Sepulang sekolah, Nari langsung melakukan aktivitasnya seperti biasa. Berkutat di dapur untuk membuat gorengan adalah hal wajib yang harus Nari lakukan demi mempertahankan perekonomian keluarga.
Pukul empat sore, Nari sudah siap untuk mengantar dua toples pisang goreng. Setelah berpamitan dengan neneknya, Nari segera menuju ke warung Bu Nina.
Awan gelap membuat Nari semakin terburu-buru berjalan. Jarak warung Bu Nina tinggal lima ratus meter lagi. Nari tidak boleh sampai kehujanan.
Setelah melewati beberapa belokan, akhirnya Nari bisa sampai juga meski sedikit terlambat. Jalanan yang dilalui Nari tadi sempat terjadi kecelakaan, sehingga membuat tempat tersebut dikerumuni oleh masyarakat sekitar.
Sesudah mendapat bayaran untuk penjualan pagi tadi, Nari langsung beranjak dari sana. Meski begitu, Nari tidak langsung pulang. Cewek itu ingin mampir disuatu tempat terlebih dahulu.
Sebuah toko kecil yang berada di pinggir jalan dengan cat berwarna cokelat menjadi tujuan Nari. Sebenarnya ia tidak tahu apakah benda yang akan ia beli akan disukai Bondan.
Nari memang akan menghadiri ulang tahun Bondan nanti malam. Sejujurnya, Nari tidak ingin datang, tapi Bondan terus memaksa cewek itu. Katanya ibunya akan marah jika teman-teman Bondan tidak datang semua.
Nari yang memang memiliki uang tidak cukup hanya bisa membelikan hadiah kecil untuk Bondan. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya bagi Nari untuk menghadiri sebuah pesta, jadi maklum saja kalau Nari tidak ahli memilih hadiah.
Sebenarnya bukan Bondan saja yang membujuk Nari untuk datang namun Caca dan Hasna juga ikut membujuk.
Setelah mengelilingi toko itu, Nari akhirnya mendapat hadiah yang sesuai dengan badget yang ia punya. Sederhana namun bermanfaat, pikir Nari.
"Bu saya beli yang ini" Nari meletakkan dua pulpen dan dua buku di meja kasir.
"Semuanya sepuluh ribu mbak" kasir wanita itu menyerahkan kantong plastik hitam kecil kepada pengunjungnya.
Nari kemudian menyerahkan selembar uang lalu mengambil belanjaannya itu, "Terima kasih"
Seingat Nari saat di toko tadi, ia sempat melihat jam yang bergantung di dinding kasir. Pukul lima sore, itu artinya Nari masih memiliki waktu dua jam sebelum berangkat ke rumah Bondan.
***
Sesuai dengan pesan yang dikirim oleh Jesya tadi, Nari segera berpamitan pada neneknya. Cewek itu awalnya tidak diberi izin keluar, apalagi sudah pukul setengah tujuh malam. Namun, Nari mengatakan bahwa ia akan dijemput oleh teman kelasnya dan neneknya pun akhirnya memberi izin.
Sudah hampir lima menit Nari menunggu di pinggir jalan raya, namun Jesya belum juga datang. Nari menendang-nendang kerikil kecil untuk menghilangkan rasa bosannya.
Tin...tin..tin...
Akhirnya Jesya datang dengan motor matic hitamnya. Setelah memberi helm kepada Nari, mereka langsung menuju ke rumah Bondan.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di seuah rumah dengan halaman yang sangat asri. Selain itu, beberapa motor dan dua mobil juga terparkir di sana.
Rumah ini memiliki halaman yang cukup luas.
Jesya dan Nari lalu memasuki pagar kecil yang sudah terbuka itu. Teman-teman sekelas mereka juga sudah berada di sana.
Ada yang duduk di teras, ada yang sedang menyiapkan alat pemanggangan, ada yang bersantai di
gazebo sambil bermain gitar, dan ada juga yang masih setia duduk di atas motor masing-masing.
Dari yang Nari lihat, orang-orang yang datang ke rumah Bondan adalah teman sekelasnya sendiri. Mungkin Bondan hanya mengundang 11 IPA 2 saja.
"Akhirnya datang juga lo Jes, Nar" Bondan langsung menyambut setelah Nari dan Jesya duduk di teras.
Nari menyerahkan hadiah kepada Bondan "Oh iya Bon, ini buat lo" Bondan terlihat senang menerima hadiah Nari "Selamat ulang tahun ya, Bon"
"Makasih ya, Nar"
Nari tersenyum melihat Bondan yang sangat menghargai hadiahnya yang hanya berbungkus kertas koran. Nari tahu bahwa hadiah itu tidak ada apa-apanya dengan hadiah temannya yang lain, tapi ikut senang melihat Bondan yang juga senang.
