Sudah hampir setengah jam mereka bertiga duduk di ruangan bercat putih polos itu, tapi tidak ada yang berniat memecah keheningan.Detak jarum jam seolah mengejek mereka, karena tak sanggup menyampaikan isi pemikiran masing-masing.
Nari sudah mengganti bajunya yang basah dengan sweater putih milik Rafa, sedangkan celananya ia ganti dengan rok selutut milik Bi Binah. Ia beruntung tidak kedinginan lagi, terlebih saat ini diberi teh hangat juga. Benar, pergi ke rumah Rafa adalah ide yang tidak buruk meski sekarang ia justru terlibat dalam situasi awkward.
Nari melirik sebentar ke arah jam di dinding depannya.
"Sudah jam tujuh" batin Nari, cemas.
Nari berdeham pelan kemudian menatap kedua orang yang tengah duduk di depannya. Ia harus segera pulang agar neneknya tidak khawatir. "Gue pamit pulang ya" kata Nari yang seperti berbisik.
Sangat jelas di luar hujan sedang deras-derasnya ditambah hari sudah malam. Namun, daripada terjebak dalam kondisi canggung itu, Nari memilih untuk pulang saja meski ia sedikit ragu mengingat ia tidak tahu jalanan sama sekali.
"Di luar hujan" Haris menatap ke arah gorden yang sedikit terbuka.
Nari tahu di luar hujan, tapi mau bagaimana lagi? Meminta Rafa mengantarnya pulang adalah pilihan yang tidak tepat, apalagi wajah cowok itu tidak bersahabat meski sehari-hari tampangnya hampir seperti itu. "Takutnya nenek khawatir" gumam Nari kepada diri sendiri.
"Nanti gue anter" tambah Haris yang membuat kening Rafa langsung mengerut. Cowok itu heran, mengapa kakaknya terlihat akrab dengan Nari?.
Mendengar Haris ingin mengantarnya pulang, membuat Nari bisa bernapas lega. Setidaknya ia tidak perlu tersesat di bawah hujan.
"Gak ngerepotin?" Nari ingin memastikan jika Haris serius dengan ucapannya.
Haris mengangguk pelan, "Iya"
Setelah itu tidak ada obrolan lagi. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Nari yang sibuk mengetuk jarinya di paha untuk menghilangkan kebosanan meski kepalanya dipenuhi pertanyaan langsung mendongakkan kepalanya ketika Haris tiba-tiba bersuara, "Lo sekelas sama Rafa?"
"Iya, Kak"
Haris ber-oh ria lalu kembali bertanya, "Kok bisa ke sini? Main?"
"Bukan main, tapi pas hujan tadi Rafa langsung ke sini. Jadi gue nurut aja" jawab Nari mengingat kembali kejadian sore tadi, di mana Rafa dengan seenak jidatnya tiba-tiba berbelok ke rumahnya tanpa memberitahu Nari terlebih dahulu. Padahal Nari kira ia akan segera pulang.
"Emang kalian dari mana?"
"Kerja kelompok, Kak"
"Lo kenapa bisa kenal dia?" tanya Rafa tiba-tiba kepada Nari.
Bukannya kepo, tapi Rafa heran melihat keakraban antara Nari dan Haris, terlebih cewek itu masih berstatus murid baru. Jadi, bagaimana bisa ia begitu mudah akrab dengan senior berandal SMA Garuda, bahkan sampai-sampai ingin memberikan tumpangan.
Memangnya siapa Nari?
"Gue pernah ke rumahnya" bukan Nari yang menjawab melainkan Haris.
"Iya, Raf" Nari membenarkan.
Rafa menatap dingin Nari, "Gue tanya sekali lagi, kenapa lo bisa kenal dengan DIA?" Rafa menekankan suaranya di kata terakhir.
Nari mengangkat alisnya, bingung. Bukannya Haris sudah menjawab dan kenapa Rafa justru terlihat marah?.
"Kan udah di jawab sama Kak Haris"
"Gue tanya lo, bukan dia!"
Nari tidak suka melihat Rafa yang marah dengannya, memangnya dia salah?. "Kok lo malah ngegas sih?"
"Jawab!" bentakan dari Rafa membuat nyali Nari yang sempat berkobar jadi menciut. Sebuah kelemahan yang kadang-kadang membuat Nari ingin menangis.
Haris yang melihat emosi dari Rafa dam ketakutan dari Nari membuat cowok itu langsung berdiri, "Raf, lo apa-apaan sih?"
