Sudah satu minggu lamanya Nari bersekolah di SMA Garuda dan satu minggu itu pula Nari mulai akrab dan mengenali karakter teman barunya.
Kata Ram, di kelas 11 IPA 2 ada tiga tipe murid. Awalnya Nari tidak mengerti tentang tipe yang di maksud itu, tapi setelah di jelaskan secara detail ia akhirnya paham.
Ada tipe Bodo Amat, seperti Jeka, Fira, Kiko, Bondan, Hasna, Sari, Dino, Siska ,dan Gara.
Terus tipe Ambis Parah, seperti Rafa, Jesya, Caca, Kevin, dan Ram.
Bahkan ada juga tipe Ngikut-ngikut, seperti Raya, Mia, Dimas, Karin, Putri, Beni, Lala, Rian, Roni, Jeni, Aryo, Tami, seluruh tipe Bodo Amat kecuali Jeka, dan seluruh tipe Ambis Parah kecuali Rafa.
Bisa dibilang Jeka dan Rafa adalah pemimpin masing-masing tipe,karena tidak pernah goyah.
Tapi masalahnya, Nari tidak tahu masuk dalam tipe apa. Ia tidak merasa sangat ambis ataupun bodo amat, apalagi plin-plan.
Nari tetap menyukai jam kosong, bermain dengan teman-temannya, tidak memusingkan tugas, tetapi memiliki pendirian yang kokoh.
Adakah tipe yang seperti itu?
Atau haruskah Nari membuat tipe untuk dirinya sendiri?
Daripada sibuk memikirkan tipe untuk dirinya, Nari lebih memilih untuk menuju perpustakaan. Pagi ini, ia seharusnya belajar olahraga, namun guru yang bersangkutan berhalangan hadir. Entahlah Nari juga tidak tahu, kenapa guru-guru yang mengajar di kelasnya sering berhalangan.
Karena hari masih pagi, Nari memilih untuk membaca ensiklopedia saja daripada tidak melakukan aktivitas apapun di kelasnya. Meski sudah lumayan akrab dengan teman sekelasnya, tapi Nari menolak saat diajak bergosip dan bernyanyi tidak jelas di dalam kelas. Bukan apa-apa, tapi Nari merasa tidak nyaman dengan kedua aktivitas tersebut.
"Ensiklopedia Kebudayaan Romawi" Nari membaca judul yang tertera di sampul buku yang ia pegang.
Sambil membuka lembaran buku yang ia pegang, sesekali Nari melirik keadaan sekitar yang bisa dibilang sangat sepi. Padahal dari Nari lihat, perpustakaan SMA Garuda sangat bagis dan memiliki banyak buku yang unik-unik, namun yang berkunjung sangat sedikit. Tatapan Nari akhirnya jatuh pada sebuah kursi yang tidak jauh dari rak buku keagamaan. Ia memilih duduk di sana saja karena sepertinya jauh lebih nyaman dan tidak ada satu pun orang di sana.
Fokus Nari dengan buku yang ia baca selama lima belas menit akhirnya pecah karena suara rintihan seseorang. Awalnya Nari tidak peduli dan lanjut membaca saja, namun lama kelamaan suara itu semakin keras bahkan berubah menjadi teriakan yang tertahan.
Nari sangat heran, kenapa tidak ada yang menegur si pembuat suara itu. Nari akhirnya memutuskan mencari guru yang biasa bertugas di perpustakaan untuk meminjam buku, agar membacanya di tempat lain saja daripada terganggu dengan suara itu.
"Loh kok nggak ada" Nari tidak mendapati guru berkacamata yang ia jumpai saat masuk tadi. Mungkin sedang keluar, pikir Nari. Ia pun memilih untuk menunggu sebentar, tapi hingga sepuluh menit guru itu tidak kembali juga.
"Sial!" Nari terlonjak kaget saat mendengar ucapan dalam volume yang tinggi.
Nari yang memang saat itu berada di dekat pintu keluar, memilih menelusuri perpustakaan yang lumayan luas itu. Ia penasaran siapa yang sudah berteriak di dalam sini dengan seenaknya.
Kosong. Nari tidak melihat ada orang lain selain dirinya. Mungkin siswa yang hanya berjumlah lima orang tadi, sudah keluar terlebih dahulu.