"Bon, happy birthday ya" Jesya juga memberikan hadiah kepada Bondan.
"Makasih ya, Jes"
Jesya mengangguk lalu kembali sibuk berbincang dengan Putri yang kebetulan baru datang juga.
Awalnya Nari pikir pakaian yang ia kenakan tidak cocok untuk sebuah pesta yang identik dengan gaun. Namun, setelah melihat teman-temannya yang juga hanya mengenakan kaus dan celana jeans seperti dirinya, membuat kepercayaan diri Nari kembali bangkit.
"Udah datang semua ya?" Mama Bondan keluar membawa sebuah wadah stainless besar berisi sosis dan irisan danging mentah.
"Iya, Ma. Semua teman Bondan datang" Bondan tersenyum melihat seluruh teman kelasnya datang.
"Kirain ada yang gak datang" Mama Bondan menatap jahil anaknya "Awas aja kalau gak lengkap, Mama bakal potong uang jajan kamu"
"Loh, kok mereka yang gak datang tapi Bondan yang kena?"
"Terserah Mama dong" Wanita berbalut daster berwarna merah muda itu langsung menuju ke gazebo.
Bondan mendecih tidak suka "Yang anaknya siapa sih?"
Roni yang posisinya berada di dekat Bondan cuma tertawa melihat interkasi antara ibu dan anak itu, "Emak lo emang gitu?"
Bondan menatap sinis Roni yang masih berusaha meredakan tawanya, "Kenapa emangnya? Sirik lo?"
***
Pesta ulang tahun Bondan benar-benar sangat seru. Sedaru tadi, Naei terus dibuat terkagum-kagum dengan semua hal yang berada di sini.
Makanan, menyanyi, dan games dadakan dari Dino membuat Nari bisa merasakan masa-masa remaja yang menyenangkan. Segala beban sekolah dan perekonomiannya seakan meringan meski hanya beberapa saat saja.
"Na, nyanyi dong!" Caca meminta cewek di seberangnya untuk bernyanyi. Namun yang disuruh menolak.
"Ogah! Gue mau makan"
"Bon, bawa masuk gih semua makanan lo!" Gara menyenggol Bondan yang duduk di sampingnya.
Mereka semua sedang duduk di atas tikar di salah satu halaman Bondan yang ditumbuhi rumput.
Bondan yang mendengar ucapan Gara cuma diam, tak ingin menjawab. Lagipula, mau ia masukkan makanannya ataupun tidak tetap saja Hasna akan bisa makan. Cewek itu memang tidak punya malu.
"Oh iya kemari kan, Lala dapat dare buat nyanyi" Caca mengingat kembali tantangan yang diberi Kevin kepada Lala.
Lala yang hampir melupakan tantangan itu cuma bisa menghela napas pasrah. Ia langsung menatap Kevin yang sibuk dengan ponselnya, "Lagu apa nih, Vin?"
Kevin mengangkat kepalanya lalu berpikir sebentar. Cowok itu memang sedang melihat-melihat potingan beberapa artis di i********:, tapi pembicaraan teman-temannya masib ia tangkap dengan baik. "Terserah lo aja deh"
Lala dengan spontan menyebut lagu kesukaannya, " Seandainya dari Vierra ya? Gue lagi suka banget soalnya"
Anak-anak yang lain cuma mengiyakan saja. Lala memang tipe cewek yang lebih suka dengan lagu lawas.
Beni yang memang membawa gitar langsung mengiringi Lala bernyanyi. Kebetulan ia juga hafal dengan semua kunci gitar lagu Vierra.
"Kelak kau kan menjalani hidupmu sendiri. Melukai kenangan yang telah kita lalui~"
Semuanya diam mendengar suara merdu Lala yang penuh penghayatan itu. Lala memang salah satu anggota paduan suara sekolah, jadi tak heran vokalnya sangat terlatih.
Saat sampai di reff semuanya pun ikut bernyanyi.
"Seandainya kau tahu ku tak ingin kau pergi, meninggalkan ku sendiri bersama bayanganku. Seandainya kau tahu aku kan selalu cinta, jangan kau lupakan kenangan kita selama ini~"
"Rafa nanyi juga?" Nari terkejut saat tidak sengaja melihat Rafa yang sedang menatap ponselnya, namun dengan mulut yang sepertinya juga ikut bernyanyi.