"Gue gak terlalu tahu masalah dia apa, tapi kayaknya lumayan berat"
Nari mengerutkan kening penasaran "Maksudnya lumayan berat?"
Hasna melirik sebentar ke arah Bu Siti yang masih setia menulis di depan sana "Pernah nih ya sekali, Rafa datang dengan muka bonyok. Otomatis satu kelas heboh dong. Kalau gak salah, kejadiannya pas habis istirahat."
"Pas Ram coba tanya ke Rafa, dia malah marah terus nonjok si Ram." Hasna menatap lurus ke arah Nari "Makanya gue saranin ke lo, apapun yang lo lihat dari Rafa jangan pernah coba buat ganggu dia. Gak usah peduliin tuh anak, biarin aja."
Nari tentu saja tidak setuju dengan ucapan Hasna, "Kok di biarin sih?"
"Yah, ini juga buat kebaikan lo. Karena kita gak pernah tahu Rafa bisa main tangan juga ke cewek apa enggak. Tapi lebih baik menjauh aja deh dari masalah" Hasna kembali menatap Bu Siti yang sekarang sudah duduk di kursinya sambil menelpon.
"Tadi lo bilang kalau Rafa pernah datang dengan muka bonyok terus nonjok Ram. Emang dia habis di gebukin apa gimana? Terus kenapa malah nonjok Ram?"
Hasna mengedikkan kedua bahunya
"Soal Ram yang ditonjok tiba-tiba gue juga gak terlalu tahu, mungkin dia gak suka masalahnya di ketahui orang lain. Tapi akhirnya sekelas tahu asal luka-lukanya."
"Dari mana?"
"Dulu, pas masih kelas sepuluh Jeka gak sengaja lewat di halaman belakang sekolah, dia denger ada ribut-ribut gitu. Karena Jeka orangnya kepo banget, dia cari tuh asal suaranya. Kalau gak salah, kejadiannya pas jam pelajaran."
Nari yang salah fokus tidak tahan untuk menyeletuk , "Loh, kok Jeka malah keluar pas jam pelajaran?"
"Gak usah dibahas. Tuh anak emang biasa kek gitu" Hasna menampilkam ekspresi kesal saat Nari malah bertanya soal Jeka yang tidak ada penting-pentingnya.
Hasna kembali melanjutkan ucapannya tanpa peduli dengan Nari yang siap bersuara lagi "Pas ketemu sama asal suaranya, Jeka langsung lari ke sana. Lo tahu kenapa dia lari?"
Nari menggeleng. Jelas saja ia tidak tahu.
"Jeka ngeliat Rafa di pukul habis-habisan sama anak kelas sebelas. Cuma satu orang, tapi bodohnya Rafa gak melawan sama sekali. Makanya Jeka lari ke sana buat nolongin tuh anak, karena Jeka pikir Rafa itu gak bisa berantem."
Mendengar Rafa yang tidak bisa bela diri membuat Nari ragu. Masalahnya, melihat postur tubuh Rafa yang cukup bagus terasa mustahil jika cowok itu tidak bisa bela diri bahkan untuk sekedar memukul saja. Mana mungkin tubuh yang sepertinya selalu berolahraga itu tidak kokoh, pikir Nari.
"Lo pasti gak percaya kan kalau Rafa gak bisa berantem" Hasna sukses menebak jalan pikiran Nari. "Awalnya kami semua juga berpikir gitu dan gak percaya sama omongan Jeka. Tapi makin lama, kami juga ragu karena muka Rafa bonyok mulu. Gak cuma di muka doang sih, kadang tangan atau kakinya juga lebam-lebam"
"Dan lo tahu siapa yang mukulin Rafa?"
Hasna kembali menatap Nari. Entah perasaan Hasna saja atau memang cewek itu terlihat khawatir. Tatapan Nari yang terkesan penasaran bercampur cemas membuat Hasna memikirkan suatu hal meski masih ragu untuk menyimpulkannya.
"Dia kakaknya Rafa"
Perbincangan antara dirinya Hasna pagi tadi terus berputar di kepala Nari. Tentang problematika Rafa yang masih sangat misterius.
