"LAMA AMAT SIH LO!" Rafa dan Nari yang baru saja turun dari motor langsung mendapat pelototan dari Raya dari teras rumahnya.
Nari sedikit merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin. Rafa yang melajukan motornya cukup kencang ditambah tidak membawa helm penumpang, membuat Nari terus merasa was-was saat menuju ke rumah Raya.
Lebih baik dia jalan kaki saja!.
"Sorry,Ya, tadi gue salah jalan pas ke sini" Nari berjalan ke teras rumah Raya.
"Lo sih, dibilangin juga biar dijemput Roni." Raya melirik ke arah Rafa "Untung dia mau disuruh jemput lo"
Nari menatap Rafa yang berjalan ke mendahuluinya ke dalam ruang tamu.
"Loh? Gue kira tadi Rafa cuma kebetulan lewat"
Raya menghela napas pelas, "Gue maksa Rafa buat jemput lo" Raya lalu menarik lengan Nari, "Yaudah ayo masuk, kita butuh bantuan lo"
Raya dan Nari berjalan ke arah Lala dan Rafa yang sedang menggunting botol-botol plastik di lantai. Beberapa potongan yang telah selesai digunting dikumpul menjadi satu dalam suatu wadah agar tidak berserakan ke mana-mana.
"Nar, lo kerja dulu ya, gue mau buat minum dulu" Raya berlalu ke dapur.
Nari kemudian ikut duduk dilantai. Disampingnya ada Lala yang sibuk memotong beberapa kawat. "Gue bisa bantu apa?" Nari bingung ingin membantu apa.
"Nar, tolong lo buat bunganya ya" Lala menunjuk sebuah wadah berisikan potongan-potongan botol yang bentuknya menyerupai kelopak bunga. "Lo tempelin potongan itu ke tutup botolnya"
Nari mengangguk paham. Ia sebelumnya sudah pernah membuat kerajinan bunga dari botol plastik.
Ini mudah!
Sambil melakukan tugasnya, Nari sesekali berbincang dengan Lala untuk mengisi keheningan diantara mereka bertiga, sampai akhirnya Raya datang denganmembawa nampan. "Sorry guys, tadi gue ada sedikit urusan sama Mama" Raya meletakkan nampan yang berisi gelas,sirup,dan setoples kue kering. "Nih, gue bawain cemilan sama minuman, dimakan yaa"
Raya lalu ikut duduk di samping Rafa, "Roni belum datang?" Raya masih belum melihat cowok satu itu, padahal hari sudah semakin sore.
"Dia ke rumah sakit" jawab Rafa.
"Roni sakit?" Lala yang telah selesai memotong kawat untuk dijadikan sebagai tangkai bunga ikut bertanya.
"Bukan dia tapi adeknya" Rafa mengambil menuangkan sirup ke dalam gelasnya.
"Emang sakit apa?" tanya Lala, lagi.
Rafa meletakkan kembali gelasnya yang tinggal setengah di samping kakinya, "katanya DBD"
"Kasihan" gumam Raya pelan.
Tidak ada lagi obrolan setelah itu. Semuanya kembali fokus mengerjakan tugas masing-masing.
Setelah membuat bunga dan potnya, mereka semua pergi ke halaman rumah Raya. Sekarang tinggal polesan akhir berupa cat. Mereka menyediakan warna putih dan hitam untuk pot dan warna merah untuk bunga. Nari,Lala, dan Raya bertugas mengecat beberapa bunga, sedangkan Rafa akan mengecat pot hingga menyerupai wajah kelinci sesuai kesepakatan mereka tadi.
Memang sangat tidak efektif menjemur disaat hari sudah sangat sore tapi apa boleh buat, mereka baru bisa selesai membuat kerajinan bunga dari botol plastik pada pukul setengah enam sore.
"Gak papa meski udah sore, tapi mending kita taruh diluar aja bunga sama potnya" Lala menyusun hasil pengecatan mereka tadi diatas sebuah bangku kayu dihalaman rumah Raya, "Angin bisa keringin catnya meski cuma dikit"
Setelah selesai mereka semua kembali ke ruang tamu Raya. Sampah-sampah hasil kreasi mereka harus dibersihkan, tidak baik meninggalkan begitu saja. Bahkan Nari juga menyempatkan diri untuk mencuci gelas yang mereka pakai, padahal Raya sudah melarangnya. Tapi Nari, bersikeras ingin mencucinya karena tidak enak sudah diberikan secara cuma-cuma, alhasil Raya memperbolehkan Nari menuju dapur untuk mencuci.
Nari adalah orang yang sangat tidak enakan, itulah yang dipikir Raya.
"Ya, gue pulang dulu ya" pamit Lala setelah selesai menyapu.