Lantas siapa yang bersuara?
Hantu?
Nari menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin hantu. Ini masih pagi dan...
Sepi?
Pikiran buruk kembali terputar di kepala Nari. Jujur saja, sekarang detak jantungnya bahkan sudah menggila. Daripada pingsan, Nari memilih keluar sa—
"Aduh!"
Nari yang sudah siap berlari keluar, kembali berbalik. Sekarang ia tahu dari mana suara itu berasal dan sepertinya itu memang manusia.
Dengan langkah yang begitu lambat, Nari mengikuti suara itu yang terus berdatangan.
"Aaw"
Akhirnya Nari bisa melihat seseorang yang sangat ia kenali tertidur di atas lantai tanpa alas apapun. "Rafa?"
***
Lagi-lagi, Rafa mendapat luka dari seseorang yang sangat ia benci. Bukan satu dua saja pukulan yang ia terima, tapi banyak. Rafa bahkan tidak tahu ada berapa jumlahnya, yang jelas tubuhnya sekarang terasa remuk.
Alih-alih mengobati lukanya di UKS, Rafa justru memilih tidur di lantai perpustakaan bukannya di kasur UKS.
Awalnya Rafa dapat tidur dengan pulas dan melupakan rasa sakit di badannya, namun tiba-tiba saja ia terbangun dan kembali merasakan rasa sakit itu. Meski luka itu, tidak terlalu parah bagi Rafa, namun tetap saja ia merasa kesakitan. Bahkan ia sempat mengumpat ketika melihat darah menetes ke lengan seragamnya.
Seperti sudah menduga akan mendapat luka seperti itu, Rafa mengeluarkan plester luka dari dalam saku celana abu-abunya. Hanya satu, dan ia memilih untuk menutup luka di keningnya yang baru saja meneteskan darah.
"Rafa?"
Rafa yang sibuk menempelkan plester itu, langsung mendongak ke atas. Suara yang baru saja memanggil namanya terlihat kaget melihat kondisinya sekarang.
"Lo kenapa?" Nari berjongkok di depan Rafa sambil memperhatikan luka-luka di wajah cowok itu.
Rafa yang tidak suka dengan tatapan kasihan dari Nari, langsung berdiri dan meninggalkan gadis itu dengan tatapan yang sulit ia artikan.
Rak yang terletak di pojok ruangan memang sepi. Buku-buku yang tersusun di sana juga tidaklah terlalu menarik. Hanya kamus bahasa indonesia dan bahasa inggris.
Rak itu berjarak sekitar 80 cm dari dinding belakang, sehingga memberikan sedikit ruang bagi mereka yang ingin memilih buku di sana. Namun, ruang yang tidak terlalu lebar itu justru dialih fungsikan Rafa sebagai tempat beristirahat, seperti yang di lakukannya sekarang.
Dengan langkah yang sangat amat pelan dan sedikit ringisan, Rafa keluar dari perpustakaan menuju tempat lain.
Tanpa Rafa sadari, Nari mengikuti dari belakang. Sebenarnya Nari tidak ingin ikut campur dengab masalah yang di alami Rafa apalagi setelah melihat respons Rafa ketika melihat dirinya. Tapi, Nari yang sejak kecil di ajarkan untuk saling menolong membuat gadis itu terus melangkah. Yang Nari pikirkan sekarang adalah luka-luka Rafa harus segera di obati.
Awalnya Nari berpikir, Rafa akan menuju UKS, namun ternyata cowok itu justru menaiki tangga yang belum pernah Nari kunjungi selama bersekolah di SMA Garuda.
Setelah Rafa membuka pintu yang terletak di ujung kanan, Nari berusaha mengintip dari tempatnya ia berdiri. Tapi, jarak yang terlalu jauh, membuat Nari tidak bisa melihat apa-apa. Oleh karena itu, Nari memutuskan untuk segera ke atas.
Pintu berwarna cokelat berbahan kayu dengan gantungan 'Siswa di Larang Ke Sini' jelas saja membuat Nari heran sekaligus penasaran. Dengan perlahan-lahan, Nari pun membuka pintu itu. Mata Nari yang lumayan besar sedikit menyipit karena sinar matahari langsung menyambutnya.
