Tidak seperti kelas lain yang masih berisi satu dua orang saja, siswa 11 IPA 2 justru hampir lengkap.
Hari masih sangat pagi, tapi kehebohan sudah tercipta di kelas ajaib itu. Apalagi kalau bukan untuk menyalin tugas yang sempat menjadi topik utama di grup kelas mereka.
Meja-meja yang seharusnya berderet dua saja di tiap barisnya, sudah berubah tidak terbentuk. Begitu pula dengan kursi-kursi yang sudah berserakan di mana-mana.
Para petugas piket di hari Selasa ini tidak bekerja sama sekali. Mereka juga ikut menyalin tugas bersama siswa lain. Sehingga, kondisi kelas bisa dikatakan sangat buruk.
Kotor dan berantakan.
Ram sebagai ketua kelas juga tidak mau ambil pusing dengan keadaan kelas sekarang. Ia lebih memilih menulis daripada harus membuang tenaga untuk menyuruh petugas piket, karena akan berakhir dengan sia-sia saja.
"Rafa! Pinjam buku tugas lo dong" Mia yang memang lumayan akrab dengan Rafa, meminta dengan tangan terangkat.
Rafa yang baru saja masuk ke dalam kelas, langsung membuka tasnya. "Nih" Rafa menyerahkan buku bersampul merah kepada Mia.
Meskipun Rafa jarang bergaul dengan teman kelas yang lain, namun ia lumayan akrab dengan Mia. Mereka berdua pernah satu kelas saat SMP, jadi tidak heran jika Mia tidak terlalu enggan berbicara dengan Rafa.
Rafa pun juga bersikap seperti itu kepada Mia. Jika ada yang tidak ia ketahui maka bertanya dengan Mia adalah salah satu alternatif selain pengurus kelas lain yang tidak akrab dengannya.
Setelah mendapat buku Rafa, Mia kembali ke tempat duduknya. Melihat Mia mendapat buku Rafa, siswa yang lain ikut ke meja Mia untuk menyalin juga. Sebenarnya, mereka bisa saja meminta langsung dengan Rafa, tapi sikap Rafa yang terkesan cuek dan dingin membuat mereka malas. Jangankan meminta jawaban, berbicara dengan Rafa saja bisa di hitung dengan jari dalam sehari. Sehingga mereka hanya akan menunggu Mia meminta lalu ikut melihat.
Meski begitu, mereka juga akan tetap meminta izin dan mengucapkan terima kasih kepada Rafa. Meskipun dengan cara berteriak.
"RAFA, NYOTEK NOMOR TUJUH YAA"
"GUE NOMOR LIMA DOANG RAF"
"GUE CUMA MAU NGECEK JAWABAN KOK"
"RAFA, GUE NYONTEK SEMUANYA YAA"
Sekumpulan orang yang memenuhi meja Mia, entah berdiri atau duduk langsung menatap ke arah pojok belakang. Siapa lagi kalau bukan Jeka.
"Kenapa?" Jeka sangat risih dengan tatapan mereka. Memangnya dia salah bicara?
"Eh Jekong, kalau g****k jangan terlalu kelihatan napa? Malu tau sama Rafa" Ratna menatap kasihan Jeka yang sepertinya tersinggung dengan ucapannya.
"LAH SUKA-SUKA GUE DONG MAU MINTA JAWABAN BERAPA AJA. RAFA JUGA GAK KEBERATAN KAN?" Dengan nyaringnya Jeka berteriak untuk bertanya kepada Rafa yang sibuk mendengarkan musik lewat headseat.
Rafa yang merasa namanya disebut langsung berbalik dan mendapati Jeka tersenyum lebar. Tidak mau ambil pusing dengan apa yang dilihatnya, Rafa kembali ke posisinya semula.
"Udah-udah, lo jangan pikirin Jeka. Lanjutin aja nulisnya" Kata Caca karena merasa terganggu dengan keributan kecil di kelasnya itu.
Mereka kembali fokus menyalin tugas Rafa. Meski ada beberapa yang duduk jauh dari meja Mia mereka tetap mendapat jawaban dari mereka yang sudah menyalin dengan lengkap.