"Oke"
Nari yang baru saja datang dari dapur juga ikut berpamitan "Ya, gue udah selesai juga nih. Pulang dulu ya"
"Eh tunggu dulu" Raya menahan Nari yang sudah berada di ambang pintu depan.
"Lo pulang naik apa?" Raya takut jika nanti Nari justru tersesat lagi seperti saat cewek itu akan datang ke rumahnya, mana Lala sudah pulang duluan naik ojek online.
Nari terlihat berpikir sebentar. Hari sudah malam dan ia tidak membawa alat penerangan. Nari kira ia tidak akan pulang malam, jika tahu ia akan membawanya. "Hmm, Ya, lo punya senter gak?" alih-alih menjawab, Nari justru balik bertanya.
"Ada. Tapi buat apaan?" Raya bingung dengan ucapan Nari. Tidak biasanya ada orang yang bertanya tentang senter seperti ini.
Nari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Gue boleh pinjam gak? Gue mau pake buat pulang nih, tapi pasti besok gue balikin kok" mohon Nari.
Raya terkejut mendengar jawaban Nari, "Lah, emangnya lo pulang naik apa sih sampe pakai senter segala? Jalan kaki?" Raya bercanda di kalimat terakhirnya. Mana mungkin Nari akan berjalan malam-malam begini, apalagi tidak tahu jalan.
"Kok lo tau gue mau jalan kaki?"
"Beneran?!" Raya membulatkan kedua matanya. Cewek itu benar-benar kaget mendengar Nari ingin jalan kaki untuk pulang. Padahal setahu Raya jarak rumahnya dan rumah Nari cukup jauh.
"Iy–"
"Gue anter" Rafa yang baru saja menutup telepon di samping motornya menatap sebentar ke arah Nari dan Raya. "Ayo naik" tambah Rafa setelah memasang helm di atas motor.
Nari menatap Rafa dalam diam begitu pula Raya. Mereka berdua seolah tidak percaya dengan ucapan Rafa barusan. Bukannya lebay, tapi masalahnya Nari dengar dari Caca kalau Rafa itu anti-sosial dan tidak mempedulikan orang lain. Jadi mana mungkin cowok seperti itu justru mengajak Nari dengan mudahnya tanpa paksaan dari orang lain seperti yang dilakukan Raya tadi.
Raya yang pertama kali sadar dari keheranannya langsung menyenggol lengan Nari, "Buruan naik!"
Nari yang kaget dengan perbuatan Raya barusan, membuat dirinya refleks berlari ke motor Rafa. Tanpa disuruh pun, Nari langsung duduk di belakang Rafa.
"Eh? Lo beneran mau antar kan?" Nari bertanya ulang untuk memastikan Rafa tidak membohonginya, apalagi dia sudah duduk di motor cowok itu.
Kalau tidak jadi, Nari bisa malu!
"Iya" jawab Rafa sambil melajukan motornya keluar dari halaman rumah Raya.
"Raya, kami duluan ya!" teriak Nari sedikit keras karena sudah berada di jalan depan rumah Raya.
***
Sepertinya awan gelap yang sejak sore tadi berada dilangit, akhirnya menumpahkan airnya ke bumi. Rintik-rintik hujan yang awalnya hanya gerimis menjadi sedikit deras.
Rafa yang saat itu masih berada di jalanan terpaksa menembus derasnya hujan. Tarikan gas yang sepertinya semakin tinggi, membuat Nari terus berdoa sepanjang jalan. Jalanan yang cenderung lincin saat hujan berpotensi besar mengakibatkan kecelakaan, apalagi jika melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi sayang, itu tidak berlaku bagi Rafa. Cowok itu seolah sudah terbiasa melakukan hal membahayakan ini.
"Pelan-pelan aja Raf!" Nari sedikit berteriak untuk melawan suara hujan.
Rafa mendengar jelas suara Nari, tapi ia tidak berniat menurutinya. Masih tetap dengan kecepatan yang sama, mata Rafa dengan fokus memandang ke jalanan. Jujur, ia sedikit takut sekarang. Bukan karena ia takut jatuh akibat ulahnya sendiri, namun ada seseorang yang ia bonceng. Tapi, bagi Rafa daripada semakin lama di jalanan, ia lebih memilih melajukan motornya dengan kencang dan mengabaikan rasa takut itu.
Selama lima belas menit melawan butiran hujan yang terasa sakit ketika terkena wajah, akhirnya Rafa dan Nari berbelok masuk ke sebuah rumah.
Halamannya luas, pohon dan semak-semaknya tetata rapi, dan rumah besar bercat putih di depannya ini sangat besar dan bagus. Itulah yang bisa Nari lihat saat pertama kali memasuki pagar hitam di depan sana.
Nari langsung turun saat Rafa sudah memarkir motornya di sampingan rumah itu, lebih tepatnya di depan sebuah ruangan yang diyakini Nari sebagai garasi.
