11 IPA 2
Jesya: @Caca, lo udah masukin Nari ke grup belum?.
Riska: Iya nih, gue mau minta jawaban yang tadi.
Ram: Nari udah masuk belum sih?
Raya: @Caca, Nari kapan di masukin sih?
Mira: @Ram kayaknya belum.
Bondan: CAMELIA PUTRIIII!!!
Hasna: Santai Bon, gak usah ngegas juga.
Dino: Guys, ada yang gak sih nomor lima?
Bondan: Gue santai kok Na :).
Fira: Yaelah, kan tadi udah gue bilang, Bu Arin gak akan masuk besok.Gak usah panik nyari jawaban.
Raya: @Dino bilang aja lo mau minta dari nomor satu sampai dua puluh. Gak usah sok sok-an nyari nomor lima.
Dino: -_-
Fira: Gue di kacangin :")
Mia: Dinosaurus, gue udah selesai nih, cuma tinggal nomor lima, tujuh, sebelas,delapam belas sama dua puluh.
Dino: Itu sih belum selesai Mia sayang. Tapi gak papa deh, kirim ya:)
Jesya: Kalau gue sih tinggal nomor lima doang.
Bondan: Gak usah pamer Jes. Gue tau lo rangking dua.
Jesya: SIAPA YANG PAMER?!
Jeka: Bahas apaan nih?
Gara: Si Jekong baru nongol. Dari mana aja lo bro?
Jeka: @Gara gak usah sok b**o lo.
Jesya: sent a picture
Bondan: Makasih loh Jesya Cantikkk:)
Raya: (2)
Gara: (3)
Hasna: (4)
Dino: (5)
Mia: (6)
Ram: (7)
Fira: (8)
Kiko: (9)
Dimas: (10)
Caca: Sorry guys, gue baru buka grup.
Caca: Gue udah coba masukin Nari ke grup, tapi kayaknya dia gak punya WA deh.
Ram: Coba lo telpon aja Ca.
Sari: Nomor lima gimana dong?
Caca: Oke @Ram
Raya: Andai aja gue gak phobia sama mtk:")
Jeka: Kalau b**o ngomong aja Ya, gak usah pake alesan.
Raya: Awas lo Kong!
Bondan: Yang dapet rangking atas bagi jawabannya dong :)
Rafa membaca semua pesan yang dikirim teman-temannya. Meski begitu, ia tak berniat membalas apapun. Apalagi dengan pesan terakhir yang dikirim Bondan. Sangat jelas itu tertuju padanya.
Jujur saja setiba di rumah tadi, Rafa langsung menuju meja belajarnya. Ia masih mencoba mengerjakan soal yang masih tersisa. Tinggal satu, tapi jawabannya tak kunjung ia dapat.
Ini bukan pertama kalinya Rafa kesulitan mengerjakan soal matematika. Meski menyandang gelar peringkat satu di dalam kelas, tetap saja ia tidak sepintar yang orang-orang lihat.
"Widih, gila! Nari udah selesai guys!" Ucapan Caca siang tadi, masih terngiang di kepala Rafa.
Rafa, masih penasaran bagaimana bisa Nari mengerjakan soal itu dengan tuntas. Bukannya meremehkan, tapi dari yang Rafa lihat, Nari tidak ada istimewa-istimewanya. Tapi sekarang, ia mulai meragukan pengamatannya itu.
Tunggu!
Jawaban Nari belum tentu benarkan? Bisa saja dia hanya menjawab dengan asal.
Rafa kembali menatap buku matematikanya. Ia harus bisa menyelesaikannya. Ia tidak boleh kalah dengan siswi baru itu.
Rafa segera menghubungi guru les privatnya. Ia yakin dengan bantuan guru itu, ia bisa menuntaskan tugasnya.
"Lo bukan saingan gue, Hanari Anista"
***
Sambil menggoreng, Nari menggumamkan rumus-rumus fisika yang diberikan gurunya siang tadi. Mengerjakan dua hal sekaligus, sudah biasa bagi Nari. Jadi, tak usah heran jika melihat Nari menghafal di mana saja. Katanya, biar materinya tidak lupa.
"Momen inersia sama dengan massa benda dikali jarak benda dari sumbu putar pangkat dua"
Setelah berwana kecoklatan, Nari mengangkat gorengannya. Meniriskan terlebih dahulu, lalu menaruhnya ke piring di atas meja makan. Sambil menunggu hingga sedikit dingin, Nari menuju ke rak piring untuk mengambil toples berukuran sedang.
"Momen gaya sama dengan jari-jari dikali gaya"
Setelah meletakkan toples itu di samping gorengannya, Nari berjalan lagi ke tempat pencucian piring. Tidak terlalu banyak yang harus ia cuci, tapi tetap saja aktivitas Nari lakukan sejak pulanh sekolah hingga sore ini tanpa makan siang sedikit pun, cukup membuatnya begitu lelah.
