu, jawaban nomor lima apa ya?" tanya Ram yang duduk tepat di depan meja guru.
Bu Arin menatap heran Ram "Loh, memangnya kamu salah?"
"Iya Bu, saya salah"
"Saya juga, Bu" kata Jesya
"Kami juga" Caca mengangguk menyetujui ucapan Jeni–teman sebangkunya.
Bu Arin melihat ke bangku Rafa "Kamu salah juga nomor lima?"
"Iya,Bu" jawab Rafa, datar.
"Perasaan saat saya periksa kemarin ada yang dapat 100" Bu Arin mengingat kembali buku siapa yang ia periksa tempo hari.
Sebuah tangan diacungkan ke atas. Hasna berdiri dari kursinya sambil membuka sebuah buku, "Nari, Bu yang dapat 100"
***
"Kak, ini gimana cara kerjanya?" Rafa yang langsung ke tempat les sepulang sekolah, memberikan sebuah soal kepada tutornya.
"Ini soal dari sekolah?" tanya Clara–tutor Rafa.
Rafa memang sengaja menuliskan soal itu di selembar kertas alih-alih langsung memberikan langsung buku tulisnya. "Iya, Kak"
Clara melihat kembali soal yang diletakkan Rafa di atas mejanya. Keningnya sedikit berkerut kemudian kembali datar seperti semula. Ia menatap salah satu murid cerdasnya itu, "Ini soal OSN"
"OSN?"
Clara mengangguk mantap, "Sekarang sudah jarang di sajikan. Tapi ini memang soal OSN tapi tahun 1999"
Rafa melebarkan matanya, ia belum pernah mencoba mengerjakan soal-soal OSN tahun 1999. Sejauh ini ia hanya bisa mencapai tahun 2010.
Clara mengembalikan kembali kertas itu. "Kamu harus mencoba menyelesaikannya sendiri"
"Sendiri? Memangnya Kakak gak tahu cara kerjanya?"
Clara tersenyum simpul. Muridnya yang satu ini memang sangat suka memberinya tugas sekolah miliknya. Padahal, Rafa bisa mengerjakan sendiri. Bukannya Clara tidak ingin membantu, tapi melihat potensi dalam diri Rafa yang besar, membuat Clara percaya bahwa anak itu bisa
mengerjakannya sendiri.
Buat apa dia mengajar kalau ujung-ujungnya Rafa tetap meminta?
"Coba kamu cari dulu contoh-contoh materi itu. Kakak yakin kamu bisa" Clara memberi saran yang sama, entah untuk yang keberapa kalinya setiap Rafa bertanya tentang tugas sekolah.
Rafa mendengus kasar. Andai saja Clara mau membantunya, ia tidak perlu mendapat nilai sejelek ini. Rafa melihat kembali buku matematikanya di meja belajar, 80.
Rafa benar-benar kesal sekarang. Coba saja, saat itu ia tidak berurusan dengan ayahnya, ia tidak perlu mengerjakan tugasnya yang tinggal satu saja secara asal-asalan.
Malam itu saat Rafa pulang dari tempat lesnya, ia mendapat masalah di rumahnya. Bungkus rokok yang ditemukan ayahnya di kamar Rafa, membuat cowok itu terkena amukan ayahnya. Tidak hanya ceramahan panjang lebar, Rafa juga masih harus terkena pukulan dibeberapa tubuhnya. Alhasil, tenaganya terkuras dan membuat Rafa tidur lebih cepat dan mengabaikan benar tidaknya jawaban yang ia tulis secara asal-asalan tengah malam.
"Nari... Lo itu bukan saingan gue!" Rafa masih belum menerima kekalahannya. Jika dulu ia tidak mendapat nilai sempurna, ia tidak akan sekesal ini karena saat itu ia tetap menjadi yang pertama. Namun kali ini, posisi Rafa si peringkat pertama mulai tersingkirkan oleh murid baru.
"Gue bakal tetap menjadi yang pertama" ada sedikit keraguan saat Rafa mengucapkan kalimat itu. Meski begitu, ia tetap meyakinkan dirinya bahwa posisinya di dalam kelas tidak akan tergeser oleh siapapun, termasuk Nari.