Nari yang baru saja datang, langsung berlari menuju bangkunya. Ia mengganggu aktivitas tidur Hasna di pagi hari ini.
"Na, gue mau cerita!" kata Nari sangat antusias.
Masih dengan posisi menenggelamkan kepalanya dilipatan tangan, Hasna bertanya malas "Apaan?"
Nari yang melihat Hasna tidak serius ingin mendengarnya langsung memukul pelan lengan cewek itu, "Bangun dulu!"
Mau tidak mau, Hasna langsung menegakkan kembali punggungnya dan bersandar di kursi. Sebenarnya ia kesal karena Nari menganggu istirahatnya pagi ini, padahal semalam Hasna begadang nonton drakor.
"Iya apaan? Buruan deh gue mau tidur"
Nari menatap Hasna sebentar lalu menengok kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengarnya berbicara, "Gue ketemu kakaknya Rafa!"
Tidak sesuai yang dibayangkan Nari, Hasna justru terlihat biasa-biasa saja.
"Terus?" tanya Hasna yang tidak tertarik dengan topik pembicaraan Nari.
"Kok lo nggak kager sih?"
"Terus gue harus apa? Kejang-kejang gitu?"
Nari menghela napas lelah. Ternyata bertemu dengan Haris bukan sesuatu hal yang bisa membuat Hasna tertarik. Padahal Nari terkejut bukan main saat tahu Haris–orang yang baru saja ia kenal adalah sebab luka-luka Rafa selama ini.
"Yaudah deh, lo tidur lagi aja" Nari tidak ingin melanjutkan ceritanya lagi.
"Gak usah manyun lo! Iya deh gue dengerin. Emangnya kenapa lo bisa ketemu sama kakaknya Rafa?"
Nari tersenyum puas saat Hasna terlihat serius sekarang. Cewek itu benar-benar baik ingin mendengar cerita Nari yang sebenarnya tidak menarik perhatiannya sama sekali.
"Namanya Kak Haris" Nari memulai.
"Gue tahu"
Nari menggaguk sebentar lalu kembali berbicara, "Nah Kak Haris ini pernah datang ke rumah gue"
"Ke rumah lo? Kok bisa?" Hasna mulai tertarik dengan topik ini.
"Ceritanya panjang. Intinya, dia itu ke rumah gue buat sembunyi pas dikejar-kejar sam orang"
"Kok sembunyinya di rumah lo? Kenapa gak di rumah gue aja?" celetuk Hasna tiba-tiba.
"Ya gue mana tahu kenapa dia gak ke rumah lo!" Nari kesal karena Hasna justru bercanda, padahal ia sangat serius.
"Sorry, sorry, hehehe.... Yaudah lanjutin Nar"
Nari mendengus pelan namun tetap melanjutkan ceritanya, "Dia sembunyi di rumah gue karena dia maksa buat ke sana. Awalnya gue nolak kan gue gak kenal sama dia, tapi dia malah narik gue. Mau tidak mau gue kasih tahu rumah gue"
"Lo seneng gak pas ditarik sama Kak Haris? Secara dia kan ganteng banget!".
"Yang ada gue pengen botakin rambutnya!" mengingat kasarnya Haris menarik lengannya, membuat cewek itu kembali kesal.
"Dih, cakep gitu lo mau hancurin" cibir Hasna tidak suka. "Kalau Kak Haris denger bisa abis lo entar"
"Na, kok lo malah belain dia sih? Suka ya?" tuduh Nari.
"Siapa sih yang gak suka sama cowok kayak dia? Udah cakep, cool, badboy, pokoknya dia itu udah persis mostwanted dinovel-novel!" Hasna sangat menggebu-gebu memuji Haris. Bahkan suaranya yang semakin keras menarik perhatian anak-anak lain.
"Siapa yang cakep, cool, dan badboy?" tanya Caca yang tiba-tiba berbalik.
"Eh? Itu... Itu loh drakor yang gue pernah gue ceritain ke lo" jawab Hasna gelagapan.
"Drakor?" Hasna mengangguk cepat.
"Oh, yang si Lee Gon itu kan?"
"Lee Gon?" Hasna bingung dengan Caca yang menyebut salah satu aktor yang sangat ia tahu dramanya.
"Iya, yang drama sekolah-sekolah gitu. Ceweknya punya ibu yang gak bisa bicara" Caca menjelaskan semua yang masih ia ingat.
"Lee Gon? Drama sekolah?" Hasna berpikir keras, sepertinya ada yang aneh.
"Astaga! Dasar Cacang! Lee Gon mana main sekolah-sekolahan. Itu mah Kim Tan bambang!" Hasna menatap horor Caca.
"Bener kan, Na?"
"Iya-iya, bener" Hasna membenarkannya saja, lagipula Caca tidak akan tahu kalau dia salah. Lebih baik seperti ini daripada Caca nanti curiga.
Setelah memastikan jawabannya benar, Caca kembali ke posisi semula duduknya.
"Kalian bahas apaan? Lee Gon siapa sih?" Nari penasaran dengan pembicaraan antara Hasn dan Caca.
Hasna mengibaskan tangannya, "Bukan siapa-siapa. Lanjutin aja cerita lo yang tadi"
Nari menurut saja meski ia masih penasaran dengan si Lee Gon itu. Nari menjelaskan semuanya dari saat Haris bertemu neneknya, mengantar Nari ke sekolah, datang ke rumah Rafa, sampai saat Haris mengantar Nari pulang dan cewek itu tidak sengaja mengungkit perbuatan Haris yang selalu memukul Rafa.
