"Jadi sore ini udah fix di rumah Raya?"
Bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu dan Nari dan Lala baru saja sampai dipintu gerbang.
"Kata Raya tadi, jadi kok La" jawab Nari kepada Lala.
Lala mengangguk, kemudian berbalik penuh ke arah Nari "Eh, Nar, jemputan gue udah datang nih. Mau bareng gak?"
Nari bisa melihat ada sebuah mobil sedan hitam di depan sekolah. Kaca mobil depannya terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya. "Makasih tawarannya, tapi gue pulang sendiri aja La" Nari menolak halus tawaran Lala.
"Gak papa nih?" Lala memastikan sekali lagi karena merasa tidak enak jika meninggalkan Nari sendirian.
"Iya gak papa kok"
"Yaudah kalau gitu gue duluan yaa" pamit Lala kemudian berjalan ke arah mobilnya.
Nari melambai singkat setelah Lala sudah duduk di jok depan. "Dah!" teriak Nari tepat saat mobil Lala mulai berjalan pergi.
Nari melihat kembali ke dalam sekolah. Di pukul dua sore ini sekolah masih belum sepi rupanya. Ekstrakurikuler yang berlangsung setengah tiga nanti membuat para siswa yang mengikuti kegiatan itu memilih menunggu di sekolah saja dibanding pulang.
Hari ini cukup mendung sehingga Nari tidak perlu kepanasan saat berjalan nanti. Meski begitu, ia tidak bisa bersantai-santai karena masih ada pekerjaan yang menunggunya di rumah.
Dengan langkah cepat, Nari segera beranjak dari gerbang sekolah. Terkadang cewek itu berlari kecil untuk mempercepat dirinya lalu kembali berjalan normal saat merasa capek. Jarak dua kilometer yang ia lalui tidak terasa membosankan meski berjalan seorang diri. Bunyi klakson para pengendara, para pedangang yang sibuk menyajikan makanan, dan suara pengamen cilik diberbagai sudut jalan membuat Nari sedikit terhibur. Bagi Nari, ini adalah perpaduan yang sangat menarik.
"Baru pulang Ri?" tanya seorang pedagang yang memang sangat mengenal Nari.
Nari tersenyum melihat bapak tua yang sedang mengipas sate di depannya "Iya, Pak. Gimana jualannya?"
"Syukur, hari ini lumayan banyak, Ri" Nari bisa merasakan kebahagiaan dari bapak tua itu.
"Bagus, Pak!" Nari mengacungkan kedua jempolnya. "Semoga selalu begini ya"
"Iya, Amin" bapak tua mengamini harapan Nari.
"Kalau gitu, Nari pamit dulu ya, Pak. Mau buat gorengan dulu nih" bapak tua itu mengangguk sambil tersenyum melihat Nari yang sudah berjalan menjauh.
***
"Selamat sore, Nek" sapa Nari saat membuka pintu rumahnya.
Nari kemudian masuk dan menutup kembali pintu rumahnya. Ia berjalan ke arah dapur karena tidak mendengar jawaban dari sapaannya. Mungkin saja neneknya berada di dapur seperti biasa.
"Loh, Nari baru pulang ya?" tanya neneknya saat ingin mengambil gelas.
"Iya, Nek" Nari membantu neneknya mengambil gelas di rak piring sekaligus mengisinya dengan air minum.
"Kali ini buat donat, Nek?" Nari melihat ada dua toples di meja makan.
"Iya. Hasil jualan kemarin, lumayan buat donat juga" Nenek Nari tersenyum lebar sambil melihat kedua toples di atas meja makan. Nari yang mendengar hal itu, ikut merasa senang. Jika biasanya mereka hanya bergantung hidup dengan jualan pisang goreng, sekarang tidak lagi. Meski hanya donat, tapi Nari dan neneknya sangat senang. Setidaknya, jualan mereka bisa mendapat laba banyak dibanding jika hanya menjual pisang goreng.
"Kalau gitu, Nari mau ganti baju dulu ya, Nek" Nari langsung beranjak dari sana terburu-buru. Cewek itu sangat bersemangat untuk mengantar jualannya ke Bu Nina.
