Siang ini lumayan terik, tapi Hasna menarik kedua temannya itu untuk menonton anak-anak basket latihan. Sebenarnya bukan mereka saja yang menonton, sebagian siswa 11 IPA 2 dan beberapa siswa dari kelas lain ikut menyaksikan rebut bola itu.
"Duh, Na, lo ngira-ngira dong kalau mau nonton" Caca mengipas wajahnya dengan selembar brosur yang ia temukan di atas meja kantin tadi.
"Yaudah deh kita duduk di sana aja" Hasna mengajak Caca dan Nari ke sebuah tempat duduk dari semen di bawah pohon.
"Yang tanding siapa sih, Na?" Nari tidak mengetahui kelas mana yang sedang berlari-larian di lapangan basket itu.
Tiba-tiba Caca menunjuk ke arah kumpulan siswi di sebelah barat "Itu pendukung kelas 12 IPS 1" Caca mengalihkan telunjuknya ke arah timur "Yang itu kelas 12 IPA 4"
"Terus kenapa lo malah ngajakin kita, Na? Kan yang tanding bukan anak 11 IPA 2"
Hasna berbalik menatap Nari dengan malas, "Masak gue nontonnya sendirian sih? Lagipula nih ya, permainan mereka itu bagus"
Nari menunjuk ke kumpulan Raya,Mia,Siska,dan Sari "Kan ada mereka. Lo gabung aja"
"Hadeh... Gue maunya nonton dengan tenang, kalau sama mereka yang ada gue b***k"
Nari bisa melihat Raya,Mia,Siska, dan Sari berteriak heboh sambil bertepuk tangan. Mereka semua benar-benar semangat menonton pertandingan ini.
Setelah itu tdak ada lagi pembicaraan diantara Nari,Hasna, dan Caca. Mereka menonton permainan kelas 12 dengan tenang hingga bel masuk berbunyi dam membuat mereka terpaksa meninggalkan lapangan basket meski pertandingan belum berakhir.
"Pertandingan tadi kayak ada yang kurang deh" kata Hasna sambil menaiki tangga ke lantai dua.
Caca yang berada di depan Hasna langsung berbalik dan membuat Hasna dan Nari mendadak berhenti. "Caca! Kalau mau berhenti jangan tiba-tiba dong" gerutu Nari yang hampir saja terjatuh, untung cewek itu memegang lengan Hasna.
"Iya nih, hampir aja gue jatoh" timpal Hasna.
Caca meringis pelan, "Maaf deh, gue gak sengaja. Habisnya lo sih, Na ngomong soal pertandingan tadi yang kurang, kan gue gak setuju"
"Gak setuju sih gak setuju aja, Ca, gak usak bahayain orang lain juga"
Caca menatap Hasna, kesal "Kan gue udah minta maaf kali, Na. Lo aja yang berlebihan"
Hasna melotot tidak terima dengan tuduhan Caca, "Gue gak berlebihan ya. Tapi emang tindakan lo tadi bisa nyelakai orang lain secara gak langsung!"
"Kan gue udah minta maaf!"
Nari langsung melerai perdebatan Caca dan Hasna. Kedua cewek itu selalu saja adu mulut, "Udah-udah, ayo kelas. Lihat tuh di belakang banyak yang mau naik juga"
Caca pun segera melanjutkan langkahnya setelah melihat tatapm sinis dari murid-murid yang ingin menaiki tangga. Hasna dan Nari juga terburu-buru naik tangga karena merasa tidak enak dengan murid lain.
***
Nari rasa menjadi bagian dari 11 IPA 2 adalah hal yang ajaib.
Guru sering berhalangan hadir, teman-teman yang absurd, dan kerusuhan tiap kali jam kosong benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh Nari selama bergabung menjadi anak IPA.
Tidak ada kesan ambis dan saling menjatuhkan di kelas ini, itulah yang Nari lihat selama berada di 11 IPA 2.
Dipojokan kelas ada sarang para penyamun, siapa lagi kalau bukan Jeka, Gara,Bondan, dan baru-baru ini Kevin dan Dino ikut dengan geng mereka. Bermain game.
Dibagian tengah kursi-kursi di susun memanjang dengan satu meja di depannya. Hasna, Caca, Putri, Jesya,Lala,Tami, Rian, dan Beni sedang menonton film.
Lalu bangku barisan paling kiri, ada Ram dan Roni sedang bermain catur. Tepat di belakang mereka ada Karin Sari, dan Jeni yang sedang menonton tutorial make up.
Sedangkan di depan kelas ada konser dadakan. Siska, Fira, Raya, dan Mia sedang bernyanyi dengan diiringi musik gitar dari Kiko dan Aryo sedangkan Dimas memukul meja guru seolah-olah sedang memukul drum.