"Terus Kak Haris bilang apa?" bisik Hasna karena takut menarik perhatian lagi.
"Katanya itu buat kebaikan Rafa"
"Hah? Kebaikan?"
Nari mengedikkan kedua bahunya. Ia juga bingung maksud dari ucapan Haris.
"Secara logika nih ya, kebaikan itu mendatangkan kebaikan juga. Lah ini masa mukul adek sendiri dibilang kebaikan. Lama-lama gue ilfeel juga nih sama Kak Haris. Jangan-jangan dia s***p!"
"Bisa jadi" kata Nari yang kemudian membuag Hasna tertawa ngakak.
Meski pendapat Hasna sedikit ngawur tapi bisa saja itu memang benar kan?
***
"DIEM DULU WOI!" Bondan berteriak di depan kelas tepat setelah Pak Tomo keluar.
Mia, Karin, Dino, dan Ram yang ingin keluar menuju kantin malah ditahan di depan pintu. "Jangan keluar dulu" Gara merentangkan tangannya di depan pintu.
"Minggir Garaaaa, gue mau makan" Mia berusaha mendorong tubuh Gara namun tetap saja cowok tidak bergerak sama sekali.
"Lo kurang kerjaan banget deh, Ga" ucap Ram.
"Iya deh lo pada boleh keluar, tapi nanti. Tunggu Bondan selesai ngomong"
"Serah lo deh, Ga" balas Dino.
Mereka semua pun kembali ke bangki masing-masing.
"CEPETAN BON, GUE MAU KE PERPUS!" teriak Jesya yang sudah ingin keluar bersama Kevin namun ditahan juga oleh Gara.
Bondan yang sibuk berbicara dengan Jeka di sampingnya langsung berbalik ke arah Jesya, "Iye deh gue ngomong sekarang"
Seluruh siswa 11 IPA 2 menatap malas Bondan. Mereka yakin, cowok itu pasti ingin berbuat yang aneh-aneh lagi. Mana bisa Bondan serius apalagi seserius Rafa. Bondan, Gara, dan Jeka adalah paket komplit dari biang rusuh kelas!.
"Jadi gini, besok nyokap gue ulang tahun–"
"Bon, apa hubungannya nyokap lo ultah sama kita semua?" kata Sari tiba-tiba.
Bondan menatap malas ke arah Sari, "Makanya dengerin dulu!"
"Yaudah gue dengerin" balas Sari ogah-ogahan.
"Karena nyokap gue mau ulang tahun besok, so gue mau ngundang lo semua"
"EH? SERIUS LO BON?" Hasna langsung berdiri mendengar akan ada pesta ulang tahun.
"Na, Na, pasti diotak lo cuma makanan kan?" celetuk Fira yang tidak ditanggapi Hasna.
Bondan mengangguk mantap, "Yaps, gue serius. Sebenarnya yang undang bukan gue tapi nyokap langsung. Jadi lo semua harus datang, titik!"
"Gak perlu lo undang juga, gue pasti datang kok Bon" kata Gara sambil tertawa sendiri.
"Lo mah emang gak tahu malu, Ga" cibir Putri yang duduk di dekat pintu.
"Dih, Bondan aja gak marah kok, kenapa lo yang sewot?"
Bondan menatap jijik ke arah Gara,
" Lo mah emang selalu datang ke rumah gue. Mau pagi, siang, subuh, malam, lo pasti ngetuk pintu gue"
"Yaelah, Bon gue gak sohib lo. Gak papa dong kalau gue main ke rumah lo"
"Sohib sih sohib, tapi jangan minta makan mulu dong!"
"Hahahaha, parah lo, Ga. Masak minta makan juga ke Bondan, emang dia emak lo" kata Siska sambil menggelengkan kepalanya.
"Bon, acaranya jam berapa?"
Bondan lalu berbalik ke arah Ram. Cowok itu berpikir sebentar kemudian menjawab, "Jam tujuh malam"
"Bon, ada dresscodenya gak?" kalau ini sudah pasti Raya yang bertanya.
"Nggak pake dresscode-dresscode. Lo datang aja nyokap gue udah seneng."
"Oh iya gue dari tadi kepo ni. Kan yang ultah nyokap lo, kok kita yang undang?" tanya Caca.
"Acara nyokap sama temennya sore gitu, jadi pas malamnya dia nyuruh gue buat ngundang kalian. Kan sayang kalai makannya dibuang percuma" jawab Bondan yang langsung mendapat pelototan dari Mia.
"Jadi lo mau kita semua nampung sisa-sisa makanan hah?!"
Bondan terkekeh sambil menaikkan jari telunjuk dan tengahnya, "Bercanda doang kali. Nyokap cuma mau ketemu sama kalian. Kan baru balik dari Aceh"
"Lah emang kenapa nyokap lo mau ketemu sama kita? Kenapa gak sama temannya aja?" tanya Roni yang sudah menyelesaikan catatan kimianya yang ia pinjam dari Dimas.
Bondan terlihat gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa lagi. Cowok itu akhirnya menghela napas pelan, "Sebenarnya ini bukan acara nyokap gue"
"Terus apaan dong?" tanya Raya.
Bondan menatap semua teman-teman kelasnya, "Gue yang ulang tahun"
"APA?!"
"HEH, BESOK LO ULTAH BON?"
"YAELAH NGOMONG DONG DARI TADI!"
"ASTAGA INI TANGGAL BERAPA SIH?"
"Ini nih yang bikin gue malas ngomong langsung, respons kalian pasti pada aneh-aneh! Ngingat ultah gue aja kagak!" Bondan menatap kesal teman-temannya itu.