Sesuai dengan kesepakatan 11 IPA 2, mereka akan menyuruh Nari untuk ke kelas 12 IPS 1.
Nari sudah meminta Hasna untuk menemaninya ke koridor lantai tiga, namun cewek teman sebangkunya itu malah tidur. Tidak habis akal, Nari lalu memohon kepada Caca agar mau membantunya, tapi yang dicari justru hilang entah ke mana. Mau menyuruh teman yang lain, tapi Nari tidak enak. Lagipula ia hanya dekat dengan Caca dan Hasna.
"Nar, lo tunggu siapa lagi sih?" Raya yang sejak tadi melihat Nari tidak pergi juga, membuat cewek itu kesal.
"Iya nih, buruan dong Nar. Gue mau lihat Kak Haris" Karin ikut menimpali.
Raya dan Karin memang sangat menyukai permainan dari Haris. Cowok yang sebentar lagi akan melepas jabatannya sebagai kapten basket SMA Garuda itu, memang menjadi sorotan tiap kali beraksi di lapangan.
Nari menatap kedua cewek itu, "Gue gak mau sendirian ke sana" Nari menggeleng kuat.
"Ya lo suruh siapa gitu buat ngantar lo" Raya melihat sekelilingnya. "Fira! Ngantar nih anak dulu ya?"
Fira yang sedang menonton pertandingan catur antara Dino dan Kevin langsung mendongakkan kepalanya dan berbalik menatap Raya, "Hah?"
Raya menyimpan kosmetik yang ia pakai tadi ke dalam tas, "Lo anter Nari ke XII IPS 1"
Fira membelalakkan matanya tidak terima, "Kok gue sih?"
"Sok sibuk banget sih lo. Cuma anter doang kok"
"Yaudah kalau gitu, lo aja Ya. Kenapa malah nyuruh gue"
Raya memutar malas kedua matanya, "Serah lo deh"
Nari yang sedari tadi cuma diam memperhatikan kedua temannya yang saling berargumen, akhirnya ikut nimbrung "Kalau gak ada yang bisa, gue sendiri aja deh"
Karin langsung berseru, "Tunggu dulu, Nar!"
Karin lalu menyimpan bekalnya yang sudah habis ia makan. Cewek itu meneguk botol minumnya dengan terburu-buru, "Ayo gue anter lo!"
***
Nari dan Karin sudah berada di lantai kelas 12, tepatnya di depan pintu 12 IPS 1. Kedua cewek itu hanya mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Mereka tidak berniat membuka lebar lalu masuk ke dalam.
"Lo lihat dia gak Nar?" Karin beralih mengintip di jendela sambil berjinjit.
"Enggak. Kayaknya dia lagi keluar" Nari menarik kepalanya lalu mundur.
"Sial!"
Nari langsung menegakkan punggungnya saat merasa menabrak sesuatu. Dengan takut-takut ia berbalik.
Seorang cewek dengan rok diatas lutut dan baju yang diperkecil tampak sangat marah. Mata Nari lalu melihat dengan jelas ada tumpahan jus di seragam cewek itu.
"Mati gue" Nari merutuki perbuatannya barusan.
"Lo..." cewek itu menunjuk wajah Nari dengan geram.
"Maaf kak, maaf. Saya gak sengaja" Nari berniat membersihkan seragam cewek itu, namun langsung dtepis kasar.
"Lo nyari masalah sama gue hah?!" cewek itu maju selangkah dan membuay Nari mundur hingga punggungnya menyentuh pintu.
Nari menggeeng kuat, mana mungkin dia ingin mencari masalah apalagi dengan seniornya sendiri.
"Gue gak mau tahu, pokoknya lo harus ganti baju gue!" Nari terdorong ke belakang hingga masuk ke dalam kelas.
Satu dorongan di bahu kanan, kemudian disusul di bahu kiri. Berulang-ulang hingga Nari terpojok di tembok putih kelas.
"Hanari Anista" cewek itu membaca papan nama Nari, "Lo bakal habis sama gue"
Nari memejamkan matanya rapat-rapat saat cewek itu mulai mengangkat tangan. Nari tidak pernah menyangka akan mendapat perlakukan seperti ini di sekolah barunya. Nari pikir ia hanya akan mendapat pukulan di sekolah lamanya saja, tapi itu cuma mimpi belaka.
Nari yakin tamparan dari cewek di hadapannya ini pasti akan meninggalkan bekas, terlihat dari matanya yang sangat berapi-api ingin membalas perbuatan Nari yang tidak sengaja menumpahkan jus di seragam putihnya—
"Lepas Ris!"
"Gue bilang lepas!"
Nari membuka matanya saat tidak merasa apapun yang memukul pipinya.
"Ran! Berhenti buat keributan!"
Nari terkejut melihat Haris di depannya. Bukan cuma itu, cowok itu juga sedang mencengkeram tangan cewek berpakaian ketat itu.
Haris menolongnya.
"Kenapa lo belain dia hah?!" cewek yang diketahui Nari bernama Ran itu menarik paksa lengannya hingga terlepas dari cengkraman Haris.
