Mia diam.
Cewek itu menimbang-nimbang apakah ia harus menjawab pertanyaan Lala.
"Harus jawab jujur banget ya?" Mia menatap Lala yang menatap dirinya dengan wajah penasaran.
"Iyalah" sahut Jeka sambilmemutar kedua bola matanya malas.
Mia menghembuskan napas pasrah. Sepertinya ia memang harus berkata dengan jujur. Sebelum memberi jawaban, Mia melirik sebentar ke arah Rafa. Mia mendengus kasar melihat Rafa yang santai-santai saja. "Oke gua jawab nih" Mia menatap semua teman-temannya yang ikut bermain, "Rafa sepupu jauh gue"
"Hah?!"
"Gimana-gimana?"
"Serius?"
"Lo sama Rafa sepupuan? Kok bisa?" Dino menunjuk bergantian Lala dan Rafa.
Ram memukul pelan kepala teman sebangkunya itu, "Ya bisalahlah"
"Seriusan lo Mi?" Fira masih belum percaya.
Mia mengangguk mantap, "Iya, gue sama Rafa emang sepupuan"
"Pantas aja lo sama dia dekat banget" Bondan mengangguk mengerti.
"Udah-udah. Sesi tanya jawab sama Mia nanti aja ya, kita lanjut dulu mainnya" Caca memutar botol.
Semua pemain maupun penonton terus menatap perputaran botol itu. Setelah adanya kejutan baru dari Mia, membuat semua siswa sangat tertarik dengan kelanjutan permainan ini. Semua siswa menahan napas saat botol mulai bergerak melambat.
"Truth or dare?" tanya Mia.
Nari yang melihat tutup
botol berhenti tepat di depannya, membuat cewek itu kaget. Apa yang harus ia pilih? Awalnya Nari hanya mengikuti saja tanpa mempersiapkan jawaban yang akan dia katakan bila mendapat giliran. Nari menatap Mia dengan tatapan memelas, "Putar ulang dong"
"Gak bolehlah!" Hasna berdecak tidak terima.
Nari melirik ke arah Hasna lalu kembali menatap Mia penuh harah, "Jangan gue dong, please" Nari menangkup kedua tangannya di depan d**a.
Mia menatap malas Nari, "Nar, lo cuma jawab doang. Gampang kan?"
Nari menggeleng, "Ih gue gak mau"
"Emang lo takut apa sih, Nar? Kalau lo emang takut ditanya, ya pilih dare aja" usul Raya yang mulai jengah dengan penolakan Nari.
Nari memikirkan perkataan Raya. Ada benarnya juga. Jika tak ingin jujur maka pilih tantangan saja. Berhubung Nari takut disuruh yang aneh-aneh, Nari lebih memilih jujur saja. "Yaudah gue pilih truth"
"Gak asik banget nih kalau truth mulu" Gara meninggalkan kerumunan itu untuk menuju ke kantin seperti biasa.
"Tanya apaan ya?" Mia bingung ingin bertanya apa. Cewek itu baru mengenal Nari, jadi pertanyaan apa yang cocok untuk temannya itu?.
"Gue aja deh yang nanya" Rafa mengajukan diri untul bertanya.
Mia menatap heran Rafa. Bukannya cowok itu tidak menyukai permainan ini?.
"Yaudah lo aja deh" Mia membiarkan Rafa bertanya. Sejujurnya ia jauh penasaran dengan pertanyaan Rafa dibanding dengan pertanyaannya yang sempat terlintas di otak cewek itu.
Semua siswa yang ikut menyaksikan permainan itu, menatap fokus ke arah Rafa. Cowok itu sangat susah diajak bermain sekalipun mau pasti cuma diam saja. Jadi, hal ini sontak menjadi tanda tanya bagi mereka.
Rafa menatap tajam Nari, "Kenapa lo pindah ke sini?"
"Eh?"
"Lah kok pertanyaannya itu sih?"
"Kirain apa"
"Gak seru!"
Nari gelagapan mendengar pertanyaan Rafa. Mungkin bagi murid lain, itu adalah hal yang biasa. Namun, bagi Nari ini hal yang cukup memalukan. Mengungkit kembali kemalangannya benar-benar hal yang Nari benci.
"Gue pindah karena sering di bully di sana"
"Apa? Bully?" tanya Jesya untuk memastikan.
Nari mengangguk, "Iya"
"Karena apa?" tanya Siska masih dengan raut terkejut.
Nari menghembuskan napas pelan lalu menatap kosong ke depan, "Mereka gak terima kalau gue jadi yang pertama di kelas"
Deg.