"Pelan-pelan, Ri" tegur nenek Nari ketika melihat cucunya itu hampir terpeleset karena terlalu terburu-buru.
"Iya, Nek" Nari membalikkan badannya sambil menyengir.
Nenek Nari yang yang melihat tingkah cucunya itu cuma bisa geleng-geleng kepala. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga sangat senang melihat Nari senang.
"Semoga kamu selalu senang yang, Ri" wanita tua itu menarik kursi di meja makan lalu duduk di sana.
"Maaf, Nenek cuma bisa kasih kebahagiaan sebatas ini" gumam nenek Nari sambil menatap sedih kedua toples yang penuh dengan pisang goreng dam donat itu.
***
Setelah mengantar jualannya tadi, Nari tidak langsung pulang. Ia masih harus kerja kelompok di rumah Raya sesuai kesepakatan kelompok mereka tadi.
Sebelumnya Nari sudah meminta izin kepada neneknya untuk sekalian berangkat ke rumah Raya setelah dari warung Bu Nina. Namun, neneknya justru menyuruh Nari pulang dulu untuk makan sebentar, tapi cewek itu menolak karena sudah makan disekolah tadi. Awalnya, nenek Nari merasa heran karena cucunya itu ternyata memilki uang jajan, tapi setelah Nari jelaskan ia di traktir di temannya, nenek Nari akhirnya mengerti dan mau memberi izin ke cucunya itu.
Sesuai janji yang mereka buat di sekolah tadi, kerja kelompok yang dilakukan di rumah Raya akan dimulai pukul setengah empat sore. Tapi, sepertinya Nari akan datang terlambat. Mungkin sudah hampir setengah jam ia berjalan, namun alamat rumah Raya yang tertulis di kertas kecil yang ia bawa belum kelihatan. Nari sempat bertanya ke beberapa orang di jalan yang ia temui namun penjelasan mereka justru membuat Nari pusing. Andai saja ia punya uang, pasti Nari akan memilih naik ojek saja agar lebih mudah atau andai saja Nari tidak menolak tawaran Roni untuk menjemputnya ia tidak perlu sepusing ini.
Nari dan segala rasa tidak enaknya jika diberi bantuan membuat dirinya menjadi kesusahan sendiri seperti ini.
Tidak mau membuang-buang waktu, Nari pun terus saja berjalan meski tidak yakin dengan jalan yang ia lalui.
Belokan-belokan besar hingga sampai ke gang sempit membuat Nari berhenti melangkah. Sepertinya ia salah jalan.Nari langsung memutar arah ke semula.
Alamat yang diberikan Raya jelas-jelas sebuab perumahan, bukan di gang seperti yang ia lewati barusan.
Tin...tin...
Nari yang sudah berjalan kembali di jalan poros terperanjat kaget saat tiba-tiba seorang motor dari arah berlawanan menuju tempat ia berdiri, seperti ingin menabrak saja.
Pengendara motor itu dengar sigal berhenti tepat di depan Nari, "Ke mana aja lo?"
Nari mengenyit bingung saat pengendara itu bertanya seolah mereka sudah saling kenal.
Merasa Nari tidak akan meresponsnya, langsung membuka helm full face putihnya. "Ayo buruan naik,masih banyak yang perlu diselesein!"
"Loh? Rafa?" Nari terkejut melihat Rafa di depannya. Bukan karena keberadaan cowok itu, melainkan karena Rafa saat ini sedang mengendarai motor sport putih. Bukannya lebay atau apa, masalahnya Rafa yang terlihat seperti anak yang bisa dibilang anti-sosial dan sedikit "culun" dengan kacamata minusnya, sekarang sangat tampak berbeda.
Rafa kembali memasang helmnya lalu memutar motor besarnya itu. "Cepetan!" teriaknya sedikit keras.
Nari dengan sigap langsung berjalan ke arah Rafa. Meski sedikit sulit naik ke atas motor Rafa, namun akhirnya Nari bisa duduk di jok belakang motor itu.
Nari tidak asal naik sebenarnya. Nari, Rafa, Lala,Raya, dan Roni adalah satu kelompok jadi tidak heran jika mereka berdua akan datang bersamaan ke rumah Raya.