Nari yang tidak tahu ingin bergabung ke mana hanya duduk di bangkunya saja sambil menonton teman-temannya yang sedang bernyanyi.
"Oke guys, ada yang mau request lagi nih?" tanya Fira yang baru saja selesai menyanyi.
"Gak deh kalau lo yang nyanyi" kata Jeka sambil bermain game.
"Iri bilang bro!" ejek Fira.
Jeka menatap Fira dang raut wajah kasihan "Gue sebenarnya gak mau bilang ini, tapi serius deh Ra, suara lo itu kayak terompet tahun baru!"
Fira membuang asal sapu bulu yang sempat ia jadikan sebagai mic, "AWAS LO JEKONG!" Fira mengejar Jeka yang sudah berlari keluar kelas.
Nari menggeleng-geleng melihat aksi teman sekelasnya itu, "Dasar Jeka"
"Gak usah peduliin mereka berdua" Mia berjalan mendekat ke meja di depannya, "Gimana kalau kita main truth or dare aja?"
"Gue ikut!" Raya mengangkat tangannya.
"Gue juga deh!"
"Kayaknya seru nih!"
"Ikut dong!
Mia memukul meja pelan untuk meredakan suara teman-temannya yang ingin ikut bermain, "Gimana kalau kita bermain satu kelas?"
"Gak kebanyakan tuh Mi?" tanya Jesya.
Mia mengedikkan bahunya, "Ya menurut gue sih, seru kalau kita mainnya sekelas"
Ram yang memenangkan permainan caturnya ikut berbicara, " Bener sih kata Jesya, sekelas mah kebanyakan. Gimana kalau yang ikut main TOD di pilih secara acak aja, biar adil."
"Secara acak?" Mia tidak mengerti.
Ram lalu mengambil bukunya dan merobek di bagian tengahnya. Cowok itu memotong kertas itu menjadi bagian-bagian yanh kecil menggunakan penggaris besi milik Dino.
"Caca, sekarang lo nulis semua nama anak-anak di sini" Ram memanggil Caca yang masih fokus menonton film.
"CACA!" Ram berteriak memanggil sekretaris 11 IPA 2 itu.
"Apa sih?!" Caca kesal karena diusik oleh suara Ram.
"Lo sekarang nulis nama-nama kita di sini!" tunjuk Ram pada potongan-potongan kertas di mejanya.
Caca mengenyit, "Buat apaan? Terus kenapa harus gue?"
Tami menarik Caca ke bangku Ram, "Udah lo nurut aja. Kita mau main TOD nih"
"Seriusan? Ikut dong!" Caca sangat antusias mendengar permainan menantang itu.
"Eh, tapi nulis nama buat apaan?" Caca kembali teringat dengan perintah Ram yang aneh itu.
"Udah lo tulis aja dulu. Nanti di jelasin !"
Caca pun segera ke meja Ram. Cewek itu langsung menulis nama teman-temannya setelah duduk di kursi Dino–teman sebangku Ram. Tidak sampai sepuluh menit, Caca selesai mengerjakan aktivitasnya itu. Kemudian ia menggulung kertas-kertas itu dengan dibantu Ram.
***
Caca, Mia, Raya, Bondan, Jeka, Nari, Kevin, Jesya, Rafa, dan Lala terpilih mengikuti permainan truth or dare.
Mereka semua duduk melantai dengan bentuk melingkar di belakang kelas. Botol minum Raya yang sudah habis diminum Gara diletakkan di tengah-tengah mereka. Sedangkan yang tidak terpilih mengikuti permainan cuma menonton dari berbagai sisi.
"Oke gue yang putar ya" Kevin memutar botol.
"Gue mau keluar" Rafa tiba-tiba berdiri namun dengan sigap Raya memegang tangan cowok itu.
"Gak boleh. Lo udah terlanjur di sini jadi gak boleh ke mana-mana"
Mia menggangguk setuju, "Ikut aja Raf, seru kok ini"
Rafa kembali duduk tanpa berbicara lagi. Ia memilih mengikuti permainan ini meski sebetulnya ia tidak berniat sama sekali. Lagipula jika ia bersikeras ingin keluar, pasti Mia akan tetap memaksanya.
Tutup botol yang dijadikan sebagai penunjuk, berhenti di depan Mia.
"Siapa yang mau bertanya?" Kevin menatap teman-temannya itu.
Lala mengangkat tangan "Gue!"
Kevin menggaguk mempersilahkan.
"Truth or dare?" tanya Lala pada Mia
"Truth"
"Lo sama Rafa kenapa bisa dekat banget? Maksud gue, kedekatan kalian ini pasti bukan sekedar karena sudah kenal sejak SMP, soalnya gue pernah lihat lo sama bokap lo di restoran bareng Rafa dan nyokapnya. Kan aneh aja gitu, kalau orangtua kalian bisa kenal meski emang bisa jadi sih" jelas Lala.