"Nar, Kak Haris minta apaan?" Karin dan Nari sudah berada di kelas. Pelajaran sekarang adalah Matematika, namun guru yang bersangkutan belum juga datang.
"Adalah.." Nari malas membahas permintaan Haris itu. Karena memang Haris belum menyampaikan permintaannya apa. Tapi apa yang dijelaskan Haris di kantin sudah membuat Nari malas untuk melanjutkan pertandingan ini.
"Kasih tahu dong, kepo banget gue!" Karin memang sempat ke toilet saat Haris mengatakan keinginannya. Jika perutnya tidak mulas mendadak sudah pasti ia tidak akan pergi ke mana-mana.
Nari menatap Karin dan sedetik kemudian cewek itu langsung merengek, "Batalin aja ya pertandingannya. Gue gak mau... Gue gak mau..."
"Dih, mana bisa batalin gitu aja" Karin menolak keras permintaan Nari. Mana mungkin setelah adanya drama heboh di 12 IPS 1, Nari justru ingin membatalkan pertandingan ini dengan seenaknya. Lagipula kedua belah pihak sudah setuju.
Berbicara tentang drama, Karin kembali teringat saat Haris menolong Nari. Cowok yang selalu dingin itu tiba-tiba menolong anak baru?.
"Eh, Nar!" Karin menyadarkan Nari yang masih merengek. Cewek itu memegang kedua pundak Nari, "Lo beneran pacaran sama Kak Haris?"
Nari yang mendapat tuduhan tidak berdasar itu menggeleng kuat, "Enggaklah!"
Karin memicingkan mata curiga, "Terus kenapa dia nolong lo?"
"Lah, emangnya salah kalau nolong gue?"
"YA SALAHLAH. GAK ADA SEJARAHNYA KAK HARIS NOLONGIN ORANG ASING APALAGI CEWEK!"
Nari membuka mulutnya mendengar teriakan Karin. Bukan hanya Nari, tapi seluruh siswa 11 IPA 2 juga berekspresi yang sama dengannya.
Haris menolong Nari, si siswi baru.
"Kok bisa?" Caca yang duluan mendekat ke pintu kelas, di mana Nari dan Karin masih berdiri di sana.
"Serius lo? Sama Kak Haris?" Fira juga ikut mendekat sambil bergantian menatap Nari dan Karin.
Karin mengangguk mantap, "Gue lihat sendiri Kak Haris nolongin Nari!"
Jesya ikut bertanya dari tempat duduknya, "Bentar-bentar gua masih gak paham" Jesya menatap Karin, "Nari ditolongin Kak Haris. Tapi yang lo maksud itu Kak Haris yang mana dulu?"
Karin memutar malas kedua bola matanya, "Ya abangnya si Rafa-lah, emangnya siapa lagi?"
Nari cuma bisa meringis melihat seluruh tatapan tertuju pada dirinya. Di tatap seperti ini membuat dirinya merasa malu. Memangnya kenapa kalau ditolong sama Haris? Kenapa respons teman-temannya sangat berlebihan?.
"Nar, sekarang lo jelasin sekarang kronologinya sampe-sampe si Pangeran sekolah nolongin lo" Raya ikut nimbrung meski tetap duduk dikursinya.
"Kalian kenapa sih?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari bibir mungil Nari.
Untuk kedua kalinya, Nari mendapat tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya. Ini benar-benar aneh, pikir Nari.
"Nar, lo sebenarnya tahu gak sih Kak Haris itu siapa?" Siska ikut mendekat juga sambil membawa cermin kecilnya. Cewek itu awalnya sedang fokus memoleskan liptint di bibirnya, namun teriakan Karin membuat Siska harus berhenti melanjutkan aktivitas rutinnya itu.
Nari berpikir sebentar. Ia memang tidak mengenal baik Haris, hanya tahu bahwa dia adalah kakak kandung dari Rafa yang sering melakukan kekerasan pada adiknya sendiri.
Nari menggeleng pelan ke arah Siska.
"Serius lo gak tahu dia siapa?" Siska menatap tidak percaya Nari.
"Gue cuma tahu di kakaknya Rafa, bener kan?" Nari meminta persetujuan dari Karin, dan cewek itu menggangguk.
"Lo itu ditolong sama Kak Haris gak sih? Atau lo cuma ngehalu?"
"Nari gak halu, karena gue juga lihat gimana dia ditolong sama Kak Haris dari Kak Ran!" tegas Karin. Cewek itu paling tidak suka jika diragukan.
Jeka yang baru saja ingin masuk ke kelas, berhenti di ambang pintu. "Kalian pada ngapain di sini? Mau ngamen ya?"
Tidak ada yang merespons ucapan Jeka. Semuanya masih fokus dengan Nari dan segala kejutan dari cewek itu.