"Ri, kamu sudah pulang ya?"
Mendengar suara pintu yang terbuka, Nari langsung berbalik dan mendapati neneknya berjalan ke arahnya, "Iya Nek"
Nari memasukkan piring serta gelas yang ia cuci ke dalam baskom berukuran kecil, lalu mengangkatnya. "Nenek kenapa keluar sih? Ayo masuk, di sini dingin"
Nari beserta neneknya kemudian masuk ke dalam rumah.
Kamar mandi dan tempat mencuci baju ataupun piring memang berada di luar rumah. Lebih tepatnya di samping sumur. Walaupun begitu, Nari tidak pernah mengeluh. Meski ia sering kali terbangun di malam hari untuk sekedar buang air, Nari tidak pernah merasa takut. Ia sudah terbiasa keluar dengan sebuah lilin kecil untuk memecah kegelapan di belakang rumahnya.
"Duduk, Nek" Nari menarik kursi di meja makan, setelah meletakkan baskom di dekat rak piring.
"Iya, makasih ya Ri" balas neneknya sambil mengusap lembut gadis enam belas tahun di sampingnya.
"Nenek kenapa keluar tadi?"
"Ini," Nenek Nari memberikan ponsel yang ia bawa dari kamar cucunya itu. "Dari tadi bunyi terus"
Nari menerimanya kemudian muncul kerutan kecil di dahinya."Panggilan dari siapa?" gumam Nari.
"Kenapa Ri?"
"Ada yang nelpon Nari, Nek. Tapi nomornya gak di kenal" jawab Nari.
Neneknya hanya mengangguk kecil. "Ri sekarang kamu makan ya. Biar Nenek yang masukin pisang gorengnya ke toples"
"Iya, Nek" Nari kemudian beranjak dari sana menuju lemari kecil yang biasa ia gunakan untuk menyimpan makanan.
***
Saat sedang sibuk meletakkan baskom dan ember di kamarnya, tiba-tiba saja ponsel Nari berdering.
Nari memgambilnya dari tempat tidur, lalu mengernyit.
"Nomor asing lagi?" batin Nari.
Dari pada penasaran dengan nomor asing yang menelponnya malam-malam begini, Nari memilih untuk mengangkatnya saja.
"Halo?"
"Nari! Lo ke mana sih?" suara di seberang sana kelihatannya sangat marah.
Nari sangat bingung sekarang. Orang yang menelponnya itu mengetahui namanya. "Ini dengan siapa?"
"Ini gue, Caca"
Nari menjauhkan ponselnya dari telinga sambil menatap nomor di layar ponselnya.
"Nomor yang sama dengan si penelpon tadi sore" pikir Nari.
"Maaf,Ca. Tadi gue sibuk" Nari meminta maaf karena tidak menjawab panggilan Caca sore tadi.
"Iya-iya gak papa kok" terdengar helaan napas, "Gue cuma mau nanya, lo punya WA apa enggak? Soalnya anak-anak nyariin lo di grup kelas"
Alih-alih menjawab pertanyaan Caca, Nari justru penasaran dengan teman sekelasnya mencari dirinya, "Loh, mereka kenapa nyari gue?"
"Mau minta jawaban nomor lima, Nar"
Nari hanya ber-oh-ria menanggapi ucapan Caca.
"Jadi sebenarnya, lo punya WA apa enggak nih? Biar gue bisa kasih tahu yang lain. Kesel gue di teror mulu sama mereka" Dari nada bicaranya saja, Nari sangat paham bahwa Caca benar-benar kesal.
"Maaf Ca,...Aduh!"
"Lo kenapa Nar?" Caca kaget bukan main saat mendengar pekikan Nari.
"Ca, maaf ya, besok aja kita lanjutin pembicaraannya. Gue mau ambil ember lagi. Selamat malam" Nari langsung mengakhiri panggilan secara sepihak dan terburu-buru kembali ke dapur.
Di tempat lain di sebuah kamar di lantai dua, Caca tampak cemas sekaligus bingung.
"Nari kenapa ya?" tanya Caca kepada dirinya sendiri.
Karena tidak ingin menebak-nebak, Caca lebih memilih mengabarkan teman-temannya di saja.
11 IPA 2
Caca: Sorry nih, tapi kayaknya nomor lima minta sama si Rafa aja ya, atau enggak besok deh di sekolah kalian lihat bukunya Nari.
Gara: Kok gitu sih?
Jesya: Yah :(
Mia: @Rafa minta jawaban nomor lima dong
Caca: Besok gue jelasin alasannya.
Tidak ada lagi balasan dari teman-temannya. Mungkin beberapa ada yang sudah tidur, apalagi sekarang sudah jam sebelas malam.
Walaupun sudah larut, tapi Caca masih enggan untuk beristirahat. Ia masih penasaran dengan ucapan Nari tadi.
"Ember? Lagi?"