Nari tahu itu bukan haknya untuk masuk dalam privasi orang lain. Nari tahu betul dia adalah orang asing dan bahkan sangat asing bagi Rafa.
Namun, pertemuan Nari dengan Rafa dengan luka-luka di wajah cowok itu dan perbincangannya dengan Hasna seperti punya keterkaitan.
Rafa selalu terluka.
Nari kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Sekarang ia sedang berjalan pulang ke rumah setelah mengantar pisang goreng ke Bu Nina. Seperti biasa gadis itu selalu membuat pisang goreng setelah pulang sekolah dan mengantarnya sekitar pukul empat sore.
Seharusnya, Nari sudah pulang setengah lima sore tadi, namun karena Nari yang terlalu lamban berjalan membuat gadis itu masih dalam perjalanan pulang.
Pedagang kaki lima yang awalnya berada di pinggir jalan mulai bersiap-siap untuk pulang, begitu pula dengan para pekerja yang sedang bermacet-macetan di jalanan. Pemandangan itu, sudah menjadi keseharian Nari. Bahkan tak jarang ia juga ikut bermacet-macetan jika pulang dengan kendaraan umum.
Hari semakin sore dan Nari akhirnya mempercepat langkahnya. Ia merasa bodoh karena terlalu memikirkan masalah Rafa sampai ia selalu melamun ketika berjalan. Meski tidak mengetahui pukul berapa sekarang, tapi Nari tebak ini sudah hampir pukul lima sore.
Jalan raya yang penuh dengan polusi itu sudah Nari lewati, kini ia tinggal berjalan menyusuri beberapa belokan lagi di gang kecil. Nari cukup beruntung meski tidak membawa senter, ia masih bisa merasakan penerangan dari rumah-rumah warga , sehingga ia tidak menginjak air-air yang tergenang.
Bruk
Suara hantaman yang cukup keras membuat Nari menghentikan langkahnya. Jantungnya berdebar sangat kencang. Hari mulai gelap dan tidak ada satu pun orang yang berada di sekitar gadis itu.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Nari kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang. Ia sedikit berlari dan tidak mempedulikan dengan pijakannya lagi.
"Bangun lo!"
Suara bentakan dari seseorang membuat langkah Nari semakin cepat. Bahkan kaki kirinya sempat terkilir namun gadis itu tetap berusaha untuk menjauh dari suara itu yang terkesan sangat dekat dengannya.
Perlu dua belokan lagi untuk bisa sampai di rumahnya. Tapi, karena tidak memperhatikan jalan, Nari pun terjatuh ke depan dengan kedua tangan menyanggah tubuhnya. Namun, tetap saja ia terluka.
"b*****t!"
Lagi-lagi Nari mendengar suara itu. Tapi sekarang jauh lebih keras. Nari segera berdiri dan kembali berlari meski kedua lututnya terasa perih. Ia tidak ingin terlibat dengan pemilik suara itu, karena Nari pikir pemilik suara itu sepertinya sedang berkelahi. Bukannya tidak ingin membantu, tapi Nari sadar betul jika ia tidak bisa membantu apa-apa. Nari tidak bisa bela diri atau apapun itu. Jadi, daripada mati konyol lebih baik Nari menghindar, terlebih ia juga tidak tahu pantaskah ia menolong pemilik suara itu. Jangan sampai dia justru orang jahat.
"Tunggu!"
Nari yang sedang berlari, merasa di ikuti oleh seseorang dan seseorang itu baru saja bersuara. Nari yang memang memiliki ketakutan yang luar biasa, langsung mempercepat larinya.
"Lari aja Ri, gak usah berhenti" Nari menggumamkan kalimat itu untuk membuatnya tidak perlu berbalik dan melihat orang yang baru saja memanggilnya.
Nari rasa larinya sudah sangat cepat. Bahkan terlalu cepat dibandingkan saat ia mengikuti lomba lari saat SMP. Nari sudah berpikir ini adalah rekor tertingginya.
Tapi, ternyata bukan.
"Tolong gue" tangan Nari berhasil di cekal.Mau tidak mau Nari pun berbalik.