Rafa tidak merespons ucapan Haris, cowok itu masih menatap tajam cewek yang sedang menundukkan kepalanya. Alasan kemarahan Rafa kali ini bukan alasan baru. Hal ini terus ia rasakan jika ada teman sekelasnya yang mengenal Haris bahkan sampai akrab dengan kakaknya itu.
Rafa tidak suka!.
"Nar, ayo! Gue anter lo pulang" ajak Haris sambil menyambar kunci mobil di atas meja. Haris tidak ingin Nari menjadi pelampiasan kemarahan Rafa. Cowok itu tahu betul, Rafa tidak akan berhenti sebelum ia mendapat jawaban. Daripada mental Nari tersakiti karena ucapan Rafa lebih baik sekarang ia mengantar Nari.
***
Perjalanan dibawah guyuran hujan tanpa pembicaraan satu pun di dalam mobil hitam yang dikendarai Haris membuat Nari tidak tahan untuk menyelutuk, "Rafa temperamental ya, Kak?"
Mendengar ucapan Nari yang seperti tuduhan membuat Haris tertawa. Bagaimana bisa cewek itu menilai Rafa seperti itu? Apa adiknya sangat buruk?.
"Kok ketawa?" Nari bingung melihat Haris yang justru tertawa, memangnya Nari sedang melawak?.
"Lo aneh. Gimana bisa lo bilang Rafa temperamental?"
"Ya kayak tadi. Gue kan ngomong baik-baik terus malah marah" Nari mengubah posisi duduknya menghadap ke Haris, "Bukan cuma itu, di kelas juga dia nyeremin!"
"Nyeremin?"
Nari menggangguk cepat, "Tadi pagi aja dia berantem sama Jeka. Terus kata temen-temen yang lain, Rafa sering di berantem sama kak... Eh?" Nari langsung menutup mulutnya sendiri.
"Nih, mulut gak bisa diajak kompromi!" gerutu Nari dalam hati. Ia segera kembalk ke posisi awal duduknya.
Haris tahu ke mana arah pembicaraan Nari. Memang hampir semua teman sekelas Rafa tahu bahwa ia sering memukul adiknya itu bahkan mungkin semuanya sudah tahu? Haris tidak tahu, yang jelas perilaku buruknya itu pasti sudah merusak imagenya.
"Apa yang gue lakuin ke Rafa emang bener. Gue tonjok dia pake tangan gue sendiri" Haris menepikan mobilnya ke sebuah ruko di samping gang kecil. "Tapi gue ngelakuin semua itu demi Rafa juga"
Nari menatap heran Haris. Ia tidak paham dengan kata 'demi Rafa juga'.
"Payung ada di jok belakang, lo ambil sendiri aja ya"
Nari segera tersadar. Ia lalu keluar dan membuka pintu belakang. Setelah membuka payung berwarna putih, ia segera menutup pintu lalu kembali ke pintu depan yang jendela dibuka oleh Haris. "Makasih ya, Kak"
"Iya sama-sama. Nih, senter buat lo. Sorry gue gak bisa anter sampai dalam"
Nari mengambil senter dari tangan kanan Haris. "Iya gak papa. Sekali lagi makasih ya Kak"
"Iya. Kalau gitu, gue pulang ya"
"Hati-hati, Kak" Haris lalu menutup kaca jendela itu, kemudian beranjak dari sana.
Nari berbalik dan berjalan memasuki gang kecil yang lumayan becek, sehingga membuat ia sedikit berjinjit. Senter ukuran sedang yang ia pegang sangat membantu untuk menuntun jalannya.
Hujan masih turun dengan derasnya membuat Nari tidak bisa melihat seorang pun disepanjang jalan. Namun, hal itu tidak membuat Nari takut. Payung dan senter adalah teman yang sudah sangat membantu Nari untuk berjalan.
Kedua kaki Nari yang sempat terkena percikan air tanah, membuat ia langsung ke belakang rumah ketika sampai. Wc yang biasa ia gunakan adalah tujuan cewek itu.
Setelah mencuci kakinya yang kotor Nari lalu mengetuk pintu belakang.
"Nenek!" panggil Nari sedikit keras.
"Nek, ini Nari di belakang!"
Tidak butuh waktu lama,pintu itu pun terbuka. Seorang wanita tua berbalut baju lengan panjang dan celana kain semata kaki tampak kaget melihat cucunya, "Aduh, Ri! Ayo masuk"