Nari berjalan lebih masuk untuk melihat sekelilingnya. Luas dan penuh debu. Tapi di detik berikutnya, mata Nari menjadi membulat sempurna.
Nari sekarang tau dia berada di rooftop.
Alih-alih senang karena baru pertama kalinya ia berdiri di rooftop sekolah, Nari justru terpekik kaget saat melihat di ujung tembok pembatas berdiri seorang cowok yang berseragam sama dengannya.
Dengan sedikit berlari, Nari mencoba menyusun kata-kata yang bisa menyadarkan cowok itu. Karena menurut Nari, ia mungkin akan melompat ke bawah sana.
"Tidak boleh. Bunuh diri itu dosa!" Nari menggumamkan kalimat itu ketika sudah dekat dengan posisi cowok itu.
Dengan satu tarikan yang cukup kuat, Nari berhasil menarik turun cowok itu dari atas tembok pembatas. Dalam hati, Nari bersyukur bukan main bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Meskipun sekarang, mereka berdua justru terduduk di atas lantai rooftop yang begitu kotor.
"Ngapain sih lo?!" cowok yang Nari tolong tadi menggeram marah di sampingnya.
"Loh Rafa?" Nari sangat terkejut saat melihat Rafa. Ternyata cowok yang ia tolonh tadi teman sekelasnya sendiri.
"Oh iya, Rafa kan emang ke sini... Tapi tunggu! Dia ke sini untuk bunuh diri?!"
Punggung Nari menjadi menegang. Nari tidak menyangka, jika Rafa sefrustasi itu sampai ingin bunuh diri. Detak jantung Nari bahkan tidak berdetak normal lagi, saat melihat Rafa kembali berdiri.
Dengan terburu-buru, Nari segera berdiri dan berusaha menyamakan langkahnya dengan Rafa yang kembali berjalan ke tembok pembatas. "Rafa!"
Rafa yang tidak menggubris sedikit pun panggilan Nari yang terus berkicau di belakangnya. Hingga saat ia kembali berdiri di atas tembok pembatas, teriakan Nari yang sedikit nyaring membuatnya hampir terjatuh.
"RAFA BUKAN KAYAK GINI CARANYA LO SELESEIN MASALAH!"
Nari yang melihat Rafa ingin terjatuh, berlari cepat untuk menarik tangan cowok itu.
"GILA LO!" Rafa yang memang sudak sangat kesal dengan Nari itu, membentak tepat di wajah gadis itu. Bukan apa-apa, Nari nyaris membuatnya mati tadi.
Melihat kemarahan di wajah Rafa, nyali Nari yang sudah ia siapkan sebelum memutuskan mengikuti cowok itu jadi menciut. Mata tanpa kacamata itu jelas-jelas menyeramkan. Segala bayangan akan anak teladan dengan segudang berprestasi seketika hilang, bergantikan sosok yang lebih seperti pembuat onar. Seragam berantakan, luka-luka, dan tatapan menusuk sangat lengkap untuk menjelaskan ciri seorang badboy.
Nari memberanikan diri untuk bersuara meski sekarang ia sangat takut dengan Rafa, "Tadi...Lo mau bunuh diri kan?"
Kemarahan yang awalnya tercetak di wajah Rafa langsung hilang seketika. Bahkan, mulut cowok itu terbuka lebar mendengar pertanyaan Nari.
Rafa memijit pangkal hidungnya. Gadis di depannya ini benar-benar menguji emosinya. "Lo beneran gila ya"
"Hah? Gue gila? Enggaklah" Nari tidak suka dengan ucapan Rafa. Masak cowok itu menyebutnya orang gila.
"Terus ngapain lo narik gue?" Rafa sedikit melunak walaupun masih kesal dengan gadis itu.
"Gue mau nyelamatin lo"
"Nyelamatin?" Rafa benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Nari. "Lo bahkan bikin gue hampir mati!" Rafa sedikit meninggikan volume suaranya.
Kening Nari jadi mengerut dalam. Tak paham dengan ucapan Rafa. Membuatnya hampir mati? Bukannya Nari justru menolong?
Nari yang baru saja ingin mengatakan sesuatu langsung terdiam saat Rafa tiba-tiba berjalan jauh meninggalkan dirinya.