Pencahayaan yang minim membuat Nari tidak bisa melihat wajah orang itu. Namun, dari suaranya yang berat Nari bisa menebak dia seorang laki-laki.
Memang menolong adalah tindakan mulia, namun untuk kasus yang satu ini Nari tidak ingin melakukannya. Masalahnya, ia tidak mengenali betul siapa laki-laki itu, bisa saja ia seorang penjahat yang dikejar warga atau justru sebaliknya.
Tanpa pikir panjang, Nari berusaha menarik pergelangan tanggannya yang masih di cekal laki-laki itu. Tapi, gagal. Cengkramannya terlalu kuat, bahkan membuat Nari sedikit kesakitan.
"Lepas!" Nari mendorong laki-laki itu.
Bukannya menjauh, laki-laki itu justru membawa Nari berlari bersamanya. Nari yang masih terkejut dengan tindakannya itu, mau tidak mau ikut berlari dan mengimbangi langkah kakinya yang panjang itu.
"Rumah lo di mana?" tanya laki-laki di tengah-tengah larinya.
Nari yang masih terlalu syok tidak menjawab pertanyaan itu.
"Rumah lo di mana?!" laki-laki itu kembali bertanya, namun kali ini suaranya lebih keras.
Nari terperanjat kaget mendengar suara lantang itu, sehingga membuatnya sedikit kebingungan "Ha? Eh... Rumah... Rumah gue belok sana"
Mereka berdua lalu melewati jalan yang ditunjuk Nari. Tidak ada percakapan lagi, hingga mereka akhirnya sampai di rumah Nari.
Tanpa basa-basi laki-laki itu langsung memasuki rumah Nari dan meninggalkan pemilik rumah mematung di luar sendirian.
Pergelangan tangan kanan Nari terasa panas tapi degup jantung gadis itu perlahan normal.Meski begitu, ia baru saja membawa masalah masuk ke dalam rumahnya.
Entah apa yang akan dikatakan neneknya ketika melihat ada orang asing yang masuk tanpa permisi terlebih dahulu.
***
Ini benar-benar, hari tersial bagi Haris. Jika teman-temannya tidak memaksa untuk bertanding basket sore tadi, ia tidak mungkin bertemu dengan orang-orang itu.
Andai saja tubuhnya bisa di ajak berkompromi, Haris yakin ia tidak perlu mendapat pukulan. Namun, karena terlalu lelah, Haris tidak punya banyak tenaga untuk melawan seorang diri.
Tapi, sepertinya keberuntungan masih memihaknya.
Haris bertemu dengan seorang gadis yang ingin menolongnya. Lebih tepatnya, Haris memaksa untuk ditolong. Tidak masalah, apa yang akan gadis itu katakan atau bahkan sampai melaporkannya, yang jelas sekarang ia berada di tempat yang aman.
Jauh dan tidak akan dijangkau oleh mereka.
Kesan pertama yang Haris tangkap saat sampai di rumah gadis itu, sedikit membuatnya terkejut. Bahkan kondisinya berbanding terbalik dengan rumahnya.
Karena terlalu buru-buru masuk ke rumah gadis itu sampai meninggalkan sang pemilik rumah di halaman, Haris tidak bisa mengamati lebih cermat kondisi di depan rumah.
Tapi, melihat kondisi dalam rumah saja sudah memberi bayangan akan kondisi luar rumah itu.
Pintu yang senpat Haris tutup, terbuka kembali dan menampilkan seorang gadis. Sepertinya dia adalah orang yang sama dengan Haris temui tadi.
Tanpa basa basi, Nari langsung meluncurkan pertanyaan yang sudah menumpuk dipikirannya dengan tatapan menyelidik, "Siapa lo? Dan apa maksudnya lo ke rumah gue?"
Haris tebak, gadis di depannya ini mungkin seumuran dengannya atau mungkin ia lebih tua setahun. "Sorry, tapi tadi gue benar-benar harus sembunyi"
Pencahayaan dari sebuah lampu pijar di ruang tamu membuat Nari dapat menilai Haris.
"Lo sebenarnya siapa? Dan kenapa lo mau sembunyi?" Nari mengulang kembali pertanyaannya dengan sedikit penekanan.