Perkiraan Rafa selama ini memang benar. Nari adalah siswi berprestasi di sekolahnya. Bahkan cewek itu sampai mengalami penderitaan karena rasa tidak terima dari teman-temannya.
"Sepintar apa dia sampai dibully seperti itu?" Rafa mulai merasa terancam setelah mendengar pernyataan gadis itu.
Namun, Rafa berusaha menyingkirkan segala pikiran mengenai kecerdasan Nari. Cewek itu memang menjadi yang pertama di kelasnya, tapi belum tentu di peringkat paralel juga. Bisa saja teman sekelas Nari adalah kumpulan anak-anak pemalas.
Rafa meyakinkan dirinya jika ia tidak akan tergeser oleh Nari. Kemampuan Rafa pasti jauh diatas cewek itu.
Nari bukan saingannya.
Nari hanya siswi biasa.
Nari tidak akan membuatnya mendapat penghinaan lagi.
"Wah... Parah sih ini. Masak anak baik kayak lo di bully" Beni menggelengkan kepala tidak percaya.
Hasna bangkit dari duduknya kemudian berdiri di dekat para pemain TOD "Udah-udah gak usah diperpanjang lagi deh. Lanjut dah lanjut"
Botol kembali diputar oleh Kevin. Namun kali perhentian botol itu mengundang perhatian lebih besar lagi. Orang yang ditunjuk oleh tutup botol juga terlihat kaget.
"Nar lo tanya deh sekarang ke Rafa" suruh Putri.
Nari melihat Rafa yang juga melihat ke arahnya. "Truth or dare?"
Tanpa basa-basi dan menunggu lebih lama lagi, Rafa dengan yakin menjawab "Dare"
"Akhirnya ada juga yang menarik!"
"Wah pasti seru nih"
"Nari bakal kasih dare apa ya?"
"Gue kepo sama kelanjutannya"
Nari bingung ingin memberi tantangan apa. Rafa enaknya di suruh apa?
Hasna mencolek lengan Nari, "Nar, lo cepet suruh si Tembok gih"
Nari mengernyit, "Si Tembok?"
"Si Rafa maksud gue" Hasna memperjelas.
Nari mengedikkan kedua bahunya, "Gue gak tahu"
"Woi bisik-bisik mulu lo!" Bondan menegur Hasna dan Nari yang justru mengobrol padahal permainan masih berlanjut.
Hasna lalu membisikkan sesuatu kepada Nari. Namun, Nari segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Gila lo, Na!"
"Bilang aja, lagian kan lo juga gak tahu mau nanya di apaan"
Nari menatap Rafa yang masih menatapnya juga. Nari menarik napasnya lalu menghembuskan dengan pelan. Ia sedikit takut jika benar-benar mengikuti ide gila Hasna, tapi ia juga penasaran apakah Rafa ingin melakukannya.
"Raf, gue mau lo tanding basket sama kakak lo sendiri"
Seluruh siswa 11 IPA 2 yang menyaksikan permainan itu sontak terkejut. Apakah Nari sudah gila menyuruh Rafa melakukan hal itu? Permisuhan antara Rafa dan Haris sudah menjadi rahasia umum
11 IPA 2.
Bagaimana jika nanti kedua cowok itu justru kembali terlibag dalam perkelahian?
Nari benar-benar sudah gila!
"Nar, lo serius ngasih dare kayak gitu?" tanya Ram masih dalam mode terkejut.
Nari menggangguk ragu lalu berbisik kepada Hasna yang duduk di belakangnya, "Na, gue bodoh banget ngikutin ide lo!" gerutu Nari.
"Santuy aja, Nar. Lagian kan ini cuma main basket bukan berkelahi" ucap Hasna dengan santai. Cewek itu sebenarnya sengaja memberikan ide gilanya, soalnya Hasna sangat penasaran dengan kemampuan basket Rafa. Mengingat saat pelajaran olahraga, Rafa adalah tipe yang sangat pandai dalam permaian bola besar.
Haris dan Rafa sepertinya lawan yang seimbang, pikir Hasna.
"Tapi kayaknya seru juga sih" celetuk Raya yang langsung mendapat pelototan dari Mia.
"Gimana, Raf, lo terima kan?" tanya Ram karena Rafa belum menjawab dari tadi.
Rafa tiba-tiba berdiri dan menatap seluruh pasang mata yang sedang menatapnya penuh tanya. Tanpa buang-buang waktu lagi, Rafa langsung berbalik dan meninggalkan mereka semua.
Sebelum benar-benar melewati pintu kelas, Rafa berhenti sejenak.
"Gue terima"