Sepertinya cowok itu kesal dengan Nari.
Suara pintu rooftop yang duduk dengan kasar membuat Nari kembali terkejut.
Sebuah keuntungan bagi gadis itu karena tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Bagaimana tidak? Selama seharian ini, Nari sudah beberapa kali terkejut karena ulah orang yang sama.
*
Pelajaran kimia sudah berjalan selama lima belas menit, tapi tatapan dan fokus Nari terus tertuju pada bangku kedua di sebelah kanan.
"Gak usah di pikirin. Dia emang biasa kayak gitu"
Nari yang mendengar suara Hasna, langsung menoleh. "Maksud lo?"
Hasna menunjuk ke arah bangku yang sebelumnya di tatap oleh Nari. "Pemiliknya, udah biasa gak masuk."
Nari melihat ke mana arah telunjuk Hasna. Benar, cewek itu memang menunjuk bangku Rafa.
"Emang dia kenapa biasa gak masuk?"
Hasna kembali melihat ke arah Bu Siti yang tengah menjelaskan di depan kelas. Sesekali beliau menulis lalu kembali menatap para muridnya. "Dia ada masalah kalau kayak gitu"
Suara Hasna yang terlampau sangat pelan, membuat Nari menggeser kursinya lebih dekat ke cewek itu. "Gimana, gimana?"
Hasna menghela napas melihat Nari yang begitu penasaran, "Rafa biasanya gak masuk kalau lagi ada masalah."
Ucapan Hasna membuat Nari teringat akan pertemuannya dengan Rafa di perpustakaan dengan luka di wajah lalu berlanjut di rooftop yang ingin bunuh—
"Astaga!"
"Nari ada apa?" Bu Siti yang awalnya tengah menjelaskan suatu materi terpaksa berhenti, saat mendengar pekikan dari Nari.
Hasna yang duduk di samping Nari menyenggol lengan cewek itu yang masih belum sadar dengan semua penghuni kelas yang melihat ke arahnya.
"Eh?" Merasakan ada yang menyenggol lengannya, lamunan Nari tadi seketika hilang. Nari melihat ke arah Hasna lalu ke sekelilingnya dan akhirnya berhenti di Bu Siti yang menatapnya.
"Kamu kenapa Nari?" Bu Siti yang memang sudah berkepala lima itu sangat lembut ketika berbicara.
"Ng...Ngga kenapa-napa kok,Bu" Jawab Nari sambil tersenyum.
Bu Siti telihat mengangguk-angguk lalu kembali mengajar seperti sebelumnya. Semua siswa juga kembali menyimak pelajaran meskipun ada yang beberapa yang bermain secara diam-diam bahkan tidur di bangku belakang.
Bu Siti yang sudah paham betul dengan kondisi 11 IPA 2 yang setengahnya b****k tidak ingin ambil pusing. Ia hanya akan mengajar mereka yang mau belajar saja. Itulah prinsip beliau daripada dibuat hipertensi dengan kelakukan siswa-siswanya.
Melihat respons Bu Siti yang terkesan tidak peduli, membuat Nari kembali bertanya kepada Hasna "Emang Rafa punya masalah apa?"
"Lo kenapa sih mau banget tahu?" Hasna tersenyum jahil melihat Nari yang terus bertanya.
"Gimana ya jelasinnya" Nari menggaruk kepalanya yanh tidak gatal. "Intinya tadi gue ketemu Rafa terus muka dia kayak habis ditonjok. Terus pas di rooftop dia mau bunuh diri" Nari menjelaskan secara singkat.
Hasna yang mendengar kata 'bunuh diri' tiba-tiba berbalik ke arah Nari dan membuat cewek itu mundur kebelakang. "Rafa? Bunuh diri?" tanya Hasna dengan suara sepelan mungkin, karena takut teman sekelasnya yang lain mendengar berita heboh itu.
Nari menggangguk sebagai jawaban. "Emang dia punya masalah apa sih?"
Hasna tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia terlihat menimbang-nimbang apakah perlu Nari tahu atau tidak. Informasi ini sudah diketahui satu kelas dan mungkin sebagai anggota kelas yang baru Nari perlu tahu meskipun apa yang akan Hasna katakan adalah masalah pribadi seseorang.