Haris melirik sekilas Nari lalu kembali menatap tajam Ran, "Pergi sekarang!"
Ran mendengus kasar, "Memangnya dia siapa sampe lo belain dia hah?!"
Siswa siswi yang masih berada di kelas 12 IPS 1 menatap drama ketiga orang di depan kelas itu. Bahkan ada yang sibuk menebak-nebak alasan Ran marah dan alasan Haris membela Nari.
Tidak biasanya kedua orang IPS itu ribut.
"Lo gak perlu tahu dia siapa" Haris mendorong kasar bahu kanan Ran hingga membuat Nari terpekik kaget, "Pergi dari kelas gue SEKARANG!" bentak Haris di akhir kalimatnya.
Suasana kelas semakin tegang. Bahkan Karin yang berada di depan pintu hanya bisa menatap kasihan sekaligus penasaran kepada Nari. Ia ingin masuk dan menarik Nari keluar namun ia takut dengan Haris dan Ran.
Dua manusia berandal dari kelas IPS.
Bukannya takut Ran justru tertawa hambar, "Emangnya dia siapa sih?" Cewek itu menilai Nari dari atas hingga bawah, "Cewek lo?"
Haris yang sudah tidak tahan dengan keras kepala Ran, sontak mendorong kedua bahu Ran hingga membuat cewek itu terdorong jauh sampai akhirnya terjatuh karena tidak sanggup menyeimbangkan tubuhnya.
"Kakak apa-apaan sih?!" Nari menatap marah ke arah Haris. Ia lalu berjalan ke tempat Ran terjatuh.
"Kakak gak papa?" Naru berjongkok di samping Ran, berniat membantu cewek itu itu untuk berdiri.
"Minggir lo!" Ran langsung berdiri, "Gak usah sok baik sama gue. Dasar bodoh!"
Haris yang tiba-tiba saja sudah berada di depan Nari langsung menarik cewek itu untuk berdiri di belakangnya.
Nari yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga sampai terjadi aksi dorong mendorong, cuma mengikuti penuturan Haris yang memintanya untuk tetap di belakang cowok itu.
"Gue sekarang paham" Ran menggangguk pelan. Cewek itu benar-benar tidak berniat pergi. Ia justru menatap Haris dengan nyalang, "Lo berdua benar-benar pasangan BODOH!"
Haris tahu dia tidak pintar, namun entah mengapa ia tidak terima dikatakan bodoh oleh cewek seperti Ran. Rasanya aneh saat yang lebih buruk mengatakan hal buruk kepada orang lain.
"Lo gak sadar kalau yang lebih buruk di sini itu siapa?" Haris menaikkan sebelah alisnya bermaksud memojokkan Ran.
Ran yang tahu ke mana arah pembicaraan Haris langsung beranjak dari sana. Namun sebelum benar-benar hilang di balik pintu, Ran itu berhenti sejenak.
"Gue gak bakal lepasin cewek lo!"
***
Nari, Karin, dan juga Haris sedang berada di kantin. Mereka bertiga membicarakan soal dare yang Nari berikan kepada Rafa namun juga melibatkan Haris.
"Mau kan, Kak?" tanya Nari setelah menjelaskan keinginannya.
Haris yang tidak langsung menjawab sontak membuat Nari dan Karin tertunduk takut. Sepertinya melibatkan Haris adalah hal yang salah.
Nari berjanji kepada dirinya sendiri akan segera menemui Hasna. Ide gila ini berasal dari cewek itu!.
Haris mengehal napas lalu menatap kedua adik kelasnya di depannya itu, "Kenapa kalian nyuruh gue? Kepada gak orang lain aja?"
Nari dan Karin bertukar pandang. Mereka berdua tidak menduga akan diberi pertanyaan seperti itu.
Diam bukan jalan keluar. Maka Nari pun segera angkat bicara setelah memikirkan alasan yang pas, "Gini, Kak, sebenarnya ini bukan sekedar dare. Kami maunya Kak Haris dan Rafa tidak saling menyakiti lagi. Jadi melalui pertandingan ini kalian bisa beradu dengan sehat"
"Kalau gue gak mau gimana?" tantang Haris.
Karin yang sejak awal terus menundukkan kepalanya karena malu bisa semeja dengan salah satu pentolan SMA Garuda, tiba-tiba berseru "Jangan dong, Kak!"
Haris mengangguk pelan, "Oke gue bakal ikutin ucapan kalian tapi gue gak mau tanding tanpa imbalan"
Nari mengernyit tidak paham, "Loh gue kan udah jelasin kalau pertandingan ini bisa buat Kakak dan Rafa beradu dengan sehat. Gak bakalan ada acara lebam-lebam. Bukannya itu tawaran yang bagus?"
Haris menatap geli Nari, "Sayangnya gue lebih suka adu jotos"
Tiba-tiba, Haris berdiri dari kursinya "Kalau gak ada lagi yang mau kalian omongin, gue mau kembali ke kelas"
Haris berjalan keluar dari kantin namun langkahnya tiba-tiba terinterupsi dengan seruan Nari.
"Yaudah deh, Kakak maunya apa?"