"Biar gue aja yang jelasin, Nar" Karin langsung menjelaskan kronologinya, dari saat mereka mengintip kelas 12 IPS 1 hingga terjadi aksi dorong-dorongan lalu berakhir dengan ancaman dari Haris kepada Ran.
"Lo sebenarnya ada hubungan apa sih sama Kak Haris?" tanya Fira yang mewakili seluruh teman sekelasnya yang juga penasaran.
"Gak ada" jawab Nari dengan jujur.
"Terus kenapa dia nolong lo?" tambah Fira masih tidak puas dengan jawaban Nari.
"Gue gak tahu, tapi emangnya salah ya kalau nolongin orang lain?"
"Ya–"
Jeka langsung masuk ke dalam kelas dan menabrak kasar orang-orang yang masib berdiri di dekat pintu.
"Bubar-bubar, Bu Arin datang woi!"
***
Bu Arin mulai mengajar seperti biasa. Memberi materi, soal, dan mengadakan kuis sebagai nilai tambahan sudah terbiasa 11 IPA 2.
Setelah Bu Arin menyelesaikan kelas siang itu, Pak Darko pun langsung masuk untuk mengajar Bahasa Inggris. Metode pembelajaran Pak Darko sangat disukai oleh semua siswa, termasuk 11 IPA 2. Penjelasan yang sering kali diselingi tebak-tebakan dalam Bahasa Inggris membuat seluruh siswa sangat semangat mengikuti pelajaran Pak Darko. Meski ada yang kurang mahir berbahasa asing itu, namun semuanya tetap antusias. Lagipula Pak Darko tidak akan marah jika ada yang menjawab dalam Bahasa Indonesia.
Setelah hampir satu jam mengajar di kelas yang terkenal dengan kerusuhannya itu, Pak Darko kemudian mengakhiri pelajarannya hari ini.
"Stand up, please!" Ram memberi instruksi kepada teman-temannya.
"Say thanks" Tambah Ram.
"Thank you, Sir" seluruh siswa 11 IPA 2 memberi hormat kepada Pak Darko yang setelah itu kemudian berjalan keluar kelas.
Usai pembelajaran Bahasa Inggris, bel istirahat kembali berbunyi. Waktu istirahat berlangsung selama tiga puluh menit. Setelah itu, proses proses pembelajaran pun kembali dan terus berganti tiap jam hingga akhirnya bel pulang berbunyi.
Kring...
"Sekian pembelajaran hari ini. Jangan lupa kerjakan PR yang Ibu kasih" Bu Mawar menatap seluruh muridnya yang sudah siap untuk pulang "Hati-hati di jalan ya"
"Iya bu" jawab Ram dan Dino, lalu diikuti yang lain.
"Sebelum kita pulang, marilah kita berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Berdoa di mulai" Ram memimpin teman-temannya untuk berdoa sebelum pulang.
"Berdoa selesai" Ram berdiri dari kursinya "Beri salam!" seluruh siswa ikut berdiri lalu menundukkan kepala.
"Terima kasih, Bu!"
***
"Nar, pertandingan besok jadi kan?" Putri bertanya kepada Nari saat sampai di depan gerbang.
Nari mengangguk singkat, "Iya, jadi kok"
Dino dan Ram berjalan ke arah mereka, "Nar, besok kan tandingnya?" tanya Dino.
Nari kembali mengangguk, "Iya"
Ram menatap sebentar ke arah Nari lalu berganti ke Putri, "Kalian berdua naik apa?"
"Oh, kalau gue sih naik ojol" jawab Putri sambil menatap ponselnya.
"Eh, ojol gue udah di depan nih. Duluan ya" Putri pamit untuk pulang.
"Hati-hati, Put" kata Nari sebelum Putri beranjak pergi dari sana bersama ojek online yang ia pesan saat bel berbunyi.
"Kalau lo, Nar gimana?" tanya Dino sambil melirik jam tangannya.
"Ya jalan kaki kayak biasa"
Tin!
Ram tiba-tiba sudah berada di samping Nari dan Dino bersama motor matic merahnya. "Ayo, Nar, gue anter" ajak Ram sambil menyerahkan helm.
Nari mengernyit bingung, "Lo kok tiba-tiba datang pake motor?." Cewek itu jelas bingung, karena baru tadi Ram berdiri di sampingnya tapi sekarang sudah mengendarai motor saja.
"Ya gue ambil dong"
Nari hanya ber-oh ria menanggapi ucapan Ram. Lalu cewek itu menatap Dino, "Terus, lo sama siapa?"
"Ah, gua ada latihan futsal hari ini" jawab Dino.
"Yuk, Nar. Keburu sore nih" Ram langsung menarik tangan Nari untuk mengambil cepat helm.
"Kalau gitu, gue sama Ram duluan ya" Nari berpamitan sebelum Ram melajukan motornya keluar sekolah.
"Iya, hati-hati lo berdua"