Sebenarnya semua siswa kecuali Rafa, berencana melihat tugas Nari. Tapi berhubung cewek itu belum datang, mereka akhirnya meminta saja dengan Rafa daripada tidak selesai sama sekali.
Aktivitas penyalinan tugas secara massal ini dikarenakan Bu Arin yang sudah kembali. Ucapan Fira tentang kepulangan beliau tidak salah, tapi karena sesuatu yang tidak mereka ketahui, Bu Arin tiba-tiba saja sudah pulang. Itu pun, mereka mendengarnya dari pak satpam pagi tadi.
Soal Rafa, sebenarnya cowok itu baik dan tidak pelit tugas. Hanya saja sikapnya yang cenderung dingin, membuat teman-teman sekelasnya enggan berteman akrab dengannya kecuali Mia. Mereka semua akan berbicara dengan Rafa jika memang sangat diperlukan salah satunya saat kerja kelompok.
***
"Nar, pokoknya lo harus cerita yang tadi malam!" Setelah jam istirahat berbunyi, Caca langsung berbalik ke arah Nari yang memang duduk dengan Hasna tepat di belakang mejanya.
Hasna yang sedang meminum s**u cokelat hanya menyimak ucapan Caca dengan kening berkerut. Ia tidak berminat ikut dalam percakapan mereka yang tidak ia ketahui.
"Cerita yang mana?" Nari tidak merasa memiliki cerita menarik apapun tadi malam. Yang Nari ingat ia hanya berbicara dengan Caca tentang anak-anak kelas yang mencari dirinya. Hanya itu, pikir Nari.
"Pertama, soal lo punya WA apa enggak. Kedua, soal ember yang lo bilang"
"Hah? Ember?" Hasna yang sudah menghabiskan sekotak s**u cokelatnya, akhirnya ikut bergabung.
Nari mengingat kembali dengan apa yang terjadi semalam. Persoalan WA dan ember, seperti ucapan Caca.
"Oh..." Nari ingat sekarang dengan cerita yang di minta Caca, "Kalau soal WA, gue emang gak punya. Terus kalau soal ember, itu udah jadi kebiasaan gue kalau lagi musim hujan kayak gini"
Lupakan persoalan ada tidaknya w******p Nari. Caca lebih penasaran soal ember dan kebiasaan Nari saat musim hujan. Memangnya kenapa dengan ember? Apakah Nari ingin mengisi air saat musim hujan?. "Emangnya ember buat apaan Nar?"
"Atap rumah gue ada yang bocor, jadi harus pake ember sama baskom untuk tampung air hujannya"
"Kalau bocor di benerin aja Nar, biar lo gak usah repot-repot pake ember sama baskom" Usul Hasna.
"Nah bener tuh kata Hasna" Caca ikut berbicara.
Nari tersenyum mendengar usul temannya itu, "Sebenarnya udah gak bisa di benerin lagi. Harus ganti baru"
"Kalau gitu, lo ganti aja" kata Hasna lagi yang di setujui oleh Caca lewat anggukannya.
Lagi-lagi Nari tersenyum, "Gue belum punya uang buat beli atap. Apalagi bayar tukang"
***
Semenjak ucapan Nari tentang kondisi atap rumahnya, Caca dan Hasna mau tidak mau jadi kepikiran. Kondisi perekonomian Nari sepertinya tidak begitu bagus. Meski masih berupa perkiraan, tapi Caca maupun Hasna tidak bertanya lagi untuk memastikan pikiran mereka.
Walaupun saat membicarakan kondisi atap rumahnya yang begitu memprihatinkan bahkan harus memakai ember untuk menampung air hujan, tidak ada sedikit pun kesedihan di wajah Nari. Cewek itu, sepertinya sudah terbiasa membicarakan hal ini.
Jujur saja, setelah mendengar kondisi atap rumah Nari, setiap malam Caca selalu kepikiran dengan gadis itu apalagi jika hujan turun. Meski tidak tahu bagaimana kondisi asli atap rumah Nari, tapi menurut Caca sepertinya sudah sangat parah karena Nari bilang seharusnya diganti bukan di perbaiki. Jadi bisa dibayangkan seberapa susahnya Nari harus mengurus hal itu.
Malam hari yang harusnya di jadikan waktu beristirahat, justru membuat Nari semakin sibuk.