"Ngapain masih disitu? Ayo masuk! Hujan!" Ajak Rafa sambil berlari kecil ke teras.
Memang tempat Rafa memarkir motornya tidak dilindungi oleh atap, dan hal itu membuat Nari heran, "Motornya gimana?" Nari yang sudah berdiri di samping Rafa menatap ke kendaraan berwarna putih yang diguyur hujan.
"Ada yang urus" Nari bisa melihat ada seorang pria berseragam hitam yang langsung memasukkan motor Rafa ke dalam garasi.
Rafa mengetuk pintu rumah itu sedangkan Nari berdiri di belakangnya. Pada ketukan ke lima pintu berwarna cokelat mengkilap itu akhirnya terbuka. Seorang wanita tua dengan rambut diikat sertas daster berrmotif bunga putih nampak terkejut melihat mereka berdua.
"Ayo masuk, Nak" ajak wanita itu.
Nari menarik ujung kaos hitam Rafa dan membuat cowok itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap datar Nari, "Apa lagi?"
"Ini rumah siapa?" tanya Nari dengan sangat pelan, agar wanita tua yang masih setia berdiri di ambang pintu tidak mendengarnya.
"Emang lo pikir ini rumah siapa?"
Nari berpikir sebentar lalu bertanya takut-takut, "Lo?"
"Udah tau, kenapa masih tanya?!" Rafa menatap kesal cewek itu. Sudah tahu diluar dingin, tapi cewek itu malah menahannya berdiri di teras, "Ayo masuk!"
Nari pun mengekor di belakang Rafa meski sedikit kesal dengan ucapan cowok itu. Nari hanya ingin memastikan saja, kenapa harus marah?. Namun, kekesalan Nari seketika hilang saat matanya menatap ruang tamu Rafa. Mewah.
Lampu gantung berbentuk kristal, rak tinggi berisi piala dan figura, jam kuno dengan ukiran yang rumit, serta beberapa sofa besar yang diyakini memiliki harga puluhan juta. Hal itu semua membuat Nari melongo.
"Nak, duduk dulu ya. Nanti Bibi buatkan teh hangat" kata Bi Binah yang langsung menyadarkan Nari dari ekspresi konyolnya.
"Ah! Iya, iya Bi, makasih"
Rafa yang sudah naik ke lantai atas dan Bi Binah yang masuk kembali ke dapur, membuat Nari sendirian di ruang tamu. Cewek itu tidak berniat duduk di sofa karena takut membuatnya rusak. Ia tetap berdiri di samping sofa sambil menatap kagum sekelilingnya.
"Rafa benar-benar anak sultan!" pikir Nari.
Nari yang basah kuyup akibat melawan hujan bersama Rafa tadi membuat tubuhya mengigil kedinginan, apalagi ruang tamu Rafa memiliki AC. Jadi bisa dibayangkan bagaimana susahnya Nari melawan kedinginan di sana.
"Bi Bin... Loh? Nari?"
Nari yang saat itu masih menatap isi ruang tamu Rafa, sontak terkejut saat tiba-tiba ada yang memanggil namanya. Nari pun langsung berbalik untuk melihat orang itu.
Nari membulatkan sempurna bola matanya "Kak Haris?"
Haris juga sama kondisinya dengan Nari, basah kuyup. Cowok itu langsung masuk ke dalam rumah sambil mengacak-acak rambutnya yang sedikit basah. "Ngapain ke sini?" tanya Haris setelah berada di depan Nari.
"Ah, tadi diajak temen ke sini. Kakak ngapain ke sini? Diajak temen juga?"
Haris tertawa pelan mendengar ucapan Nari. Padahal, sudah jelas ia masuk tanpa izin ke dalam rumah, ya pasti dia pemiliknya!.
"Ini rumah gue"
"Nih baju..." Rafa berhenti berjalan. Matanya beralih ke punggung cowok berhoddie merah marun.
Nari yang melihat Rafa berhenti di anak tangga terakhir membuat dirinya dipenuhi dengan berbagai prasangka. Rafa,Haris, dan ucapan Hasna mengenai saudara Rafa membuat Nari berpikiran buruk.
Haris yang melihat perubahan ekspresi Nari kemudian bertanya "Kenapa lo?"
Nari tidak menjawab. Matanya kini tertuju pada iris hitam Rafa. Nari tidak bisa membaca perasaan Rafa sekarang secara pasti, tapi Nari merasa Rafa sangat marah sekarang.
Haris lalu mengikuti arah tatapan Nari. Ia bisa melihat dengan jelas sosok laki-laki yang menatap tajam ke arah dirinya.
"Dia adek gue"
Deg.Pikiran buruk Nari ternyata benar.
Haris adalah kakaknya Rafa, dan cowok itu penyebab luka-luka adiknya sendiri.
Dan Nari mengenal keduanya.