"Ah, apa jangan-jangan lo emang penjahat" Nari berspekulasi sendiri mengingat Haris terlihat seperti berandalan.
Potongan rambut yang tidak rapi, pelipis berdarah, hoddie hitam, dan celana robek-robek yang tidak diketahui namanya oleh Nari.
"Dia benar-benar penjahat" batin Nari.
Tidak terima dengan argumen Nari, Haris menatap tajam gadis itu, "Gue bukan penjahat!"
"Kalau bukan, kenapa lo narik-narik gue?!" Nari yang sudah emosi dan ketakutan langsunh melihat ke semua sudut di ruang tamunya.
Ketemu.
Nari segera mengambilnya dan menggunakannya tidak seperti fungsi benda itu. "Pergi lo!" Nari memukulkan sapu lidi ke punggung Haris dan mengabaikan protesnya.
"Woi! Sakit... Astaga"
"Aduh! Ada apa ini?" Nenek Nari yang mendengar keributan dari depan, langsung keluar dari kamar. Padahal tadi ia sedang beristirahat.
Melihat neneknya datang, Nari segera menghampiri wanita tua itu. Namun, posisinya, Nari berdiri membelakangi neneknya seperti sebuah tameng.
"Kalau lo gak mau pergi, gue bakal teriak!" ancam Nari sambil menodongkan senjatanya ke wajah Haris.
***
"Di minum dulu, Nak Haris"
Nari memutar kedua bola matanya. Ia kesal melihat neneknya yang justru menjamu Haris.
Setelah melalui beberapa perdebatan dengan kehadiran Haris di rumahnya, akhirnya Nari menyerah dan mengikuti kemauannya neneknga untuk menerima dengan baik kehadiran cowok itu.
"Makasih, Nek" Haris menyesap perlahan-lahan teh yang dihidangkan oleh seorang wanita tua.
Kurang manis.
"Maaf ya kalau tidak enak. Kami belum beli gula" kata nenek Nari seperti bisa membaca raut wajah Haris yang kurang menyukai teh buatannya.
Haris menanggapi dengan senyuman.
Iya senyuman, yang membuat Nari ingin cepat-cepat mengusir cowok itu.
"Itu lukanya tidak apa-apa Nak?" nenek Nari terlihat khawatir melihat luka di pelipis Haris yang sudah mengering.
"Gak kenapa-napa kok" Haris berdiri dari duduknya, "Kalau begitu saya pulang dulu ya, Nek. Terima kasih atas bantuan dan jamuannya" Haris mencium punggung tangan nenek Nari.
"Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan ya"
Haris lalu keluar dari rumah Nari dan menyisakan penghuni rumah yang masih terlihat kesal.
"Kamu kenapa sih, Ri?" setelah menutup pintu depan, wanita tua itu kembali duduk di samping cucunya.
"Nek, kalau dia beneran penjahat gimana?" tanya Nari dengan wajah cemberut.
"Tapi, dia bukan penjahat, kan." Wanita tua itu mengelus rambut panjang cucunya, "Memang kita tidak pernah tahu mana orang baik atau orang jahat. Tapi, selagi kita bisa membantu kenapa tidak? Percaya, Tuhan juga pasti membantu jika niat kita memang baik dan tulus"
"Tapi, Nek, gak ada salahnya kalau kita berhati-hati. Coba kalau dia memang penjahat, Nari sama nenek pasti dalam bahaya"
"Berhati-hati bukan berarti tidak menolong kan?" balas nenek Nari sambil tersenyum.
Nari sudah menyerah. Neneknya memang sangat jago berdebat. Ujung-ujungnya Nari akan kalah jika tetap bersikeras dengan argumennya.
Yang jelas, dirinya dan keluarga satu-satunya yang Nari miliki masih aman.
Nari berjanji akan jauh lebih hati-hati lagi. Terutama dengan kasus yang baru saja ia alami.
Keselamatan dirinya dan neneknya adalah prioritas utama. Nari tidak boleh lengah. Apalagi mau-mau saja mengajak orang asing ke kediamannya meski sebenarnya tadi ia terpaksa melakukannya. Namun, untuk kedepannya Nari tidak akan melakukan lagi hal bodoh itu.